Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
BABY ABC


__ADS_3

"Zack!" lirih Mei.


Zack terkapar di lantai.


"Bawa Tuan Zack keluar saja!" ucap dokter.


Dua orang perawat yang turut membantu operasi di dalam sana bergegas mengangkat Zack. Zack dibawa keluar ruang operasi. Mama Emmy dan Mama Fang langsung memberi tempat agar Zack ditidurkan saja di kursi tunggu.


"Apakah Tuan Zack tidak dibawa ke ruang emergency agar dicek dokter, nyonya?" tanya salah satu perawat.


"Tidak usah nanti juga dia bangun sendiri, dia baik-baik saja!" ucap Mama Emmy.


Dua perawat tadi mengangguk setuju lantas kembali ke dalam ruang operasi lagi.


"Anak ini membuat malu saja!" Mama Emmy menggerutu.


"Kasihan loh, sampai pingsan begini..." berbanding terbalik dengan Mama Emmy, Mama Fang justru mencemaskan Zack.


Mama Fang hendak memanggil dokter.


"Mau kemana?" tanya Mama Emmy.


"Mau panggil dokter, kasihan dia pingsan dan terlihat pucat!"


"Sebentar lagi dia akan bangun, saya yang akan bangunkan dia, besan!" jawab Mama Emmy.


Mama Fang hanya bisa setuju. Zack putra dari besannya, tentu besannya berhak melakukan sesuatu pada putranya. Mama Emmy mengangkat tangannya.


Plak plak,


Ia pukul pantat Zack.


"Aw aw!" Zack terduduk.


"Bangun bangun!" seru Mama Emmy.


"Kok aku ada di sini, ma? Harusnya aku di dalam menemani Mei!" Zack mendumel.


Mama Fang terkekeh.


"Kamu pingsan, dasar! Perawat yang membawamu ke sini, memalukan saja pakai acara lupa segala!" Mama Emmy mengomel.


Zack ingat di dalam tadi pandangannya mendadak jadi buram saat melihat darah di tubuh putranya.


"Tadi darahnya banyak, ma!" serunya.


"Makanya kalau nggak kuat jangan sok kuat, malah merepotkan kan jadinya. Mereka sedang mengoperasi istrimu kamu malah menambah pekerjaan mereka!"


"Iya iya, ma! Maaf maaf..." Zack menggaruk tengkuknya.


Lantas ia beranjak dari kursi. Zack berjalan menuju ruang operasi lagi. Belum sampai Zack meraih gagang pintu ruangan itu, suara Mama Fang menghentikannya.


"Mau kemana, Zack? mau masuk?" seru Mama Fang.


Zack mengangguk.


"Tidak usah kalau kamu memang tidak kuat, Zack! Biar mama saja yang menemani Mei,"


Zack menggeleng, "Tidak, ma! Aku akan masuk,"


"Kamu yakin, Zack?" seloroh Mama Emmy.


Zack mengangguk.


"Ya sudah, tapi kalau tidak kuat langsung keluar saja, ya!" sahut Mama Fang.


"Awas kalau kamu pingsan lagi! Mama tidurkan kamu di halaman rumah sakit biar semua orang tau!" Mama Emmy melotot mengancam.


"Iy-iya, ma! Zack akan berusaha!" lirih Zack.


Dengan segenap keberanian, Zack masuk kembali ke ruang operasi.


Owee.... Owee....


Zack masuk tepat di saat putra keduanya lahir. Secara reflek, Zack melihat ke sumber suara. Badan putranya dan tangan dokter berlumuran darah.

__ADS_1


"Astaga!" Zack langsung mengalihkan pandangannya.


"Zack...." suara lirih Mei memanggil suaminya.


Zack berjalan cepat ke samping Mei dengan berusaha untuk tidak melihat ke putra keduanya yang masih berlumuran darah, apalagi ke perut Mei yang sama mengerikannya bagi Zack.


"Iya, sayang! Aku di sini, putra kedua kita sudah lahir..." Zack menciumi pipi Mei.


"Kamu kenapa masuk lagi?" tanya Mei lemah.


"Aku tidak bisa meninggalkanmu berjuang sendirian, sayang!" jawab Zack.


Mei tersenyum tipis.


Zack tidak berdiri atau duduk di kursi, ia berjongkok di samping bed, postur tubuhnya yang tinggi membuat posisi kepala Zack bisa bersanding dengan Mei. Dengan begitu, pandangan Zack akan terhalang kain hijau, ia tidak akan melihat ke bagian yang berdarah.


Owee....Oweee....


Tangisan bayi kembali terdengar kencang di ruangan itu. Putra ketiga mereka telah lahir juga. Mei nampak menitikkan air mata, begitu pula Zack. Sekarang mereka resmi menjadi orangtua dari ketiga bayi tampan itu.


Dokter mengangkat putra ketiga mereka agar Mei dan Zack bisa melihat.


"Dia juga tampan kan, sayang? Seperti 2 kakaknya?" tanya Zack, kedua matanya terpejam tidak berani melihat.


"Iya," jawab Mei lemah.


"Dokter, istriku sudah melihatnya. Cepat bersihkan mereka dan selesaikan operasi ini, aku juga ingin melihat ketiga putraku!" Zack mengomel.


Dokter dan beberapa perawat yang ada di ruangan itu menahan tawa, tingkah Zack lucu bagi mereka. Tapi mereka juga salut, meskipun mempunyai phobia terhadap darah, Zack masih tetap menemani istrinya di ruang operasi.


Zack hanya menatap wajah Mei sampai operasi selesai. Kemudian Mei dibawa ke ruang perawatan berserta ketiga putra mereka. Zack diperbolehkan mendorong sendiri box bayi yang berisi ketiga putranya tidur berjajar rapi.


Pintu ruang operasi dibuka dari dalam,


"Cucu-cucuku...." Mama Emmy menyambut mereka, Mama Fang tidak kalah antusias.


Papa Cavero, Papa Xiao, Dave, Reza, dan yang lainnya juga sudah menunggu. Mereka tiba 5 menit yang lalu karena ditelpon oleh Mama Emmy. Mereka semua berjalan mengiring Mei dan ketiga putranya menuju ruang perawatan.


Zack dengan bangga, mendorong box bayi putra-putranya. Ketiga putranya semuanya tampan dan menggemaskan. Sesampainya di rumah perawatan, Mei disarankan untuk memberikan ASI terlebih dahulu untuk ketiga putranya secara bergantian. Zack juga diberi arahan untuk melakukan sentuhan kulit langsung dengan putra mereka.


"Tampan semua cucu-cucu kita, besan!" ucap Cavero pada Xiao.


"Benar, besan!" Xiao mengangguk setuju, ia mengelus kepala salah satu cucunya.


"Jangan heran kalau cucu kalian tampan, bibit unggul ini!" seloroh Zack sombong.


Dave dan yang lainnya melengos.


"Mei jadi yang paling cantik di rumah," seru Aryn.


"Wah benar itu, tidak ada saingannya hehehe...." sahut Angel.


Mereka tertawa.


"Kalian tadi tidak lihat bagaimana anak sombong ini waktu operasi," Mama Emmy melirik Zack.


"Mamaaaa...." Zack merengek, ia memberi isyarat agar mamanya tidak membeberkan kejadian tadi pada papa, papa mertua, dan sahabatnya.


Mama Fang hanya senyum-senyum saja, ia juga tahu apa yang terjadi tadi.


"Memangnya Zack kenapa tante?" Samuel paling kepo.


"Mewek ya? Dia kan jadi marsmellow sekarang," sahut Reza.


Zack menatap tajam sahabatnya.


"Jangan ceritakan ma, please!" pinta Zack.


"Ceritakan saja, sayang!" seloroh Cavero.


"Papa....." rengek Zack.


Mama Emmy tertawa.


"Dengar ya....Zack yang suka sombong ini, tadi diangkat keluar oleh perawat dari ruang operasi. Dia pingsan setelah melihat putranya hahaha..." serunya.

__ADS_1


Mereka semua terbahak. Cavero tertawa paling keras dan menghayati.


"Dasar! Badan tinggi besar sangar, nyali ciut!" seloroh Cavero.


"Dari dulu, om!" Samuel menimpali.


"Heh heh, Samsul! Lo sama juga ya!" seloroh Dave.


"Cuma gua yang jantan!" Reza sombong.


"Jantan tapi mewek," Dave meledek.


"Sayang, kamu juga nangis waktu Davin lahir," Aryn menimpali.


"Gua..." Ken hendak menyahut.


"Kamu apa, daddy? Aku ada videonya loh," Naina langsung membungkam Ken.


Cavero tertawa.


"Kalian sama aja berarti, badan doang serem!" serunya.


Ruang perawatan Mei jadi ramai.


"Sudah kamu siapkan namanya, nak?" tanya Mama Fang.


"Sudah dong, ma!" jawab Mei dan Zack kompak.


"Yang pertama, Ansell Johansson. Baby kedua, Bastian Johansson. Dan bayi ketiga, Chris Johansson." seru Zack.


"Kalau manggil ketiga-tiganya, Baby ABC..." sahut Mei menambahi.


Mereka semua terperangah.


"Bagus, kan?" seloroh Zack.


"Terserah kalian aja!" Mama Emmy pasrah.


"Baby ABC...." Zack mentoel satu persatu pipi putranya.


Tawa mereka semua akhirnya pecah.


"Keluarga lawak..." Reza terkikik.


"Terserah deh siapapun namanya, yang penting anak gua punya banyak cadangan," seloroh Samuel.


"Mantep, ganteng-ganteng semua tinggal milih nggak ada saingan," sahut Angel.


"Kita bikin adik cewek untuk Kelyn aja, sayang! Semua bisa dijadikan mantu kita nanti," Samuel terkikik.


"Yang mana aja nggak papa, berondong juga nggak papa, ujung-ujungnya tajir juga! Warisan juga akan nyambung melingkar wkwk," sambung Angel.


Mereka tertawa.


"Ide licik..." cicit Dave.


"Pengen ya, Glen?" Samuel menepuk bahu Glen yang melamun.


Glen hanya menyengir kuda.


"Cepat cari istri, Glen! Jangan pelit-pelit makanya jadi cowok," seru Cavero.


"Iya, tuan!" jawab Glen sambil tersenyum tipis.


Sekilas Glen jadi memikirkan Rose lagi. Dimana dia sekarang, bagaimana kabarnya?


Kehadiran Baby ABC menambah kebahagiaan mereka berkali-kali lipat. Sayangnya, Davin, Kelyn, Aaron, dan Arthur tidak bisa ikut melihat Baby ABC. Mereka tidak diajak karena memang anak kecil tidak boleh ikut berkunjung ke rumah sakit, kecuali ke poli anak untuk pemeriksaan.


Malam harinya, Mei hanya ditunggu oleh Zack dan Mama Fang saja. Yang lainnya pulang ke rumah.


................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


Maafkan author yang lama nggak upload ini ๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ

__ADS_1


Sedang ada urusan di dunia nyata, baru selesai kemarin.


__ADS_2