
Mobil Zain berhenti di depan sebuah gedung apartemen mewah. Mei bergegas turun dari mobil. Mei keluar mobil dengan mengendap-endap dan waspada. Lalu ia berlari kencang menuju sebuah pohon rindang di sudut area parkir.
"Harus hati-hati nih," gumam Mei.
Mai berjalan mengendap, tapi Si Zain malah bersandar di depan mobil.
"Hey..." Mei melambaikan tangan pada Zain.
"Apa?" teriak Zain.
"Sini!"
"Apa?" suara Zain semakin keras.
"Kakak sama adik sama saja stupid," keluh Mei.
Mei tidak mau ambil pusing, ia menghampiri Zain lalu menariknya ke bawah pohon tempat persembunyiannya tadi.
"Menunduk sedikit, tubuhmu itu tinggi kakak ipar!" lirih Mei.
"Kenapa harus sembunyi begini?"
"Kita itu sedang memata-matai!" Mei kesal.
"Iya iya,"
"Pakai kacamatanya,"
Mei memakai kacamata hitamnya sendiri dan juga memberikan kacamata hitam untuk Zain.
"Siaga 1!" seru Mei tiba-tiba.
"Hah?" Zain berpikir sejenak.
Hening,
"Apa artinya?" Zain menoleh.
"MEI!!!!" pekiknya, Mei sudah berlarian masuk ke gedung apartemen itu.
Adik iparnya itu memang sesuatu. Tapi itulah yang membuatnya semakin tertarik padanya.
"Kenapa nggak jadi masuk?" tanya Zain.
Saat ini Mei diam di depan lift.
"Aku tidak pernah datang ke sini sebelumnya, takut kesasar!" ucapnya.
Zain tertawa.
"Makanya jangan sok tau terus pergi ninggalin gitu aja, ayo!" Zain menarik tangan Mei.
Mei seperti terhipnotis. Ia terkejut Zain langsung memegang tangannya dan mengajaknya masuk ke dalam lift. Kakinya melangkah begitu saja mengikuti kemana Zain membawanya. Semasa kuliah dulu ia sangat mengidolakan sang dosen tampan. Dan saat ini tangannya tengah digandeng.
"Jalan lurus, apartemennya yang nomor 3 dari sini," ucap Zain.
Mereka berdua tiba di lantai yang mereka tuju. Tapi entah kenapa saat pintu lift sudah terbuka Mei masih terdiam.
"Ayo! Nggak jadi memata-matai?" seru Zack mengejutkan Mei.
Tangan Zain sudah melepaskan tangan Mei. Dan beralih menepuk bahu Mei.
"Eh iya...Ayo!"
Bukannya berjalan lurus, Mei justru belok ke kanan. Ia berjalan seperti penguasa apartemen.
"Dasar!" Zain geleng-geleng kepala.
"Duh, sadar Mei! Dia kakak iparmu, cuma digandeng gitu doang masa kamu baper," gumam Mei.
Mei terus berjalan, sampai beberapa saat kemudian,
"Lah kok buntu?"
Dihadapannya hanya ada dinding tinggi, tidak ada jalan lagi. Perasaan tadi Zain sudah memberitahukan apartemennya jadi kenapa malah jalan buntu?
"Kalau ada orang ngomong didengerin dulu, disuruh lurus malah belok kanan." Zain menyusul dari belakang.
"Eh itu..."
Mei salting.
"Ayo!" Zain hendak menarik tangan Mei lagi.
"Aku jalan sendiri saja," Mei berjalan lebih dulu.
"Takut nanti aku berbuat bodoh lagi," gumam Mei dalam hatinya.
Zain senyum-senyum sendiri.
"Akan aku pastikan hubungan kalian berakhir," gumam Zain.
Mereka berdua tiba di depan pintu apartemen target. Tanpa diduga Mei justru langsung mengetuk pintu apartemen itu.
"Kenapa diketuk?" pekik Zain.
__ADS_1
"Biar orangnya keluar,"
"Katanya mau memata-matai?"
"Dibatalin aja, lama! Aku mau langsung labrak!" ucap Mei kemudian.
Mei mengetuk pintu dengan keras. Ketukan pintu itu menjadi gebrakan sekarang karena Mei geram pintunya tidak kunjung dibuka.
"Buka woy!" teriak Mei.
Zain memutar bola matanya malas. Zain sudah menduga memata-matai hanyalah kedok semata, ujung-ujungnya juga langsung labrak. Namanya juga kaum hawa.
Ceklek,
"Cari siapa ya?"
Yang membukakan pintu adalah wanita yang dicari Mei, Clara. Clara keluar apartemen dengan hanya menggunakan gaun tidur tipis. Rambutnya acak-acakan. Mei langsung negatif thinking.
"Dasar pelakor! Kau sembunyikan dimana suamiku ha?" teriak Mei.
"Maksudmu suami yang tidak menganggapmu? Dia masih tidur tuh di kamar!" Clara tersenyum sinis.
Deg,
Dada Mei terasa sesak. Di kamar? Selama satu minggu Mei tidak berhubungan dengan Zack, apakah selama itu juga Zack tidur bersama wanita gila itu? Semudah itukah Zack bersama wanita lain? Apakah pernikahan tidak ada artinya baginya?
Mei melenggang masuk, yang ia tuju adalah kamar. Ia langsung membuka pintu yang tidak ditutup rapat. Dan ternyata benar, Zack tidur di kamar itu. Dari penampakan ranjang, terlihat jelas yang tidur di ranjang itu dua orang.
"Pria biadab!" seru Mei geram.
"Hajar aja Mei!" Zain mengompori.
Mei menatap tajam Zack yang tertidur lelap.
"Bangun kau!" teriak Mei lantang.
"Sudah hajar aja Mei!" Zain mengompori.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Mei.
"Siram saja pakai air kalau perlu minyak jelantah!"
Mei menyapukan pandangannya ke sekitar. Pilihannya jatuh pada sebuah vas bunga mahal. Ia ambil vas itu dan ia bawa ke dalam kamar mandi.
"Heh mau diapakan vasku?" teriak Clara.
Dicuekin.
"Heh berhenti!" teriak Clara.
Dicuekin lagi.
Byuuurrrr..
Air dingin diguyurkan ke tubuh Zack yang telanjang dada oleh Mei.
"Hah!" Zack langsung terduduk.
Pyarrr...
Vas itu dihempaskan ke lantai begitu saja.
"Vas mahalku..." lirih Clara.
Zain tertawa.
Sementara di ranjang, Zack menatap sekeliling dengan bingung. Tiba-tiba ada Mei di sana.
"Akhirnya kau bangun juga pria biadab!" seru Mei.
Zain tertawa puas.
"Ada apa ini?" tanya Zack panik.
"Bukannya berubah kau malah tidur dengan wanita lain," seru Mei.
"Pake telanjang dada segala lagi!" Zain mengimbuhi.
"Aku bisa jelaskan, Mei!" Zack berdiri.
"Jelaskan apa lagi? Aku tahu kau belum bisa menerima pernikahan kita, tapi apakah itu berarti kau bebas mempermainkanku? Kau salah Zack...Aku bukan wanita murahan seperti dia yang bisa kau permainkan,"
"Mei dengarkan aku dulu..." ucap Zack.
"Halah, jangan didengarkan Mei! Sudah jelas kan buktinya, Zack main wanita di belakangmu," Zain mengompori.
"Diam kau!" Zack menunjuk Zain.
Zain melengos.
"Mei aku bisa jelaskan," ucap Zack lagi.
"Sudahlah, honey! Tidak usah kasih penjelasan lagi! Dengan begini kau tidak perlu lagi menerima pernikahan ini, dia sekarang sudah tahu tentang kita! Apalagi sekarang kita sedang menanti buah cinta kita...." Clara mengelus perutnya.
"APAAA!!!" pekik Zain dan Mei.
__ADS_1
Zain tidak menyangka adiknya bertindak sejauh itu. Ia kira hanya main-main seperti dengan wanita sebelumnya, tidak sampai melendung. Apalagi Mei, dadanya terasa sangat sesak. Hamil? Suaminya yang baru menikah dengannya seminggu lalu menghamili wanita lain? Berarti sebelum menikah dengannya Zack bertindak jauh dengan Clara.
"Sudah aku putuskan, ceraikan saja aku! Pulangkan saja aku pada mamaku dan juga papaku..." ucap Mei berderai air mata.
"Mei..." Zack berusaha meraih tangan Mei.
"Keputusanku sudah bulat. Biarlah aku jadi janda muda, janda kembang hiks hiks..." Mei berlari keluar.
Zack hendak mengejar namun tangannya dicekal oleh Zain.
"Kau tidak dengar tadi Mei bilang apa? Ceraikan dia, kau sudah bertindak terlalu jauh, Zack! Akan aku adukan masalah ini pada papa," ucap Zack.
"Aku tidak akan menceraikan Mei," jawab Zack.
Zain tersenyum sinis.
"Aku menunggu Mei jadi janda," Zain lalu menyusul Mei.
"Arrgghhh!" Zack menjambak rambutnya sendiri.
Clara menghampiri Zack.
"Pergi kau! Semua ini gara-gara kau! Aku yakin itu bukan milikku!" Zack menunjuk perut Clara.
Zack mengambil kaos dan kunci mobilnya. Lantas ia pergi, tentunya menyusul Mei. Ia harus menyelesaikan masalah ini sesegera mungkin. Setelah mendengar berita ini, papanya pasti akan marah besar. Kalau sampai tercium publik, reputasi keluarganya akan rusak dalam sekejab.
+++++++++++++++
Di rumah Reza,
Kedatangan Dave dirayakan dengan pesta kecil-kecilan. Mereka semua mengobrol bersama di dekat kolam renang. Rumah baru Reza juga dilengkapi kolam renang, karena Reza dan Silvi sama-sama suka berenang.
"Dave ini sayang banget ya sama Silvi, sampai rela pindah rumah!" ucap Zela.
"Jelas sayang lah, tante! Apalagi suaminya model begini," Dave milik Reza.
Reza melengos. Sementara mereka semua tertawa.
"Kamu pengen makan sesuatu nggak, Silvi?" tanya Aryn.
"Iya!" jawab Reza dengan cepat.
"Yang ditanya Silvi bukan lo!" seru Dave.
"Bapack-bapack sewot!" sahut Reza.
Silvi tertawa.
"Aku lagi nggak pengen, kok! Kak Reza emangnya pengen makan apa?" Silvi malah menawari Reza.
"Ayam bakar enak kayaknya, tapi tetep dikasih perasan lemon biar aku nggak muntah," jawab Reza.
Reza melirik Dave.
"Apa? Jangan bilang mau aku yang belikan!" Dave sewot.
"Awas aja kalau babyku lahir nanti, kau tidak boleh gendong!" Reza cemberut.
Semua orang tertawa.
"Suruh Glen aja!" seru Edgar.
"Oh iya, mana sekretaris serba guna itu?" Zela celingukan.
"Tadi diajak Apin lihat peliharaan barunya," jawab Aryn.
"Emangnya apa peliharaan baru Apin?" tanya Zela.
Belum dijawab oleh Aryn, tiba-tiba rumah Reza jadi heboh.
"Tolooonnngggg!" teriak Glen.
Teriakan Glen diiringi tawa cekikikan Davin.
"Masuk ke baju loh, uncle!" seru Davin.
"Aaaa....!" Glen semakin panik.
Semua orang tertawa.
"Apin, tidak boleh begitu! Ayo bantu Uncle Glen!" Aryn menasehati Davin.
Davin akhirnya membantu Glen membersihkan manggot yang masuk ke dalam baju Glen, sambil tertawa tentunya.
"Dikeroyok manggot," Reza terkekeh.
"Kasihan kasihan..." Edgar memegangi perutnya.
"Beliin ayam bakar Glen!" seru Reza.
Glen melengos. Tadi saja tidak ditolongin, sekarang sudah mau perintah saja.
"Nanti aku kasih bonus deh," Reza merayu.
"Okay, berangkat!" seru Glen semangat.
__ADS_1
.........................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!