Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
SARAPAN


__ADS_3

Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga semuanya sehat selalu ya!


.............


Tadi pagi-pagi sekali Reza sudah datang ke mansion Dave. Tujuannya adalah untuk bisa dekat lagi dengan Dave. Syarat yang diberikan Silvi agar ia dimaafkan adalah harus bisa makan satu meja dengan Dave tanpa bertengkar. Jika Reza dekat dengan Dave lagi otomatis hal itu bisa dilakukan. Tidak hanya makan bersama, tidur bersama pun bisa dilakukan.


Reza memulainya dengan membuat menu sarapan untuk semua anggota keluarga. Ia hanya membuat sandwich daging dan keju, walaupun sederhana Reza membuatnya dengan sepenuh hati. Ia tidak mengizinkan Ily atau pelayan lain untuk membantu memasak. Tapi jangan salah dulu, Glen dikecualikan. Ia tengah memotong tomat sekarang.


"Hooaaammm...." Glen membuka lebar mulutnya, terlihat jelas ia masih mengantuk.


"Katanya ganteng tapi napasnya bau..." seru Reza.


"Bos membangunkan saya jam 6 pagi! Begitu buka mata, saya langsung ditarik ke mobil. Saya tidak sempat gosok gigi! Ini aja masih syukur saya pakai piyama," seru Glen.


"Katanya pengen kaya, jadi harus terbiasa bangun pagi seperti tadi? Kau pikir jadi orang kaya itu gampang? Justru semakin kaya kau harus lebih kerja keras dan mengorbankan waktumu!" Reza tersenyum sekilas.


"Baiklah baiklah, bos! Emangnya bos sendiri sudah gosok gigi?" sahut Glen.


"Sudah lah, ini cium saja baunya! Haaahhh!" Reza menyemburkan nafasnya ke wajah Glen.


"Masih wangian punya saya! Haaahhh!" Glen menyemburkan nafas juga.


"Lihat, lalat saja mati mencium nafasmu!" Reza menunjuk sembarang ke bawah.


"Mana ada lalat di mansion semewah ini, bos? Hmm... Saya juga mau mansion seperti ini untuk masa depan," Glen menatap sekeliling.


"Sudahlah, ayo selesaikan menu sarapan ini!" seru Reza dengan bersemangat.


"Hmm... mereka saja belum bangun, bos!" sahut Glen.


"Justru ini kesempatan kita, begitu mereka bangun, makanan sudah siap! Mood mereka akan jadi bagus," Reza melanjutkan aksinya.


Kedua pria tampan itu kembali fokus membuat sandwich sesuai rencana. Mereka berdua cukup mengalami kesulitan. Pastinya karena mereka jarang bahkan hampir tidak pernah memasak seperti ini. Memesan makanan secara online lebih praktis daripada harus bersusah payah memasak.


Akhirnya masakan mereka jadi juga. Glen membantu Reza untuk menyusun piring di meja makan. Berikut dengan sanwichnya. Selain sandwich, Reza tadi juga membuat salad selada. Reza memberikan sentuhan terakhir, ia menuangkan jus jeruk segar ke semua gelas. Di samping jus itu ia juga menyiapkan air mineral biasa.


"Akhirnya..." Reza mengelap keringatnya.


Glen memilih duduk di salah satu kursi yang ada. Tepat disaat ia duduk Para anggota keluarga mendekat menuju meja makan.


"Wow!" seru Erick saat melihat meja makan.


"Bravo, ganteng!" Katy memuji Reza.


Yang terlihat sangat terkejut adalah Silvi. Ia sampai berdiri mematung dengan menutup kedua mulutnya. Silvi tidak menduga, Reza akan melakukan ini semua.


"Kagetnya biasa saja, nona!" seru Glen menyadarkan Silvi.


"Ah iya...." sahut Silvi spontan.


Mereka duduk di kursi masing-masing. Reza malah tetap berdiri di samping Silvi. Ia seperti pramusaji yang menjelaskan menu sarapan yang ia buat pagi ini.


"Sandwich daging dan keju. Makanan ini simple tapi dijamin lezat. Daging yang digunakan tanpa lemak. Dipanggang dengan suhu yang pas dan merata. Ditambah dengan keju yang melting, tomat, selada, dan timun membuat sarapan ini sangat lezat." Reza menjelaskan ala-ala.


"Tambahkan juga bos, sandwich ini dimasak oleh dua pria tampan yang belum mandi.." sahut Glen.


Semua orang melirik Glen dan Reza, lantas tertawa. Kalau untuk masalah itu mereka sudah tahu sejak melihat keduanya. Glen masih menggunakan piyama.


Selang beberapa menit, yang ditunggu-tunggu Reza akhirnya datang juga. Dari kejauhan Dave, Aryn dan Davin berjalan mendekat. Wajah Dave berubah menjadi dingin saat melihat keberadaan Reza di sana. Bahkan Dave tidak menyapa Reza sama sekali, padahal ia menyapa semua orang.

__ADS_1


"Ada apa ini? Semua orang terlihat bahagia pagi ini?" ucap Dave saat ia duduk di kursinya.


"Ini loh, Reza buat semua ini!" jawab Katy.


"Oh..." Dave mengangguk pelan.


"Hanya oh saja?" seru Erick.


"Lalu aku harus salto salto, pa?" Dave menaikkan sebelah alisnya.


"Ato...dada ato (Salto, daddy salto)" seru Davin.


"Apin..." Aryn mencubit kecil pipi gembul Davin.


"Apin pinter deh," seloroh Silvi.


Dave menghela napas kasar. Nama pemberiannya yang keren diganti dengan 'Apin' oleh semua orang. Reza duduk di sebelah Silvi, posisinya tepat berhadapan dengan Dave. Baru saja bokongnya ia dudukkan, ia sudah mendapat tatapan membunuh dari Dave.


"Enak ya, Dave! Calon adik iparmu pintar memasak juga," seru Katy.


"Rasanya biasa aja," ucap Dave dingin.


Ada kilatan amarah di kedua mata Reza. Namun, Reza seketika karena Silvi menggenggam tangannya di bawah meja dengan erat. Seolah menyerap kemarahannya.


"Biarkan saja! Tahan, kak...Demi persahabatan kakak dulu dengan Kak Dave! Hubungan itu harus dekat lagi," bisik Silvi menenangkan Reza.


"Iya, kamu jangan khawatir!" jawab Reza dengan berbisik juga.


Reza mengatur nafasnya. Ia melanjutkan untuk makan sarapannya. Tiba-tiba Dave beranjak dari kursinya. Nampak dia sedikit merapihkan jasnya.


"Aku berangkat dulu," Dave berkata pada semua orang


"Malas... Sopir sudah menungguku di luar! Oh iya, besok Frans kembali lagi ke sini! Kamu dan temanmu itu kalau mau diantar Frans ke kampusnya!" jawab Dave.


"Hmmm..."


Dave mencium Aryn dan Davin secara bergantian. Tidak lupa ia berpamitan pada semua orang, kecuali Reza. Reza menatap lekat Dave sampai Dave keluar dari mansion. Reza merasa kelas. Ia datang pagi buta hanya untuk menyiapkan sarapan tapi tidak dihargai oleh Dave.


"Kalau dia bukan kakakmu, sudah aku sumpal mulutnya dnegan sandwich ini!" keluh Reza.


"Kak... sudahlah! Aku yakin nanti kalian dekat lagi..." sahut Silvi.


"Tapi kali ini aku sudah berhasil dong? Makan satu meja dengan Dave, jadi kamu memaafkanku!" Reza mencolek pipi Silvi.


"Iya deh, iyaaa" Silvi tersipu malu.


"Ehem...." Aryn membuat Silvi dan Reza salah tingkah.


"Dilanjut lagi sarapannya, pacarannya nanti!" ucap Aryn.


Mereka sedikit mengobrol sampai sarapan mereka selesai. Reza dengan cekatan membawa piring ke belakang. Membuat para pelayan sedikit kebingungan karena Reza turun tangan. Di saat yang bersamaan, suara cempreng yang khas terdengar.


"Aryn...Kuliah yuk!"


Siapa lagi kalau bukan si Miss Mei, suara cemprengnya terdengar menggema. Mei menyanyikan lagu kesukaannya dengan ceria. Entah kapan ia akan sadar suaranya itu mengganggu orang lain.


"Mei jangan nyanyi dulu, please!" seru Aryn.


"Why? Kamu iri ya?" sahut Mei.

__ADS_1


"Amit-amit," Aryn mengetukkan tangannya ke meja.


Mei menatap sekeliling. Pandangan matanya berhenti pada Glen dan Reza. Mei tidak pernah melihat kedua pria itu sebelumnya. Apakah mereka saudara Dave atau siapa, ia tidak tahu.


"Mereka siapa?" tanya Mei pada Aryn.


"Itu pacar Silvi, kalau yang ini sekretarisnya!" jawab Aryn singkat.


"Pacar? Bukan omnya, ya?" Mei terlihat bingung.


"P A C A R," ucap Reza.


"Ada masalah?" tanya Silvi cuek.


"Hmm... Jangan sama yang tua begini dong! Tapi, wait! Duitnya banyak enggak? Kalau tajir nggak masalah sih!" jawab Mei.


"Jangan ditanya lagi untuk masalah duit, nona! Bos saya ini hartanya dimakan 7 turunan 7 tikungan 7 belokan sampai 7 perempatan pun nggak akan habis!" celetuk Glen.


"Wah, langsung gas aja kalau gitu!" seru Mei dengan antusias.


"Awas jangan digebet, ini punyaku!" Silvi memeluk lengan Reza posesif.


"Santai... Paling aku tunggu dudanya saja," Mei terkekeh.


Buk,


Mei langsung mendapat lemparan buku dari Aryn. Untung saja tidak kena kepalanya. Semua orang tertawa melihatnya.


"Aryn tega banget, ih!" protes Mei.


"Siapa suruh mulutmu itu mengoceh pagi-pagi!" seru Aryn.


"Ini karena belum sarapan, aku tadi mau sarapan bareng di sini! Tapi sudah habis semua! Lagipula aku hanya bercanda tadi, masa menunggu duda sih!" sahut Mei.


"Daripada nunggu dudanya bos, mending sama saya! Kenalin saya Glen!" Glen tersenyum manis pada Mei.


"Punya uang berapa kamu?" jawab Mei.


"Lumayan," jawab Glen.


"Rumah?" tanya Mei.


"Ini saya sedang nyicil rumah baru," jawab Glen.


"Oh, kamu bukan tipeku!" Mei pergi dengan menggandeng Aryn.


Semua orang tertawa melihat itu. Glen hanya terdiam. Reza menatap sekretarisnya itu.


"Parah sih, dia belum tahu Glen memang baru mencicil rumah baru. Tapi sebelumnya ia sudah punya rumah lain.." Reza membela Glen.


"Biarkan saja, bos! Bukan jodoh!" ucap Glen sendu.


"Iya, tapi jangan nangis!" Reza tertawa.


"Bos..." Mata Glen sudah basah keduanya.


..........................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!

__ADS_1


__ADS_2