
Angel memberikan ponselnya pada Kelyn, putri kesayangannya itu ingin menonton kartun kesukaannya. Dengan senang hati Angel izinkan agar putrinya tidak rewel.
"Mommy Angel pinter banget ngasuh anak ya, tinggal kasih hape diam anaknya," Mei datang dengan membawakan jus.
"Kamu jangan menyindir, Kelyn kalau sama aku pasti sering rewel, dari kecil lebih deket sama daddy-nya dia itu," jawab Angel.
"Sama kayak Arthur ya, dia juga lebih deket sama daddy," sahut Naina.
"Davin juga," Aryn menyahut.
"Jangankan anak kalian, anak aku yang masih di dalam perut aja tahu kalau dielus daddy-nya. Kalau malam nih, nggak bisa tidur aku kalau perutku belum dielus," Silvi turut menyahut juga.
"Menurutku, anak-anak kita lengket sama daddy-nya itu wajar sih. Soalnya mereka penyanyang banget, anak mereka minta apa juga dikasih. Misalnya Davin nih, dia pas minta makan ice cream nggak aku kasih dia lari ke daddy, kalau sama daddy pasti dikasih." ucap Aryn.
"Jadi nggak sabar punya anak juga," Mei mengkhayal.
Mereka tertawa.
Ting,
Mereka mengangkat gelas jus mereka tinggi dan bersulang.
"Kelyn sayang, tadi aunty lihat Apin menonton kartu di ruang tengah loh," Mei menatap Kelyn.
"Beneran aunty?" Kelyn langsung meletakkan ponselnya.
"Mommy, aku mau menonton kartun dengan Apin aja ya, bye mommy!" ia kembalikan ponsel milik mommy-nya dan berlarian ke ruang tengah.
"Kelyn kalau dengar Nama Davin langsung semangat seperti mau perang," Angel geleng-geleng kepala melihat tingkah lucu putrinya.
"Biarin aja, namanya juga anak kecil," Aryn turut terkekeh.
"Kelyn sepertinya suka loh sama Davin, jodohin aja moms!" seloroh Mei.
"Aku sih nggak mau jodoh-jodohin, moms! Davin dan Kelyn masih kecil, jika sudah besar nanti pun aku tidak akan menjodohkan Davin. Biar dia memilih pasangan yang benar-benar ia cintai nantinya," jawab Aryn.
"Aku setuju!" Angel membenarkan ucapan Aryn.
"Asik, anak aku dapet kesempatan nikung Davin nih!" Mei girang.
"Baru tadi pagi dicium udah ngomongin anak aja Mei Mei!" Naina meledek.
Mei tersenyum, ia menyibak rambutnya ke samping. Lantas ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk pamer.
"Wah wah wah, jadi suara meja mentok ke dinding tadi beneran?" seloroh Angel.
"Kalian dengar?" wajah Mei merah.
"Kami semua menunggu setengah jam, jelas kami dengar semuanya," Aryn menyahut.
"Gimana tadi suaranya, ah ah ah, Zack!..." Silvi menirukan suara Mei.
"Kalian....." Mei menutup wajahnya.
Mereka tertawa.
"Seger kan pagi-pagi?" tanya Angel.
__ADS_1
"Seger apaan, sakit tau, perih!" keluh Mei.
"Loh kamu masih segelan Mei?" tanya Naina.
"Bukannya kamu menikah dengan Zack itu karena ke-gap di hotel?" imbuh Aryn.
"Aku sama Zack sama-sama mabuk waktu itu, ya nggak tau dong wikwik beneran atau enggak. Ternyata aku masih perawan, moms!" Mei terkikik.
"Terus Kak Zack marah enggak? Secara dia kayak dijebak gitu nggak sih?" tanya Silvi.
"Mana ada dia marah sama aku, papa dia noh yang jebak kita. Aku juga terjebak, kukira aku sudah tidak perawan lagi hiks.." raut wajah Mei terlihat sedih.
"Yang sudah kejadian ya biarin aja," ucap Naina.
"Nyoba berapa gaya tadi?" tanya Angel blak-blakan.
"Cerita dong, gimana pengalaman pertamanya hahaha!" sahut Naina.
"Capek, moms! Aku ditarik ke sana, ditarik kesini, ditindih, diangkat, dibolak-balik macam roti isi." Mei terkikik.
Mereka tertawa mendengar cerita Mei.
"Lagi nih ya, moms! Abis dibolak-balik, dia tempel aku di dinding. Berasa jadi cicak yang lagi kasmaran wkwkwk..." imbuh Mei.
"Dari wajahnya aja keliatan, Zack itu mesum! Nggak kasihan anak perawan langsung diserang abis-abisan!" sahut Naina.
"Kalau aku udah nggak heran sih," celetuk Angel.
"Maksudnya?" Mei bingung.
"Hus Angel! Malah buka kartu sendiri!" Aryn sepertinya tahu.
"Aku salah satu mantannya Zack," lirih Angel.
"What!!" Mei terkejut sekaligus sedih.
"Hanya mantan, Mei! Itu juga udah lama, bertahun-tahun yang lalu waktu Angel jadi model di agensi milik papanya," Aryn mencoba untuk menetralkan suasana.
"Lagian aku punya suami, Mei! Maaf aku harusnya nggak bicara seperti itu tadi," Angel menatap Mei.
"Iya, santai aja. Aku juga tahu Zack mantan buaya. Masa lalunya biarlah jadi masa lalu. Yang penting masa sekarang dan masa depan saja sih, lagipula aku dulu juga buaya betina wkwkwk..." jawab Mei.
Mereka semua kembali tertawa, tidak ada yang lebih menyenangkan dari berkumpul dengan para sahabat.
"Jadi gimana, Ryn?" tanya Mei.
"Apanya yang gimana?" Aryn bingung.
"Kalau anakku cewek, kita besanan ya?" Mei tertawa.
"Sudah aku bilang, aku nggak mau jodoh-jodohin Davin, Mei!" Aryn cemberut.
"Tuh dengerin! Kalau mau ya bersaing sama anak aku!" seloroh Kelyn.
Mei mengacungkan jempolnya.
"Ngomongin anak mulu, baru aja wikwik sekali!" Silvi meledek.
__ADS_1
"Walaupun sekali langsung jadi! Udah nyicil hidungnya tadi, nanti malam mau bikin tangannya wkwkwk..." seloroh Mei.
"Makin gesrek aja Mei Mei..." keluh Aryn.
"Kalaupun langsung jadi, masa mau bersaing sama Kelyn. Nggak mungkin anak kamu nanti ngejar cinta om-om. Davin sekarang sudah mau masuk 6 tahun loh." seru Angel.
"Iya juga ya? Tapi nggak masalah, kan om-om tajir!" jawab Mei.
Mereka tertawa.
...*************...
Glen tengah mematut diri di depan cermin. Selamam Elie menelponnya, gadis itu mengatakan hari inilah Glen harus membantunya. Jadi Glen bangun pagi-pagi. Membersihkan badan, dan mengenakan pakaian kasual miliknya yang selalu digantung di almari. Maklum saja ia lebih sering ke kantor.
Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, mengecek apakah rambut dan wajahnya sempurna atau belum. Lantas ia mengecek lagi penampilannya. Ia miringkan badannya ke kiri, ke kanan, mengangkat tangan ke atas, berjongkok, sampai melompat di depan cermin.
"Kamu selalu tampan, Glen!" ucap Glen penuh percaya diri di depan cermin.
Baru ia mengambil kunci mobil dan keluar rumah.
"Aku akan pelan-pelan sayang, kamu belum lunas!" ucap Glen saat menutup pintu depan rumahnya.
Pintu pagar depan tertutup sendiri saat mobil Glen sudah keluar. Walaupun cicilan, jangan disepelekan fitur rumah Glen. Rumah itu mengusung desain modern. Pagarnya saja menggunakan remot dan terbang di ponsel Glen.
Glen mengemudikan mobilnya menuju alamat yang telah diberikan Elie semalam. Ia bersenandung ria di dalam mobil. 30 menit kemudian, baru ia tiba di lokasi.
Mobil Glen berhenti di depan sebuah rumah, tidak kalah mewah dari rumah bosnya. Glen tidak keluar dari mobil, ia menelpon Elie. Sayangnya, Elie menyuruh Glen masuk karena ia masih bersiap. Jadi Glen turun dari mobil.
Pagarnya terbuka , ia langsung masuk dan memencet bel di dekat pintu utama rumah itu.
"Selamat pagi," ucap Glen saat pintu itu dibuka.
"Pagi! Glen ya? Silahkan masuk, Elie sebentar lagi selesai!" Glen dipersilahkan masuk.
Kedua mata Glen tidak bisa berpaling dari wanita yang membukakan pintu untuknya. Wajahnya sangat cantik. Mungkin saja kakaknya Elie, umurnya mungkin 2 tahun lebih tua dari Elie.
Wanita itu datang membawakan jus, meletakkannya di meja dengan gerak tubuhnya yang anggun. Glen berdecak kagum, bahkan caranya duduk saja anggun.
"Ayo berangkat, Glen!" Elie berlarian turun dari tangga.
"Biarkan Glen minum jusnya dulu, Elie!" sahut wanita itu.
Sebenarnya tanpa diminta wanita itu, Glen juga akan meminumnya. Sebelum Elie sampai di lantai satu, Glen telah menghabiskan jusnya. Kelakuan yang membuat wanita tadi geleng-geleng.
"Jaga Elie ya, Glen!"
"Siap!" Glen tidak sempat melambaikan tangan pada wanita cantik itu. Elie menarik tangan Glen dengan kuat.
"Loh, kamu yang menyetir?" pekik Glen.
Saat ini Elie memaksanya untuk duduk di kursi sebelah kemudi. Elie yang akan mengemudikan mobilnya.
"Biar cepat, lo nyetir kayak siput mau beranak! Kita sudah terlambat ini," jawab Elie.
Ngeeenggg.....
Mobil Glen melesat jauh. Glen berpegangan erat, Elie mengajaknya membalap pagi ini.
__ADS_1
..................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!