Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
TAMU TAK TERDUGA


__ADS_3

Rombongan Dave dan sahabatnya tiba di resort. Resort ternyata sudah ramai. Anggota Red Blood yang berjaga pagi ini sudah kelimpungan melayani pengunjung.


"Ramai," ucap Ken.


"Makanya ayo lekas bekerja! Glen mana nih?" seru Dave.


"Sebentar lagi sampai, soalnya tadi dia berangkat langsung dari rumahnya," Reza menjawab.


"Ohh.." sahut Samuel.


"Terus Zack?" tanya Ken.


"Dia lagi ngurus Mei ngidam," Dave terkikik.


"Akhirnya ngerasain juga dia!" seru Samuel.


Mereka tertawa.


"Ya sudah, ayo kita mulai bekerja! Go go go...." Dave menyemangati.


Samuel langsung meluncur menuju kebun bunga, Ken ke kolam renang, lalu Dave dan Reza ke resto. Lebih tepatnya Dave menuju meja kasirnya dan Reza ke tempat cuci piring.


Glen baru tiba 10 menit kemudian, ia juga langsung bergegas menuju kolam renang yang menjadi wilayah tugasnya.


"Telat lo, Glen! Huuu... Telat!" sorak Ken yang sedang menjaring dedaunan yang masuk ke dalam kolam.


"Tadi saya ngisi bensin dulu," jawab Glen.


"Jangan ngarang deh, bukannya mobil kreditan yang lo pake sekarang mobil listrik, dasar!" cicit Ken.


Glen tertawa.


"Bukan bensin untuk mobil, bensin untuk ini!" Glen mengelus perutnya.


Ken memutar bola matanya malas.


"Yaudah, nih cepet bantu gua! Keburu ada pengunjung yang mau berenang nanti!" seru Ken.


"Siap!"


Aktivitas di resort berjalan seperti biasa. Para pengunjung semakin ramai. Keberhasilan resort ini tidak lepas dari usaha setiap anggota untuk mempromosikan resort mereka baik pada masyarakat umum hingga rekan bisnis mereka.


Dan ada satu hal lagi yang membuat resort ini menarik perhatian. Yaitu karena pegawainya banyak yang tampan-tampan. Bahkan beberapa pengunjung yang pernah datang sengaja mengabadikan pegawai yang ada di resort itu. Jadi mayoritas pengunjung resort saat ini adalah kaum hawa khususnya gadis abege.


Tak jarang justru para pegawai di resort di mintai foto. Sepeti yang terjadi pada Dave. Bukannya membayar di kasir, pengunjung malah meminta foto. Di kolam renang juga, ternyata ada pengunjung yang minta foto dengan Ken dan Glen. Apalagi di kebun, Samuel yang dulu ya memang casanova menjadi rebutan karena tampang bad boy-nya.


"Untung tempatku tertutup," Reza terkikik melihat Dave dikerubungi gadis-gadis abege muda.


Reza kembali mengerjakan tugasnya dengan tenang. Ternyata ada untungnya juga bekerja di bagian belakang.


"Sudah cukup ya, kasihan itu ada pengunjung yang mau pesan makanan," ucap Dave mencoba untuk menyudahi acara foto kerumunan gadis abege.


"Satu kali lagi, om! Please...." sahut salah satu gadis itu.

__ADS_1


"Om ganteng, please...." sahut yang lainnya.


"Kalian mundur atau saya akan blacklist kalian dari resort ini?" cicit Dave mengancam.


Baru kerumunan gadis itu menjauh dan kembali ke bangku mereka. Dan pengunjung yang ingin memesan akhirnya mendapatkan jalan. Di resto ini memang jika ingin memesan makanan harus ke meja kasir sekaligus membayar pesanannya. Kalau kata Samuel, biar sama-sama enak wkwkwk.


"Mau pesan apa?" tanya Dave.


Di hadapan Dave sekarang ada dua wanita yang sedang membaca daftar menu di meja kasir. Salah satu diantara dua wanita itu masih muda, mungkin baru 20 tahun. Yang satunya terlihat muda juga, tapi mungkin lebih tua beberapa tahun dari wanita yang pertama. Kedua wanita itu seperti kakak adik.


"Jus strawberry 2, yang satu nggak pakai gula tapi pake susu kental manis. Potato chips 1, yang garing ya. Terus sama spaghetti 1,"


Dave mengangguk, lalu ia menyerahkan bill-nya.


"Baik, mau duduk dimana?" tanya Dave setelah menerima pembayaran dari kedua wanita itu.


"Di sini saja," mereka memilih untuk duduk di dalam restoran.


"Baik, ditunggu ya!" ucap Dave ramah.


Kedua wanita itu duduk tidak jauh dari meja kasir, hanya berjarak 2 bangku saja. Dari arah kolam renang, Glen menghampiri Dave di meja kasir. Beberapa menit yang lalu Dave memang memanggil semua temannya agar mengambil minuman dan cemilan yang disiapkan untuk mereka. Glen datang untuk mengambil jatahnya dan Ken.


"Ambil cemilan, bos!" ucap Glen.


"Sebentar lo dapet yang akhir, siapa suruh nggak dateng dari tadi," jawab Dave.


"Yeah, pengunjung ramai bos! Apalagi di dekat kolam, jadi saya sama Ken harus mengawasi mereka dengan ekstra. Ya sudah saya tunggu saja, bos!" Glen duduk di bangku yang paling dekat dengan kasir.


"Elie!" seru Glen.


Iya, wanita itu adalah Elie. Glen menghampirinya.


"Eh lo di sini juga," Elie tersenyum.


"Iya," Glen menggaruk lehernya yang tidak gatal.


Kalau ada Elie berarti wanita yang bersama Elie adalah......


"Rose..." lirih Glen saat wanita cantik yang duduk bersama Elie menatapnya.


Benar-benar cantik mamanya Elie. Rambutnya pirang bercampur hitam nan tebal yang digerai bergerak indah karena terpaan semilir angin. Kedua manik matanya yang berwarna cokelat, semakin membuat Glen terpesona.


"Dasar nggak sopan!!! Panggil tante!!!" Elie menoyor bahu Glen.


Glen tersadar dari lamunannya, "Eh iya, maksudnya Tante Rose..."


Rose terkikik melihat ekspresi Glen.


"By the way, kalian sering ke sini?" tanya Glen, ia bergabung duduk bersama mereka.


"Baru kali ini, Elie yang memaksa," jawab Rose.


"Suaranya lembut sekali," batin Glen.

__ADS_1


Elie mengangguk, membenarkan ucapan mamanya.


"Lo juga sering ke sini, Glen? Kalau gua maksa mama gua kesini, karena gua liat di sosmed gitu. Banyak yang bahas resort dan resto ini, katanya pegawainya cakep-cakep wkwkwk..." ucap Elie.


"Iya memang pegawai di sini cakep-cakep dan ganteng, termasuk aku!" Glen membenahi rambutnya.


"Lo cakep? Wuueee..." Elie meledek.


Rose tertawa.


"Wait wait... Lo pegawai di sini juga?" Elie menatap Glen, menyadari ucapan Glen tadi.


Glen mengangguk.


"Loh bukannya raja minyak di Dubai?" tanya Rose.


Elie terpingkal.


"Yang raja minyak Tuan Abdul, iya Tuan Abdul..." entah apa yang dibicarakan Glen.


"Terus ngapain kamu ke Dubai meeting dengan raja minyak waktu itu kalau kamu bukan sesama raja minyak atau rekan kerjanya?"


Elie tertawa hampir menangis.


"Hehehehe......" Glen tidak tahu harus menjawab apa lagi.


"Sudah ma, kita hanya bercanda waktu itu." Elie masih tertawa.


"Ohh... Jadi di sini pekerjaanmu, Glen?" Rose tertawa kecil


"Iya, Rose!" jawab Glen malu.


"TANTE!!!" seloroh Elie.


"Eh maksud saya, Tante Rose..." Glen cengar-cengir.


Rose tertawa.


Glen tetap di sana, mengobrol bersama kedua wanita cantik itu. Glen sungguh merasa senang hari ini bisa bertemu Elie dan mamanya di resort.Tak lama, pesanan Elie dan Rose diantarkan ke meja. Jatah cemilan dan minuman Glen juga dibawakan.


Melihat Glen yang justru mengobrol dengan dua pengunjung wanita, Dave jadi penasaran.


"Jangan sok kenal lo, Glen!" seru Dave dari meja kasir.


"Bukan sok kenal, tapi memang kenal, Bos Dave!" protes Glen.


"Siapa?" tanya Dave tapi hanya dengan gerak bibir.


Glen memberikan kode. Dave terkejut dan langsung berlari ke belakang, menghampiri Reza.


.................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!

__ADS_1


__ADS_2