
Hari berikutnya,
"Yesss!" Silvi mengepalkan tangannya ke udara.
Silvi melihat sekali lagi papan pengunguman, namanya memang benar ada di paling atas. Tidak sia-sia juga ia mengurung diri di kamar berkencan dengan buku pelajaran. Ternyata kalau serius otaknya encer juga.
"Congratulation, Silvi!" seseorang menepuk bahu Silvi dari belakang.
"Eh, Mike! Thanks..." jawab Silvi, ternyata yang menepuk bahunya adalah Mike.
"Mau lanjut kuliah dimana?" tanya Mike.
"Rahasia," Silvi berjalan meninggalkan Mike.
"Kok rahasia, katanya kau sudah memafkanku, kita sudah jadi sahabat lagi.." Mike mengejar.
"Iya, memang begitu. Tapi kalau aku kasih tahu dimana aku akan kuliah, kau pasti akan mengikutiku kuliah di sana," ucap Silvi datar.
"Kok kamu tau?" Mike cengar-cengir.
"Sudah kelihatan dari tampangmu!" jawab Silvi kesal.
"Tapi Silvi..." seru Mike.
Silvi berjalan terus ke parkiran tanpa menoleh. Ia tidak peduli Mike memanggilnya. Silvi tidak mau jika Mike kuliah di tempat yang sama dengannya.
"Silvi!" Mike masih mengejar Silvi.
Terlambat, Silvi sudah masuk mobil. Mobil itu melaju dengan kencang meninggalkan sekolah.
"Aku tidak akan pernah berhenti, Silvi..." gumam Mike.
Di dalam mobil wajah Silvi dihiasi senyuman. Ia tidak sabar untuk menyampaikan hasil ujian kelulusannya kepada keluarganya. Dengan berbekal nilainya yang tinggi, ia akan meminta kuliah di Paris. Sampailah Silvi di mansion. Sopir membukakan pintu mobil untuknya. Silvi turun dengan wajah yang berseri-seri.
"Terima kasih," ucap Silvi pada sopirnya dengan senyum yang lebar.
"Sama-sama, nona!" Sang Sopir sedikit merasa aneh, pasalnya majikannya terus saja tersenyum.
Silvi masuk ke mansion, pintu utama dibukakan oleh penjaga. Kali ini Silvi membuat penjaga juga merasa tak enak hati.
"Ini, pakai uang ini untuk beli apa yang kalian mau! Hari ini kalian mendapat jam istirahat ekstra," Silvi memberikan uang pada penjaga yang berjaga di depan.
Penjaga hanya bengong sampai Silvi masuk ke dalam. Silvi melirik jam tangannya, pas jam makan siang. Semua keluarga pasti di meja makan. Saat Silvi melewati ruang tengah, semua orang sedang duduk di sana. Tepatnya di karpet, dengan Davin dan Desmon yang berada di tengah. Sepertinya mereka sudah selesai makan siang, tebakan Silvi meleset.
"Selamat siang semuanyaa!" seru Silvi.
"Selamat siang, cantik!" jawab Katy.
Hanya Katy yang menyahut, sisanya diam. Mereka justru takut melihat Silvi yang terus-menerus tersenyum menyengir menunjukkan giginya.
"Abis perawatan gigi?" tanya Dave.
"Davee!" seru Katy memperingkatkan.
Aryn yang duduk di sebelah Dave, mencubit pelan perut suaminya. Agar bibir lemesnya tidak mengatakan hal yang memancing perdebatan.
"Cepat katakan ada apa ini! Jangan-jangan kamu bukan Silvi ya? Papa merinding melihatmu senyum terus," seru Erick.
"Papa!!" Katy menatap Erick tajam.
"Okay okay, ya sudah mama saja yang tanyakan." Erick menunduk.
"Kalau bertanya itu yang benar...Begini Silvi, bagaimana pengungumannya? Beritahu kami, nak! Jangan hanya tersenyum begitu, mama takut karena kamu masih muda sayang! Jadi katakan saja, jangan dipendam sendiri. Mama tahu kamu tidak lulus, kan? Sebenarnya tidak apa, baru satu kali gagal, papamu dulu tiga kali, sayang!" ucap Katy.
__ADS_1
Pluk,
Erick menepuk bahu Katy pelan. Justru semakin tidak benar pertanyaan yang diajukan Katy. Ia mengelus dadanya. Dave tertawa lebar, ada rahasia yang dibuka mamanya.
"Mama kira-kira kalau ngomong, masa rahasia papa dibongkar!" ucap Erick.
"Ssstt!" seru Katy.
"Sudah sudah... Kalian mau dengar tidak hasilnya?" sahut Silvi.
"Iya, Silvi! Ayo beritahu kami kabar buruk itu," ucap Dave.
Aryn menyenggol siku Dave, sebagai kakak Dave harusnya tidak bersikap seperti itu. Sama saja merendahkan kemampuan adiknya sendiri.
"Jadi hasilnya....Silvi lulus dengan nilai tertinggi!" ucap Silvi dengan semangat.
"APAAA!!!" semua orang terkejut.
Erick menatap putrinya, ia tahu betul putrinya lebih meluangkan waktunya untuk bermain video game daripada belajar. Hanya seminggu ini Silvi fokus belajar, hasilnya langsung jadi lulusan terbaik. Sungguh kabar yang sangat mengejutkan.
"Keajaiban dunia...." celetuk Dave.
"Selamat sayang!" Katy langsung memeluk Silvi.
"Maafkan mama yang tadi mengira kamu tidak lulus," lanjut Katy.
Satu per satu anggota keluarga mengucapkan selamat pada Silvi. Mereka sangat bahagia dengan kabar itu.
"Sebagai hadiah, papa akan memberikan apapun yang kamu mau. Sebutkan saja! Rumah, apartemen, mobil, saham?" seru Erick.
"Silvi nggak mau semua itu, pa! Silvi hanya mau melanjutkan pendidikan," Silvi tersenyum.
"Kalau itu sudah pasti, sayang! Kamu memang harus melanjutkan pendidikanmu!" sahut Katy.
"Okay! Papa akan mengurusnya, sayang!" jawab Erick.
Uhuk uhuk,
Dave terkejut bukan main. Paris? Silvi ingin kuliah di sana? Itu artinya dia akan semakin dekat dengan Si Reza. Dave menatap Silvi dengan tajam.
"Silvi tidak akan ke Paris! Aku tidak setuju, titik!" Dave protes.
"Dave..." Erick menatap putranya.
"Paris itu jauh, pa! Siapa yang akan menjaganya di sana?" sahut Dave.
"Di Paris kan ada Reza, sayang?" Aryn mencoba menenangkan Dave.
"Justru itu yang membuatku semakin cemas, karena di sana ada Reza. Siapa yang bisa menjamin kalau Reza bisa menjaga Silvi? Yang ada malah merepotkan, bagaimana kalau curi-curi kesempatan? Aku tidak rela," Dave kesal.
"Kakak lupa siapa yang membereskan masalah di mansion beberapa bulan lalu?" Silvi tersenyum sinis.
"Alah, dia cuma cari muka!" sahut Dave.
Erick memijit pelipisnya, kepalanya terasa pusing mendengar perdebatan mereka. Yang satu putrinya dan yang lainnya juga putranya. Pendapat keduanya sama penting untuknya.
"Pikirkan lagi, pa! Paris tidak dekat, di sana malah lebih berbahaya daripada di sini." Dave menatap papanya.
"Tapi papa sudah bilang kan mau menuruti keinginanku," seru Silvi.
"Sayang...Ucapan kakakmu tidak salah," lirih Erick.
Erick menunduk, ucapan Dave memang tidak salah. Silvi putrinya ia tidak bisa mengirim Silvi ke tempat yang jauh dan berbahaya. Anak buahnya memang banyak, tapi tetap saja tidak ada yang bisa dipercayai untuk menjaga Silvi di sana. Kalau Erick ikut ke Paris bersama Silvi. Desmon dan Katy membutuhkannya juga.
__ADS_1
"Benar juga itu, pa! Paris jauh..." Katy terlihat sendu.
"Sekarang zaman sudah canggih, ma! Ada pesawat terbang, kalau mama kangen Silvi akan pulang." Silvi mencoba meyakinkan Katy.
"Kamu tidak mengerti perasaan mama, sayang!" Katy menggendong Desmon dan pergi ke kamarnya.
Situasi menjadi semakin rumit. Awalnya Erick mendukung Silvi. Tapi karena ucapan Dave, kini Erick menjadi ragu. Ditambah lagi Katy tidak setuju berjauhan dengan putrinya.
"Ma!!!" seru Silvi.
Katy tidak mendengarkan, ia terus berjalan meninggalkan ruang tengah menuju lift. Silvi merasa bersalah, karenanya Katy bersedih. Silvi menatap semua orang dengan wajah sedih. Lantas ia pergi ke kamarnya dengan rasa kecewa di hatinya. Impiannya untuk berada dekat dengan Reza pupus sebelum berkembang.
Ia melompat ke ranjang. Disembunyikannya wajahnya di bawah bantal. Silvi berteriak dengan keras. Ia meluapkan semua rasa kekecewaannya.
"Tidak ada gunanya aku berusaha keras seminggu ini..." seru Silvi dengan kesal.
Ponsel Silvi berdering beberapa kali. Tapi Silvi mengacuhkannya. Sepertinya si penelpon tidak putus asa. Ponsel kembali berdering. Karena kesal Silvi mengambil ponselnya yang tergeletak tak jauh darinya. Ia menggeser tombol hijau tanpa melihat siapa nama yang menelpon.
"Halo," ucap Silvi.
"Selamat Silvi, lulusan terbaik!"
"Kak Reza!" pekik Silvi.
Silvi lantas melihat ponselnya lagi, ternyata benar Reza yang menelponnya. Ia bergegas mengelap air matanya.
"Kok kaget sih? Emangnya kamu lagi ngapain sampai nggak liat siapa yang nelpon?"
"Lagi makan kak, hehehe!" jawab Silvi.
"Pantes! Umm...Bagaimana? Sudah bilang ke mama papa kalau mau lanjut di sini?"
Deg,
Apa yang harus Silvi katakan? Keluarganya tidak setuju dengan itu. Papanya yang awalnya setuju saja menjadi ragu. Mamanya juga sedih karena keinginannya itu.
"Silvi?"
"Ah.. Iya kak. Kakak bilang apa tadi?" tanya Silvi.
"Apakah kamu sudah bilang kalau mau lanjut kuliah di sini?"
"Hmm... Anu kak...." Silvi bingung.
"Tidak boleh, ya? Aku sudah menduganya. Dengar Silvi...Aku tahu keluargamu pasti mencemaskanmu. Kamu tidak usah bersedih. Tetap semangat lanjutkan pendidikanmu di sana saja. Aku janji aku akan pulang beberapa bulan sekali saat libur."
"Tapi kak..." Silvi merasa bersalah karena gagal membujuk keluarganya.
"Jarak akan membuat hubungan kita semakin kuat menghadapi masalah ke depannya. Jangan buat keluargamu sedih hanya untuk diriku. Aku janji akan pulang jika libur dan lebih sering menelponmu..."
"Baiklah, kak! Kakak tahu tidak? Aku ingin cepat-cepat dewasa dan menikah dengan kakak. Setelah kita menikah nanti, aku tidak akan mau jauh dari kakak, seditik pun!" Silvi mengoceh.
"Masa? Meskipun kakak ke toilet?"
"Iya, jangankan ke toilet...Tidur pun kita harus berpelukan dan bergandengan tangan." Silvi terkekeh.
"Sekolah dulu yang bener!"
Mereka berdua mengobrol sampai berjam-jam lamanya. Telepon dari Reza membuat perasaan Silvi menjadi lebih baik. Silvi menjadi lebih tenang dan rela dengan larangan keluarganya. Tidak apa jika tidak jadi ke Paris. Reza sudah berjanji akan pulang dan lebih sering menelpon. Lagi pula di sana ada Doni yang sukarela membantu Silvi mengawasi Reza.
.........................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!
__ADS_1