Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
BERTENGKAR


__ADS_3

Mei dan Zain sama terkejutnya. Mereka kompak beranjak dari kursi. Zack menatap mereka berdua dengan penuh amarah. Parahnya, Zack datang di saat Zain mengelus bahu Mei. Pastilah Zack sudah salah sangka.


Tap tap tap,


Zack berjalan mendekat, suasana menjadi semakin canggung. Ia tadi berniat ingin menyusul Mei. Ada baiknya ia makan siang bersama apalagi mereka baru menikah kemarin. Tapi ternyata kenyataan jauh dari rencananya. Ia melihat Mei sedang mengobrol berduaan dengan kakaknya sendiri. Mereka bertemu tanpa sepengetahuan Zack.


"Mana kopiku?" Zack mengulang pertanyaannya.


Mei jadi merasa grogi.


"Be..Belum dipesan,"


"Karena keasikan mengobrol dengan mantan dosen tampan ini?"


Zack menatap Zain dengan sinis.


"Kita nggak sengaja ketemu tadi," ucap Zain.


"Waktu kami nikah kemarin kau tidak datang, sekarang sudah ada di kota ini dan bertemu istriku tanpa sepengetahuanku. Sengaja?"


"Calm down, brother! Aku hanya mengobrol biasa dengan Mei."


Zain mendudukkan Zack dengan paksa di kursi.


"Kemarin aku tidak bisa datang, karena itu hari ini aku pulang," lanjut Zain.


"Alasan saja," seru Zack.


"Sudahlah, Zack..." Mei berusaha menengahi perdebatan kakak beradik itu.


"Oh jadi kau mau membela dia?" suara Zack meninggi.


"Sudah ketemuan diam-diam, pegang-pegangan, sekarang juga mau membela?" imbuh Zack.


Mei menghela napas panjang. Sekarang bagimana? Perkara bertemu secara tidak sengaja dengan Zain malah menimbulkan masalah yang rumit. Apalagi Zain tidak hadir di acara pernikahan mereka tapi hari ini kakaknya itu malah menemui Mei di cafe. Hal itu cukup membuat Zack meragukan Zain.


"Tidak tidak..." Mei menyangkal.


"Ayo pergi dari sini!"


Zack menarik tangan Mei. Nampak Mei sedikit mengaduh kesakitan. Zain merasa tidak suka Zack memperlakukan Mei seenaknya. Tadi Mei baru bercerita, Zack sikapnya berubah. Dan lagi Zack belum menerima pernikahan mereka. Sekarang Zain melihat Mei diperlakukan kasar apalagi di tempat umum seperti ini.


"Zack!"


Zain mengejar Zack.


"Apa lagi?"


"Jangan kasar sama Mei,"


"Apa masalahnya? Kenapa kau peduli?"


"Karena...."


"Apa?" Zack menggertak.


"Ini tempat umum, Zack! Selesaikan di rumah! Come on, bersikaplah dewasa. Jangan menyimpulkan suatu kejadian hanya dari sudut pandangmu saja!"


"Halah, bilang saja kau suka dengan Mei. Tidak usah berdalih memberikan nasihat kepadaku,"


Suka? Zain tidak tahu menahu tentang hal itu. Bertahun-tahun ia bertemu dan berinteraksi dengan Mei di kampus. Selama itu juga Zain menyaksikan kekonyolan Mei apalagi saat dihadapannya. Zain tidak tahu perasaan apa yang menggambarkan tentang perasaannya pada Mei. Hanya sebatas mantan dosen dan mahasiswi atau lebih.Yang pasti selama meninggalkan negara ini untuk menjalankan pekerjaan ia seperti merasa merindukan obrolan konyolnya dengan Mei. Ditambah lagi saat mendengar berita pernikahan Mei kemarin, entah mengapa Zain merasa kesal.


"No no," Zain menyangkal.


"Kalau tidak suka apa? Cinta?"


"Jaga ucapanmu, Zack! Sopanlah sedikit, aku kakakmu!"


Zack melengos, ia terus menarik Mei agar ikut bersamanya. Tapi sepersekian detik kemudian Zack merasa lebih berat. Ia menoleh ternyata Zain memegangi tangan Mei yang satunya.


Kejadian itu menarik perhatian orang yang berlalu lalang. Karena saat ini mereka ada di depan cafe. Ya walaupun orang yang lewat hanya sekedar menatap sinis lalu pergi. Tapi tetap saja hal itu memalukan, bertengkar di tempat umum.


"Jadi begini rasanya jadi rebutan," gumam Mei.

__ADS_1


Mei yang tengah di tarik-tarik oleh dua kakak beradik itu hanya diam. Untuk pertama kalinya Mei merasa menjadi sebab pertengkaran dua pria tampan. Rasanya Mei seperti terbang. Untuk sejenak ia menikmati saat dirinya ditarik-tarik oleh dua pria tampan. Baru kemudian ia tersadar karena mendengar teriakan Zack.


"Ayo Mei! Balik ke kantor, kita harus bicara!" seru Zack.


Zain menahan Mei.


"Jangan ikut campur urusanku!" Zack semakin marah.


Zain masih bersikeras menahan Mei. Ia tahu betul adiknya sekarang sedang emosi. Ia tidak ingin Zack memperlakukan Mei dengan kasar.


Bug,


"Arrghh!" Zain mundur ke belakang.


Zack melayangkan bogem mentah secara tiba-tiba ke perut Zain.


"Zack kamu apa-apaan sih!" Mei berteriak.


Zack semakin dongkol, ia menarik Mei dengan paksa. Mei memberontak tapi akhirnya ia hanya menurut. Karena semakin Mei memberontak cekalan Zack pada tangannya juga semakin kuat.


Begitu tiba di area kantor mereka, para karyawan langsung minggir. Bahkan beberapa dari mereka sengaja putar balik agar tidak berpapasan. Sepertinya mereka tidak ingin mendapat masalah dengan Zack nantinya. Zack terus menarik Mei sampai ke ruangannya.


"Lepas, Zack!" Mei menggibaskan tangannya.


Zack membiarkan, mereka sudah sampai di ruangan Zack. Zack hanya menatap Mei dengan tatapan tajam. Mei tidak habis pikir dengan sikap Zack hari ini. Mei merasa dipermalukan, semua karyawan melihatnya diseret oleh Zack. Mei balik menatap Zack, lalu ia hendak beranjak dari ruangan itu.


"Kita harus bicara!" Zack menahan tangan Mei.


"Sakit, Zack!" teriak Mei.


"Makanya nurut,"


Zack melepaskan tangan Mei.


"Maumu itu apa sebenarnya?" Mei berteriak.


"Pertanyaan itu harusnya untukmu! Kau janjian kan dengan Zain bertemu di cafe itu?"


Mei berlari keluar dari ruangan Zack.


"Mei!"


Mei tidak menggubris. Ia membereskan meja kerjanya, lalu pergi begitu saja.


"Arrghh!" Zack menggebrak mejanya karena kesal.


Ting,


Ada notifikasi pesan masuk. Zack membuka pesan itu. Entah apa isi pesan itu wajah Zack langsung memerah saat membacanya.


Prang,


Zack membanting ponselnya sendiri.


"Persetan dengan semuanya! ****!" umpat Zack.


Yang pasti isi pesan itu adalah hal yang buruk dan semakin menambah pusing kepala Zack. Mei pergi dan sekarang ia mendapat pesan ini. Semakin sulit posisinya.


Zack mengambil kunci mobilnya, ia melepaskan jasnya dan berganti dengan jaket biasa. Ia meninggalkan kantor. Entah kemana ia akan pergi. Tidak ada yang tahu apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.


+++++++++++++


Keesokan harinya,


Reza dan Silvi baru saja tiba di rumah baru mereka. Papi dan maminya yang memilihkan. Rumah lantai dua bergaya khas amerika di kawasan perumahan elite. Dari luarnya saja sudah bisa ditebak rumah ini berharga mahal.


Kemarin malam barang-barang Reza dan Silvi sudah dibawa ke rumah baru mereka. Hari ini mungkin hanya tinggal menyusun sedikit barang yang belum beres, yaitu baju mereka.


"Bagus ya bos rumahnya, bos!" seloroh Glen.


"Biasa pilihan mami," jawab Reza.


"Emm, bos...By the way, saya tinggal di sini juga, kan?"

__ADS_1


"Iya, sudah aku siapkan kamar khusus!"


"Wah, bos pengertian sekali!" Glen girang.


"Kamarmu bareng sama Mira!"


Reza dan Silvi tertawa.


"Bos jahat!" Glen mengeluh.


Silvi tertawa lagi.


"Rumahmu kan ada? Yang kau cicil itu!" Reza terkekeh.


Wajah Glen lesu, ia menunduk.


"Ya, ada! Tadi saya pikir mungkin bos mau saya stand by 24 jam gitu, soalnya bu bos sedang hamil." ucap Glen masih menunduk.


Tidak ada respon dari kedua bosnya.


Glen akhirnya mengangkat kepalanya untuk menatap sekitar. Sepi, tidak ada orang.


"Ditinggal lagi, ditinggal terus!" seru Glen.


Glen masuk ke dalam rumah menyusul bosnya. Kedua bosnya itu tertawa cekikikan setelah berhasil membuat wajah Glen. Reza dan Silvi lantas meninggalkan Glen sendirian di ruang tengah. Reza membantu Silvi menyusun sedikit baju mereka. Sebenarnya semalam sudah diangkut. Tapi masih ada satu koper yang tidak terbawa.


Reza memasang pengharum ruangan aroma lemon. Awalnya ia ingin memasang yang aroma durian, tapi langsung diprotes Silvi. Lemon tidak buruk. Selain aroma durian, ia juga menyukai aroma lemon sejak beberapa hari terakhir ini. Bahkan ia selalu menambahkan lemon ke dalam makanannya agar rasanya asam.


Sementara di ruang tamu, karena tidak ada yang harus dikerjakan, Glen berniat akan duduk di sofa. Ia akan beristirahat sebentar. Tapi,


"Glennn!!" Reza sudah memanggil Glen lagi.


"Hadir!"


Glen menghampiri bosnya yang ada di kamar.


"Silvi lapar," ucap Reza.


"Lalu saya harus berbuat apa, bos?"


"Beli makanan lah!" Reza sewot.


Silvi tertawa.


"Ohhh, siap bos! Apa yang harus saya beli, bu bos?" tanya Glen pada Silvi.


"Hmm...Apa aja sih, yang penting enak!"


Jawaban Silvi berhasil membuat Reza terbahak.


"Saya jadi bingung bu bos, sebut saja nanti saya carikan!" jawab Glen kemudian.


"Yaudah, yang gampang aja ya! Aku mau sup ayam jamur, chicken wings, kentang goreng, pasta, kue coklat satu potong, sama jus strawberry ya! Udah itu aja!" Silvi menyebutkan keinginannya.


"Siap, bu bos!"


"Kamu pesen apa, kak?" tanya Silvi kemudian.


"Emangnya semua makanan itu nanti kamu bisa habis?"


"Iya, aku sekarang pengennya makan terus kak!"


Reza tertawa.


"Aku steak aja, steak yang seperti biasa ya Glen!" seru Reza.


"Aku mau steak juga!" sahut Silvi.


Reza tertawa sampai terbahak.


................................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!

__ADS_1


__ADS_2