Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
JANJI KELINGKING


__ADS_3

"Bos kaki saya gemetaran sendiri!" lirih Glen.


"Dasar lemah!" Reza menepuk helm Glen.


Reza menyingkirkan mayat pria yang menimpa Glen. Ia geletakkan di aspal begitu saja.


"Dia mati, bos?" tanya Glen dengan lirih.


"Iya,"


Bulu kuduk Glen meremang. Kebengisan dan kesadisan Reza tidak boleh dianggap remeh. Glen menatap mayat itu, dengan takut-takut ia menggunakan kakinya untuk menggerakkan kaki mayat itu.


"Awas nanti malam kau bisa digentayangi rohnya!" ucap Reza.


"Amit-amit, jangan menakuti saya bos!" Glen langsung cepat-cepat menjauhi mayat itu.


Citt,


Dua mobil mewah berhenti di tak jauh dari Reza dan Glen berdiri saat ini. Nampak dari kedua mobil itu keluar Dave, Zack, Aryn, dan Mei. Tapi yang mendekat hanya para suami. Para istri itu tetap di dekat mobil karena takut melihat manusia yang bergelimpangan di aspal. Di beberapa titik aspal juga ada darah yang menggenang.


"Ada apa ini?" seru Dave.


"Mereka siapa?" imbuh Zack.


"Astaga, Tuan Dave dan Tuan Zack telat datang! Jika kalian datang lebih awal kalian pasti akan melihat saya membantu Bos Reza menghabisi orang-orang ini!" Glen menunjuk dirinya dengan bangga.


"Kau? Membantu Reza? Paling hanya merepotkan!" Zack meremehkan.


Reza tertawa.


"Mereka ada banyak, kenapa mereka menyerang kalian?" tanya Dave.


"Karena Clara ada bersamaku, mereka ingin menjemput Clara.." jawab Reza.


"Kenapa tidak kau berikan saja Clara pada mereka, Silvi bisa celaka kau tahu tidak! Jangan pikirkan dirimu sendiri!" Dave sewot.


Reza menghembuskan napas dengan kasar.


"Urusanku dengan Clara belum selesai, " jawabnya.


"Lalu bagaimana kalau mereka datang lagi? Silvi bisa celaka, bodoh!" Dave makin sewot.


Reza mengelus dadanya.


"Silvi aman bersamaku," ucapnya singkat.


"Zack, bisa tolong urus tempat ini?" Reza berbicara pada Zack.


"Kau ini seperti dengan siapa aja, aku sudah menelpon orang untuk membereskan tempat ini. Lebih baik kau pulang, aku akan di sini sampai tempat ini bersih!" sahut Zack.


"Thanks, bro!" Reza tersenyum.


Reza mengajak Glen meninggalkan tempat itu. Glen sudah masuk ke mobilnya. Reza juga akan masuk, tapi ia menoleh sebentar.


"Nggak pulang, Dave?" serunya.


"Nanti dulu, aku pulang bareng Zack saja!" jawab Dave.


Zack tertawa.


"Cuma pulang bareng aja gengsi, Dave! Lagipula beda mobil," Zack meledek.


"Diam!" Dave menggertak.


Reza mengetuk kaca mobilnya untuk memanggil Silvi, karena mobil dikunci oleh Silvi tadi. Setelah dibukakan baru Reza masuk ke mobil dan melaju ke rumah. Clara masih bersama mereka.


"Gimana? Kau nggak jadi dijemput kan?" Silvi meledek Clara.


Clara buang muka tidak menggubris ejekan Silvi. Clara hanya bisa pasrah sekarang, ternyata Reza bukan orang sembarangan. Kalau tau begini ia tadi kabur saat Reza bertengkar dengan Zain.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, mereka semua masuk. Tak terkecuali Clara, ia dipaksa masuk oleh Reza. Glen juga turut masuk ke dalam rumah.


"Kenapa Glen ikut ke rumah?" seru Silvi.


"Aku sudah bilang sayang, ada urusan yang harus diselesaikan. Aku butuh Glen juga," jawab Reza.


"Males ih ada Glen, aku ke kamar dulu ya kak!"


Reza mengangguk, lalu mencium kening Silvi sekilas.


"Awas aja nanti kalau Bu Bos pengen disuapin lagi," keluh Glen.


"Gentong...." Reza menatap Glen tajam.


"Just kidding, bos!" Glen menyengir.


Perhatian Reza beralih pada Clara.


"Duduk!" seru Reza, ia sendiri sudah duduk di sofa ruang tamu.


Clara melengos.


"Duduk atau kau tidak akan pernah aku lepaskan!" Reza mengeluarkan jurus ancaman.


"Iya iya," Clara menurut.


"Glen tunjukkan fotonya!" seru Reza.


Glen dengan cekatan membuka ponselnya, dari layar ponswlnya nampak foto Clara dengan seorang pria di sebuah cafe. Foto itu diambil oleh Glen yang hari itu khusus ditugaskan mengikuti Clara.


"Apa hubunganmu dengan pria itu?" tanya Reza.


"Bukan urusanmu!" Clara jutek.


"Jelas ini urusanku, gara-gara kau pernikahan sahabatku hampir kandas. Dan lagi pria yang kau temui ini pernah mempunyai bagian di kehidupanku!" nada Reza mulai meninggi.


"Bukan urusanku," jawab Clara enteng.


"Aku tidak takut, dia tidak mudah dihabisi!" seru Clara.


"Siapa bilang?" Reza tersenyum smrik.


"Tunjukkan, Glen!" lanjutnya.


Glen membuka lagi ponselnya. Ia membuka sebuah rekaman video, seorang pria diikat dan dilakban di sebuah kursi.


"Sial!" umpat Clara.


"Kau akan menanggung malu seumur hidup, berita kehamilanmu juga akan aku sebarkan ke media!" ucap Reza dengan enteng.


Clara terdiam, dirinya semakin terpojok. Kekasihnya alias ayah dari bayi yang ia kandung sudah ditahan Reza. Reza bukan orang sembarangan, ia lihat sendiri bagaimana Reza melawan dan menghabisi orangnya. Ia menarik napas panjang,


"Okay okay, aku akan jawab pertanyaanmu. Tidak hanya satu pertanyaan kau bebas menanyakan segalanya. Tapi bebaskan dia dan jangan sebarkan masalahku!" Clara tunduk pada Reza.


"Sudah kuduga, harga dirimu adalah hidup matimu." Reza menampilkan senyum kemenangan.


"Sekarang tanyakan, akan aku jawab!" seru Clara.


"Mudah saja, apa hubunganmu dengan pria yang ada di foto itu?" tanya Reza.


Clara tampak diam sejenak, entah apa yang ia pikirkan.


"Dia adik tiriku," jawab Clara


Boom,


Reza terkejut bukan main. Adik tiri?


"Wow...Apakah dia ambil bagian dari rencanamu dan Zain?" tanya Reza.

__ADS_1


"Iya. Awalnya aku tidak setuju dengan ide gila Zain, tapi adik tiriku itu malah mendukung dan menyuruhku untuk ikut rencana Zain. Alasannya Zain memberikan imbalan uang dan keternaran, kau tahu kan Zain punya agensi model. Dia hanya ikut campur sampai di situ." jawab Clara.


"Are you sure?" tanya Reza.


"Yes!" jawab Clara singkat.


"Okay, aku pegang ucapanmu!" seru Reza.


Reza nampak mengetik pesan singkat untuk seseorang menggunakan ponselnya.


"Aku sudah bebas kan sekarang?" seru Clara.


"Sudah, pulang saja! Aku sudah tidak butuh kau!" jawab Reza enteng.


Reza hanya fokus pada ponselnya.


"Sialan!" umpat Clara.


"Antar dia sampai pintu Glen!" seru Reza.


"Siap, bos!" Glen beranjak dari sofa.


"Cih, ku pikir kau akan menyuruhnya mengantar sampai apartemenku. Aku sudah menjawab pertanyaanmu, paling tidak ada sedikit imbalan,"


"Masih untung aku tidak mengirimmu ke Zimbabwe setelah kau menciptakan kerusuhan di antara Zack dan istrinya," sahut Reza.


Clara keluar dari rumah Reza dengan penuh rasa kesal. Tinggallah Reza dan Glen yang ada di ruang tamu.


"Kau lakukan rencana selanjutnya, Glen!" Reza meletakkan ponselnya.


"Sekarang, bos?" Glen malah bertanya.


"Bulan depan," jawab Reza.


"Masih lama berarti ya, bos?"


"Sekarang, Gentong!" teriak Reza.


"Iya iya, bos!" Glen kaget.


"Satu lagi, kau ganti mobil dulu,"


"Wah, bos mau masukin mobil saya ke bengkel ya, tau aja kalau mobil saya lecet bos!" Glen sumringah.


"Jangan ngarep! Aku menyuruhmu ganti mobil agar tidak diincar orang lagi, bodoh! Enak aja! Kerja dulu, kalau gol nanti aku baru kasih bonus untuk perbaiki mobil cicilanmu itu!" Reza sewot.


"Bener ya, bos! Janji?" Glen mengajak Reza untuk janji kelingking.


Reza menatap kelingking Glen dengan sinis.


"Janji," ternyata Reza mengaitkan kelingkingnya dengan Glen.


Mereka berdua tersenyum bersama.


"Kak? Glen?" Silvi mematung di dekat tangga.


Silvi tadi ingin mencari Reza, sudah lama ia di kamar tapi Reza tidak menyusul. Di sisi lain ia juga penasaran apa yang dibicarakan dengan Clara.


Reza melotot ia sadar, lalu cepat-cepat ia melepaskan kelingkingnya dari kelingking Glen.


"Silvi, aku bisa jelaskan... Tadi Glen memaksaku untuk janji kelingking, hanya itu!" Reza menghampiri Silvi.


"Ohh, yaudah! Mana Clara?" jawab Silvi.


"Dia pulang, urusannya sudah selesai. Ayo kita ke kamar, kamu butuh istirahat yang cukup!" ucap Reza.


Reza dan Silvi pergi ke kamarnya. Sementara Glen, ia masih di tempatnya. Kedua pipinya merah.


"Bos udah janji kelingking," gumam Glen sambil senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


...................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2