Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
MENGIKUTI


__ADS_3

Glen menatap lurus ke depan. Pokoknya ia tidak boleh kehilangan jejak Clara. Bisa saja setelah ini ia mendapat bukti lain. Tangannya sesekali menepuk bahu Elie meminta agar Elie menambah kecepatan mobilnya.


"Ayo ngebut, Elie! jangan sampai ketinggalan!" seru Glen.


"Sabar bisa nggak, kalau mau cepet kenapa nggak lo aja yang nyetir!" jawab Elie sewot.


"Aku nggak biasa ngebut!"


"Cemen!" ucap Elie.


Elie menambah kecepatan mobilnya, matanya memicing ke mobil yang agak jauh di depan. Karena jalanan cukup ramai jadi tadi mereka sempat ketinggalan.


Glen yang tadi minta ditambah kecepatannya justru terlihat takut. Glen sampai berpegangan erat seat belt yang ia pakai.


"Elie...." teriak Glen.


"Apa?"


Elie semakin menambah kecepatannya. Glen sampai memejamkan matanya. Di depan ada jalan yang agak bergelombang dan sedikit menanjak. Saat menanjak tidak terlalu buruk, Glen masih bisa mengontrol dirinya. Tapi saat melewati turunan. Mobil Elie seperti terbang.


"Eliee...." teriak Glen.


Rasanya rohnya ketinggalan di tanjakan tadi.


"Seru banget!" seru Elie girang.


"Elie mobil ini barusan terbang dan kau bilang seru? Untung saja tidak terbalik mobilnya! Pelankan sedikit mobilnya, kau terlalu ngebut mobil Clara juga sudah dekat di depan!" Glen mengomel.


"Siapa yang nyuruh gua mengebut tadi?"


"Aku," jawab Glen.


"Jadi tidak boleh pro..."


"....Tes!" sambung Glen kemudian.


"Pinterr!" seru Elie.


Elie turut menghentikan mobilnya ketika mobil Clara berhenti di depan sebuah restoran. Glen bergegas turun dari mobil.


"Mau kemana?" tanya Elie.


"Aku harus mengikuti wanita tadi, kau mau ikut tidak?"


"Nggak,gua mau pulang!" sahut Elie.


Elie memakai seat beltnya lagi. Glen dengan cepat membuka pintu yang ada di samping Elie.


"Kau tidak boleh pulang, atau aku tidak akan mau untuk ..."


"Okay okay! Tapi gua nggak mau masuk, males! Gua tunggu di sini!" Elie langsung memotong ucapan Glen.


Pokoknya Glen harus membantunya. Tidak masalah ia menuruti Glen sekarang. Karena tidak ada lagi orang yang bisa membantunya untuk hal itu. Hanya Glen harapannya.


Glen melenggang masuk ke restoran mengikuti Clara. Glen duduk di salah satu bangku seperti pendatang restoran lainnya. Clara tidak kenal dengannya, jadi sangat mudah mengawasi Clara tanpa khawatir akan ketahuan.


"Dia akan bertemu siapa lagi?" gumam Glen.


Dari bangku Glen, nampak Clara duduk sendirian sambil memainkan ponsel. Sepertinya Clara menunggu seseorang. Glen yakin akan ada petunjuk yang berharga.


"Sorry telat,"


Seorang pria mendatangi Clara.


"Dia...." Glen hampir tersedak saat melihat wajah pria itu.


Diam-diam Glen mengambil gambar Clara dan pria itu. Sayangnya, restoran ramai sekarang, ia tidak bisa mendengar apapun. Untuk sekarang Glen hanya punya foto. Ia kembali ke mobil setelah Clara dan pria itu pergi dari restoran itu.

__ADS_1


Glen masuk ke dalam mobil. Ia mengangkat alisnya sebelah. Elie tidur di dalam mobil.


"Kalau tidur begini baru kelihatan seperti perempuan," ucap Glen.


"Gua bisa denger loh,"


Glen melotot, ternyata Elie tidak tidur?


"Aku kira tidur tadi," ucap Glen.


"Hmm,"


Elie tancap gas. Kali ini ia mengantar Glen ke rumahnya. Barusan Reza mengabari jika tidak kembali ke kantor, dan Glen boleh pulang. Glen senang, jarang-jarang bisa pulang awal begini. Ia duduk tenang di dalam mobil, sebelumnya ia sudah mengirim apa yang ia dapat saat mengikuti Zain dan Clara tadi.


"Belok kanan!" ucap Glen.


Glen memberikan petunjuk pada Elie jalan menuju rumahnya.


"Hmm," jawab Elie.


Sebenarnya Elie tidak ikhlas mengantarkan Glen pulang.


"Stop stop!" seru Glen tiba-tiba.


"Apa lagi?"


"Berhenti!"


Elie menginjak pedal rem.


"Kenapa?" tanyanya dengan malas.


"Mampir sebentar ke supermarket ya, ada yang mau dibeli!" Glen menyengir.


"Nggak bisa! Masih untung gua mau nganterin pulang,"


"Yaudah, aku nggak mau bantu..." ucap Glen dengan enteng.


Ia kembali menyalakan mesin mobilnya. Perlahan mobilnya belok ke parkiran supermarket.


"Nggak mau turun lagi?" tanya Glen saat ia keluar dari mobil.


"Nggak,"


"Padahal aku mau minta dibayarin!"


Elie melengos.


Blam,


Glen menutup pintu mobil lalu masuk ke dalam supermarket. Elie memainkan ponselnya sembari menunggu Glen.


Satu jam berlalu,


Elie merasa kesal, sudah satu jam berlalu Glen belum kembali ke mobil juga. Ia sampai mengantuk. Ia memutuskan keluar dari mobil, akan ia susul pria itu.


"Mau kemana?" teriak seseorang.


"Itu dia orangnya," Elie melengos.


Glen datang dengan membawa belanjaan satu troli penuh. Entah apa yang dibeli Glen, Elie tidak peduli. Mereka berdua masuk ke mobil lalu melanjutkan perjalanan ke rumah Glen.


"Maaf tadi ada banyak diskon jadi kalap," ucap Glen.


"Hmmm," sahut Elie, ia memilih untuk fokus menyetir.


"Belok kiriii!" Glen memberikan aba-aba.

__ADS_1


Untung Elie sigap, ia langsung membelokkan mobilnya ke kiri. Kini mereka memasuki kawasan perumahan.


"Stop!" ucap Glen.


Mereka berhenti di depan sebuah rumah yang cukup mewah. Rumah itu tidak jauh dari gerbang masuk perumahan, mungkin hanya berjarak 50 meter saja.


"Kenapa berhenti lagi?" tanya Elie.


"Sudah sampai, itu rumahku!" jawab Glen.


Elie mendengus kesal.


"Jarak rumah lo ke supermarket tadi tidak lebih dari 200 meter. Lo bisa jalan kaki dari rumah tanpa merepotkan gua mampir di sana tadi," Elie mengomel.


"Mumpung ada tumpangan ya dimanfaatkan semaksimal mungkin," Glen tertawa


Elie terdiam.


"Mau mampir ke rumahku?" seru Glen.


"Males,"


Elie berjalan ke mobilnya. Ia masuk ke mobilnya dengan perasaan sangat kesal.


"Awas aja kalau lo nggak mau bantuin gua!" Elie tancap gas meninggalkan rumah Glen.


++++++++++++


Reza menatap lurus ke luar jendela. Ia tadi menemani Silvi sampai Silvi tidur siang. Tidak kembali ke kantor karena ia ingin Silvi tidak memikirkan masalah Zara. Kemudian ada pesan dari Glen. Jadi ia tidak ikut tidir siang bersama Silvi. Ia cukup terkejut dengan laporan Glen.


Terutama saat tahu Zain bertemu dengan Clara dan Zain lah yang menjadi dalang di balik permasalahan Zack. Reza sudah memutuskan untuk merahasiakan hal ini dari Zack. Ia meminta Glen untuk diam. Jika tiba waktu yang tepat dan semua bukti sudah terkumpul baru ia akan membongkar habis masalah ini.


Dan satu hal lagi, mengenai pria yang dilihat Glen bertemu juga dengan Clara. Reza tidak terlalu terkejut dengan hal itu. Nanti akan ada saatnya ia juga memberi pelajaran pada pria itu. Reza terdiam sebentar lalu menyuruh Glen melakukan beberapa tugas penting.


"Baaaaa!"


Silvi mengejutkan Reza dari belakang. Tapi Reza hanya tersenyum, Silvi gagal membuat Reza kaget.


"Kok nggak kaget, nggak seru!" keluh Silvi.


Reza tertawa.


"Emang nggak kaget, sayang! Kamu cepet banget bangunnya?"


"Mau meluk kakak eh nggak ada di kasur, ya udah aku bangun cari kakak!" jawab Silvi.


"Iya, aku bangun karena ada pesan masuk,"


"Dari Zara?" Silvi berkacak pinggang.


"Bukan, dari Si Gentong kok!" jawab Reza.


Silvi merasa lega.


"Kak, aku jadi pengen ketemu Glen." ucap Silvi tiba-tiba.


"Hah?" Reza terkejut.


"Serius, kak! Aku pengen ketemu Glen." Silvi mulai merengek.


Reza memijit pelipisnya.


"Di sini udah ada aku, kenapa malah pengen ketemu Gentong itu?" ucapnya.


"Mungkin bayi kita yang pengen, kak!"


"Hmm, baiklah...." Reza pasrah.

__ADS_1


..................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka!


__ADS_2