Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
INSOMNIA


__ADS_3

Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga semuanya sehat selalu ya!


.............


"Dorrr!!" teriak Glen.


Reza terlonjak kaget. Ingin rasanya ia menonjok muka Glen yang baru saja mengejutkannya. Suara cempreng Glen barusan keras sampai menggema di lorong. Sekarang Reza hanya bisa berdoa semoga yang lain tidak bangun. Ia masih memegangi dadanya.


"Dasar!! Jantungku hampir saja turun ke perut!" Reza menoyor bahu Glen.


"Hehehe..maaf bos! Tapi jantungnya nggak ngambek kan, bos?" Glen reflek meraba dada Reza.


"Jangan raba-raba aku!" seru Reza.


"Okay, bos! Sekali lagi maaf...." ucap Glen lirih.


"Kenapa kau di sini?" Reza memperhatikan sekeliling.


"Saya tadi mau ambil minum. Eh malah lihat bos keluar dari kamar Nona Silvi, ya udah saya isengin dulu! Bos ngapain jam segini di kamar Nona?" Glen menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Biasa urusan sepasang kekasih," Reza sedikit menyombongkan diri, ingin pamer mumpung Glen itu jomblo kronis.


"Astaga!! Anak orang jangan dirusak, bos!" Glen menutup mulutnya.


"Siapa yang dirusak? Reza ngapain ke kamar Silvi tengah malam? Dasar bandel!" Uti yang kebetulan melihat mereka langsung menjewer telinga Reza.


"Aauuww..Uti, uti...Sakit!" pekik Reza.


"Uti aduin ke Dave baru tahu rasa kamu! Cepat katakan ngapain ke kamar Silvi?" seru Uti.


"Jangan diaduin ke Dave, Uti! Anu...Reza hanya mengecek saja. Iya kan, Glen" Reza menatap Glen tajam.


"Ah tidak, tadi bos bilang urusan sepasang kekasih!" jawab Glen.


"Auuww auwww..." pekik Reza, telinganya dijewer semakin kencang.


"Reza tidak ngapa-ngapain Silvi, Uti! Swear!!! Tadi Reza hanya ingij menggoda Glen, dia kan jomblo! Tolong lepaskan Uti..." ucap Reza.


"Awas saja kalau kamu macam-macam! Uti kirim kamu ke Zimbabwe," Uti menatap Reza tajam.


Reza menunduk tidak berani menatap Uti sampai Uti kembali lagi ke kamarnya. Tinggal lama di mansion sepertinya membuat Uti menjadi kejam seperti menantunya.


"Gajimu aku potong!"Reza melenggang pergi meninggalkan Glen.


Ia merasa kesal dnegan sekretarisnya itu, bodoh sekali. Tubuhnya terasa letih hari ini. Ingin segera berendam di air hangat lalu tidur. Kebetulan kamar yang disiapkan untuknya berada di lantai yang sama dengan kamar Silvi, hanya saja kamar Reza di paling ujung.


"Bos, tunggu! Saya kan hanya mengatakan apa yang bos katakan, jangan potong gaji, bos! Cicilan belum lunas..." Glen bergegas mengejar bosnya.


Sebenarnya gaji tidak masalah, ada banyak pertanyaan di kepalanya yang harus ia tanyakan. Sayang saat Glen masuk ke kamar Reza, Reza sudah masuk ke kamar mandi. Alhasil ia mencoba berbicara dengan Reza dari luar kamar mandi. Reza pasti marah dengannya.


"Boosss..." Glen memanggil Reza.


"Kenapa kau ada di sini? Keputusanku sudah final, gajimu aku potong! Pergi ke kamarmu sana!" pekik Reza kaget.


"Saya tidak mau membicarakan gaji, bos! Lagipula gaji saya cukup besar! Ada yang mau saya tanyakan, bos!" seru Glen.

__ADS_1


"Apa? Cepat!" teriak Reza.


"Anak buah bilang bos tadi pergi ke rumah orang itu, ya?" tanya Glen.


"Iya, tapi hanya sebentar! Anak buah yang melanjutkan!" jawab Reza.


"Apakah kita akan mulai bergerak?" Glen ragu-ragu bertanya.


"Tunggu dulu...Pemyerangan yang kemarin saja belum diselesaikan! Cukup bertanyanya aku mau berendam!" teriak Reza.


"Satu pertanyaan lagi, bos!" seru Glen.


"Apa???" Reza sudah tidak sabaran.


"Bos sudah minum obat?" Glen baru saja teringat sejak pagi Reza belum meminum obatnya.


"Belum...Dan sekarang aku sedang marah! Kau tahu kan apa yang terjadi jika emosiku tidak terkontrol?" ucap Reza dengan nada yang berbeda.


"Terakhir, bos! Saya boleh tidur di kamar ini kan, bos?" Glen berkata dengan terburu-buru.


"TIDAK BOLEH!!" Reza marah.


Ceklek,


Reza keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dililitkan di pinggang. Wajahnya memang tidak terlihat sedang marah. Namun tatapannya, Glen hapal tatapan mata itu.


"Kaboooorrrrr!!" teriak Glen.


Glen langsung keluar dari kamar itu dan menutup pintunya dengan rapat. Sebelum keluar tadi, ia melemparkan obat Reza ke ranjang. Nafas Glen terengah-engah. Salahnya sendiri, mengganggu bosnya yang mudah marah.


Sementara Reza, ia tertawa cekikikan sendiri di kamar. Ia lekas memakai baju, di melupakan untuk meminum obatnya. Rasanya emosinya lebih mudah dikontrol akhir-akhir ini. Mungkin karena ia dekat dengan Silvi, saat marah gambaran wajah Silvi yang sedang ngiler muncul di kepalanya. Ia ingin mencoba agar tidak ketergantungan pada obat itu.


Reza berhenti di balkon, ia menelpon maminya. Di sini tengah malam, itu artinya siang hari di Paris. Tidak perlu waktu lama Reza menunggu, maminya langsung mengangkat teleponnya.


"Akhirnya anak bandel telpon mami juga! Kemana saja kamu, papi dan mami mencarimu ke apartemen tapi apartemenmu kosong. Perusahaan sedang ada masalah kenapa ditinggal, sayang? Mana sekretarismu juga kamu bawa segala! Mami tidak terlalu khawatir dengan perusahaan tapi mami khawatir denganmu, sayang? Kamu ada dimana sekarang?"


Reza tersenyum, maminya langsung menerjangnya dengan banyak pertanyaan.


"Itu dari satu tarikan napas, mi?" pertanyaan Reza justru melenceng.


"Iyalah, Mami Zela gitu loh!"


Reza tertawa cekikikan. Bakat rapper maminya tidak boleh disepelekan.


"Eh, anak bandel! Jawab dulu pertanyaan mami! Kamu ada dimana sayang? Sama siapa? Urusan apa? Sudah makan? Dimana kamu tinggal? mami susul ya?"


"Okay, okay... Mami tidak usah khawatir. Reza ada di mansion Dave sekarang. Reza sama Glen dan teman Reza di sini, Reza sudah mandi dan makan. Calon menantu mami ngambek kemarin jadi Reza kemari untuk membujuknya, mami tidak mau kan kehilangan calon menantu? Reza juga ada sedikit urusan di sini. Ada hubungannya dengan perusahaan juga." jawab Reza.


"Calon menantu mami? Silvi kan maksud kamu, sayang? Anak mami pinter banget deh! Untuk urusan perusahaan mami tidak cemas, nak! Orang kepercayaan mami sedang berusaha membantu. Mami bangga kamu memperjuangkan Silvi sekeras itu. Nggak kayak papi kamu tuh, mami ngambek bukannya dibujuk malah dia ikutan ngambek! Astaga...Ini sudah tengah malam kan disana! Kamu cepat tidur...Awas kalau begadang! Jangan lupa minum susu!"


"Iya, Mami Zelaku yang paling cantik!" Reza terkekeh.


"I love you, sayang! Muuaahhh...Kalau Glen tidak becus mengurusmu lapor sama mami ya, biar mami pecat! See you..."


"Love you too, mom! Glen beres kok kerjaannya, see you!" jawab Reza.

__ADS_1


Tut,


Reza tersenyum sendiri, maminya selalu memperlakukannya seperti anak kecil. Tapi Reza tidak pernah malu karena setiap orang tua mempunyai cara tersendiri untuk menunjukkan rasa sayang mereka. Ia menatap bintang di langit sembari meneguk susu. Entah mengapa ia masih saja belum merasa ngantuk.


"Kata orang menghitung bintang akan membuat ngantuk," Reza mengangkat jarinya, mulai menghitung bintang.


Sepertinya metode itu tidak bekerja bagi Reza. Buktinya ia tidak mengantuk. Mengobrol dengan seseorang pasti akan membuatnya mengantuk. Joe pasti masih terjaga di ruang keamanan. Ia memutuskan untuk ke ruang keamanan. Itung-itung insomnianya berguna kali ini, untuk mengawasi mansion. Saat tiba di ruang keamanan, Joe justru baru datang.


"Eh tuan..." Joe terkejut melihat Reza duduk di kursinya.


"Darimana kau?" tanya Reza.


"Dari dapur, tuan! Saya membuat kopi, mata saya terasa lengket malam ini! Biasanya kalau jaga malam, saya betah tuan!" jawab Joe.


"Kau istirahatlah, itu terjadi karena kau terlalu capek! Aku sedang tidak mengantuk, aku yang akan mengawasi CCTV. Jika aku mengantuk aku akan membangunkanmu lagi nanti! Lumayan kan, kau bisa istirahat!" Reza menepuk bahu Joe.


"Benarkah, tuan?" Joe ragu.


"Apakah wajahku terlihat seperti penipu?" ucapan Reza menunggi.


"Ah, baik tuan! Terima kasih banyak..." Joe bergegas membuka sebuah pintu yang ada di ruangan itu.


Di ruangan itu ada toilet dan satu ruangan lagi. Isinya perlengkapan tidur, digunakan bagi penjaga yang bertugas jika ingin istirahat sejenak.


"Sebentar Joe..." Reza menghentikan langkah Joe.


"Iya tuan?" jawab Joe.


"Apakah rekaman kemarin sudah diteliti secara keseluruhan? Terutama saat muncul ular kemarin" tanya Reza.


"Sudah, tuan! Baru saja selesai, tidak ada yang mencurigakan," Joe memperlihatkan rekaman hari ini.


"Waktu kejadian, kau ada dimana?" Reza menatap Joe.


"Saya kemarin tidak tugas sampai malam, tuan!" jawab Joe.


"Baiklah! Mungkin kau tidak teliti saat mengeceknya tadi, biar aku cek lagi! Mumpung tidak mengantuk!" Reza mulai mengawasi tiap rekaman hari ini.


"Baik, tuan! Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Joe.


"Iyaa," Reza fokus pada monitor di depannya.


Reza menatap rekaman dari setiap kamera pengintai dengan cermat. Kemarin dari pagi sampai siang hari tidak ada yang mencurigakan. Ia teringat dengan beberapa penjaga mencurigakan yang berpapasan dengannya. Dari pagi sampai siang wajah-wajah pelayan itu tidak terlihat. Sekarang, Reza mencari rekaman saat pergantian penjaga di sore hari. Titik terangnya kemungkinan ada di sana.


Reza melihat salah seorang penjaga yang baru menggantikan penjaga lain. Wajahnya sama persis dengan yang berpapasan dengannya. Itu artinya bukan penjaga itu yang terlibat. Karena jika dia terlibat pasti dia sudah tidak berangkat kerja lagi.


Di menit yang sama, perhatian Reza teralihkan pada seorang pelayan yang mendorong troli. Troli itu berisikan peralatan kebersihan seperti pel, sapu, pembersih jendela, kain lap, dan lainnya. Lalu apa yang membuat Reza curiga? Botol yang biasanya berisi cairan pembersih lantai terlihat lebih gelap. Biasanya warna yang digunakan putih atau kadang biru, seperti cairan pel pada umumnya. Lalu pelayan itu berhenti di pepohonan dekat kolam renang menatap jendela tinggi di hadapannya. Dia mengeluarkan pembersih kaca. Tapi secara diam-diam dia meletakkan botol cairan pel tadi di dekat pepohonan. Sekilas pelayan itu terlihat sedang melakukan tugasnya seperti biasa. Mungkin karena mengantuk, Joe tidak terlalu jeli meneliti setiap rekaman.


Reza merasa bingung saat melihat menit setelahnya. Pelayan tadi menyemprotkan botol pembersih lantai ke dinding keramik sisi samping mansion, dekat dengan pepohonan tadi. Ternyata botol itu berisi cairan pembersih biasa. Hanya botolnya saja yang berwarna gelap. Bukan berisikan ular seperti yang dipikirkan Reza. Jadi otomatis praduga Reza terpatahkan. Ia melanjutkan untuk menonton rekaman CCTV itu, bahkan Reza sampai mengulang di beberapa bagian.


"Rencana yang sangat rapih..Susah ditebak!" gumam Reza.


Lama sekali Reza menatap rekaman itu. Sampai nampak tiga orang pelayan masuk ke dapur, rupanya mereka habis berbelanja kebutuhan bulanan. Tidak ada yang aneh, mereka hanya membawa kardus-kardus bahan makanan yang banyak sekali. Dulu Reza pernah melihat Ily menyusun belanjaan di dapur, tapi tidak sebanyak itu. Reza mencari-cari Ily dalam rekaman itu. Ia tidak menemukannya. Rekaman ini janggal. Lantas pelayan tadi nampak membuka kardusnya satu per satu dan mulai menyusun. Hanya saja ada beberapa kardus yang tidak dibuka. Mereka malah membawanya ke arah gudang. Gudang itu biasanya digunakan untuk menyimpan perkakas dan stok bahan makanan. Sekilas terlihat tidak ada yang aneh.


Jika ia menemui Ily besok, mungkin ia akan mendapat jawaban. Karena kegiatan di dapur kemarin terlihat aneh bagi Reza. Harusnya ada Ily di sana, mengingat Ily adalah kepala pelayan. Reza menyalin rekaman itu dan mengirimnya ke ponsel miliknya. Lantas ia menutup rekaman itu. Kini ia mengamati monitor yang menunjukkan keadaan mansion saat ini.

__ADS_1


.................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2