
Satu per satu persiapan mulai dilakukan. Edgar dan Zela saat antusias, karena putra semata wayang mereka yang akan menikah. Erick dan Katy justru pusing. Pasalnya Edgar dan Zela memberikan banyak sekali rekomendasian baik dekorasi, tempat, baju pengantin, kartu undangan, hingga makanan.
"Yang ini bagus, sangat elegan..." Katy menunjuk salah satu foto yang ditunjukan Zela.
"Wah seleramu sama denganku, besan!" Zela juga memilih tempat dan dekorasi yang dipilih Katy.
Erick dan Edgar hanya memperhatikan istri mereka yang sibuk mempersiapkan acara anak mereka. Mereka memilih diam karena memang wawasan tentang pesta yang mereka miliki tidak seluas istri mereka.
"Bagaimana menurut kalian?" Zela menunjukkan fotonya kapada Reza dan Silvi.
"Bagus, mi!" kedua mata Silvi berbinar.
"Kalau Reza setuju apa yang dipilih Silvi. Bagi Reza yang penting nikah!" sahut Reza.
"Anak muda zaman sekarang, tidak sabaran!" Katy terkekeh.
"Apakah kamu sudah memilih gaunnya, sayang?" tanya Zela.
"Belum, mi!" Silvi tampak sedih.
"Loh kenapa sayang? Waktu kita tidak banyak," sahut Katy.
"Aku sudah memilih kemarin, tapi Kak Reza ini selalu tidak suka," Silvi cemberut.
"Reza jangan memperlambat dong, sayang!" Zela menatap putranya.
"Kalian lebih baik lihat dulu gaun yang dipilih Silvi," ucap Reza.
Reza melambaikan tangan memanggil Glen yang duduk agak jauh dari mereka semua.
"Bos memanggil saya?" seru Glen dari kejauhan.
"Tidak, aku sedang menyapa patung di belakangmu," jawab Reza ketus.
"Ohh..." Glen mengangguk.
Glen kembali fokus pada ipad di tangannya. Ia menggeser-geser layar benda pipih itu. Reza memijit pelipisnya, kalau boleh ia ingin ganti sekretaris.
"Heh Gentong! Aku memanggilmu!" Reza kesal.
"Iya iya, bos!" Glen mendekat.
"Mami lihat sendiri kan? sebenarnya apa motivasi mami memilih Glen menjadi sekretarisku?" Reza mengadu pada maminya.
"Karena dia polos, tidak macam-macam." jawab Zela dengan santai.
"Polos? Tepatnya bodoh mi," Reza mendengus kesal.
Glen menyimak perdebatan ibu dan anak itu. Ia merasa senang karna yang merekrutnya dulu adalah Zela. Jadi sekesal apapun Reza padanya, ia tidak akan dipecat.
"Tunjukkan gaun yang dipilih Silvi kemarin!" Reza memerintah Glen.
"Siap, bos!" jawab Glen.
Glen menyerahkan ipadnya pada Reza. Lantas Reza menunjukkannya pada orang tuanya dan orang tua Silvi.
"Ini gaun yang dipilih Silvi," ucap Reza.
"Bagus, kok!" seru Zela.
"Iya, bagus! Terlihat elegan dan mewah," imbuh Katy.
"Bagaimana menurut Om Erick?" tanya Reza.
"Bagus, sama seperti gaun pernikahan pada umumnya," jawab Erick.
"Nah bagus, kan? Tapi Kak Reza itu tidak suka semua gaun yang aku tunjukkan!" Silvi merengek.
"Kalian lihat ini!" Reza memperbesar tampilan bagian dada gaun itu.
__ADS_1
"Lalu ini!" Reza memperbesar bagian punggung gaun itu.
"Apa masalahnya?" tanya Katy.
"Aku tidak setuju, gaun ini akan memamerkan dada, lengan, punggung calon istriku! Sudah seperti telanjang!" seru Reza menggebu-gebu.
"Ini model!" protes Silvi.
"Model apa? Model gaun kurang bahan?" sahut Reza.
"Aku mengerti jalan pikiranmu, son!" Edgar terkekeh.
"Tidak salah aku pilih mantu," Erick juga terkekeh.
"Kalian ini para pria tidak tahu fashion!" ucap Zela.
"Lalu apa maumu, Reza? Gaun mana yang akan dikenakan Silvi?" tanya Katy.
"Apakah tidak ada gaun yang menutup semua bagian dada dan leher, bagian lengan, dan bagian punggung! Kemudian gaunnya panjang sampai mata kaki! Silvi akan terlihat seperti bidadari," ucap Reza sambil membayangkan penampilan Silvi saat pernikahan nanti.
"Baiklah baiklah, gaun resepsinya juga?" sahut Zela.
"Tentu!" sahut Reza.
"No no...Tidak! Kalau gaun akadnya aku bisa setuju karena warnanya putih. Tapi kalau gaun resepsi...Big no! Kata Mami Zela gaun resepsinya warna hijau muda, kalau dibuat seperti model yang diminta kakak...Aku nanti akan terlihat seperti makanan yang pernah dimasak Uti!" Silvi protes.
"Lontong maksudmu?" Katy terkekeh.
"Iya itu...Aku nggak mau jadi lontong!" Silvi merengek.
Semua orang yang ada di sana tertawa. Termasuk juga Reza. Membayangkan makanan yang pernah dimasak Uti. Setelah didiskusikan lagi, akhirnya mereka mempunyai jalan tengah untuk masalah ini. Mereka mengganti tema acara resepsi. Agar gaun dan dekorasinya bisa disesuaikan.
Di tempat lain,
Mei sudah mulai bekerja di kantor Zack dari kemarin. Hari ini adalah hari ketiganya bekerja di sana. Tugasnya sama seperti sekretaris pada umumnya. Pagi ini ia sangat sibuk, karena Zack mempunyai jadwal rapat pukul 9 pagi. Mei harus menyiapkan segalanya, di ruang rapat nanti ia juga harus mencatat poin-poin penting rapat.
"Jadi begini rasanya jadi orang sibuk, sarapan saja dikejar waktu!" Mei berbicara pada dirinya sendiri.
Mei mengeluarkan botol miliknya yang berisi susu. Akhir-akhir ini Mei menjadi gemar minum susu saat sarapan. Untuk menambah stamina.
"Hah! Kosong!" pekik Mei.
Ia hanya menoleh sebentar untuk mengambil botol. Tapi sarapannya sudah lenyap. Mei mengecek bawah mejanya, bisa saja sandwich isi daging dan keju miliknya terjatuh.
"Enak juga," terdengar suara seseorang.
Mei langsung menoleh ke samping. Zack berdiri di ambang pintu kaca pembatas ruangan Zack dan Mei. Yang membuat Mei kesal adalah sandwich yang harusnya menjadi sarapannya berada di tangan bosnya itu.
"Itu milikku!" seru Mei.
"Aku lapar, belum sarapan tadi!" jawab Zack.
"Pak Bos, saya juga belum sarapan! Sandwich itulah sarapanku!" Mei menghampiri Zack.
"Berbagi itu indah," mulut Zack penuh dengan makanan.
"Pak Bos sudah makan setengah, paling tidak berikan setengahnya untukku!" Mei merengek, tangannya berusaha meraih sandwich dari tangan Zack.
"Tidak mau, ini enak! Besok bawa lagi!" Zack menaikkan tangannya yang memegang sandwich.
Terjadi adegan saling berebut sandwich. Mei melompat-lompat untuk menggapai tangan Zack yang naik tinggi ke atas. Zack tertawa menyaksikan Mei kesusahan untuk menggapai tangannya.
"Ayolah, bos! Saya lapar!" Mei merengek.
"Aku juga lapar," Zack terkekeh.
"Meetingnya 20 menit lagi loh, saya butuh tenaga!" Mei merayu.
__ADS_1
"Yang bicara saat meeting nanti aku, aku yang butuh tenaga!" Zack meledek.
"Zackkkk!" Mei marah.
"Ohoo...Kau marah sekarang!" Zack meledek.
"Zackkk kembalikan!" seru Mei.
"Coba kalau bisa!" Zack tidak mau mengalah.
Mei mengambil ancang-ancang, dan ia melompat. Hap! Tangannya bisa merebut sandwichnya. Tanpa menunggu lama langsung ia lahap semuanya. Zack sampai tidak bisa berhenti tertawa melihat kerakusan Mei. Malangnya, saat baru memasukkan sandwich ke mulutnya. Kaki Mei tersandung pintu kaca.
Hap,
Zack menangkap tubuh Mei yang hampir jatuh terjengkang ke lantai. Mei menghentikan aktivitas mengunyahnya sehingga mulut Mei penuh dengan makanan. Sungguh pemandangan yang menggemaskan untuk Zack. Zack menatap Mei dari jarak dekat. Mulut Mei yang penuh makanan menambah lucu wajah Mei.
Sial! Kenapa momennya pas seperti ini, batin Mei.
Mei cepat-cepat menjauh dari Zack. Ia merapihkan pakaiannya dan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Gadis aneh!" ucap Zack.
Kedua mata Mei melotot, "Mmmm..mmm mm..." seru Mei tidak jelas.
"Ngomong apa sih?" Zack terkekeh.
"Mmm mmm...mmm mmm!' seru Mei.
"Kunyah dan telan dulu makananmu, bodoh!" Zack tertawa terpingkal.
Mei meraba pipinya. Astaga! Mulutnya masih menggembung karena penuh dengan makanan. Bahkan ada sedikit selada yang bergantung di mulutnya.
Otakku pasti eror, sampai lupa mengunyah makanan, batin Mei.
"Pasti efek menatapku jarak dekat," Zack meledek.
Malu, Mei sangat malu. Ia kembali ke mejanya. Ia duduk membelakangi Zack. Mulutnya mengunyah makanan dengan cepat lalu menelannya. Lagi-lagi ada kejadian memalukan saat ia berada sangat dekat dengan Zack.
Sejak menit itu, sampai meeting selesai Mei tidak berani menatap Zack ataupun berbicara langsung dengan Zack. Ia merasa sangat malu. Sampai pada waktu jam makan siang. Ada telepon dari loby, ada tamu yang ingin bertemu dengan Zack.
"Tuan Zack tidak ada janji bertemu siapaun hari ini, katakan pada dia untuk membuat janji terlebih dahulu," ucap Mei pada resepsionis yang menelponnya.
"Saya sudah memintanya. Tapi wanita itu mengatakan jika tidak perlu membuat janji,"
"Tanyakan siapa nama dan apa keperluannya!" Mei menjawab.
"Nama wanita itu adalah Clara. Kekasih Tuan Zack,"
"Akan saya sampaikan pada Tuan Zack, suruh dia menunggu. Sebelum saya menelpon jangan biarkan dia naik ke ruangan Tuan Zack!" jawab Mei.
"Baik,"
Mei menutup telepon. Kekasih? Zack punya kekasih? Sejak kapan? Ah sudahlah, bukan urusannya. Ia bergegas masuk ke ruangan Zack untuk melapor.
"Pak Bos ada tamu ingin bertemu dengan anda, Clara namanya!" ucap Mei.
"Suruh dia masuk!" jawab Zack singkat, padat, dan jelas.
"Baik," Mei meninggalkan ruangan Zack.
Ia menelpon resepsionis untuk memberitahukan perintah Zack. Mei penasaran siapa dan bagaimana wanita yang katanya kekasih Zack itu. Tak lama kemudian, seorang wanita datang. Wanita itu tinggi, putih, cantik, sexy, pokoknya sangat cantik seperti model internasional.
"Hi, Zack ada di dalam? Aku Clara," sapa wanita itu.
"Iya, silahkan masuk! Tuan Zack menunggu di dalam," jawab Mei sedikit jutek.
Begitu pintu kaca itu tertutup sesaat setelah Clara masuk, Mei beranjak dari kursinya. Ia berniat akan mengintip mereka.
................
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!