
Sonya tidak bisa sedetikpun meninggalkan pintu ruang operasi. Kalau saja tadi tidak ada perawat yang menahannya, pasti ia sudah masuk ke dalam daripada menunggu di depan pintu seperti ini.
"Duduklah dulu, tenangkan dirimu! Dia akan baik-baik saja..." Silvi menghampiri Sonya.
"Aku tidak bisa," jawab Sonya.
"Biarkan, jangan dipaksakan!" Reza menggandeng tangan Silvi, membawanya kembali duduk di kursi tunggu.
Samuel, Zack, Ken, Glen, dan bahkan Sisi ada di sana. Davin dan Erick kembali ke mansion demi keamanan Davin. Baru saja Samuel juga mendapat kabar dari Dave jika Dave dan Aryn pulang ke mansion untuk mengurus pemakaman Myra. Samuel dan yang lainnya paham, Aryn pasti ingin adik tiri yang selama ini ia cari beristirahat di tempat yang layak. Ya, walaupun dia hampir merusak kebahagian keluarganya tapi saudara tetaplah saudara.
Tidak ada yang berbicara di antara mereka, semuanya diam dengan pikiran mereka masing. Terlihat jelas wajah mereka tegang, mereka semua khawatir dengan keselamatan Frans. Frans sudah banyak berjasa dengan mereka. Kesalahannya kali ini juga bisa dibilang dia lakukan secara terpaksa untuk mendapatkan adik tirinya.
"Bagaimana keadaannya?"
Semua orang langsung berdiri saat mendengar suara Sonya. Setelah hampir 4 jam lamanya pintu itu terbuka. Dan dokter keluar dari dalam.
"Pelurunya sudah berhasil kami keluarkan. Hanya saja, pasien kehilangan banyak darah. Peluru itu merusak pembuluh darah dan jaringan. Persediaan darah sesuai golongan darah pasien ada banyak di bank darah rumah sakit ini. Tapi komplikasi setelah operasi kemungkinan akan terjadi. Kami akan terus memantau jika ada komplikasi setelah operasi. Sekarang pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan intensif. Saya permisi..." Dokter menjelaskan keadaan Frans.
Begitu Dokter meninggalkan ruang operasi, dua orang perawat mendorong brankar dengan Frans yang terbaring lemah di atasnya. Ada banyak selang yang menempel pada tubuh Frans. Wajahnya terlihat sangat pucat dan lemah. Sonya bergegas ikut mendorong brankar menuju ruangan perawatan untuk Frans.
Reza, Silvi, dan yang lainnya bergegas menyusul. Tapi saat tiba di ruangan hanya dibolehkan masuk satu per satu saja dengan alasan agar tidak mengganggu pasien. Jadi sudah diputuskan Sonya yang akan masuk. Sonya menunggu Frans dengan sabar di sisinya. Menggenggam tangannya dan mengajaknya berbicara.
"Cepatlah bangun, aku tidak suka melihatmu diam seperti ini! Aku rindu senyummu..." Sonya mengecupi wajah Frans.
Silvi melihatnya kaca kecil di tengah pintu. Silvi tahu bagaimana perasaan Sonya. Ia sudah menyuruh penjaga di mansion untuk datang membawakan perlengkapan Sonya dan Frans ke rumah sakit. Mereka semua memutuskan untuk kembali ke mansion jika penjaga itu sudah sampai. Nantinya penjaga itu yang akan menemani Sonya di rumah sakit.
"Kenapa sih ngikutin terus?" Glen menggerutu karena Sisi mengekor di belakangnya sejak tadi.
"Dia suka kali," celetuk Samuel.
"Amit-amit!" Glen berlari ke belakang Reza mencari perlindungan.
"Lihat aja nanti kalau aku sudah operasi! Awas kalau nyamperin!" seru Sisi dengan nada tinggi.
"Nah loh! Coba lo tanya Reza tuh yang udah ngerasain dicium!" seloroh Zack.
Reza langsung menghampiri Zack, membungkam mulutnya. Kedua matanya melotot memperingatkan Zack untuk diam karena ada Silvi di sini.
"Kak Rezaaaaa!!!" Silvi menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Anu, Silvi... Ini tidak seperti yang kamu kira, kamu dengar kan Sisi itu mau operasi, dia itu...." ucapan Reza dipotong Samuel.
__ADS_1
"Hukum aja dia Silvi! Laki-laki macam apa dia ciuman dengan wanita lain di belakangmu," Zack memperkeruh suasana.
"Benar itu, jangan kasih ampun!" imbuh Samuel.
"Kalau aku jadi kamu nih ya, udah aku tampar pakai sandal mukanya!" Zain juga ikut memanasi.
Mereka bertiga sudah tahu kejadian di bar waktu itu. Mereka hanya ingin mengompori Silvi agar Silvi marah kepada Reza.
"Jangan dengerin mereka, Silvi! Nih aku kasih lihat!" Reza mengeluarkan ponselnya.
Di layar ponsel Reza, nampak video yang diambil anak buah Reza tempo hari. Dalam video itu Sisi sedang kencing berdiri, dan air kencingnya memancar ke dalam kloset. Reza menghentikan video itu karena ******** Sisi akan terlihat. Reza juga menunjukkan semua video dan foto yang menunjukkan Sisi mencium pipi Reza, agar tidak ada salah paham.
"Jadi dia itu laki-laki? Terus bilang mau operasi itu mau operasi transgender? Astaga... Cuci muka kakak dengan bunga tujuh rupa, kak!" Silvi mengelap pipi Reza dengan tisu.
Semua orang tertawa, sementara Sisi dia terlihat biasa saja. Memang kenyataannya seperti itu.
"Maaf nona, tuan....Jangan berisik, ini rumah sakit!" seorang perawat menghampiri mereka.
"Ssshhh!!" Glen meletakkan jari telunjuknya di bibir memperingatkan semua orang untuk diam.
Mereka semua diam, perawat itu pun meninggalkan mereka. Penjaga yang disuruh Silvi juga sudah datang, mereka akan kembali ke mansion dulu. Besok mereka akan menjenguk Frans lagi.
"Siap, bos! Tapi ada bonusnya, kan?" jawab Glen.
"Bagus, iya akan aku beri bonus besok!" Reza menepuk bahu Glen lalu pergi bersama yang lain.
"Baik, bos! Kalau ada bonus semuanya akan berjalan mulus!" sahut Glen bersemangat.
Samuel pulang ke rumahnya, anak dan istrinya pasti sudah menunggu. Zack dan Zain meskipun mereka bersaudara tapi enggan pulang bersama. Padahal apartemen baru Zack searah bahkan dekat dengan apartemen Zain. Silvi dan Reza pulang bersama. Sementara Sisi, ia mengekor di belakang Reza.
"Kenapa mengikutiku?" seru Reza.
"Awas kau kalau cium-cium Kak Reza lagi! Aku beri penumbuh jenggot!" Silvi mengancam.
"Santai aja! Davin kan selamat, jadi mana bayaranku? Besok aku mau bikin janji dengan dokter bedah!" ucap Sisi dengan gaya bicaranya yang genit.
"Okay okay, nanti aku kirim! Sudah pulang sana!" seru Reza.
"Thank you, ganteng!" Sisi mencolek dagu Reza lalu berlari menjauh.
"Pait pait pait...." Reza mengelap dagunya berkali-kali.
__ADS_1
Reza dan Silvi pulang bersama. Reza akan mengantarkan Silvi ke mansion dulu, baru ia akan kembali ke apartemennya untuk beristirahat. Di samping itu, Reza masih belum puas jika belum memeriksa keadaan mansion untuk memastikan keamanannya.
Perjalanan mereka hanya diiringi suara bising mesin mobil. Silvi tertidur di tempatnya, Reza menyetir mobil sambil tersenyum. Sesekali Reza mengelus pucuk kepala Silvi dengan sayang.
Silvi tertidur sampai mereka tiba di mansion. Reza tidak langsung membangunkan Silvi. Ia malah meletakkan tangannya di dagu, dan menatap Silvi. Wajahnya dihiasi senyum yang lebar.
"Tukang tidur," Reza terkekeh.
Reza tidak tega membangunkan Silvi. Pacar kecilnya pasti lelah karena kejadian tadi pasti menguras emosinya. Reza turun dari mobil, membuka pintu di samping Silvi dengan hati-hati. Tangannya yang kekar menggendong Silvi dengan sekali angkat. Berat badan Silvi seperti tidak ada apa-apanya.
Seperti dugaannya, Silvi sama sekali tidak terusik. Malah semakin menelusupkan kepalanya ke dada Reza, sepertinya tidurnya semakin nyenyak.
"Sshhh!" Reza memepringkatkan penjaga untuk diam.
Reza membawa Silvi masuk ke mansion. Para penjaga mematuhinya untuk tetap diam. Mansion sepi, semua orang pasti ada di kamar masing-masing karena hari sudah sore.
Ceklek,
Dibukanya kamar Silvi perlahan. Lampu kamar juga ia nyalakan. Dengan hati-hati ia baringkan tubuh Silvi di ranjang. Silvi tetap tidak terusik. Reza memasang selimut di tubuh Silvi sampai hanya kepalanya yang terlihat dari luar.
"Semoga mimpi aku, ya! Selamat malam!" Reza mengelus kepala Silvi lantas bangkit dari duduknya untuk keluar dari kamar Silvi.
"Kak Rezaaaa......." baru saja Reza akan pergi, tangannya ditahan oleh Silvi.
"Apa?" Reza balik badan.
Reza mengerinyitkan dahinya, kedua mata Silvi masih terpejam. Silvi sudah bangun atau mengigau? Reza menggerakkan tangannya di depan wajah Silvi, pacar kecilnya itu tidak bereaksi. Berarti Silvi hanya mengigau. Huft...Reza kira Silvi akan menahannya agar tidak pergi.
"Kak temani aku makan ayam dulu, jangan pergi!" ucap Silvi lagi.
"Baru dibilang mimpiin aku, eh udah mimpi makan ayam denganku hahaha! Segitu cintanya kamu denganku, sampai mimpi!" bisik Reza yang mengelus pucuk kepala Silvi.
"Aku nambah ya ayamnya!!" ucap Reza iseng.
"Jangan banyak-banyak, kak! Kalau jadi gendut nanti nangis!"
Reza tersentak kaget karna Silvi menanggapi ucapannya. Ada gitu orang mengigau yang seperti Silvi? Reza terkekeh, ia mengambil kursi di dekat meja belajar Silvi. Reza duduk di dekat ranjang, membiarkan tangannya digenggam Silvi. Lucu rasanya menyaksikan Silvi mengigau.
.........................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya! Love you all!
__ADS_1