
"Elie...Pelan-pelan saja, bahaya!" Glen ketakutan.
"Kita terlambat tau,"
"Memangnya mau kemana sih." Glen mempererat pegangan tangannya.
Mobilnya menyalip ke kanan dan ke kiri. Terkadang berhenti mendadak, lalu menyalip lagi.
"Pelan-pelan saja! Mobil ini masih 5 bulan lagi lunasnya," pekik Glen.
"Bawel,"
Glen baru berhenti mengomel saat mereka tiba di depan sebuah hotel.
"Elie Elie," seru Glen.
"Apa lagi? Ayo cepat turun,"
Mereka turun dari mobil, seorang satpam mengambil alih mobil Glen untuk diparkirkan. Elie melangkah masuk ke alam hotel lebih dulu. Glen mengikutinya dengan ragu. Gadis itu membawa Glen ke lantai 5 hotel itu. Mereka berhenti di depan sebuah kamar, bernomor 155.
"Elie berhenti!" seru Glen saat Elie hendak membuka kamar itu.
Elie menghampiri Glen, " Apa lagi sih? Kita sudah terlambat ini!" keluhnya.
"Aku memang mengatakan bersedia membantumu. Tapi sadarlah Elie, bukan bantuan seperti ini! Kenapa kamu membawaku ke kamar hotel? Aku bukan laki-laki gampangan seperti yang kamu kira, aku masih perjaka Elie! Jangan membawaku ke lubang dosa!" Glen menggunakan kedua tangannya untuk menutupi dadanya.
Plak,
Elie memukul pipi Glen menggunakan high heels yang ia bawa di dalam tasnya.
"Aawww!" Glen memegangi kepalanya.
"Maksud lo, gua mau making love sama lo gitu? Glen Glen...Gua Kalau mau ML juga milih-milih lawannya. Gua bakalan milih lawan main yang seimbang. Paling tidak dia berotot, perut kotak-kotak, dan gagah. Nggak mungkin gua main sama lo, badan lemah gemulai seperti penari balet!" Elie tergelak.
Glen mencebikkan bibirnya.
"Gua sengaja sewa satu kamar ini untuk ganti baju," Elie membuka pintu kamar hotel itu, bergegas masuk. Glen mengekor saja di belakangnya.
"Sebenarnya kita mau kemana? Mau ngapain?" Glen masih bingung.
Elie tidak menjawab, ia membuka almari yang ada di dalam kamar itu. Nampak sebuah setelan jas berwarna navy dan sebuah dress selutut berwarna serupa.
"Gua ngajak lo ke pesta pernikahan mantan gua, cepatlah siap-siap! Pestanya di aula lantai 7," jawab Elie.
"Kenapa nggak bilang dari tadi, aku bisa siap-siap dari rumah,"
"Nggak bisa, orang rumah nggak ada yang tau gua mau ke pernikahan mantan gua itu, kalau mereka tau gua udah dikurung di kamar!" ucap Elie bersungut-sungut.
Glen mengangguk, ia mengambil jasnya. Elie yang berganti di dalam kamar mandi. Sementara Glen berganti di kamar saja. Sekarang mereka seperti pasangan kekasih yang akan menghadiri pesta.
"Kuy!" Elie menggandeng Glen keluar kamar.
"Harus gandengan?"
"Iya, di pesta nanti lo juga harus mesra sama gua. Hari ini lo pura-pura jadi pacar gua, okay?" Elie langsung menarik Glen agar mengikutinya.
"Tapi..."
"Lo udah janji,"
Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, Glen mengikuti kemana Elie membawanya. Kepalang tanggung, akhirnya ia setuju saja jadi pacar bohongan Elie.
Aula hotel itu tampak sangat mewah dengan dekorasi yang dibuat di dalamnya. Ada dua petugas keamanan di depan pintu yang memeriksa tamu undangan, setiap tamu yang datang akan menunjukan undangannya dan men-scan barcode yang disediakan.
Elie melakukan hal yang sama dengan tamu undangan lain. Glen tidak perlu melakukannya, Elie menyelesaikan segalanya. Mereka dipersilahkan masuk. Di dalam aula itu ternyata tamu sudah banyak yang hadir. Beberapa dari tamu tengah berfoto dengan mempelai.
"Elie, mantan kamu ini yang kamu pergok di acara pernikahan Zack bukan?" Glen memperhatikan pengantin pria yang sejak tadi menatap Elie dan dirinya.
Elie berdecak, " Ya, benar!" jawabnya.
"Oh jadi dia yang membuat kamu menangis dan mabuk semalaman di bar. Tapi, baru 6 bulan berlalu sejak kamu memergokinya. Mudah sekali dia memutuskan untuk menikahi selingkuhannya ck..." Glen meneguk jus di tangannya, masih menatap ke arah pengantin pria.
__ADS_1
"Lo juga mikir hal yang sama ternyata. Untung gua mergoki dia malam itu, kalau enggak pasti gua jadi deretan korbannya. Itu cewek udah hamidun makanya dinikahin,"
"Oh aku kira tumpukan lemak, ternyata hamil!" Glen menatap Elie.
Elie tergelak.
"Coba kalau nggak keblabasan, cewek itu paling juga cuma dimainin." ucapnya.
"Tapi aku yakin sih, walaupun dinikahi tidak menjamin mantan kamu berubah. Sebelum anaknya brojol selingkuh lagi dia," sahut Glen.
"Ehem..." seseorang telah berdiri di belakang Glen.
"Apa sih!" Glen menghiraukan dan tetap mengatakan keburukan mantan Elie.
Elie berulang kali mengedipkan matanya, berharap Glen paham kodenya. Bahwa yang sedang digosipkan sedang berdiri di belakang Glen.
"Kamu juga kenapa kedip-kedip begitu, sakit?" seru Glen.
"Belakangmu!" Elie masih mengedipkan matanya untuk mengode.
"Apa sih? Belakangku apa? Matamu kelilipan ya, atau kemasukan bulu mata plastikmu itu?" Glen melihat ke mata Elie.
"Dia ada di belakangmu!" Elie melotot.
"Siapa?"
"Orang yang sedang kita bicarakan!" Elie menekan setiap kata yang ia ucapkan.
"Ohhh...." Glen mengangguk kembali meminum jusnya dengan santai.
"Dia di belakangmu, Glen!" seru Elie.
"Siapa sebenarnya? Tidak penting kan, ayo nikmati pesta mantanmu!" Glen mengangkat gelas jusnya.
"Dia ada di belakangmu!"
"Hah? Apa maksudmu, mantanmu?" Glen terdiam.
Glen langsung membalik badannya.
"Hii, Mantan Elie!" Glen tersenyum canggung.
"David!" ucap pria itu tanpa ekspresi.
"Oh namamu David, aku Glen!" Glen mengulurkan tangan mengajak David berjabat tangan.
David hanya melengos, "Ada hubungan apa kau dengan Elie?" tanyanya.
"Dia pacarku, kenapa? Dia lebih tampan dan lebih kaya darimu, kan?" Elie menggandeng lengan Glen.
"Aku rasa bukan, dia bukan tipemu!"
"Lalu seperti apa tipe pria idaman Elie? Pria yang suka berselingkuh seperti dirimu?" Glen tertawa.
Perdebatan mereka mengundang perhatian tamu yang hadir. Beberapa dari mereka bahkan menggunakan ponsel mereka untuk mengabadikan momen itu.
"Jaga ucapanmu!" David menunjuk wajah Glen.
"Eits eits...Kenapa tersinggung bro? Benar ya, kau tukang selingkuh?" Glen meledek.
"Kau!" David mencengkeram krah jas Glen.
"David!" Elie marah.
"Kamu membela dia? Kamu tidak bisa membohongiku, Elie! Kamu hanya membawa dia agar kamu terlihat hebat di mataku kan?"
"Ingat, kamu sudah ada istri di pelaminan! Anak kamu juga on the way, jangan menatap pacarku seperti itu!" Glen melepaskan tangan Elie, kemudian mendorong David dengan kasar.
Glen merapihkan jasnya yang terlihat berantakan karena ulah Mantan Elie itu. Ia tersenyum smrik.
"Sayang, semua tamu melihat kalian! Jangan membuat malu, ayo kembali!" istri David mengajaknya kembali ke pelaminan.
__ADS_1
David kembali ke pelaminan, namun kedua matanya masih menatap Glen dengan tajam.
"Bagaimana actingku?" bisik Glen.
"Lumayan, sekarang buktikan kemampuan actingmu lagi!"
Elie mengajak Glen menghampiri pengantin. Seperti tamu yang lainnya Elie ingin mengucapkan selamat dan berfoto bersama pasangan bahagia itu.
"Selamat atas pernikahan kalian!" ucap Elie kepada David dan istrinya.
"Selamat ya!" Glen turut memberikan ucapan selamat.
David hendak mengatakan sesuatu, tapi langsung dicegah oleh istrinya. Istri David tentu tidak ingin pesta mereka hancur. Elie memberikan ponselnya kepada photografer. Glen menarik Elie ke tengah-tengah pengantin. Lalu,
1
2
3
Foto diambil tepat saat Glen mencium pipi dan merangkul Elie tengah-tengah pengantin.
David menahan amarah, "Beraninya pria ini mencium Elie dihadapanku," gumamnya.
"Sekali lagi, selamat ya! Semoga cepat diberi momongan, oops! Maaf, semoga bayinya lahir dalam keadaan sehat!" ucap Elie sambil tersenyum.
Glen menggandeng tangan Elie lagi, "Sudah selesai kan sayang? Pulang yuk, aku besok ada meeting di Dubai," ucap Glen.
"Iya, sayang!" jawab Elie.
"Hati-hati, mungkin dia akan selingkuh lagi," bisik Elie di telinga istri David sebelum turun dari pelaminan.
Pasangan pengantin baru itu seolah kalah romantis dengan Glen dan Elie. Keduanya menatap pasangan yang dimabuk acting asmara itu sampai mereka keluar dari aula hotel.
Elie mengajak Glen kembali dulu ke kamar yang mereka gunakan untuk berganti tadi. Mereka akan menggunakan pakaian yang mereka gunakan sebelumnya. Lantas Elie cepat-cepat membawa Glen keluar hotel, sebelum ada yang mengikuti mereka.
Setibanya di dalam mobil Glen,
Plak,
Elie memukul bibir Glen dengan tangannya sendiri.
"Auuww! Sakit Elie, kamu ini perempuan jangan kasar dong!" Glen menggerutu.
"Beraninya lo cium pipi gua,"
"Demi acting!" sahut Glen.
"Masih perawan pipiku ini!" Elie mengelus pipinya.
Glen tertawa.
"Aku kira bekas David! Rejeki nomplok kalau gitu! Tapi, actingku bagus kan, kepala David sampai keluar asap tadi!" ucapnya.
"Okay okay, nggak nyangka lo bisa acting!" Elie ikut tertawa.
Glen menepuk dadanya bangga.
"Yuk pulang! Besok ada meeting di Dubai, kan?" Elie tancap gas.
Glen tertawa terbahak.
"Mobil masih nyicil!" Elie meledek lagi.
Lagi dan lagi Glen tertawa.
Sebenarnya meeting di Dubai bukan hal yang mustahil untuk Glen. Kemanapun Bos Reza pergi toh dia akan ikut. Bulan lalu saja ia mendampingi Bos Reza ke Swiss.
Biarlah, Elie cukup tahu dirinya mencicil mobil mewah saja. Mobilnya yang lain biar menjadi rahasia. Agar Glen bisa minta traktir makan dari gadis itu.
................
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!