
Reza mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sambil awas mengamati sekitar jalan. Kemana dia akan mencari Glen? Kalau dia yang patah hati pasti sudah pergi ke bar untuk minum. Tapi Glen berbeda, tidak mungkin Glen ke bar.
Atau mungkin benar ucapan Zack tadi, Glen pergi sungai. Kalau sampai Glen melakukan sesuatu yang buruk, apa yang akan ia katakan pada maminya nanti. Orang tua Glen berada jauh di kota lain.
Tidak ada salahnya Reza mencoba untuk mencari Glen ke sungai terdekat. Mobil Reza berhenti di salah satu tanggul sungai. Ia keluar mobil dan melihat ke sekeliling.
"Dimana dia?" gumam Reza.
Sejauh mata memandang Reza tidak melihat kehadiran seseorang di sekitar sana. Lalu Reza lanjut lagi untuk menuju sungai lain, atau ia akan mencoba ke danau juga. Ia putuskan ke danau terlebih dahulu. Jaraknya lebih dekat dari sana.
15 menit, Reza tiba di danau yang ia ingin datangi. Mobilnya ia parkirkan di area parkir yang memang sengaja disediakan pemerintah agar mobil yang hendak berhenti di dekat danau tidak mengganggu pengguna jalan. Untuk menuju lebih dekat dengan danaunya, Reza berjalan kaki. Sembari ia melihat ke sekeliling.
Pagi menjelang siang ini, danau lumayan sepi. Reza hanya melihat beberapa orang di sana. Dan sekarang Reza pergi ke sisi danau yang sepi. Tapi ia tidak kunjung menemukan Glen.
"Mungkin dia tidak ke sungai atau danau. Glen baru pertama kali jatuh cinta dia pasti sangat sakit hati sekarang. Bagaimana jika dia di tebing tinggi di pinggir jurang atau tebing di pantai, ya? Aduh...Gawat!!!" Reza berbicara sendiri.
Reza putuskan kembali ke mobil. Ia sudah berkeliling danau dan tidak ada Glen di sana. Sekarang Reza harus berjalan jauh untuk kembali ke mobil. Saat hendak kembali ke mobilnya, Reza melihat sekilas ada mobil Glen yang terparkir di area parkir bagian lain.
"Nah itu mobil Glen!" pekik Reza.
Langsung saja Reza berlari ke arah mobil Glen. Ia mencoba melihat ke dalam kaca mobil, mobilnya kosong.
"Lalu kemana dia, aku sudah mencari kemana-mana," Reza mulai kesal.
Reza kembali ke danau lagi. Ia melihat sekali lagi ke sekeliling danau. Tetap saja dia tidak melihat Glen di sejauh mata memandang. Tidak mungkin kalau Reza harus berkeliling lagi, kakinya pegal. Ia beristirahat sejenak dengan duduk di kursi panjang yang berada di bawah pohon yang rindang.
"Pegal sekali kakiku..." Reza meluruskan kakinya.
Tadi ia juga menunjukkan foto Glen dan memberikan kartu namanya pada pengunjung dan tukang bersih-bersih danau, agar jika mereka melihat Glen bisa langsung dilaporkan.
Reza bersandar untuk mengistirahatkan otot-ototnya sejenak. Angin di sini sejuk sekali, mata Reza terpejam karena menikmati suasana di sana. Tapi kemudian, samar-samar Reza mendengar suara orang menangis.
"Huhuhuhuhu....." suara tangisan itu semakin jelas terdengar saat angin tidak bertiup kencang lagi.
Reza celingukan mencari sumber suara itu. Sayangnya, di sekitarnya tidak ada orang. Suara tangisan itu kembali terdengar.
"Apakah suara ini suara hantu wanita berbaju putih seperti yang ditonton Silvi waktu itu? Ah tidak..... Siang-siang mana ada hantu. Kalau ada sekalipun, aku tidak akan takut." gumam Reza.
Suara tangisan kembali terdengar.
"Sepertinya suaranya dari atas, dari atas pohon ini!" lirih Reza.
Ia terdiam sejenak. Lalu ia menutupi wajahnya sebagian terutama bagian mata. Reza akan melihat ke atas, sebenarnya siapa yang menangis itu. Reza menghitung dalam hati, satu.... Dua....Tiga!
"Glennn!!!" pekik Reza, ia membuka kedua tangan yang ia gunakan untuk menutupi matanya.
Yang ada di atas pohon itu adalah Glen. Pohon itu lumayan tinggi dan rindang, tingginya mungkin ada 3,5 meter. Sekretarisnya itu sedang duduk dan memeluk salah satu ranting pohon itu. Dia menangis seperti anak monyet yang ditinggal induknya.
__ADS_1
"Huhuhuhu...."
"Woy Glen!!!!!" teriak Reza.
Glen berhenti menangis dan melihat ke bawah.
"Bos ngapain di sini?" serunya dengan suara serak.
"Kamu yang ngapain ada di sini?" Reza balik bertanya.
Glen malah menangis lagi.
"Turun, Glen!" teriak Reza.
"Nggak mau, bos!"
"Ada apa? Ditolak Rose?"
Glen menangis lebih kencang.
"Iyaaaaaa......" sahutnya sambil terisak.
Reza menepuk dahinya sendiri.
"Turun turun!!!" ucapnya.
"Nggak mau, bos! Saya sedang sakit hati, hati saya hancur!!!" jawab Glen.
Glen terdiam, "Serius nggak mati, bos?" tanyanya.
"Iya lah! Tinggi pohon ini cuma 3,5 meter!" jawab Reza.
Glen menangis lagi.
"Kalau mau langsung mati di tempat, ikut aku! Aku ajak ke tebing pinggir pantai, tebing di sana tinggi ada sekitar 30 meter, dijamin langsung mati setelah melompat!" seru Reza lagi.
Glen menggeleng, "Nggak mau, bos! Tadi naik ke sini aja kaki saya gemetaran."
Reza tertawa.
"Lah terus ngapain tetep naik. Dasar!!! Ayo turun, cuma ditolak sekali aja udah gini!" seru Reza.
Glen hendak turun. Tapi kemudian, ia terdiam lagi.
"Kenapa lagi???" Reza mulai kesal.
"Nggak tau cara turunnya, bos!" Glen mewek.
__ADS_1
Reza menepuk dahinya sendiri.
"Ngidam apa mamamu dulu, Glen Glen..." keluh Reza.
Reza mencari bantuan. Petugas kebersihan danau datang membawakan tangga untuk Glen. Reza dan petugas itu memegangi kaki tangga.
"Ayo sekarang turun!" teriak Reza.
Glen perlahan menginjakkan kakinya di anak tangga. Bersamaan dengan itu Zack datang, Reza tadi membagikan lokasinya sekarang dengan Glen dan mengatakan Glen sudah ketemu.
"Cuma naik ke pohon ini? Cih, mana turunnya pakai tangga!" datang-datang Zack langsung mengejek.
Glen cemberut, ia sudah sampai di bawah.
"Terima kasih," ucap Reza pada petugas kebersihan yang membawa tangga itu pergi.
Zack merangkul bahu Glen.
"Baru ditolak sekali juga!" ucap Zack.
"Udah gua bilangin gitu," sahut Reza.
"Mati satu tumbuh seribu, Glen!" ucap Zack lagi.
"Tapi ini cinta pertama saya, huhuhu...." Glen masih terisak.
"Benar apa kata Zack, Glen! Mati satu tumbuh seribu, sudah aku bilang kan dari awal, Rose itu tidak cocok untukmu. Dan dia juga langsung menolakmu bukan? Usiamu dan dia selisihnya sangat jauh, dia menolak karena kamu lebih cocok jadi anaknya." Reza menatap Glen.
"So, come on! Lo udah memperjuangkan dan menyatakan cinta kalau ditolak ya waktunya move on, Glen! Nggak bisa kamu memaksakan cintamu," seru Zack.
"Cari yang baru, banyak kok cewek cantik.Tapi saranku kamu jangan pelit-pelit.." Reza menimpali.
"Iya bos!" jawab Glen sendu.
"Yuk pulang!" Ajak Zack.
Glen menggeleng.
"Masih galau? Apa mau kita anter ke tebing pinggir pantai?" cicit Reza.
"Enggak, bos! Enggak, suwer! Naik ke pohon ini aja gemetaran," jawab Glen cepat.
Zack tertawa.
"Yaudah ayo kita antar pulang!" seru Reza.
Glen mengangguk. Dalam hatinya Glen memutuskan, akan berusaha melupakan perasaannya pada Rose.
__ADS_1
...............
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya