
"Pesanan datang!"
Glen datang dengan menenteng dua buah kantong plastik yang besar.
"Lama banget," seru Reza.
"Ada sedikit gangguan, bos!"
Glen jadi ingat, gara-gara pesanannya diserobot Elie ia harus mengantri lagi untuk mendapatkan steak pesanan bosnya. Gadis itu sungguh menguji kesabarannya.
"Kebiasaan...Taruh sini makanannya!" perintah Reza kemudian.
Glen membuka satu persatu makanan yang dibelinya. Mengambilkan piring untuk bos dan dirinyai. Karena tadi Ia juga membeli makanan untuk dirinya sendiri. Tidak mungkin jika nanti saat bosnya makan ia hanya gigit jari. Apalagi uang yang diberikan Reza juga sisa. Lumayan lah menghemat uang makan. Cicilan rumah jadi bisa lancar.
Namun, kelihatannya Silvi tidak sesemangat tadi. Sekarang Silvi mulai memakan makanan pesanannya. Pertama ia mengambil chicken wings satu potong. Dilanjut dengan menyendok pasta dan beberapa potong kentang goreng. Lalu Silvi terdiam sambil menatap semua makanan itu.
"Kenapa sayang? Apa ada yang kurang? Baby kita ingin apa lagi?"
Reza memberondong Silvi dengan banyak pertanyaan. Ia khawatir karena Silvi tiba-tiba hanya diam saja. Tadi Silvi hanya makan sedikit dari masing-masing makanannya. Sementara steak miliknya sudah hampir habis. Tidak lupa ia tambahkan lemon dalam steaknya agar ia bisa memakannya. Ini kali pertamanya ia makan selain salad atau buah-buahan. Reza tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Dan Glen, piringnya sudah bersih. Spageti yang dibelinya sudah masuk ke dalam perut semua.
"Kak..." wajah silvi memohon.
"Kenapa?" tanya Reza.
"Aku tidak mau makan,"
Reza menatap Silvi bingung.
"Kenapa, sayang? Bukannya tadi kamu semangat sekali ingin memakan semua ini?"
Silvi menggeleng.
"Aku tidak tahu,"
"Makan sedikit, ya? Aaaa...." Reza menyuapi Silvi.
"Tidak, kak! Sekarang aku ingin yang lain,"
"Apa sayang?" tanya Reza kemudian.
Entah kenapa Silvi langsung menatap Glen. Seolah ada niat tersembunyi dari tatapannya itu.
"Aku ingin...." ucap Silvi.
"Katakan saja sayang!"
"Aku ingin Glen menghabiskan semua makanan ini dihadapanku!"
"Apa?"
Glen hampir tersedak saat sedang minum jus jeruknya. Apakah ia tidak salah dengar? Menghabiskan semua makanan ini? Ia baru saja makan sepiring penuh spageti.
"Makanan ini kan untukmu, sayang! Masa dimakan Glen," Reza protes.
"Aku ingin kak,"
"Tapi sayang...." Reza masih tidak percaya dengan keinginan aneh Silvi.
"Glen, makan semua ini!" perintah Silvi.
"Bu bos saya baru makan spageti, saya sudah kenyang!" Glen menolak.
"Glen...Aku sedang ingin!"
Melihat bosnya merengek di hadapannya, Glen jadi tidak tega.
__ADS_1
"Malah diam, ayo cepat makan! Kau sengaja menolak keinginan Silvi agar anakku nanti ileran?" Reza mulai sewot.
Kehamilan Silvi ternyata merubah sikap Reza. Reza jadi semakin sewot dan mudah marah. Ya walaupun sebelum Silvi hamil Reza juga mudah marah, tapi sekarang lebih parah. Tapi untungnya sekarang Reza tidak mengeluarkan pisau kesayangannya saat marah. Tak banyak yang tahu, gangguan psikologis yang ia alami juga perlahan menghilang. Mungkin karena Reza sudah bertemu pawangnya.
"Hmm...Baiklah! Demi bos junior!"
Glen menggeser satu per satu makanan mendekat ke hadapannya. Sejenak ia ragu, mampukah ia menghabiskan makanan sebanyak itu?
"Ayo Glen, makan semuanya dihadapanku! Dan juga berikan pendapatmu tentang makanan ini, seperti yang dilakukan selebgram gitu..." Silvi antusias.
"Okay okay, bu bos!"
Glen menyendok sup ayam jamur. Satu suap, dua suap, Glen makan semua komponen yang ada dalam sup itu satu persatu dengan disertai kuah hangatnya.
"Hemm..."
Glen memejamkan matanya, lidahnya menyecap semua rasa.
"Kuahnya kental penuh rasa. Ayamnya juicy, jamurnya pas teksturnya. Apalagi sayurnya, masih fresh. Sumpah ini enak bangettt... Lidah saya sampai menari-nari ke langit ke tujuh...."
Silvi dan Reza tertawa.
"Ternyata kamu memendam bakat, Glen!" Reza tidak bisa berhenti tertawa.
Nampak Silvi senang melihat Glen memakan sup itu dengan lahap sampai habis tak tersisa.
"Ayo ganti yang lain!"
Silvi menyodorkan mangkuk besar yang berisi kentang goreng dan Chicken wings. Ditambah lagi sepiring steak yang sama dengan Reza. Glen mengangguk-angguk. Glen mengambil satu potong chicken wings dan bersiap melahapnya.
"Tunggu!" Silvi menahan Glen.
"Ada apa lagi, sayang? Biarkan Glen makan biar cepat selesai," sahut Reza.
"Aku mau rekam, biar lebih seru!"
"Bumil," Reza memijit pelipisnya.
Reza melihat tingkah istrinya yang menurutnya aneh hari ini. Lalu entah ada angin apa ia melihat ke meja. Ia berniat mengambil sepotong chicken wings juga. Sepertinya itu enak. Tapi baru saja Reza mengambil belum memasukkannya ke mulut. Perutnya sudah bergejolak. Alhasil Reza meletakkan kembali chicken wings itu.
"Tidak jadi makan, kak?" tanya Silvi yang masih sibuk dengan tripodnya.
"Nggak, aku mual!"
"Mau aku ambilin lemon?" tanya Silvi kemudian.
"Tidak usah."
Lebih baik Reza urungkan niatnya. Kalau nanti ia memaksa makan sayang kalau muntah. Ia baru saja makan steak kesukaannya setelah sekian lama.
"Baiklah," jawab Silvi.
Lantas Silvi melanjutkan kegiatannya. Glen duduk diam di tempatnya sembari menunggu. Ia tidak yakin bisa makan semua makanan ini.
"Okay, mulai!" Silvi memberikan perintah.
Lalu Glen memasukkan chicken wings ke mulutnya. Ia mengunyah dengan tenang, dengan lincahnya ia menyisihkan tulang. Sekarang bola matanya melotot.
"Kulit luarnya super krispy sampai bikin telinga berdengung dengan kriuknya...Dan bagian dalamnya, lembyuuuttt banget! Bikin galau kalau nggak makan lagiii..."
"Kentangnya kentangnya..." Silvi menyodorkan kentang goreng.
Glen memakan dua potong kentang. Mulutnya mengunyah dengan perlahan, ia memakan potongan ketiga dengan mencocolkannya dengan saus. Lantas kedua matanya melotot lagi.
Reza terbahak melihatnya.
"Harus banget pake melotot?" tanya Reza kemudian.
__ADS_1
"Udah satu paket ini, bos!"
Silvi tertawa.
"Lanjut!" ucapnya kemudian.
"Oh my god! Kentang ini beda dengan kentang yang lain. Bagian luarnya krispy, dalamnya juga lembyuut di mulut. Bumbunya pas dipadukan dengan sausnya...Kentang goreng terlope-lopeee..." ucap Glen, kedua matanya melotot hampir keluar.
Reza dan Silvi terbahak.
Glen lanjut memakan steak, kali ini ia makan steak bersama dengan kentang goreng yang baru ia makan. Sebenarnya wajar ya kalau makan steak dengan kentang, Glen aja yang lebay.
"Kentangnya bisa banget dimakan bareng steak ini. Dan rasanya saling mengawini gitu," ucap Glen kemudian.
Lagi dan lagi Reza maupun Silvi dibuat tertawa.
"Kocak," seru Reza.
Glen berhasil menghabiskan sup, steak, kentang goreng, dan Chicken wings. Rasanya perutnya sangat penuh.
"Udah ya bu bos, perut saya penuh!" Glen bersandar di kursi sambil mengelus perutnya.
"Kue coklatnya belum Glen!" Silvi protes.
"Sumpah bu bos, perut saya penuh!"
"Ayolah Glen...Satu suap saja, nanggung videonya biar komplit!" rayu Silvi.
Lagi dan lagi Glen tidak tega melihat bosnya merengek.
"Baiklah," ucap Glen.
Glen menggeser piring kecil berisi kue coklat. Glen juga mengambil garpu untuk memakannya. Saat disendok, terlihat jelas kue coklat itu sangat lembut. Ia bersiap makanan kue itu dengan terus menatap ke kamera.
"Tunggu," seru Silvi.
"Ada apa lagi bu bos?" tanya Glen.
"Aku pengen nyuapin kamu, Glen! Sini!"
Silvi mengambil alih garpu Glen.
"Eh apa-apaan! Tidak boleh ya, Silvi!" Reza protes.
"Aku pengen, kak!" Silvi merengek.
"Jangan, sayang!"
"Dedek bayinya loh yang pengen," Silvi mengeluarkan jurus andalannya.
"Baiklah baiklah," Reza menyerah.
"Ayo buka mulutmu, aaaakkk...." Silvi mengarahkan potongan kue itu ke mulut Glen.
Hap,
Glen mengunyah pelan. Silvi memperhatikan dengan antusias. Sementara Reza ia terlihat kesal. Glen dan Silvi terlihat dekat sekali, hal itu membuatnya cemburu.
"Kuenya lumer di mulut, lembyuut banget! Coklatnya seperti bom atom, meluluh lantahkan seluruh isi mulut!" ucap Glen, ekspresinya terlihat sedikit dipaksakan karena kekenyangan.
Silvi tetap saja tertawa. Tapi Reza cemberut, ia merasa cemburu.
...................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!
Mohon maaf author telat update episode barunya, sedang ada urusan di dunia nyata hehehe...
__ADS_1