Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
BERAKHIR SEBELUM DIMULAI


__ADS_3

Hari berikutnya,


Pukul 6 pagi, Glen sudah sampai di rumah Reza. Bahkan matahari saja belum terbit. Hari ini kemejanya lebih rapih, rambutnya juga dibuat klimis dengan belahan sampingnya. Tidak lupa, bibirnya yang lemes itu hari ini selalu tersenyum.


"Glen? Sehat?" Silvi berhenti di depan Glen yang duduk di sofa ruang tengah.


Glen mendongak.


"Iya, saya kan selalu sehat bu bos?" sahutnya.


"Hari ini rambutmu klimis banget, pake minyak goreng ya?" Silvi terkikik sambil menyentuh rambut Glen.


Glen menepis tangan istri bosnya.


"Jangan dipegang, bu bos! Saya dandan dari jam 5 tadi," protesnya.


Silvi tertawa.


"Ada acara apa di kantor?" tanyanya.


"Adadeh, bu bos!" Glen terkikik.


"Kasih tau dong! Penasaran aku,"


"Mau tau banget atau mau tau aja, bu bos?" tanya Glen.


"Mau nabok!" Silvi mengangkat tangannya.


"Ampun ampun, bu bos!" Glen cekikikan.


Silvi berkacak pinggang menatap Glen dengan kesal.


"Dia pasti mau ke rumah Elie dulu sebelum ke kantor, makanya datang ke sini pagi-pagi," sahut Reza yang sedang menuruni anak tangga, ia menggendong Baby Arion.


"Mau ngapain hayo? Emangnya Elie mau sama kamu, Glen?" tanya Silvi to the point.


"Bukan Elie, bu bos! Tapi Rose..." Glen tersenyum.


"Oh... Kakaknya Elie atau adiknya Elie?" tanya Silvi.


"Rose itu mamanya Elie! Dia suka mamanya Elie," Reza yang menjawab.


"WHAT????" pekik Silvi.


Reza langsung menatap Silvi.


"Untung anak kita raja tidur, kalau bayi lain yang dengar teriakanmu pasti sudah sawan, sayang!" ucapnya.


"Oops! Maaf," Silvi cengar-cengir.


Reza terkikik, sikap istrinya terkadang masih seperti itu. Ia mengelus pucuk kepala Baby Arion yang tidur dengan nyenyak.


"Tadi kamu bilang Glen akan menemui Mamanya Elie, sayang? Bagaimana bisa?" tanya Silvi, ia sangat penasaran.


"Bisa, sayang! Tanya saja sama orangnya langsung!" Reza melirik Glen.


Silvi menatap Glen.


"Kamu yakin, Glen?" tanyanya.


"Yakin dong, bu bos!" jawab Glen.


Glen mengeluarkan sesuatu dari tasnya.


"Saya juga sudah membawa ini untuk dia," Glen ternyata mengeluarkan sebuah coklat.


Reza dan Silvi tertawa.


"Kalau yang mau kamu samperin itu Elie, aku tahu dia pasti suka dibawakan coklat. Lah yang mau kamu samperin itu mamanya, Glen! Hello...Coklat?" cicit Silvi.

__ADS_1


"Lebih baik kamu bawakan gula sama teh saja!" Reza menimpali.


Reza dan Silvi ber-tos lalu tertawa.


"Begitu ya?" Glen menatap kedua bosnya.


"Coba tanya mami aja, selera tante-tante itu bagimana, dan apa yang mereka sukai," Reza terkikik.


"Okay, bos! Saya akan menelpon mami bos dalam perjalanan nanti. Sekarang berikan berkasnya dulu, bos! Saya bisa terlambat nanti," jawab Glen.


"Nih nih!" Reza memberikan sebuah map.


Sampai hari ini Reza belum aktif lagi masuk ke kantor. Hanya sesekali ia mengecek ke kantor. Alasannya ia ingin mempunyai banyak waktu untuk bantu Silvi mengasuh putranya. Kecuali tugasnya di resort, ia tetap melakukannya. Pekerjaan di resort tidak setiap hari hanya sekali dalam seminggu. Jadi tidak masalah.


"Saya pamit, bos!" Glen beranjak dari sofa.


"Iya iya," jawab Reza.


"Kita juga mau lanjut bobo lagi, udah sana pergi! Jangan lupa nanti kasih tau reaksi Tante Rose ya!" Silvi terkikik.


"Okay, bu bos!"


Glen bergegas meninggalkan rumah bosnya. Ia mengendarai mobilnya sendiri hari ini, hanya saja ia memberanikan diri untuk lebih menambah kecepatan.


"Maafkan aku mama, anakmu yang kalem ini mengebut hari ini. Tapi janji tidak akan lebih dari 80 km/jam," lirih Glen.


Mobil Glen untuk pertama kalinya melaju lebih cepat dari biasanya. Lalu Glen jadi ingat, ia harus bertanya pada mami dari bosnya. Glen sering memanggilnya mami bos. Ia menelpon mami bos dan menyambungkan ponselnya dengan bluetooth earphone


"Halo mami bos,"


"Halo Glen, ada apa?"


"Begini mami bos, saya mau tanya. Kalau tante-tante seperti mami bos sukanya diberi hadiah apa?"


"Dasar bocah aneh! Buat apa menayangkan hal seperti itu."


"Kalau aku sih, sukanya ditransfer uang. Dikasih uang cash juga seneng,"


Glen terdiam. Uang? Glen sepertinya harus menayakan yang lain.


"Selain uang apa mami bos?"


"Selain uang ya? Emm.... Ya tas, sepatu, baju... Minimal parfum lah,"


"Oh gitu, baik mami bos. Terima kasih atas informasinya. Saya tutup teleponnya ya, mami bos?"


"*Kau menelpon hanya menanyakan itu saja? Sia-sia aku mengangkatnya Glen glen..."


Tut*,


Sambungan telepon telah diputuskan oleh Zela. Glen punya ide, ia akan membawakan parfum saja untuk Rose. Jadi Glen belokkan mobilnya di mall yang ada di depan. Untung saja Glen mendapatkan ide bertepatan ada mall di sekitar sana.


10 menit Glen sudah mendapatkan parfum yang akan ia berikan untuk Rose. Ia ambil parfum paling murah di mall. Walaupun paling murah di sana, tapi harganya mahal. Glen melajukan lagi mobilnya.


Ia tiba di rumah Elie setelah 40 menit perjalanan. Sebelum turun dari mobil, Glen memastikan penampilannya. Rambut, wajah, gigi, jangan sampai ada sisa makanan di giginya. Baru Glen turun.


Ting tong,


Glen memencet bel di samping pintu rumah Elie.


"Iya, sebentar!" terdengar suara dari dalam.


Jantung Glen langsung berdetak kencang. Suara itu suara lembut Rose.


Ceklek,


Pintu terbuka, nampak Rose berdiri di ambang pintu dengan tersenyum ramah. Rose terlihat sangat cantik walaupun dirinya menggunakan celemek dan tidak berdandan. Glen semakin terpesona.


"Eh, Glen! Mau cari Elie, ya? Elie baru saja pergi ke bandara, mau jemput sepupunya yang akan berkunjung ke rumah kami," ucap Rose.

__ADS_1


"Tidak kok, saya tidak mencari Elie." jawab Glen malu-malu.


"Lalu?" Rose bingung.


"Saya mau bertemu dengan tante,"


"Hah? Bertemu saya? Ada apa, ya?"


"Ehem... Ini saya tidak dipersilahkan masuk ya, tante?" tanya Glen.


Rose mengangguk.


"Oh iya, silahkan masuk!"


Glen berjalan masuk ke dalam. Kedua matanya melihat ke sekeliling tidak ada foto 'Papa' Elie. Dulu Elie pernah bercerita padanya mengenai keluarganya khususnya papanya. Jadi Glen sudah tahu dan karena itu juga ia semakin bersemangat untuk menyatakan perasaannya, karena ada kesempatan baginya. Ia duduk di sofa ruang tamu. Rose duduk berseberangan dengannya.


"Baiklah, sekarang katakan, apakah ada yang bisa tante bantu? Kenapa sampai datang pagi-pagi begini untuk menemui tante?" tanya Rose ramah.


Glen terdiam sejenak, ia mengeluarkan paper bag yang dari tadi Ia sembunyikan di belakang punggungnya.


"Ini untuk tante," ucap Glen sambil menyodorkan paper bag itu.


"Untuk tante?"


Glen mengangguk. Rose pun menerima bingkisan itu.


"Dalam rangka apa ini, Glen?" tanya Rose lagi.


"Sebenarnya......" jawab Glen berbata-bata.


"Sebenarnya apa?"


Glen menelan ludahnya sendiri. Ia menarik napas lalu memejamkan mata.


"Sebenarnya saya secara langsung datang ke sini untuk memberikan hadiah itu. Karena hadiah itu melambangkan perasaan saya kepada tante. Sebuah parfum, seperti layaknya aroma parfum itu yang akan melekat di pakaian tante..... Senyuman manis dan lemah lembut ucapan tante telah melekat di pikiran saya dalam beberapa hari terakhir ini. Saya suka dengan tante, saya jatuh hati dengan tante sejak di pertemuan pertama," Glen mengatakannya sambil menutup mata.


"Hahahaha....Ternyata kamu suka bercanda ya?" Rose tertawa kaku.


Glen membuka kedua matanya.


"Tante saya serius, saya tidak pernah merasakan getaran ini sebelumnya. Saya hanya merasakannya saat bertemu dengan tante," ucap Glen bersungguh-sungguh.


Rose terdiam. Ia menatap Glen sejenak lalu ia berdiri.


"Berani sekali kamu mengatakan semua itu pada tante! Tante ini mamanya Elie, harusnya kamu lebih pantas menjadi anak tante. Bukannya mengatakan bualan tidak jelas seperti itu." jawab Rose dengan serius, ia juga melempar parfum pemberian Glen ke meja.


"Kenapa tante mengatakan itu? Cinta tidak mengenal usia, tante. Saya saja siap, tidak menganggap itu sebagai masalah."


"Kamu sepertinya terlalu banyak melihat serial drama. Kehidupan ini tidak seperti kehidupan aktor dalam drama. Tidak sepantasnya kamu mengatakan hal percintaan dengan wanita seusia ibumu. Lebih baik kamu pergi dari ini," Rose menekan setiap kalimatnya.


"Jadi tante tidak merasakan apa yang saya rasakan?" Glen masih bersikeras.


"Tidak sama sekali. Saya hanya memandangmu layaknya anak saya. Lebih baik kamu pergi dari sini, dan jangan pernah ke sini lagi!" Rose memalingkan wajah.


"Baiklah, tante..." Glen keluar dari rumah itu.


Ia berjalan sambi menunduk. Sebelum masuk ke mobil, ia menoleh sejenak. Ternyata seperti ini rasanya patah hati. Glen bergegas masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.


Di tikungan dekat rumah Elie, mobil Glen berpapasan dengan mobil Elie. Glen tidak menyadarinya. Tapi Elie tahu, ia hapal mobil milik Glen.


"Kenapa dia datang ke rumah? Dan pergi tanpa menemuiku dulu?" gumam Elie.


"Kenapa berhenti, Elie?"


"Eh, iya! Sorry gua liat temen tadi," jawab Elie pada sepupunya.


........................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!

__ADS_1


__ADS_2