Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
H-1


__ADS_3

Hari yang dinanti akhirnya tiba juga. Tidak terasa semua persiapan telah selesai dilakukan. Besok adalah hari bersejarah untuk Reza dan Silvi. Di awal persiapan banyak terjadi perdebatan mengenai tempat acara yang akan digelar. Dari perdebatan itu diambil keputusan sesuai keinginan Silvi dan Reza.


Mereka menolak mengadakan acara di dalam ruangan. Acara akad sekaligus resepsi akan diadakan di luar ruangan. Tepatnya di taman hijau kota yang sudah disewa oleh Edgar. Hari ini baik Reza ataupun Silvi, melakukan perawatan di klinik kecantikan. Zela dan Katy yang menyuruh mereka. Agar penampilan mereka paripurna di hari bersejarah mereka besok. Keluarga yang lain juga dijadwalkan perawatan.


Sekarang Davin dan Desmon duduk di sofa ruang tengah menonton film kartun. Glen yang menjaga mereka. Glen duduk di antara Davin dan Desmon. Pangkuannya dijadikan tempat meletakkan mangkok besar berisi popcorn. Kedua tangan Glen masing-masing memegang jus apel milik kedua bos kecilnya itu.


"Uncle nanti ke klinik kecantikan juga tidak?" tanya Davin.


"Iya dong, biar besok kulit uncle kinclong!" jawab Glen dengan semangat.


"Emon pengen," Desmon menatap mommy dan daddynya berbondong-bondong ke salon.


"Apin juga sih, tapi itu klinik kecantikan. Apakah tidak ada klinik ganteng?" sahut Davin.


"Itu klinik bisa untuk pria dan wanita, Apin! Anak kecil tidak boleh ikut, tidak baik untuk kalian..." Glen menasihati.


"Apin pengen uncle! Semua orang ke klinik..." rengek Davin.


"Emon juga pengen, biar Emon makin ganteng!" sahut Desmon.


"Perawatan di sana tidak baik untuk anak kecil," jawab Glen.


"Kenapa? Emangnya nanti kita diapain kalau ke sana, uncle?" Davin penasaran.


"Nanti itu ya,,,Wajah kita digosok-gosok kencang sekali!" bisik Glen pada keduanya.


"Hah? Pakai amplas ya?" sahut Davin.


"Hah? Masa diamplas sih?" sahut Desmon.


"Emm...Iya!" Glen terkekeh.


"Serius uncle!" protes Davin.


"Apin sabar Apin..." begitulah watak Desmon, dia selalu tenang dan sabar.


"Pokoknya anak kecil tidak boleh ke klinik, tidak baik!" tegas Glen.


"Kalau ke minimarket boleh kan, uncle?" tanya Desmon.


"Nah itu baru bolehh!" seru Glen.


"Apin beli ice cream aja yuk, daripada ke klinik kecantikan!" ucap Desmon penuh semangat.


"Ah iya, yuk! Let's go!" Davin bangkit dari sofa, melupakan masalah salon.


"Uncle Glen yang traktir!!!" seru Desmon.


"Ah rugi lagi, kapan mau lunasnya cicilan rumah mewahku," keluh Glen.


Glen pasrah ditarik oleh kedua bos kecilnya. Mereka naik mobil, jarak minimarket dari mansion cukup jauh. Ditambah lagi harus nele2ati kebun buah Silvi. Kalau kedua bos kecilnya itu mengajak ke minimarket, mereka tidak akan mengambil ice cream saja.


"Apin, Emon...Katanya ice cream..." ucap Glen.


"Pengen jajan juga, uncle!" seru Davin.


"Emon juga," sahut Desmon.

__ADS_1


Davin dan Desmon memenuhi keranjang belanjaan mereka dengan beraneka macam jajanan. Dari snack, sampai coklat dan minuman. Padahal tadi niatnya mau beli ice cream. Glen membawa keranjang belanjaan mereka ke kasir dengan wajah lesu.


"Habis sudah..." keluh Glen saat melihat nominal yang tertera di monitor kasir.


"Sabar ya, uncle..." Desmon menggandeng tangan Glen.


"Iya..." jawab Glen lesu.


"Nanti Emon minta ganti ke daddy, jangan nangis!" lanjut Desmon.


"Thanks Emon, Emon emang beda." ucap Glen sambil melirik Davin.


"Apa liat-liat, uncle?" seru Davin.


"Nggak," jawab Glen.


 ------------------------------


Jika Desmon dan Davin sedang senang mendapat ice cream, lain halnya dengan Silvi. Ia merasa jenuh duduk berjam-jam di klinik kecantikan. Hanya untuk kuku kaki saja Silvi diotak-atik selama hampir 1 jam lebih. Dan sekarang kuku tangannya yang dibersihkan.


Jujur saja Silvi jarang ke klinik kecantikan seperti ini. Paling hanya ke salon, itupun ia hanya memotong rambut saja. Selebihnya ia tidak pernah melakukan perawatan apapun. Jadi maklum saja Silvi merasa risih dan jenuh. Belum lagi setelah perawatan kuku ia harus melakukan perawatan wajah dan spa.


"Aku bosan," keluh Silvi.


"Nona bisa membuka ponsel agar tidak bosan," jawab pegawai klinik.


"Bagaimana caranya? Tanganku saja kau pegang!" keluh Silvi.


"Ah iya, saya lupa.." pegawai klinik itu tersenyum canggung.


Silvi menjalani perawatan hari itu dengan malas-malasan. Ia sampai tertidur karena pegawai klinik mengotak-atik kukunya lama sekali. Dan saat akan melakukan perawatan kulit wajah dan spa pegawai harus membopong Silvi. Kalau sudah tidur Silvi paling susah dibangunkan.


Zela dan Katy yang berada di klinik yang sama melongo melihat Silvi. Sungguh memalukan sampai harus dibopong banyak orang seperti itu.


"Tolong ambil majalah itu, besan!" seru Katy.


"Ini," Zela menyerahkan majalah yang diminta Katy.


"Ada apa, besan?" Zela heran melihat Katy menutupi wajahnya saat Silvi dibopong lewat depan mereka.


"Malu, jangan sampai pelanggan lain di klinik ini tahu, besan! Ayo tutup wajah dengan ini," Katy melirik ada pelanggan klinik lain yang berbisik-bisik.


"Biar saja, maklum!" Zela terkekeh.


"Itu calon istri Reza kenapa, mi?" Reza menghampiri Zela.


Tadi Reza sedang menjalani perawatan wajah. Karena penyekatnya hanya dari kaca saja Reza bisa melihat Silvi dibopong oleh banyak orang. Sontak saja Reza panik dan langsung kabur dari ruangan.


"Biasa," Zela terkekeh.


"Pingsan?" tanya Reza panik.


"Dia ketiduran," Zela menepuk bahu Reza sambil tertawa.


"Oh.." Reza menghela napas lega.


"Reza!" pekik Katy.

__ADS_1


"Kenapa ma?" Reza sekarang sudah terbiasa memanggil Katy dengan panggilan mama.


"Selesaikan dulu maskerannya, ayo balik sana! Silvi itu hanya ketiduran!" seru Katy.


Reza terdiam, lalu ia meraba wajahnya. Ternyata ada masker yang menempel di wajahnya. Karena panik Reza tidak sadar. Semua orang menatapnya sekarang, Reza jadi malu.


"Oh iya hehehe...Panik ma," Reza menggaruk lehernya.


Lantas Reza kembali ke ruang perawatan. Pegawai sampai geleng-geleng melihat kelakuan Reza yang terlalu panik. Maklumlah ya besok mau menikah.


Di klinik yang sama tapi ruangan yang berbeda, Aryn dan Mei asyik mengobrol sambil menikmati treatment yang dilakukan di wajah mereka. Di sebelah Aryn ada Dave yang tertidur, mungkin keenakan. Di sebelah Mei ada Zack, Zack tidak tidur. Ia mendengarkan obrolan Aryn dan Mei, sesekali dia menyahut.


"Gimana rasanya jadi sekretaris Zack?" tiba-tiba Aryn membahas Zack.


"Bos rese dia itu, sukanya perintah. Kalau aku bawa makanan ke kantor, dia main comot aja. Dikira aku nggak lapar kali ya, Ryn. Belum lagi dia itu punya pacar bayaran. Namanya Clara, seksih sih...Tapi kerjaannya nyamperin ke kantor mulu. Mana mesum banget, datang langsung nyosor bos rese itu. Yang paling nyebelin, pernah sekali aku diajak ke apartemen Clara buat mutusin pacar bayaran itu. Dia gandeng aku di depan Clara. Gara-gara itu Clara selalu ganggu hidupku sampai hari ini. " Mei langsung nyerocos.


Mei berani berkata seperti itu karena saat ia melirik Zack, pria itu matanya tertutup. Aryn manggut-manggut, menahan tawa. Sifat cerewet sahabatnya itu sangat menonjol. Baru dikasih satu pertanyaan jawabannya satu paragraf. Di samping Mei, Zack masih setia menguping. Ia hanya memejamkan matanya saja tapi tidak tidur.


"Jadi begitu, sekretaris nakal?" ucap Zack.


"Ooppss..." Mei langsung menutup mulutnya.


"Awas saja besok waktu di kantor!" Zack berkata tanpa membuka matanya.


"Ya sudah!" sahut Mei ketus, ia kesal pada Zack.


"Katakan, benar Clara mengganggumu? Apa yang dia lakukan?" seru Zack.


"Kepo!" ketus Mei.


"Aku serius..." Zack menekan setiap perkataannya.


"Kemarin ban mobilku dikempesin orang suruhannya," jawab Mei.


"Terus?" tanya Zack.


"Kemarinnya lagi ada yang kirim 20 kotak pizza ke apartemenku," lanjut Mei.


"20 kotak? Itu bukan mengganggu, itu rezeki namanya!" sahut Zack.


"Pizza itu belum dibayar," jawab Mei ketus.


"Ohh..." sahut Zack singkat.


"Terus?" lanjut Zack.


"Kemarin kemarinnya lagi, dia menghadangku..." jawab Mei.


"Oh..." Zack masih memejamkan matanya.


"Cuma begitu?" Mei kesal.


"Memangnya aku harus ngapain?" tanya Zack.


"Tau ah..." jawab Mei ketus.


Setelah percakapan menyebalkan itu Mei sedikit cuek pada Zack. Mei mendapat semua masalah ini gara-gara Zack, tapi yang bersangkutan malah bodo amat.

__ADS_1


..........................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2