Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
MALAM PENGANTIN KISRUH


__ADS_3

Reza mengistirahatkan tubuhnya dengan bersandar di sofa. Acara telah berjalan lancar sampai pemotongan kue pernikahan dan lempar bunga tadi. Reza dan Silvi puas, acara mereka berjalan dengan lancar sesuai keinginan mereka. Akad yang langsung diteruskan resepsi.


Malam ini Reza dan Silvi bermalam di kamar hotel yang dipesankan dan Katy. Kamar itu dihiasi dengan kelopak mawar merah. Tapi sebagian sudah dirusak Reza yang duduk di sofa. Tidak masalah yang penting kan ranjangnya hehehe. Masih ada kok hiasan di ranjang dan sekelilingnya.


Klek,


Pintu kamar mandi terbuka, Reza reflek menoleh. Nampak Silvi berdiri di ambang pintu kamar mandi. Gadis yang sekarang sah menjadi istrinya itu menggunakan setelan piyama bergambar pororo.


"Sekarang giliran kakak yang mandi," Silvi berjalan ke lemari es yang ada di sudut ruangan.


"Siap!" Reza masuk ke kamar mandi.


Silvi duduk bersila di atas sofa. Pangkuannya penuh dengan snack, ia sangat lapar. Mulutnya sibuk mengunyah. Tangannya sibuk mengganti channel televisi. Selang beberapa menit, Reza juga sudah selesai membersihkan badan.


"Laper apa doyan?" Reza melemparkan handuknya ke wajah Silvi.


"Ka....." teriakan Silvi tertahan karena melihat sesuatu.


Kedua mata Silvi melotot menatap ke arah dada dan perut Reza. Sekarang Reza berdiri di hadapan Silvi hanya dengan menggunakan celana boxer saja.


"Hati-hati matamu keluar nanti!" Reza mencubit hidung Silvi. Ia duduk di sebelah Silvi.


Lantas Silvi menggelengkan kepalanya untuk memulihkan kesadaran. Bentuk tubuh bagian atas Reza yang padat dan berotot sudah membuatnya gagal fokus. Seumur-umur ini kali pertamanya melihat tubuh Reza tanpa kaos.


Tubuh bagian atasnya saja sudah sexy...Apalagi yang bawah, batin Silvi.


"Mikirin apa hayo?" bisik Reza di telinga Silvi.


"Ih geli, kak!" protes Silvi.


"Sudah kenyang belum?" tanya Reza.


"Sudah...Kenapa? Kak Reza sudah makan belum tadi?" Silvi bertanya balik.


"Sudah, kok! Kita sudah sama-sama kenyang nih, jadi ayo kita lakukan!" Reza meraih pinggang Silvi.


"Lakukan apa kak?" kedua pipi Silvi merah.


"Making love," bisik Reza membuat bulu di leher Silvi meremang.


"Terus apa yang harus kita lakukan sekarang, kak?" kedua pipi Silvi merah sempurna.


Jujur Silvi menjadi gugup sekarang. Padahal dulu ia sering berdekatan dengan Reza. Tapi kali ini setelah resmi menjadi pasangan suami istri, rasanya berbeda. Jantung Silvi berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Cukup tatap mataku saja, diam, dan nikmati..." bisik Reza.


Reza mencium kening Silvi. Turun perlahan ke kedua mata Silvi. Silvi memejamkan matanya. Turun ke kedua pipi dan hidung. Semakin turun ke bibir, Reza singgah cukup lama. Sampai Silvi hampir kehabisan napas. Semakin turun sampai ke leher Silvi. Reza memberikan stempel kepemilikannya di leher putih Silvi. Silvi merangkul leher Reza, ia merasa geli. Tangan Reza tidak tinggal diam, keduanya aktif meraba tubuh Silvi.


Bug,


"Agh!" Reza sampai memejamkan matanya karena menahan sakit.


"Aa maaf, kak!" pekik Silvi.


Karena merasa geli, Silvi tidak sengaja menendang perut Reza.


"Kenapa aku ditendang?" Reza menatap Silvi.


"Habisnya tangan kakak itu merayap kemana-mana, aku geli kak!" keluh Silvi.

__ADS_1


"Memang geli, tapi jangan nendang lagi ya?" Reza mengecup bibir Silvi.


Kegiatan mereka berlanjut, kini Reza mencoba melepaskan kancing piyama Silvi. Ia memulainya dari kancing yang paling bawah. Tapi,


Kresek kresek kresek,


Yang didapat tangan Reza justru bungkus dari snack-snack Silvi. Reza melepaskan ciumannya dan menatap ke pangkuan Silvi. Ternyata penuh aneka macam snack. Sejak tadi belum disingkirkan Silvi.


"Apa ini Silvi? Mengganggu sekali!" protes Reza.


"Hehehe...Aku lupa menyingkirkannya kak! Sebentar ya, aku kembalikan ke tempatnya!" Silvi terkekeh.


Silvi membopong semua snacknya. Dari ciki, kripik, coklat, sampai ice cream. Ia memasukkannya begitu saja ke dalam lemari es. Besok juga dibereskan oleh petugas kebersihan.


"Ayo lanjut, kak!" Silvi terkekeh.


"Baiklah..." Reza tersenyum.


Reza menatap Silvi, kedua matanya tampak teduh. Silvi bisa merasakan besarnya cinta Reza hanya melalui tatapan itu. Mereka berdua kembali hanyut dalam cinta. Reza kembali melancarkan aksinya. Kali ini ia sukses membuka piyama Silvi. Hanya tersisa ********** saja.


"Kamu suka banget sama pororo?" Reza tertawa geli, dalaman Silvi bergambar pororo seperti piyamanya.


"Ih jangan ketawa, kak! Aku lupa jika sudah bersuami, jadi aku pakai saja yang biasa!" kedua pipi Silvi merah.


Reza menatap Silvi yang menahan malu. Gadis yang sekarang istrinya ini sangat kekanak-kanakkan rupanya.


"Luar dalam pororo," Reza masih tertawa.


"Lanjut enggak nih?" Silvi mengancam.


"Okay okay! Jangan marah dong, aku hanya bercanda!" Reza mengecup kedua mata Silvi.


"Siap grak!" sahut Reza bersemangat.


Reza melanjutkan aksinya. Tangannya bergerak lincah. Dalam sekejap Silvi sudah seperti bayi. Polos tanpa piyama ataupun dalaman pororonya. Reza menggendong Silvi perlahan, memindahkannya ke ranjang. Lantas Reza mengungkungnya.


Silvi malu sekali, Reza menatap tubuhnya tanpa berkedip. Silvi bangga menjalin hubungan dengan Reza. Karena sampai detik ini, ini kali pertamanya Reza melihat tubuhnya. Pria yang dicintainya itu kembali aktif menggunakan bibirnya. Dari leher, turun dadanya, dan singgah di sana cukup lama. Silvi merasa geli Reza bermain lama di sana.


Bug bug,


"Arrghh! Silvi!" Reza berguling ke samping sambil memegang benda pusakanya.


Karena kegelian, Silvi kembali berulah. Lututnya menendang benda pusaka Reza dengan cukup keras. Reza sampai berguling-guling did sampingnya. Silvi jadi panik sendiri.


"Kak, Silvi geli banget tadi! Nggak sengaja, sumpah!" Silvi duduk di samping Reza yang masih kesakitan.


"Aduh, sakit..." Reza mengaduh.


Reza berguling ke samping lalu kembali lagi ke tengah. Cukup lama hal itu terjadi. Silvi hanya bisa duduk diam di dekat Reza. Ia tidak tahu harus melakukan apa.


"Sakit banget ya, kak?" Silvi tidak tega jika harus diam.


"Iya," jawab Reza, bibirnya tersenyum sekilas.


"Aku harus apa? Biar kakak tidak kesakitan lagi, aku merasa bersalah kak!" ucap Silvi sendu.


"Sini, coba dielus!" Reza berbaring.


Silvi mendekat, ia merasa sangat bersalah. Reza tersenyum kecil, Silvi sangat lucu.

__ADS_1


"Gimana kak?" tanya Silvi.


Reza membuka boxernya, menampakkan benda terlarang yang tidak boleh dilihat orang lain. Secara reflek, Silvi langsung menutup matanya.


"Kok dibuka sih kak?" protes Silvi.


"Masih sakit ini, katanya kamu mau buat agar tidak sakit lagi!" ucap Reza kesal.


"Okay okay," Silvi mengangguk.


Reza membimbing tangan Silvi. Ia tersenyum penuh kemenangan. Silvi hanya menurut saja. Ia melakukannya cukup lama. Sampai sekarang tangannya pegal. Jujur saja saat melakukannya Silvi merasa tubuhnya aneh. Terutama bagian bawahnya.


"Masih sakit kak?" tanyanya.


"Masih," jawab Reza.


"Terus gimana?" tanya Silvi.


"Kalau ini jalan satu-satunya harus melakukan...." Reza tiba-tiba bangkit. Mengungkung Silvi di bawahnya.


Reza langsung gerak cepat. Bibir dan tangannya melakukan tugasnya masing-masing. Sampai tiba waktunya.


"Kak Reza!" teriak Silvi.


Silvi merasakan sakit dan perih yang bercampur menjadi satu. Tangannya mencengkeram bahu Reza dengan erat.


"Kamu boleh mencakarku, tapi jangan tendang aku lagi," Reza mencium bibir Silvi.


Keduanya hanyut dalam permainan. Silvi kadang melenguh, kadang juga sampai berteriak. Reza selalu tersenyum saat Silvi meneriakkan namanya. Hingga hampir tiba di ujung permainan. Napas mereka sudah pendek-pendek karena lelah.


Tok tok tok,


Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Awalnya Reza dan Silvi menghiraukan sampai akhirnya.


*Tok tok tok,


Tok tok tok,


Tok tok tok*,


Ketukan pintu terus terdengar. Hal itu mengganggu mereka.


"Siapa?" teriak Reza dengan kencang karena kesal.


"Glen, bos!" terdengar teriakan dari luar juga.


Reza meraih jam digital yang ada di nakas. Ia tidak mengambilnya tanpa menghentikan aktivitasnya dengan Silvi.


Prang,


"Pergi kau dari sini! Dasar!" teriak Reza dengan sangat marah.


"Peace, bos! Saya disuruh Tuan Dave!" Glen berlari menjauh dari pintu kamar yang masih tertutup rapat itu.


Silvi merangkul leher Reza agar suaminya itu lebih tenang. Akhirnya mereka menyelesaikan kegiatan mereka. Keduanya jatuh tertidur dengan saling berpelukan.


......................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!

__ADS_1


__ADS_2