Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
HELLO DADDY!


__ADS_3

"Tangkap!" seru Mei.


Hap,


Security menangkap kunci Mei. Mei terburu-buru masuk ke kantor Zack. Security tadi hanya bisa mengelus dada. Untung Mei istri dari putra pemilik perusahaan.


"Selamat pagi, Bu Bos!" karyawan yang kebetulan berpapasan dengan Mei memberikan salam hormat semua.


"Pagi," Mei membalas dengan ramah.


Sudah puluhan kali Mei datang ke kantor jadi ia hapal, ia menaiki lift biasa. Sebenarnya ada lift khusus direktur yang biasa digunakan Zack, tapi Mei lebih nyaman dengan lift biasa. Mei sering datang ke kantor ini sebelumnya, dia dulu sekretarisnya Zack. Baru berhenti satu bulan yang lalu atas perintah Zack sendiri.


Mei agak repot membawa box putih berukuran lumayan besar dan tasnya sendiri. Meskipun begitu disaat karyawan yang bertemu dirinya di dalam lift hendak membantu, Mei selalu menolak. Hingga tibalah ia di lantai teratas. Pintu lift terbuka, dan Mei keluar dari sana.


Kedua mata Mei memicing ke arah meja sekretaris.


"Selamat pagi, nona! Apakah sudah membuat janji?" sekretaris itu berdiri menyambut.


Mei melihat sekretaris itu dari atas sampai bawah. Muda, cantik, langsing, seksih.... Ia baru tahu sekretaris baru Zack spek pelakor. Kalau tahu dulu ia pilihkan sekretaris laki-laki saja.


"Sekretaris baru, ya?" tanya Mei.


"Benar, nona! Ada yang bisa saya bantu? Apakah sudah membuat janji hari ini? Tidak sembarang orang boleh menemui Pak Direktur,"


Mei tersenyum sinis.


"Saya mau bertemu suami saya," ucap Mei dengan penuh penekanan di setiap katanya.


Sekretaris itu bingung, apakah yang berdiri di depannya memang istri dari bosnya.


"Saya Mei Johansson, istri dari Zack Johansson," ucap Mei dengan penuh percaya diri.


"Oh, Nona Mei...Maaf, saya belum pernah bertemu anda sebelumnya. Silahkan, Tuan Zack ada di ruangan..." sekretaris itu membungkuk hormat.


Dalam hati, sekretaris itu mengutuki dirinya sendiri. Ia memang tahu bosnya sudah beristri, tapi ia belum pernah bertemu dan hanya mengetahui namanya dari karyawan yang lain. Sekalinya bertemu dirinya malah bersikap memalukan begini.


Mei melenggang masuk ke ruangan Zack. Ia masuk tanpa mengetuk pintu. Begitu ia masuk, Zack langsung berdiri dari kursinya dan menyambut. Mei meletakkan tas dan box yang ia bawa di sofa dekat ia berdiri.


"Hey!" Zack memeluk Mei.


"Kaget nggak?" tanya Mei.


"Kaget lah....Kenapa nggak ngabarin kalau mau datang," Zack melepaskan pelukannya dan menatap Mei.


"Kenapa harus ngabarin? Takut ketahuan ya?"


"Ketahuan apa ih?" Zack protes.


"Ketahuan berduaan sama sekretaris barumu itu yang cantik seksih spek pelakor," ucap Mei judes.


Zack tertawa.


"Ya enggak lah, Mei! Aku nggak pernah bergituan di kantor, tapi kalau di luar nggak tau deh..." Zack terkikik.


"Mulai main perempuan lagi nih ya?" Mei menjewer telinga Zack.


"Aaww awww Mei! Sakit....Aku cuma bercanda, mana berani aku main perempuan lagi!" Zack mengaduh kesakitan.


Siapa sih yang tega melihat suami setampan Zack kesakitan. Mei akhirnya melepaskan jeweran tangannya.


"Awas aja kalau main perempuan lagi! Aku karetin burung kamu semaleman!"


Bulu kuduk Zack meremang.


"Jangan dong, bisa kesemutan nanti!" Zack ngilu sendiri membayangkannya.


Mei tertawa jahat seperti di film-film.


Cup cup cup,


"Aku cuma cinta sama kamu, sumpah!" Zack menghujani bibir Mei dengan ciuman bertubi-tubi.

__ADS_1


"Hmmm," Mei tidak bisa marah kalau sudah begini.


Zack tertawa puas, ia menang.


"Terus ada acara apa mendadak ke sini? Itu apa?" Zack menunjuk box yang dibawa Mei tadi.


Mei berjalan ke sofa dan mengambil box itu.


"Karena ini aku datang ke sini! Nih!" Mei menyerahkan box itu.


"Isinya apa?"


"Ya kalau mau tau isinya dibuka dulu dong, Bambang!" Mei kesal.


"Okay okay," Zack menyengir.


Tangan Zack ahli dalam hal buka membuka. Dalam sekejap saja box itu berhasil dibuka olehnya. Tapi ia justru menatap Mei saat melihat apa isi Box itu. Pasalnya di dalam box ada sepasang sepatu kecil dan 3 buah testpack yang dilem di dasar box. Di bawahnya ada tulisan berwarna merah.


HELLO DADDY!


Begitulah tulisan berwarna merah itu. Tubuh Zack mendadak kaku seperti patung. Jantungnya bergemuruh.


"Ini testpack punya kamu beneran, kan?" Zack sepeti tidak percaya.


"Ya iya dong, mau punya siapa lagi? Aku sampai celupin 10 testpack tadi, cuma 3 aja yang aku tempel."


"Meiii....." Zack memeluk Mei dengan erat.


Betapa senangnya Zack saat ini, ia memeluk erat dan mengangkat tubuh Mei ke udara. Istrinya memberikan kebahagiaan terbesar hari ini. Zack sampai menangis di pelukan Mei.


"Terima kasih, Mei! Terima kasih banyak,"


Mei ikut menangis bahagia.


"Kita ke dokter kandungan sekarang," Zack berlutut mencium perut Mei yang masih rata.


"Iya, setelah itu kita kasih kabar gembira ini ke mama papa," jawab Mei.


"Ayo!" Zack menggandeng Mei.


Zack mencubit pipi Mei gemas. Mereka bergandengan keluar dari ruangan Zack.


"Aku akan cari sekretaris laki-laki besok," bisik Mei saat melewati meja sekretaris.


"Kenapa?"


"Ya biar tidak ada kesempatan,"


"Kenapa harus laki-laki, cari aja yang wanita tua gitu,"


"Kalau wanita tua belum tentu menutup kemungkinan dia pelakor juga kan?"


"Terus kalau laki-laki, dia pasti nggak jadi masalah gitu? Ya kalau dia normal, kalau enggak? Bisa habis aku disukai sesama jenis. Ada kasus yang seperti itu loh, sayang!" Zack terkikik.


"Yang penting kamu kan normal, suami! Udah punya istri cantik seksih begini, sebentar lagi jadi montok juga loh!"


"Iya aku normal lah sayang,"


"Tapi ngeri juga kalau beneran ada. Masa sainganku terong sih!"


Mereka tertawa bersama.


"Kamu jangan khawatir aku akan ganti sekretaris itu, tapi aku akan menyuruh orang untuk benar-benar tau backgroundnya. Kalau yang laki-laki nggak ada, wanita tua tidak masalah, kan? Nanti aku cari yang keriput-keriput," ucap Zack.


"Okelah!" Mei setuju.


Mereka bergandengan sampai di luar kantor. Mereka menggunakan Mobil yang dibawa Mei. Karena lebih luas dan nyaman untuk wanita hamil, begitu pemikiran Zack. Zack sangat memperlakukan Mei dengan hati-hati, memakaikan seat belt pun sangat perlahan.


Mei merasa senang karena perhatian ekstra yang diberikan Zack. Tapi rasa senangnya berangsur pudar saat mobil mereka berjalan menuju rumah sakit. Mei sampai membuka kaca jendela di sampingnya dan melengok keluar.


"Pejalan kaki saja lebih cepat dari kamu, Zack!" Mei menggerutu.

__ADS_1


Saat ini Zack melajukan mobilnya hanya di kecepatan 25 km/jam saja. Mei rasanya ingin turun dan jalan kaki saja daripada naik mobil kecepatan keong.


"Besok pagi baru nyampe rumah sakit kalau begini," bibir Mei tidak berhenti mengeluh.


"Demi anak kita!" jawab Zack.


"Mobilku yang kamu belikan ini mobil mahal, Zack! Jalan agak kencang sedikit tidak akan terlalu terasa guncangannya. Kecuali kalau kamu membawaku pakai gerobak harus pelan-pelan," Mei kesal.


"Ya sudah aku tambah kecepatannya,"


"Nah gitu dong,"


Zack mengatakan akan menambah tapi Mei tidak merasakan perubahan yang berarti. Ia menatap tajam Zack.


"Woah woah, jangan marah! Aku tambah jadi 35 km/jam. Jangan protes lagi, itu udah nambah 10. Hamil muda itu masih rawan. Duduk manis saja!" seru Zack.


Di jalanan yang lenggang hanya melaju 35 km/jam. Mei yang biasanya langsung membalap salip kanan kiri merasa gatal ingin menginjak pedal gas. Sekarang Mei mulai mengalami seperti apa yang diceritakan para sahabatnya bulan lalu. Tapi Zack sepertinya akan lebih overprotectif.


...**************...


Kebahagiaan juga menyelimuti Glen hari ini. Pasalnya Reza pulang ke rumah untuk makan siang, dan Glen tidak boleh ikut. Jadi Glen bebas makan siang diluar. Dengan uang makan siang yang disiapkan bosnya tentunya. Glen naik taksi, mobil yang ia pakai untuk berangkat kantor tadi dipakai Reza.


Glen bingung akan makan di restoran yang mana. Kalau diberi uang makan siang lebih begini bawaannya ingin makan yang macam-macam.


"Enaknya makan apa ya?" ucap Glen yang ia tujukan pada dirinya sendiri.


"Cheese burger enak, tuan!" sahut sopir taksi.


"Nggak usah dijawab, saya ngomong sendiri." Glen ketus.


Sopir terdiam.


Glen berpikir sejenak. Ia baru ingat di jarak 500 meter ke depan akan ada Restoran Chinese. Sudah lama Glen tidak makan makanan Chinese. Bukan pilihan buruk sepertinya.


"Berhenti di Restoran Chinese depan," ucap Glen di saat taksi yang ia naiki hampir sampai di depan restoran yang ia ingin kunjungi.


Sopir tetap diam saja.


"Berhenti, restorannya kelewat!" seru Glen.


Ciitttt....


Restoran yang dituju Glen terlewat sekitar 20 meter di belakang.


"Kenapa nggak berhenti tadi, saya sudah bilang loh!" Glen sewot.


"Ma-maaf tuan, saya kira tuan masih bicara sendiri,"


Glen menepuk dahinya sendiri.


"Ini ongkosnya, kalau lebih kembaliannya ambil aja!"


Glen keluar dari taksi.


Sopir menghitung uang Glen, "Tuan, uangnya pas!" teriaknya.


"Ya emang pas, kan tadi saya bilangnya kalau lebih ambil kembaliannya berarti kalau pas ya udah dong," Glen terkikik.


"Penumpang edan!" taksi itu pergi.


Glen masih tertawa kecil, ia masuk ke restoran yang ia tuju. Ia memilih tempat duduk yang berada di pinggir jendela besar dan menghadap ke jalan di depan restoran. Pelayan pergi setelah mencatat pesanan Glen, lumayan banyak pesanan Glen hari ini.


Glen menunggu pesanan sembari mengecek ipad-nya. Mana tau ada pekerjaan dadakan. Tanpa sengaja saat ia melihat ke luar jendela restoran, ia melihat Elie dan wanita cantik yang ia temui di rumah Elie.


"Hai hai!!!" Glen mengetuk jendela itu saat Elie melintas di dekat jendela.


Elie melihat Glen, "Woy Glen!" seperti biasa Elie heboh.


"Sini!" Glen melambai.


Elie masuk bersama dengan wanita yang dimaksud Glen.

__ADS_1


....................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2