
Tak tak tak,
Terdengar suara langkah kaki seseorang menuju ruangan Reza. Reza mengepalkan kedua tangannya. Sementara Glen, ia berdiri di pojok ruangan. Ia merasa jijik dengan tingkah laku Si Zara.
"Hi honey!"
Reza melengos.
"I miss you," Melon alias Zara berkata centil.
"How dare you! Beraninya kau menemuiku lagi!" sahut Reza.
"Sudah kubilang, i miss you..."
Zara alias si wanita melon masih terlihat sama seperti dulu. Memakai pakaian yang ketat dan pendek. Lipstik merah menyala dan baju belahan dada yang rendah sepertinya sudah menjadi ciri khasnya.
"Aku harap kau tidak melupakan saat terakhir kita bertemu," Reza tersenyum smrik.
"Tentu aku ingat, gara-gara malam itu aku trauma. Untung polisi tidak menangkap. Tapi aku cinta mati denganmu, kamu harus jadi milikku!"
"Cih!" Reza berdecak.
Wanita ini mungkin sudah tidak waras. Reza padahal sudah memberinya pelajaran di Paris dulu. Masih saja terobsesi dengan dirinya.
"Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum aku bertindak lebih dari malam itu," suara Reza terdengar menyeramkan.
"Aku tidak takut, akan aku lakukan apapun agar bisa memilikimu!"
"Kau tidak lihat ini?"
Reza mengangkat tangannya, ia menunjukkan sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya. Orang bodoh pun tahu Reza sudah menikah sekarang.
"Justru yang milik orang lebih menggoda lagi," Zara tersenyum genit.
"Pergi dari sini!" teriak Reza.
"Jangan sok nolak,"
"Pergi atau sebelum aku..." suara Reza tercekat.
"Honey...I really miss you!"
Reza semakin muak.
"Panggil saja office girls kita bos! Hanya para wanita yang mempunyai kekuatan untuk memusnahkan seorang wanita penggoda!" seru Glen menggebu-gebu.
Benar juga ucapan Glen. Sesama wanita pasti tahu cara menangani wanita seperti Zara ini.
"Office girls!!!!" teriak Reza.
*Back song*
Trentengteng...Terentengtengtengtengteng......
Zack melongo, barisan office girls datang ke ruangan Reza. Wajah mereka cantik-cantik tapi terlihat seram. Ternyata office girls tidak hanya bisa mengepel saja.
"Bawa dia keluar!" seru Reza.
"Siap!" sahut mereka kompak.
"Eh apa-apaan ini!" Zara memberontak.
Reza tersenyum puas. Office girls itu menyeret paksa Zara. Tidak hanya tangan mereka yang bekerja, mulut mereka juga tidak mau kalah.
"Ayo keluar kau ulet bulu!"
"Penggoda suami orang sepertimu harus enyah dari muka bumi ini,"
"Apa perlu kami carikan kau pekerjaan agar kau tidak berkeliaran menggoda pria beristri?"
"Apakah harga dirimu ketinggalan di rumah?"
"Ooops! Kau kan sudah tidak punya harga diri, ya?"
"Sudah diobral!"
"Ayo keluar!"
"Sebelum kami patahkan kukumu!"
"Jauhkan tangan kalian dari tubuhku, kalian habis ngepel kan pastinya, kotor!" Zara memberontak.
Zara tidak berdaya, ia tidak bisa melawan. Ia baru dilepaskan saat sudah sampai di parkiran. Itupun dalam keadaan yang acak-acakan. Orang-orang yang berlalu-lalang tertawa dan mencibirnya.
"Awas kalian!" teriak Zara kesal.
Zara berjalan dengan menghentakkan kakinya keras ke jalanan. Hingga,
Gedubruk,
"Awww...." Zara tersungkur di jalanan.
Hak sepatu Zara patah karena dihentakkan dengan keras.
Hahahahahaha...
__ADS_1
Orang-orang yang tadi mencibir Zara semakin tertawa dengan keras.
"Arrgghh!" Zara menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Mampus!" seru Zack.
Sejak tadi Zack menyaksikan kejadian memalukan itu dari kaca jendela. Ya walaupun tidak jelas karena ketinggian gedung itu, tapi Zack masih bisa melihat Zara yang mencium aspal jalanan.
"Gua masih bingung wanita itu udah gua kasih pelajaran, masih aja nyamperin sampe sini," keluh Reza.
"Dia cinta mati sama lo?"
"Cinta mati? Perkiraan gua dia pasti dendam setelah malam itu, gua bunuh semua anak buahnya di hadapan dia. Dan bukti yang gua tinggal itu berat ke dia semua."
"Selama ini dia nggak balas dendam kan? Mungkin iya dia masih cinta," sahut Zack kemudian.
Mereka terdiam beberapa saat.
Drrtt...Drrttt...
Ponsel Zack berbunyi.
"Ah sial! Gua pergi dulu, Za!" ucapnya.
"Sekarang? Kemana? Ngapain? Sama siapa?" tanya Reza.
Zack tertawa.
"Kehamilan istri lo bikin lo makin bawel, ya?" ucapnya.
"Ditanya itu dijawab!" Reza sewot.
"Barusan pesan dari Clara. Dia minta dibelikan makanan,"
"Lo mau aja disuruh?"
"Jelas gua mau, dia ngancem mau bilang ke media!" wajah Zack terlihat kusam.
"Gua bakal bantu sebisa gua," Reza menepuk bahu Zack.
"Thanks, bro!"
Zack meninggalkan ruangan Reza.
"Bos, saya izin kembali ke meja kerja saya," Glen juga hendak meninggalkan ruangan bosnya.
"Tunggu Glen!" seru Reza.
"Iya, bos! Ada yang saya bisa bantu lagi?'
"Jangan beritahu Silvi soal Zara," jawab Reza.
Glen meninggalkan ruangan Reza. Pekerjaannya sudah menunggu untuk dijamah.
++++++++++++++++
Di rumah Cavero,
Emmy masih setia menemani Mei di kamarnya. Menantunya itu sangat sedih.
"Sayang sudah jangan menangis lagi," Emmy mengelus kepala Mei.
"Hati Mei sakit, ma! Sakit....Hiks hiks hiks,"
Emmy menghela napas panjang. Setiap orang pasti punya cara sendiri untuk meluapkan kesedihan. Emmy juga sedih, tapi ia bukan tipe yang menangis untuk meluapkan kesedihan.
"Sayang, makan dulu ya?" ucap Emmy.
Seorang pelayan membawakan nampan berisi makanan dan minuman untuk Mei. Mei mengurung diri sejak kejadian kemarin.
"Sayang...." Emmy mengelus kepala Mei.
"Mama sudah urus perpisahan Mei dan Zack?" Mei justru menanyakan hal lain.
"Belum sayang, jangan terburu-buru mengambil keputusan. Kita beri waktu untuk Zack menyelesaikan masalah ini,"
"Tapi ma..." Mei sesenggukan.
"Mama paham perasaan kamu, percaya sama mama!"
Mei mengangguk.
"Sekarang kamu makan dulu," seru Emmy.
"Mei nggak laper,"
"Menghadapi pria hidung belang seperti Zack juga butuh tenaga, Mei!" Emmy menyuapkan makanan ke mulut Mei.
Mei terpaksa membuka mulut, sebenarnya perutnya juga lapar.
"Hemm, enak juga..." gumam Mei.
"Makan dulu, seharian kamu nangis nggak pegel apa?" ucap Emmy.
Mei mengambil alih sendoknya. Satu suap, dua suap, ia akan dengan lahap. Sampai tandas satu piring. Emmy geleng-geleng. Baru satu menit yang lalu Mei sok-sokan tidak mau makan. Nggak laper katanya.
__ADS_1
"Bawakan lagi! Oh ya, bawakan ice cream sekalian!" ucap Mei pada pelayan.
Emmy tertawa.
++++++++++++++++++++
Di rumah Reza,
Zela dan Silvi sedang bersantai menonton film di ruang tengah. Sejak siang tadi mereka maraton menonton drama korea yang direkomendasikan Aryn. Sebenarnya tadi ada Aryn juga, tapi karena sudah sore Aryn pulang. Zela terlihat sibuk sendiri. Ia menonton film sambil mengupas dan memotongkan buah apel untuk menantunya.
"Buka mulut lagi, sayang!" ucap Zela.
Hap,
Sepotong apel masuk ke dalam mulut Silvi.
"Waktu hamil seperti ini, kamu harus banyak makan makanan yang sehat. Contohnya buah apel ini.....Aaaaaakkk!" ucap Zela.
Hap,
Potongan apel masuk lagi ke dalam mulut Silvi.
"Sudah cukup, mi! Mami sudah memberikan dua apel untukku. Bisa-bisa aku mabuk apel nanti," keluh Silvi.
Zela tertawa.
"Cuma dua apel, mana mungkin mabuk!" ucap Zela.
"Silvi tidak terlalu suka apel," jawab Silvi.
"Kalau begitu, anggur saja ya?"
Zela mengambil wadah plastik yang berisi anggur. Kemarin Zela memaksa meletakkan kulkas baru yang ia beli. Sebenarnya ia ingin memberikan mesin pendingin khusus untuk buah tapi Silvi mengatakan itu berlebihan. Akhirnya tercetus ide membelikan kulkas baru agar semua buah yang ia belikan bisa di simpan dan tetap segar. Kulkas yang ada di dapur tidak muat menampung semua buah yang dibawa Zela.
"Baiklah..." Silvi tersenyum.
Reza dan Silvi, mereka sama-sama tidak suka hidup dengan 'Wah'. Mereka tidak suka ada pelayan di rumah mereka. Tidak ada sopir, kecuali jika memang kondisinya mendesak. Tidak ada penjaga seperti di rumah orang tua Reza dan mansion Dave. Belanja dan perabotan juga seperlunya. Jadi wajar mereka sempat berdebat dengan Zela yang mengotot membelikan lemari pendingin khusus untuk buah-buahan.
Zela merasa senang, setelah pernikahan ada banyak perubahan dalam hidup putranya. Beruntung sekali putranya mendapatkan pasangan hidup yang seperti Silvi. Hanya satu kekurangan Silvi menantunya itu, dia tidak suka shopping seperti dirinya.
"Mi...." pekik Silvi tiba-tiba.
"Kenapa sayang?" Zela terkejut.
"Ada semut kecil di dalam kotak anggur ini,"
"Mami harus jewer Reza, anggurnya tidak dicuci dengan bersih!" Zela sewot.
"Bukan itu masalahnya, mi..." lirih Silvi.
"Terus?"
Wajah Silvi mendadak jadi sedih.
"Silvi kasihan, mi! Semut ini masih kecil, sudah berjuang sendiri untuk mencari makanan tapi malah terperangkap dalam kotak ini huhuhuhu..." Silvi menangis.
Zela menatap Silvi tidak percaya.
"Kasihan...." lirih Silvi.
Sepersekian detik kemudian, Zela tersenyum. Hal ini terjadi karena hormon selama masa kehamilan. Silvi jadi lebih sensitif.
"Sudah mami keluarkan semutnya, biar dicari keluarganya. Cup cup jangan nangis lagi ya?" Zela menenangkan Silvi.
"Iya, mi!" lirih Silvi.
Zela jadi ingat waktu makan siang di mansion Dave dulu. Silvi meminta agar udang di meja makan dimakamkan secara layak. Ia tersenyum sambil mengelus perut Silvi.
Ting tong,
Bel rumah berbunyi. Zela menahan Silvi yang hendak berdiri.
"Biar mami saja yang buka," ucap Zela.
Silvi mengangguk. Zela berjalan ke depan membuka pintu.
"Tidak ada orang," gumam Zela, di depan rumah tidak ada siapapun.
Pagar rumah juga masih tertutup rapat. Siapa yang datang? Saat Zela berbalik hendak masuk ke dalam rumah lagi, kakinya menginjak sesuatu. Ternyata itu sebuah bucket bunga. Zela mengambilnya, membawanya masuk ke dalam.
"Di depan tidak ada orang, mami hanya menemukan ini!" ucap Zela pada Silvi.
"Dari siapa, mi?" tanya Silvi.
Zela dan Silvi melihat sebuah kertas kecil di bagian dalam bucket bunga itu bersama-sama.
"It''s for you, my Reza.." Silvi membaca.
"From Zara," sambung Zela.
"ZARA?" pekik Silvi dan Zela bersamaan.
"Melon is back. Mi, Silvi sedang hamil sekarang. Nanti Silvi jadi gendut jelek. Apakah Kak Reza dan melon punya hubungan lagi? Melon itu cantik dan seksih. Kak Reza selingkuh, mi?" Silvi panik.
"Jangan mikir yang aneh-aneh sayang, mami telpon Reza dulu biar dia cepat pulang, ya?" ucap Zela.
__ADS_1
......................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!