
"Siapa yang membayar agen setangguh kalian?" tanya Reza.
"Dia adalah....Aku tidak pernah melihat wajahnya. Dia selalu mengobrol tanpa menatapku, wajahnya ditutupi masker atau kadang hanya bicara membelakangiku..." jawab Julia.
"Yang benar saja masa nggak pernah lihat wajah bos sendiri? Identitasnya kau tahu? Ciri-cirinya gitu?" Reza merasa kesal.
Reza kesal, dari sekian banyak masalah yang pernah ia alami selama ini, kenapa harus main petak umpet dengan musuh lagi? Julia mengatakan tidak pernah melihat wajah orang yang membayarnya, artinya jalan buntu lagi.
"Wajahnya saja disembunyikan dariku, apalagi informasinya. Yang jelas ia masih muda. Suaranya kadang terdengar seperti wanita kadang juga terdengar seperti pria." Julia berkata dengan lemah.
"Mungkinkah ada dua?" Reza bertanya lagi.
"Aku tidak tahu...Kemungkinan iya, karena postur tubuhnya juga ber..be be da." Julia tersengal.
Reza terdiam pikirannya menerawang jauh. Ia harus mendapatkan informasi lain, setidaknya nama atau nomor ponselnya.
"Bagaimana caramu berkomunikasi dengannya selama ini?" tanya Reza tanpa menatap Julia.
"Em...Jika Dia ingin bertemu denganku, anak buahnya akan menjemputku!" jawab Julia lemah.
"****!" umpat Reza, tangannya memukul paha Julia dengan cukup keras.
"Arrgghhh! Tanganmu!" pekik Julia.
Reza memindahkan tangannya, Julia tidak boleh mati dulu.
"Benar-benar buntu!" keluh Reza.
"Sudah aku bilang, kan? Kau tidak akan mengalahkan bos ku itu, kalian semua akan mati!" Julia tertawa sinis.
"Jangan sombong!" Reza menekan luka di paha Julia.
"Aarrgghh....Orang gila!" pekik Julia.
Julia merasakan sakit yang luar biasa di pahanya. Air matanya sampai keluar. Hanya mata kanannya yang mengeluarkan air mata. Dan....Mata kirinya malah mengeluarkan darah.
"Ssstttt!" Reza menghapus air mata dan darah yang mengalir dari mata Julia.
"Bunuh saja aku sekarang! Kau tidak akan menemukan bosku!" teriak Julia.
"Kau tidak boleh mati dulu!" Reza tersenyum smrik.
"Dasar gila!" Julia mengumpat.
"Sekarang jawab pertanyaanku!" seru Reza, tangannya menekan paha Julia.
Julia meringis kesakitan, baginya lebih baik mati daripada harus disiksa seperti ini. Dia benar-benar tidak tahu informasi apapun tentang bos yang membayarnya. Yang ia tahu hanya target dan bayaran mereka.
"Dimana kalian biasa bertemu?" tanya Reza.
Julia menelan ludahnya, bibirnya bergetar hendak menjawab. Pahanya sakit sekali sekarang, ia bisa merasakan aliran darah yang merembes. Hanya masalah waktu kapan ia akan mati, ia sudah kehabisan banyak darah.
"Le lepaskan du..lu tanganmuu!" ucap Julia tersengal.
Reza mengendurkan tangannya, dalam hatinya ia merasa senang melihat wajah Julia yang menahan kesakitan.
"Awalnya beberapa orang menjemputku, selama perjalanan mataku sengaja ditutup kain dan baru dibuka saat sampai di sebuah kamar, yang sepertinya kamar hotel atau penginapan. Di pertemuan ketiga, h-1 sebelum terjun ke lapangan, untuk pertama kalinya mataku tidak ditutup sepenuhnya..." napas Julia tersengal.
__ADS_1
"Mereka membuka mataku saat sampai di depan sebuah bar, membawaku masuk ke dalam bar itu, masuk ke dalam sebuah kamar. Aku ingat kamar itu sama dengan yang sebelumnya.." lanjut Julia.
"Kau ingat bar itu?" tanya Reza.
"Iy...iya..." jawab Julia.
"Bar itu bernama Destiny..." lanjut Julia.
"Okay, apakah masih ada lagi yang kau ketahui?" Reza menekan lagi luka Julia, tempat tidur itu sudah di dominasi warna merah.
"Arrgghhh..." erangan Julia terdengar menyayat hati.
"A...ada...Angin di sana terasa kencang, seperti di pesisir pantai." sambung Julia.
"Aku ucapkan terima kasih untuk informasi yang kau sampaikan. Setidaknya kau punya sedikit kebaikan di akhir hidupmu! Apakah ada kata terakhir yang ingin kau sampaikan?" Reza menatap Julia dengan wajah yang penuh senyuman.
"Kau tidak akan bisa menemukan ataupun mengalahkannya," jawab Julia.
Reza tersenyum, ia berjalan mundur. Tangannya meraih sesuatu dari sebuah meja. Ya! Sebuah pisau yang panjang dan tajam. Perlahan Reza tempelkan pisau itu di paha Julia yang sakit. Celana yang dipakai Julia panjang, sudah sobek besar dibagian yang disayat Reza.
"Aaaaaa..." erangan Julia menjadi tidak karuan.
Lantas Reza menyingkir dari luka Julia. Ia berpindah ke wajah Julia. Reza mengelus wajah cantik Julia dengan pisau itu. Dinginnya pisau besi membuat sensasi takut tersendiri pada Julia. Julia memejamkan matanya. Mata yang kanan, karena yang kiri sudah rusak tadi.
"Jangan merem!" Reza memaksa Julia untuk membuka matanya.
Julia menggelengkan kepalanya, ia tahu apa yang akan dilakukan Reza selanjutnya.
"Aaarrhhhh...Ingat kalian semua akan matiiii!" Julia berteriak histeris.
Reza semakin membenamkan pisaunya. Darah segar mengalir deras, sekarang pisau itu menancap sempurna di mata kanan Julia. Sungguh pemandangan yang mengerikan, tapi menyenangkan untuk Reza.
------------------------------
Cuaca lumayan terik siang ini, tapi kedua manusia penakut itu tidak terusik sama sekali. Jelas tidak terusik, anak buah Reza meninggalkan mereka berdua di bawah pohon apel yang rindang. Angin berhembus cukup kencang, dan
Puk,
"Auuww!" sebuah apel berukuran besar jatuh tepat di kepala Frans.
Frans membuka matanya, sakit sekali kepalanya. Ia melihat tenyata yang baru saja menimpa kepalanya adalah apel.
"Apel? Rasanya mau pingsan lagi. Loh... Aku ada dimana?" Frans terkejut.
Reflek ia melihat ke sekelilingnya. Ia tidak sedang berada di dalam mansion, tapi di kebun. Tepatnya di bawah pohon apel. Frans hapal kebun ini, kebun ini adalah kebun buah Silvi.
"Kenapa jadi pindah di kebun?" Frans menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Frans mendapati ada Glen di sampingnya, astaga! Berarti Glen juga bernasib sama dengannya. Ia paham, pasti Reza yang melakukannya. Ia sadar ia salah dalam ha ini, wajar saja jika dihukum. Frans menyenggol kaki Glen pelan, agar pria itu bangun. Tapi Glen tidak bangun.
"Manusia jenis apa dia? Pingsan ngorok?" Frans justru mendengar Glen mengorok.
Frans celingukan mencari sesuatu. Ia memetik sebuah apel yang ukurannya cukup besar. Biar saja Glen merasakan apa yang dia rasakan.
Puk,
Frans melemparkan apel itu tepat di kepala Glen. Glen langsung membuka matanya, ia duduk bersandar di pohon sambil memegang kepalanya.
__ADS_1
"Aduh...Sakit banget kepalaku.." keluh Glen.
"Makanya bangun!" Frans sewot.
"Rasanya mau pingsan lagi..." ucap Glen.
"Awas kalau pingsan!" ancam Frans.
"Iya iya..." Glen menatap Frans sinis.
"Loh ini dimana?" Glen memperhatikan sekeliling.
"Afrika!" jawab Frans.
"Afrika? Astaga...Bos jahat banget buang kita sampai Afrika. Aku tidak bisa jadi kaya raya kalau di sini!" bibir Glen sudah manyun mau menangis.
Frans memutar bola matanya malas, selain menyebalkan Glen juga king drama yang cengeng. Ia meninggalkan Glen sendirian meratapi nasibnya.
"Kau mau kemana?" seru Glen membuat Frans menghentikan langkahnya.
"Pulang lah!" jawab Frans.
"Kita bisa pulang?" Glen beranjak dari duduknya, tatapan matanya penuh dengan harapan.
"Hmm..."
"Baiklah, ayooo!" Glen menghapus air matanya.
Kedua berjalan menyusuri kebun itu. Lima menit kemudian mereka tiba di depan gerbang utama. Glen terperanjat, gerbang ini mirip dengan gerbang mansion Dave.
"Kau membohongiku?" seru Glen dengan sengit.
"Menurutmu?" tanya Frans.
"Jahat!" Glen melangkah masuk duluan, meninggalkan Frans.
Di dalam mansion, masih sepi. Semua orang masih dalam pengaruh obat tidur tadi. Hanya ada Reza yang duduk di meja makan. Reza memakan mie instan yang dibuatnya sendiri. Glen bergegas mendekati Reza di meja makan.
"Bos, ampun bos! Saya kapok!" Glen langsung menghampiri Reza.
Reza menoleh, melihat sekitar lalu memakan mie lagi. Ia bersikap seolah tidak ada siapapun di sana.
"Bos, jangan begini! Bos marahi saya saja, pukul saya! Asal jangan diamkan saya!" Glen menangis.
Reza beranjak dari duduknya, menyingkirkan mangkok bekasnya, minum air mineral lantas meninggalkan meja makan. Ia benar-benar tidak menganggap Glen ada.
"Bos..." Glen menatap punggung Reza yang menjauh.
Glen menghapus air matanya, menatap Reza yang menghilang di balik dinding dengan sendu. Memang belum lama Glen berkerja dengan Reza, tapi ia sudah merasa sangat dekat dengan bosnya itu.
Reza masuk ke kamarnya, merebahkan tubuhnya di ranjang. Baru saja ia ingin memejamkan mata, ponselnya berdering. Ia mengangkatnya.
"........."
"Apa? Aku akan segera ke sana! Aku kasih bonus atas kerja cepatmu!" seru Reza.
Reza menyambar kunci mobil dan jaket. Mobilnya sudah diambil dari apartemen lamanya. Reza langsung meluncur.
__ADS_1
....................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!