Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
NASIB DAVIN


__ADS_3

Myra menghempaskan tubuhnya ke kursi empuk miliknya. Davin sudah ada di tangannya, rencana kali ini tidak boleh gagal. Mungkin rencana penyerangan teman Dave dan kiriman ular kemarin gagal, tapi kali ini Myra yakin semuanya akan berjalan seperti rencananya.


Ia membuka laci mejanya, mengambil sebuah kartu. Kartu itu adalah kartu mahasiswa. Myra sampai masuk ke kampus yang sama dengan Aryn hanya demi kelancaran rencananya. Hanya beberapa hari saja, Aryn si wanita polos itu percaya dengannya.


Drrttt...drrttt....


Angan-angannya terganggu dengan deringan ponselnya. Ia melirik sedikit, ternyata dari orangnya.


"Bagaimana? Mereka pasti panik, sedih? Sekarang tinggal kau dengarkan rencana mereka!" seru Myra.


"................"


"Apa? Bagaimana bisa?" seru Myra.


"................"


Tut,


Myra memutuskan sambungan teleponnya sepihak. Ia merasa kesal sekaligus curiga. Bagaimana bisa mereka semua tidak khawatir? Padahal jelas-jelas dirinya membawa kabur Davin. Ia harus mengubah rencananya.


Tok tok tok,


"Masuk!" teriak Myra.


Ada saja yang mengganggunya di saat seperti ini. Myra membalikkan kursinya, menunggu siapa yang datang. Pintu dibuka dari luar, ternyata Sisi yang datang.


"Ada apa?" tanya Myra to the point.


"Apin lapar, apakah saya boleh mengambil kue coklat di pantry?" ucap Sisi takut-takut.


"Siapa Apin? Kucing buluk di belakang bar itu ya? Kan sudah kubilang buang saja!" seru Myra.


"Astaga, bukan bos! Apin itu anak kecil ganteng itu," jawab Sisi bersungut-sungut.


"Ya sudah, berikan saja! Beri dia makan yang banyak agar tidak merepotkan!" Myra menunjuk pintu.


Sisi mengangguk, lalu cepat-cepat keluar dari ruangan itu. Ia mengambil beberapa potong kue coklat dan membawakannya ke kamar dimana Davin berada.


"Ini dia kue coklatnya datang!" Sisi masuk ke kamar itu.


"Wahhh...Mantab!" Davin mengacungkan jempolnya.


"Sekarang makan ya,, Aaaaa..." Sisi menyendokkan kue ke mulut Davin.


Tapi mulut Davin menutup rapat, kepalanya menggeleng. Davin tidak mau makan.


"Kenapa?" tanya Sisi.


"Apin maunya mamam cambil naik kuda," Davin merajuk.


"Ayo makan saja ya, nanti dimarahin loh!" Sisi merayu.


"No way!" Davin menggeleng.


"Okay okay, kita makan sambil kuda-kudaan. Aunty panggil teman aunty dulu ya, biar jadi kudanya Apin!" seru Sisi.


"Apin maunya aunty jahat yang jadi kuda!" teriak Davin.


Davin menangis dengan kencang sambil guling-guling di lantai. Sisi menutup telinganya, astaga! Anak kecil ini walaupun tampan tapi sangat menyusahkan. Akhirnya Sisi menyerah, ia tidak bisa menenangkan Davin. Ia memutuskan untuk ke ruangan Myra. Tapi Myra ternyata sudah keluar duluan. Hampir saja Sisi menabrak bosnya.


"Aduh, maaf bos!" pekik Sisi.


"Kenapa dia menangis begitu? Sakit telingaku...." keluh Myra.


"Anu, bos....Sebenarnya Apin ingin makan sambil main kuda-kudaan." Sisi berkata lirih.


"Ya sudah ajak temanmu, mengurus anak kecil saja tidak becus kau!" Myra marah.


"Tapi bos...Apin pengennya bos yang jadi kudanya..." lirih Sisi.

__ADS_1


"Apa? Benar-benar merepotkan! Kau plester saja mulutnya!" Myra semakin marah.


"Dia berguling-guling di lantai, bos! Kami kewalahan..." Sisi protes.


"Arrgghhh...." Myra menghentakkan kakinya dengan kesal.


Mau tidak mau Myra pergi ke kamar Davin. Ia akan melihat sendiri apa yang dilakukan anak kecil itu. Ternyata benar, Davin menangis seperti gangsingan yang berputar di lantai. Myra sampai menutup telinganya.


"Davin, Davin...Diamlah! Sakit telinga aunty!" teriak Myra.


"No...Davin mau kuda-kudaan!" teriak Davin.


"Okay, okay...Kita akan main kuda-kudaan. Tapi sekarang diamlah dulu!" sahut Myra.


"Selius?" Davin langsung diam.


"He em!" jawab Myra dengan terpaksa.


Kalau saja Myra tidak sedang memanfaatkan keberadaan Davin, pasti sudah ia gulung dengan plester anak ini.


"Yippieee..." sorak Davin gembira.


Myra merangkak di lantai layaknya kuda. Davin langsung naik ke punggungnya.


"Let's go kuda!" Davin kegirangan.


Davin menarik-narik rambut Myra dengan lumayan keras. Sampai Myra memekik kesakitan. Saat Myra mengeluh Davin akan menangis semakin kencang. Myra hanya bisa mengalah, saat waktunya tiba nanti Myra akan membuat anak kecil ini diam selamanya.


Tertawalah sepuasmu...Siksa aku sepuasmu....Saat orang tuamu datang nanti, giliran aku yang tertawa menyaksikan tangisan kehilangan mereka, gumam Myra.


Tiba-tiba Davin memegangi perutnya. Tanpa sengaja Davin memuntahkan kue coklat yang belum selesai ia kunyah. Karena jijik dengan muntahannya sendiri Davin menggibaskan tangannya.


Pluk pluk,


Muncrat semua ke wajah Myra. Sisi langsung menutup mulutnya menahan tawa. Myra menghentikan gerakannya, mematung sejenak. Lantas ia menegakkan tubuhnya, untungnya Sisi menangkap Davin tepat waktu.


"Aduh untung nggak lecet kamu, ganteng!" ucap Sisi.


"Iihhhh..." Myra menyentuh wajahnya yang penuh cairan lembek berwarna coklat.


Myra meninggalkan kamar itu sambil mengomel. Tidak ada yang berani menegur. Begitu pintu tertutup, Sisi dan Davin saling menatap.


Bhuahahahaha....


Sisi dan Davin tertawa bersama. Davin memang tidak sengaja muntah tadi, tapi melihat ekspresi Myra tadi Ia tidak bisa menahan tawanya.


"Nakal tapi gemes deh," Sisi mencubit pipi gembul Davin.


"Anak Papa Dave!" Davin menepuk-nepuk dadanya dengan bangga.


Di sebuah ruangan,


Myra mencuci wajahnya, lalu menyemprotkan sedikit lotion. Astaga! Anak itu nakal sekali. Lihat saja apa yang akan ia lakukan pada anak itu besok.


"Dasar bocah kecil sialan! Lihatlah besok, anggap saja coklat ini salam perpisahanmu!" Myra tersenyum sinis.


Myra mengambil ponselnya, mencari nomor seseorang. Mulutnya terus mengomel saat panggilannya belum diangkat juga. Begitu terdengar jawaban dari seberang, Myra langsung mengatakan apa yang akan ia katakan.


"Dengar baik-baik, kau lanjutkan ke rencana selanjutnya malam ini juga. Besok pagi, adalah waktu yang tepat," ucap Myra.


".........."


Tut,


Di seberang sana seseorang sedang berusaha menyangkal rencana Myra, tapi Myra sudah gelap mata. Ia memutuskan panggilannya sepihak. Rencananya harus dilakukan. Orang itu mengirimkan beberapa pesan setelah panggilannya terputus dengan Myra, Myra hanya tersenyum smrik. Myra hanya membalas dengan sebuah ancaman, lalu orang itu langsung setuju.


Myra tertawa dengan keras, tertawa sendiri di ruangannya. Akhirnya hari yang ia tunggu akan segera tiba. Bayangan akan tangisan mereka terngiang di telinganya, sampai Myra tertidur di kursinya.


---------------------------

__ADS_1


Di mansion Dave,


"Sayang?" pekik Aryn.


Aryn baru saja melihat sekelebat bayangan lewat di depan pintu kamarnya. Dari celah bawah pintu, Aryn yakin tadi ada seseorang yang lewat. Mungkin saja itu suaminya.


Tapi setelah menunggu lumayan lama, tidak ada seorang pun yang masuk ke kamarnya. Atau mungkin hanya pelayan yang lewat? Aryn melirik jam digital di atas nakas, jam 1 malam. Kenapa pelayan lewat jam segini di area kamarnya?


Ceklek,


Pintu terbuka, Aryn hampir melompat karena terkejut.


"Ada apa?" tanya Dave.


"Tadi itu kamu?" Aryn balik bertanya.


"Tadi? Maksudnya?" Dave semakin bingung.


"Ada yang lewat bolak-balik di depan kamar tadi," lirih Aryn.


"Aku ada di ruang kerja," Dave merebahkan tubuhnya di ranjang.


Aryn mengangguk, mungkin tadi pelayan atau penjaga. Aryn bersiap naik ke ranjang menyusul suaminya. Ia memeluk Dave dengan erat. Walaupun sudah beribu kali ia diminta untuk khawatir, namanya juga seorang ibu, Aryn pasti saja khawatir dengan Davin.


"Tidurlah..." Dave membelai rambut Aryn.


Baru saja Aryn akan memejamkan matanya, lagi-lagi ia melihat ada orang yang lewat depan kamar mereka. Kali ini Aryn langsung turun dari ranjang dan berlari ke pintu.


"Sayang!" Dave menyusul.


Ceklek,


Kosong, tidak ada siapapun di luar kamarnya. Tapi kaki Aryn menendang sesuatu. Aryn menunduk, itu adalah sebuah kotak.


"Apa ini?" gumam Aryn.


Dave mendekat, ia juga penasaran apa yang didapat oleh Aryn. Aryn membuka kotak itu perlahan.


Arrgghhh...


Aryn melempar kotak itu, ia langsung memeluk suaminya. Kedua mata Dave membulat sempurna, itu adalah sebuah bangkai tikus yang hancur, penuh darah. Ada sepucuk surat di dalamnya. Dave pun mengambilnya.


Kenapa kau begitu santai di saat putra kesayanganmu akan menemui ajalnya?


Begitulah isi surat itu, yang ditulis dengan darah. Dave langsung meremas surat itu dan membuangnya.


"Akan kubunuh dia!" teriak Dave penuh amarah.


"Dave...Putra kita...Aku takut jika dia..." Aryn histeris.


"Tenanglah...Sebelum dia menyentuh Davin, dia akan menemui ajalnya terlebih dahulu.." Dave memeluk Aryn.


"Joeee!!!" teriak Dave.


Joe tidak mungkin mendengar teriakan Dave dari lantai tiga, tapi para penjaga yang mendengarnya langsung memanggil Joe. Dan mereka semua berkumpul di depan kamar Dave. Sepertinya malam ini mereka akan babak belur.


Bug bug bug,


"Lihat ini!" teriak Dave setelah memukuli Joe dan para penjaga.


"CCTV selalu saya pantau, tuan!" sahut Joe.


"Dia tahu sudut yang tidak terpantau CCTV," Reza muncul dari ujung lorong lift.


Semua orang pasti terbangun karena kegaduhan tengah malam ini, tidak terkecuali Reza. Ia masih menggunakan piyamanya. Berjalan dengan santai mendekati mereka.


"Kali ini kita tidak bisa santai, sekarang juga aku mau kalian bersiap! Siapkan semua anak buah, senjata..." teriak Dave.


"Okay okay," jawab Reza santai.

__ADS_1


......................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2