Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
PERNIKAHAN


__ADS_3

Jantung Reza berdegup kencang, dirinya menunggu sang pembawa acara memanggilnya ke pelaminan. Di sampingnya, papa dan mamanya menggandeng lengannya. Kedua jemari Reza saling bertaut menyalurkan rasa gugup yang ada dalam dirinya.


"Semangat, son! Tinggal 20 langkah lagi resmi suami istri!" Edgar menyemangati putranya.


"20 langkah? Banyak banget, pi?" bisik Reza.


"Jarak dari sini ke pelaminan itu," jawab Edgar.


"Ohh..." Reza mengangguk pelan.


Zela yang juga menggandeng Reza sedari tadi fokusnya jatuh pada dekorasi tempat itu. Zela terus memasang senyum di wajahnya. Ia merasa puas dengan dekorasinya.



Taman kota hari ini menjadi milik mereka. Pepohonan di sekitar tempat acara membuat udara sejuk alami. Penataan meja tamu sangat rapi dan elegan. Pelaminan dibuat seperti panggung, ditambah lagi pemusik terkenal memainkan alat musik mereka. Ternyata pilihan Reza dan Silvi sangat bagus.


Tiba saatnya acara dimulai, Reza memasuki tempat dilaksanakannya acara itu dengan didampingi Edgar dan Zela. Mereka berjalan perlahan menuju pelaminan dengan menebar senyuman kepada para hadirin. Namun, masih terlihat jelas guratan kegugupan di wajah Reza.


Reza berusaha menenangkan dirinya. Satu per satu anggota keluarga dipanggil memasuki acara. Dave menggandeng Aryn, dan juga menggendong Davin dengan tangannya yang lain. Samuel menggandeng kedua princessnya, tentunya Angel istrinya dan Kelyn putrinya. Ken juga tampil keren dengan Naina yang memeluk lengannya. Dan pasangan fenomenal, Zack dan Mei.


Para pria tampak gagah mengenakan setelan jas hitam dengan bunga mawar putih ditempel di dada. Sementara para wanita, mengenakan dress putih selutut. Kepala mereka dihiasi karangan bunga berbentuk lingkaran. Terlihat cantik dengan make up yang tidak berlebihan.


Berbeda dengan yang lainnya, Zack dan Mei tidak bergandengan. Mereka jalan sendiri-sendiri. Reza tersenyum tipis melihat keduanya. Yang paling menyedihkan, Glen. Dia berjalan bersama dengan Uti, wajahnya lesu. Para hadirin menggodanya sambil tertawa. Lantas saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Musik romantis dimainkan.


"Calon istriku, pi!" bisik Reza.


"Cantik calon mantu papi..." sahut Edgar.


Silvi berjalan dengan anggun memasuki area. Gaunnya putih panjang sesuai permintaan Reza. Tangan kanannya menggandeng Erick. Sementara tangan kirinya membawa bucket bunga mawar putih. Sungguh Reza sampai tidak bisa mengungkapkan betapa cantiknya Silvi hari ini.


Di belakang Silvi, Katy menggandeng Desmon. Ikut mengantar Silvi menuju ke pelaminan. Desmon terlihat bahagia. Ia tidak hentinya menyebar senyuman pada tamu undangan. Setelah Katy memeriksa, ternyata ada tamu undangan yang membawa putri mereka yang seusia Desmon. Pantas saja Desmon tebar pesona.


"Tahan, son!" Edgar menepuk bahu Reza.


Pasalnya Reza terlihat meneteskan air mata. Edgar paham bagaimana perasaan Reza. Ia dulu juga pernah merasakannya. Erick menyerahkan Silvi kepada Reza. Reza menggenggam jemari Silvi dengan erat.


Prosesi pernikahan berjalan dengan khidmat. Hingga sampai pada prosesi pemasangan cincin. Tangan Reza terlihat gemetar saat akan memasangkan cincin pada jari manis Silvi. Tapi kegugupannya ditutup dengan ciuman pertama yang ia berikan pada Silvi.


Prok prok prok,


Semua tamu bertepuk tangan menyaksikan momen sakral itu. Kedua pipi Silvi memerah. Tentu saja ia merasa malu, karena ini kali pertamanya melakukannya dengan Reza.


"I love you, my wife!" ucap Reza.


"I love you too, my husband!" jawab Silvi.


Musik mengalum merdu, pasangan pengantin baru itu berdansa di tengah. Reza memeluk pinggang Silvi dan Silvi merangkul leher Reza. Keduanya bergerak sesuai alunan musik. Dari sorot mata keduanya terlihat jelas ada banyak cinta. Para tamu yang hadir sampai terbawa suasana.


Zela memotret momen dansa putranya dengan kamera ponselnya. Ia sangat bahagia hari ini. Putra semata wayangnya akhirnya menikah. Dengan wanita yang ia sukai juga. Lantas ia kembali duduk di samping suaminya.


"Akhirnya mami punya teman, pi!" ucap Zela.


"Bukannya teman mami itu banyak ya? Teman arisan, teman nongkrong, teman nge-mall..." jawab Edgar.


"Beda ini, pi! Ini teman menghabiskan uang suami hahahaa.." Zela terkekeh.


"Silvi jangan diajarin begitu, mi!" Edgar menatap istrinya.


"Biarin, pi! Uang Reza kalau nggak dihabisin mau diapain?" sahut Zela.


"Terserah mami ajalah," Edgar memijit pelipisnya.


Keduanya diam, kembali menatap pada putra dan mantu mereka yang sekarang masih berdansa. Bahkan tamu undangan juga ikut berdansa dengan membawa pasangan mereka. Zela tidak hentinya memasang senyuman di wajahnya.

__ADS_1


Erick dan Katy menghampiri besannya. Wajah Katy tidak kalah berseri dari wajah Zela. Erick mencolek lengan Katy, ia seperti meminta sesuatu. Tapi malah dicuekin oleh Katy. Di sana juga ada Dave, Samuel, dan Ken beserta istri mereka yang bergabung dengan mereka.


"Jadi tidak?" bisik Edgar pada Erick.


"Kalau kau berani izin duluan, pasti jadi!" jawab Erick dengan berbisik juga.


"Okay okay," Edgar menepuk dadanya, percaya diri.


"Katakan dengan tenang, om!" Dave menyemangati.


"Semangat, om!" Samuel dan Ken ikut menyemangati.


Edgar mendekati Zela yang sedang mengobrol dengan Katy dan Aryn. Ia menyiapkan jiwa dan raganya untuk bertanya. Erick dan Dave mengekor dibelakangnya. Kalau dengan Edgar, Dave tidak membencinya seperti ia membenci Reza.


"Sayang," panggil Edgar.


"Iya, apa?" jawab Zela, Katy ikut memperhatikan besannya.


"Kita mau minum," Edgar menunjuk dirinya, Erick, dan Aryn.


"Kalau mau minum, minum saja om! Itu sirupnya banyak," sahut Aryn dengan cepat.


Dave menelan ludahnya. Aryn tidak paham jika yang dimaksud Edgar adalah minum wine bukan minum biasa. Dave jadi semakin pesimis.


"Emm begini...Hari ini kan hari bahagia Reza dan Silvi. Jadi bolehlah kita minum itu sedikit..." Erick buka suara.


"Benar itu, hanya sekali saja!" imbuh Edgar.


"Momen-momen seperti ini tidak datang setiap hari, kan?" Dave ikut menambahi.


"Lagipula semua orang di sini minum," Samuel menguatkan rayuan mereka.


"Apa kata para tamu jika pihak keluarga mempelai tidak minum?" seloroh Ken menambahi.


"Oh jadi yang kalian maksud minum itu," Zela menatap suaminya.


"Iya..." Para suami menjawab dengan terus sambil menunduk.


"Tidak boleh!" seru para istri kompak.


Erick, Edgar, Samuel, Ken, dan Dave hanya bisa menurut. Mereka berjalan kembali ke meja mereka dengan langkah yang tidak semangat.


"Lihat itu, kak! Mereka lemas sekali!" Silvi terkekeh.


"Mereka tidak diizinkan minum paling!" Reza mengambil segelas bir dari meja.


"Eittsss...Kamu juga nggak boleh minum ya kak!" Silvi merebut wine milik Reza.


"Sayang...." Reza merengek.


"No no!" Silvi berkacak pinggang.


Erick, Edgar, Samuel, Ken, dan Dave tertawa dengan kencang. Reza bernasib yang sama dengan mereka.


"Hey kalian!" terdengar teriakan Zack.


Sontak saja mereka semua menoleh ke arah suara Zack terdengar. Nampak Zack berjalan terhuyung sambil membawa gelas berisi wine.


"Kalian tidak boleh minum ya?" Zack terkekeh sambil mengangkat gelasnya tinggi ke udara.


"Zack sialan!" Dave mengumpat.


"Mentang-mentang dia belum beristri!" seru Edgar.

__ADS_1


"Pamer minuman seenaknya!" imbuh Erick.


"Awas saja kalau dia menikah nanti! Biar dia rasakan tidak bisa mabuk lagi!" Reza ikut mengimbuhi.


"Biar dia nanti ikut merasakan diancam dengan panci!" seru Samuel.


"Plus tidur diluar!" Ken menambahi.


Para istri terkekeh, suami mereka kompak sekali. Sementara Zack, dia bersandar di salah satu pohon yang tinggi. Masih asyik menikmati teguk demi teguk minumannya. Padahal dia sudah pusing tapi masih saja minum wine itu.


"Panggilkan Mei, biar dibantu jalan!" seru Erick.


"Mei? Lihatlah disana, pa!" Dave menunjuk seseorang.


Nampak Mei sibuk mendatangi satu per satu meja dimana hidangan disajikan. Dia mencicipi semua hidangan yang ada di sana.


"Aduh Mei bikin malu," keluh Aryn.


"Udah biasa! Biarkan saja, nanti kalau kenyang dia berhenti juga," Katy terkekeh.


"Sekretarismu dimana sayang? Dia hadir kan?" seru Zela pada Reza.


"Tadi ada kok, mi!" jawab Reza.


"Aku tadi melihatnya," sahut Silvi.


Semua orang celingukan mencari Glen. Pasalnya sejak tadi Glen hanya terlihat saat awal acara saja, saat ia masuk bersama Uti. Sejak saat itu Glen maupun Uti tidak terlihat.


"Cari saya, ya?" Glen tiba-tiba muncul di hadapan Reza.


"Darimana saja kau?" Reza menatap Glen tajam.


"Glennn!!!" terdengar teriakan, suaranya seperti Uti.


"Nah itu, my queen sudah memanggil!" ucap Glen.


"Maksudmu? Queen siapa?" tanya Reza.


"Bos lupa? Hari ini saya jadi pasangannya Uti!" jawab Glen.


Hahahahahaha...


Semua orang tertawa, dari kejauhan nampak Uti melambaikan tangannya dengan mesra untuk memanggil Glen. Rupanya tadi Glen mengambilkan makanan untuk Queen-nya. Karena Glen sekarang membawa sepiring makanan.


"Ya sudah, sana jadi pasangan yang baik untuk Utiku ya!" seru Aryn.


"Siap, nona!" Glen berbalik dan berlarian menuju tempat Uti berada.


"Aduh aku tertawa sampai nangis," Zela mengelap sudut matanya.


Mereka semua melihat Glen yang berlarian menghampiri Uti.


"I am comming, my queen!" seru Glen.


Mereka semua tidak bisa menahan tawa mereka. Di samping itu Edgar merasa terenyuh.


"Carikan pacar untuk sekretarismu itu, papi tidak tega!" ucap Edgar.


"Biar nanti Silvi yang carikan, pi!" Silvi terkekeh.


..................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!

__ADS_1


Bolehlah mampir ke novel baru author....



__ADS_2