
Mobil Reza berhenti tepat di depan gerbang sekolah Silvi. Sudah banyak siswa dan siswi yang berjalan masuk ke dalam gedung itu. Silvi pun bergegas turun dari mobil.
"Sebentar!" seru Reza menahan Silvi yang akan membuka pintu mobil.
"Iya kak?" jawab Silvi.
"Ini uang sakumu!" Reza memberikan sebuah kartu debit.
"Tapi kak..." Silvi hendak mengembalikan kartu itu.
"Pakai saja!" Reza memaksa Silvi untuk menerimanya.
"Gimana ya, kak? Kalau gini aku jadi enak hehehe!" ucap Silvi.
"Ingat jangan jajan es!" seru Reza.
"Siap komandan!" jawab Silvi.
Silvi memasukkan kartu debit pemberian Reza ke dalam saku bajunya. Lantas ia bergegas turun dari mobil sebelum ia terlambat.
"Tunggu!" Reza menahan Silvi lagi.
"Apa lagi, kak?" tanya Silvi.
"Ada yang ketinggalan," ucap Reza.
"Apa? Ponselku?" Silvi celingukan meneliti sekitarnya.
"Di sini!" Reza menunjuk saku jaket denim yang ia pakai.
Silvi mendekat ke Reza, mencoba untuk melihat isi kantong jaket Reza. Tapi sepersekian detik kemudian,
Cup,
Silvi terkejut, Reza mendaratkan sebuah ciuman hangat penuh kasih sayang di dahi Silvi. Tubuh Silvi panas dingin karenanya.
"Sudah sana masuk! Nanti terlambat," Reza mengacak rambut Silvi.
"Eh...Iya..."
Kedua pipi Silvi merah seperti tomat. Ia cepat-cepat keluar dari mobil dan berlari masuk ke gedung sekolahnya. Senyum Reza mengembang melihat punggung Silvi yang perlahan menjauh dari pandangannya.
Melihat wajah merah tomat dan kelakuan Silvi adalah hal yang membuat pagi Reza menjadi istimewa. Dirinya seperti mendapat suntikan vitamin hehehe. Reza sudah tidak sabar menanti waktu yang tepat untuk menjadikan Silvi Nyonya Albert.
Setelah puas menatap Silvi dan memastikan Silvi aman, ia melajukan mobilnya meninggalkan sekolah Silvi. Ia sudah tersambung dalam panggilan dengan Glen. Reza meluncur ke lokasi yang telah Glen bagikan padanya.
----------------------------------
Di Mansion Dave,
Mei masih berdebat dengan Zack di depan pintu utama. Sejak selesai sarapan tadi, Mei menolak keras diantar ke kampus oleh Zack. Biasanya Frans yang mengantar tapi karena Frans di rumah sakit jadi tidak ada yang mengantar Mei dan Aryn. Sebenarnya ada sopir lain, tapi Dave tidak mempercayainya mengantar Aryn. Hingga akhirnya Zack mengusulkan dirinya sendiri mengantar Mei dan Aryn.
"Pokoknya aku tidak mau kalau dia yang mengantar!" seru Mei yang kesekian kalinya.
"Jangan jual mahal deh! Turuti saja perintah Dave!" Zack tidak mau kalah.
"Sekali tidak ya tidak!" Mei teguh dengan jawabannya.
"Jarang-jarang loh dianterin sama pria idaman!" seru Zack.
"Eeee...Percaya diri sekali!" sahut Mei.
"Mei..." sahut Aryn.
"No, Aryn!" Mei menekan setiap kata-katanya.
"Kamu ini harusnya bersyukur diantar Zack," bisik Aryn di telinga Aryn.
"Justru kalau diantar Zack, aku akan mendapat masalah Aryn! Berdebat seperti ini saja tubuhku susah dikontrol, apalagi kalau satu mobil dengannya! Terakhir, aku menabrak tiang lampu. Aku tidak mau kejadian memalukan kembali terulang jika aku bersamanya!" balas Mei dengan berbisik di telinga Aryn.
"Tapi Dave tidak akan membiarkan kita berangkat ke kampus jika tanpa ada orang kepercayaannya yang mengantar," Aryn masih berusaha merayu.
"Suamimu itu kelewat posesif!" jawab Mei.
"Ehem, sudah kenapa sih pakai jual mahal? Bukankah waktu itu kau bilang kau sayang dia? Ini kesempatan PDKT loh, dasar bodoh!" Dave menengahi.
"Mulut suamimu itu lemes banget!" protes Mei.
"Tapi bener kan?" seloroh Dave.
__ADS_1
Gara-gara kejadian malam itu, Dave sekarang jadi punya senjata untuk memojokkannya. Ditambah lagi Zack, padahal Zack juga sudah tahu apa yang dikatakan Silvi saat mabuk malam itu. Tapi Zack malah ikut-ikutan menggoda Mei. Jika Zack tidak suka dengannya harusnya dia marah, tapi dia tidak. Pria ternyata susah ditebak ya?
"Lupakan gengsimu satu hari saja, ayo!" Aryn menarik paksa Mei.
Mei pasrah mengikuti Aryn yang menarik tangannya. Saat sampai depan mobil, Aryn langsung berlari masuk ke bagian belakang. Dan tidak mengizinkan Mei duduk di sebelahnya. Mau tidak mau Mei duduk di bagian depan, samping Zack yang akan mengemudikan mobil.
Sepanjang perjalanan Mei mendadak menjadi gadis yang pendiam. Dia tidak mengatakan sepatah kata pun. Dan lagi, dia yang biasanya tidak bisa diam di mobil tanpa musik kesukaannya kali ini bisa diam dalam keheningan perjalanan.
"Temanmu ini kenapa, Ryn? Mendadak jadi pendiam begini," Zack memecah keheningan.
"Ya begitulah!" Aryn terkekeh.
"Salah tingkah gara-gara duduk di sampingku, ya?" seru Zack, ia mengedipkan sebelah matanya saat menatap Mei.
"Eng...Enggak kok!" jawab Mei seadanya.
Zack dan Aryn hanya tertawa saat mendengar jawaban Mei yang terdengar gugup. Hingga akhirnya sampailah mereka di kampus Aryn dan Mei. Aryn dan Mei turun dari mobil sebelum Zack turun membukakan pintu untuk mereka padahal Zack sudah akan membukakan pintu mereka.
"Terima kasih ya, Zack!" ucap Aryn.
Berbeda dengan Aryn, Mei langsung berjalan masuk ke dalam kampus lebih dulu.
"Mei!" Zack berteriak memanggil Zack.
Mei masih tetap berjalan tapi ia menoleh ke belakang, melihat Zack yang memanggilnya.
"Selamat belajar!" seru Zack yang dilengkapi dengan senyuman manisnya dan kedipan matanya.
Kedua pipi Mei memerah, senyuman dan kedipan mata Zack menghipnotis kedua matanya. Mei sampai tidak memperhatikan ke depan.
Bruk,
"Awww...." Mei jatuh terjengkang ke tanah.
Astaga! Senyum dan kedipan Zack membuatnya menabrak sebuah tiang lampu taman. Rasa senangnya berubah menjadi rasa sakit di kepalanya dalam waktu beberapa detik saja.
"Astaga, Mei!" Aryn berlari menghampiri Mei.
"Benar-benar antik," gumam Zack, ia juga menghampiri Mei.
Mei terduduk di tanah, memegangi dahinya. Aryn membuka tangan Mei yang menutupi dahinya itu untuk memeriksa apakah ada lukanya atau benjol.
"Ada apa?" sahut Mei bingung.
"Hahahahahaha...." Zack justru tertawa di samping Mei.
"Lihatlah!" Aryn membuka camera di ponselnya, dan memberikannya pada Mei.
"Oh God!!! Ada telur di dahiku..." keluh Mei.
"Hahahahaha...." Zack tidak bisa menahan tawanya.
"Aku tidak bisa kuliah dengan keadaan ini, Aryn!" Mei merengek.
"Kalau begitu kamu pulang saja, nanti aku bilang ke dosennya kalau kamu kecelakaan," Aryn terkekeh.
"Kau harus tanggung jawab!" Mei menatap Zack.
"Kau hamil?" jawab Zack.
Bug,
Mei memukul dada Zack karena kesal. Zack masih saja menggodanya di saat seperti ini.
"Gara-gara senyum manismu aku menabrak tiang ini!" seru Mei.
"Oh jadi kau sudah mengakui kalau senyumku manis?" Zack mengedipkan sebelah matanya.
"Mata kamu juga itu, kelilipan? Kenapa kedip-kedip terus?" seru Mei.
"Sudah sudah... Jangan bertengkar di sini! Zack... Antar Mei pulang ke apartemennya sekarang!" Aryn menengahi.
"Okay okay," Zack berdiri dan berjalan ke mobil.
Mei mengekor di belakang Zack, ia menunduk takut ada yang melihat dahinya. Ternyata, di saat yang bersamaan Zain Si Dosen Tampan datang. Mobilnya parkir tepat di samping mobil Zack. Zack terdiam di tempatnya memandangi mobil yang dipakai Zain hari ini.
"Monicaaaaa!!!" Zack berlari memeluk mobil Zain.
Zain menghela napas panjang, ia membiarkan adik gilanya melepas rindu dengan Monica. Sementara Mei, ia melongo. Zack memeluk mobil? Astaga!!!
__ADS_1
Kini pandangan Zain jatuh pada Mei. Ia mengerinyitkan dahinya, mengamati Mei baik-baik. Ada yang aneh dengan Mei.
"Mei, tidak biasanya kamu pakai bandana?" seru Zain.
Bandana? Entah Mei harus menangis atau tertawa mendengar itu. Ia hanya tersenyum canggung lalu menarik Zack agar lekas masuk ke mobil meninggalkan tempat itu. Zain menatap kepergian mereka dengan bingung.
-----------------------
"Kau dimana?" Reza berbicara dengan Glen lewat telepon.
".........."
"Okay!" sahut Reza.
Tut,
Sambungan telepon terputus. Reza memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya. Sekarang ia menunggu Glen sesuai apa yang diminta Glen melalui obrolan di telepon tadi. Beberapa menit kemudian, Glen berjalan mendekati mobil Reza.
Blam,
Glen sudah masuk ke dalam mobil Reza. Yang dilakukan pertama kali oleh Glen adalah melepas kancing jaket kulitnya agar perutnya tidak sesak saat duduk.
"Keadaan Frans bagaimana?" Reza memulai obrolan.
"Pagi tadi Frans sudah siuman, sudah dicek dokter. Tidak ada komplikasi setelah operasi," jawab Frans.
"Syukurlah,,,Dave sudah kau kabari?"
"Sudah bos!" jawab Glen.
"Apa katanya?" Reza penasaran, ia takut Dave akan menghukum Frans.
"Dia hanya menyuruhku untuk terus mengabari perkembangan Frans,"
"Ohh..." Reza manggut-manggut.
"Benar di daerah sini?" tanya Reza, ia memperhatikan sekeliling sejak tadi.
"Bukan, bos! Sekarang kita harus pergi ke titik ini!" Glen menunjukkan ponselnya.
"Terus kenapa kau menyuruhku datang ke sini? Aku kira di sinilah lokasinya!" Reza melajukan mobilnya sesuai titik.
"Maaf bos, tadi saya sarapan dulu di restoran di sudut jalan itu!" jawab Glen dengan menunjukkan deretan giginya.
"Dasar! Kupotong gajimu baru tahu rasa kau!" Reza nampak kesal.
"Sekali-kali minta jemput sama bos sendiri hehehe..." jawab Glen.
Sekitar satu jam lamanya, mereka akhirnya tiba di titik lokasi yang dibagikan orang suruhan Glen. Seperti biasa, mereka tetap diam di mobil untuk mengamati kondisi sekitar. Mereka sekarang berada di kawasan perumahan biasa. Ada sebuah rumah yang sudah diintai oleh anak buah Glen sebelumnya, mobil Reza berada 50 meter dari rumah itu.
Ketika sebuah mobil keluar dari pekarangan rumah itu, Glen menghubungi anak buahnya.
"Target ada di dalam mobil itu, bos!" ucap Glen melapor.
"Bagus," jawab Glen.
"Tidak dikejar, bos?" Glen bingung, karena bosnya malah santai-santai sedangkan mobil target sudah jauh.
"Aku mau melihat isi rumahnya dulu," jawab Reza.
"Ohhh..." Glen mengangguk paham, cara kerja orang hebat memang beda.
Reza turun dari mobil, memaki topinya. Lingkungan perumahan ini sepi di jam segini.
"Ayo!" Reza mengajak Glen.
"Saya di mobil saja ya bos? Biar saya bisa jaga-jaga gitu..." Glen mencari alasan.
"Hmm..."
Blam,
Reza menutup pintu mobil dengan keras. Ia berjalan menuju rumah itu dengan santai. Biarlah Glen tetap di mobil, lagipula Glen bisa saja mengacaukan semuanya di dalam nanti. Reza tidak suka menunda pekerjaannya. Ia harus menuntaskan alasan kedua ia kembali ke negara ini.
"Hey!!"
Reza berhenti, tinggal satu langkah lagi ia akan sampai di gerbang rumah itu. Tapi ada seseorang yang memanggilnya dari belakang.
...................
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!