Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
JANGAN PERGI!


__ADS_3

Reza masih diam sampai dirinya dan Silvi berada dalam mobil. Silvi sibuk dengan buah apel yang ia bawa dari meja makan tadi. Mobil perlahan keluar dari halaman mansion. Perjalanan mereka sunyi, Reza sibuk dengan pikirannya sementara Silvi sibuk dengan urusan perut.


Perlahan Reza melihat ke arah Silvi. Ia tidak sampai hati untuk mengatakan bahwa ia harus kembali hari ini. Bagaimana reaksi Silvi jika tahu semua ini? Reza memukul pelan setir mobilnya. Ia membelokkan mobilnya ke jalan lain. Jalan yang bukan menuju sekolah Silvi.


"Kak jalannya salah, harusnya lurus!" seru Silvi.


"Iya, aku tahu!" jawab Reza.


"Kalau tahu kenapa masih diteruskan, ayo putar balik! Aku bisa terlambat, kak!" Silvi mengomel.


"Bolos sekolah satu hari saja tidak akan jadi masalah," lirih Reza, pandangan matanya lurus ke depan.


"Jangan mengajariku untuk membolos kak! Ihh..." protes Silvi.


"Sudah diam saja! Duduk dengan tenang dan habiskan apelmu itu!" Reza mengusap rambut Silvi dengan lembut.


Silvi menatap Reza dengan heran, ada yang aneh dengan tingkah Reza hari ini. Silvi tidak ambil pusing semua itu, ia menghabiskan apelnya seperti yang diperintahkan Reza. Mobil mereka melaju menembus jalanan kota yang lumayan padat. Entah kemana Reza akan membawa Silvi.


10 menit berlalu tanpa ada obrolan di antara mereka. Silvi tidak berani memulai percakapan karena dilihat dari raut wajah Reza saat ini, Reza seperti sedang sedih. Silvi hanya melihat keluar jendela, menebak-nebak kemana mereka akan pergi.


Akhirnya jawaban Silvi terjawab juga. Mobil mereka berhenti di depan sebuah restoran. Restoran yang terkesan bersahabat dengan alam. Tanaman hias langka menghiasi restoran yang terkesan terbuka itu. Bahkan ada meja dan kursi yang berada di bawah pohon beringin dengan akar yang menjuntai ke bawah. Silvi tidak akan memilih meja itu pastinya. Ada juga meja dan kursi yang ada di tengah tanaman yang berbunga warna-warni.


Reza membawanya lebih masuk ke dalam. Ada beberapa pelayan yang menyambut. Reza membawa Silvi ke meja yang ada diatas jembatan kecil, sebuah jembatan yang terbuat dari kaca. Bawah jembatan itu adalah kolam ikan hias. Silvi mengakui, kekasihnya itu selalu ahli dalam memilih tempat makan yang aneh.


"Kak, apakah tidak ada tempat lain? Kakak mengajakku membolos untuk makan di sini?" Silvi celingukan melihat ke bawah jembatan.


"Kenapa?" Reza menyunggingkan senyuman kecil.


"Ngeri, kak! Ikan di bawah sana besar-besar," jawab Silvi.


"Tenang saja, mereka vegetarian!" Reza terkekeh.


"Emangnya ada ikan vegetarian?" Silvi mengerutkan alisnya.


"Ada, itu!" Reza menunjuk ikan-ikan di bawah mereka.


"Darimana kakak tahu?" Silvi terkekeh.


"Coba saja kalau tidak percaya, celupkan kakimu ke bawah sana!" Reza terkekeh.


"Okay okay, aku percaya! Aku lebih ngeri kalau kaca ini pecah, kak!" Silvi menghentak-hentakkan kakinya.


"Kalau kamu terus menghentakkan kakimu, kacanya akan pecat betulan!" Reza mentoel hidung Silvi.


"Ah benar juga!" Silvi menggaruk kepalanya.


Dua orang pelayan membawa nampan yang berisikan makanan dan minuman. Ada menu berbahan ikan dan jus stroberi. Silbi sudah sarapan di mansion tadi, tapi hanya roti, susu, dan apel. Reza hapal betul berapa kapasitas perut Silvi.


"Kita belum pesan?" seru Silvi pada Reza.


"Tidak perlu, aku tahu kamu akan makan apa saja," Reza terkekeh.


"Kakakk!!!" Silvi memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


Reza tersenyum melihat Silvi ngambek. Hari ini hari terakhir Reza bertatapan langsung dengan Silvi. Rasanya ia ingin menghentikan waktu, ia tidak mau beranjak dari saat-saat seperti ini.


Di hadapannya, Silvi sudah mulai menyantap makanan yang ada di meja. Matanya sampai merem-merem, mungkin karena menu di restoran ini enak. Hingga Silvi melihat Reza sedang melamun.


"Kak? Malah bengong!" teriak Silvi.


"Eh...Iya?" Reza terkejut.


"Kakak kenapa sih hari ini? Katakan padaku, sebenarnya ada apa? Apakah kakak ada masalah?" Silvi memburu Reza dengan pertanyaan.


"Sebenar...." ucapan Reza terpotong.


"Oh iya, kakak tadi juga akan mengatakan sesuatu kan waktu sarapan? Katakan sekarang! Katakan semuanya!" seru Silvi.


"Iya, aku..." ucapan Reza terpotong lagi.


"Katakan kak!" seru Silvi tidak sabaran.


"Kamu tenang dulu, aku baru akan mengatakannya! Kamu terus saja memotong ucapanku! Diam dulu!" sahut Reza.


"Okay okay," Silvi menyadari kesalahannya.


Reza menarik napas panjang, siap tidak siap ia harus mengatakannya.


"Aku harus pulang hari ini," ucap Reza to the point.


"Hahahahaha..." Silvi malah tertawa.


"APA? PULANG? HARI INI?" pekik Silvi.


"Iya," lirih Reza.


"Kenapa?" suara Silvi serak, makanan yang ia makan juga ia pinggirkan.


"Papi menyuruhku untuk segera pulang, aku punya tanggung jawab di sana!" Reza menatap Silvi dengan dalam.


Silvi terdiam, ia menunduk bulir air mata jatuh begitu saja di pipinya. Reza menggeser kursinya, kini ia berada di sebelah Silvi. Lidah Reza kelu, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Ia menarik Silvi masuk ke dalam pelukannya. Tangis Silvi semakin menjadi. Mereka berdua diam dalam posisi seperti itu, hanya suara isakan tangis Silvi yang terdengar.


Tiba-tiba Silvi melepas pelukannya, ia mengelap air matanya yang menggenang di kedua pipinya. Lantas ia menatap Reza dengan lekat.


"Aku akan bicara dengan Papi Edgar," ucap Silvi.


"Silvi dengarkan aku," lirih Reza.


"Tidak, kak! Aku akan bicara dengan papi, dengan mami juga. Mereka akan mengerti. Paling tidak sampai aku mengurus dokumen untuk pindah sekolah di sana," Silvi mencari ponsel dalam tasnya.


"Silvi dengarkan aku!" ucap Reza.


"Dengarkan aku!" Reza memegang bahu Silvi.


"Apa kak? Tolong jangan pergiii...." lirih Silvi.


"Aku harus pergi, papi sudah memberikan tanggung jawab yang besar. Dan tolong jangan sekalipun memikirkan untuk pindah sekolah hanya karena ingin bersamaku." Reza menatap Silvi.

__ADS_1


"Pokoknya aku akan pindah! Aku akan ikut kakak!" Silvi bersikeras.


"Dengar...Sekarang saja Dave masih belum menerimaku, apa yang akan Dave lakukan jika adik kesayangannya pergi jauh demi pria yang dibencinya? Kamu ada ujian kan, sebentar lagi lulus. Kalau kamu pindah sekarang akan susah nanti ke depannya, bisa-bisa kamu mengulang." ucapan Reza ada benarnya juga.


"Aku tidak suka jarak, kak!" ucap Silvi.


"Hanya untuk beberapa waktu saja. Sebentar lagi kamu lulus sekolah, kamu tahu apa artinya itu?" Reza mentoel hidung Silvi.


"Apa kak?" tanya Silvi.


"Dasar!" Reza mengacak rambut Silvi.


"Katakan, kak!" seru Silvi.


"Setelah kamu lulus nanti, bicarakan baik-baik dengan keluarga. Kamu bisa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi Paris!" jawab Reza.


"Ah, iya benar! Tapi apakah Kak Dave akan mengizinkan?" tanya Silvi.


"Kamu masih ada waktu sampai kamu lulus, kamu bisa mencoba merayunya dari sekarang," Reza tersenyum.


"Baiklah kak!" jawab Silvi lemas. Silvi memeluk Reza lagi, kali ini lebih erat.


"Kamu mau ice cream?" tanya Reza.


"Mau lah, kak!" jawab Silvi dengan cepat.


"Yuk kita beli di tempat biasa!" Reza mengajak Silvi keluar dari restoran itu.


"Siappp!" Silvi mengikuti Reza, ia menghapus air matanya.


"Ayo pakai seatbelt-mu, aku akan mengebut!" ucap Reza saat mereka sudah di dalam mobil.


"Jangan ngebut-ngebut, kak! Pelan asalkan selamat sampai tujuan," Silvi tersenyum tipis, kesedihannya tidak bisa disembunyikan.


"Aku pengennya juga gitu, tapi kalau kita pelan, aku nanti bisa ketinggalan pesawat!" Reza terkekeh.


"Emang kakak berangkat jam berapa?" tanya Silvi sendu.


"Jam 2 siang ini," Reza mengelus pucuk kepala Silvi.


"Sekarang sudah jam 10..." Silvi melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Glen akan berangkat ke bandara lebih dulu, semua barang-barang dia yang bawa! Jadi aku nanti langsung ke bandara, kita masih ada waktu makan ice cream kesukaanmu..." jawab Reza.


"Kak...." Silvi menatap Reza.


"Jangan menangis, Silvi!" Reza mengelap air mata Silvi.


"Jangan pergi!!!" Silvi tidak kuasa menahan kesedihannya.


"Tidak bisa, Silvi..." Reza menenangkan Silvi.


----------------------------

__ADS_1


Jangan lupa untuk like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2