
Ciittt,
Mobil Erick berhenti did depan rumah sakit. Silvi langsung turun dan berlari masuk ke dalam rumah sakit. Katy dan Erick mengikuti Silvi, mereka berdua menangis tidak kuasa melihat putrinya menangis histeris seperti itu. Mobil Dave, Samuel, Zack, dan Ken juga sudah sampai di rumah sakit. Mereka bergegas masuk ke rumah sakit.
"Kak Rezaa!" teriak Silvi histeris.
"Maaf, nona! Tolong jangan membuat keributan," seorang perawat menegur Silvi.
"Dimana korban kecelakaan yang dibawa kemari 30 menit lalu?" seru Silvi.
"Ada di emergency room," perawat menunjuk ruangan yang berada di dekat pintu masuk rumah sakit.
Silvi berlari masuk ke pintu kaca bertuliskan emergency room itu. Di kursi panjang, nampak Glen duduk termenung dengan napas yang tersengal. Glen menangis.
"Kak.." Silvi menghampiri Glen.
"Nona..Bos...Bos..." Tangis Glen semakin pecah.
"Bagaimana keadaan Reza, Glen!" Erick mencengkeram bahu Glen, ia panik.
"Sabar, pa! Dia pasti shock," Katy menenangkan Erick.
"Minumlah dulu!" Samuel memberikan sebotol air mineral pada Glen.
Glen meneguk air itu sampai habis setengah botol. Napasnya tersengal, matanya sampai sembab karena menangis.
"Dia haus atau doyan," lirih Zack.
"Diamlah," Samuel menyenggol siku Zack.
"Sekarang katakan bagaimana keadaan Reza?" sahut Dave.
"Bos di dalam....Darahnya banyak sekali huhuhu..." Glen menjawab dengan menangis.
Mendengar jawaban Glen, Silvi semakin panik. Pipinya basah oleh air mata. Ia tidak tahan jika harus menunggu di sini.
"Aku harus masuk!" Silvi hendak masuk ke ruangan dengan pintu kaca tebal.
"Silvi, tunggu!" ucap Katy.
Di saat yang bersamaan, pintu dibuka dari dalam. Seorang dokter terlihat terkejut karena hampir bertabrakan dengan Silvi.
"Dokter gimana keadaan Kak Reza?" seru Silvi.
"Apakah dia baik-baik saja, dok?" Erick ikut bertanya.
Wajah dokter terlihat lesu. Dave, Samuel, dan Zack tidak sabaran karena dokter masih saja diam.
"Katakan dok!" seru Dave.
"Jangan buat kami semakin cemas," Samuel menatap dokter itu.
"Ayo katakan, dok! Kenapa diam saja?" imbuh Zack.
"Saya akan menjawab, tapi pertama-tama jangan mengepung saya seperti ini," akhirnya dokter buka suara.
Mereka saling menatap, baru sadar jika mereka berlima mengepung dokter. Pasti dokter merasa tertekan. Samuel, Dave, dan Zack mundur beberapa langkah. Memberikan ruang untuk dokter, hanya Erick dan Silvi yang menghadap dokter.
"Begini tuan dan nona sekalian, Tuan Reza mengalami cidera yang sangat parah. Terutama kedua kaki dan kepalanya. Darah yang keluar sangat banyak. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi segala sesuatu terjadi karena kehendak sang pencipta. Dengan berat hati saya sampaikan Tuan Reza dalam keadaan koma. Nafasnya saat ini hanya bergantung pada mesin saja." ucap Dokter.
"Tidaakkk....tidakkk mungkinnn!" Silvi histeris.
Katy dan Erick berusaha menenangkan putri mereka.
__ADS_1
"Boss..Huhuhu..." Glen tidak kalah histeris.
"Lakukan apapun, dok! Selamatkan sahabat saya," Zack menangis.
"Kita hanya bisa berdoa," jawab dokter.
"Apakah kami bisa melihatnya, dok?" seru Samuel.
"Silahkan, tapi tolong jangan berisik. Saya permisi dulu," dokter pergi diikuti oleh empat orang perawat.
"Boss!" Glen berlari masuk ke ruangan mendahului Silvi dan yang lainnya.
"Suasana haru begini masih sempat bikin orang kesel itu sekretaris somplak!" keluh Zack.
"Sudah jangan menambah buruk suasana," Samuel menepuk bahu Zack.
Samuel menatap dokter yang meninggalkan ruangan itu. Dada Samuel terasa sesak. Dokter mengizinkan mereka semua menjenguk Reza padahal biasanya pasien yang dalam keadaan koma tidak boleh dijenguk. Kalaupun boleh paling hanya satu atau dua orang. Apakah dokter mengizinkan karena ia tahu hari ini hari terakhir Reza? Jadi mereka semua diberikan waktu dan ruang untuk melihat Reza yang terakhir kalinya?
Samuel tidak menyangka, sahabatnya mengalami semua ini. Lantas ia melihat Silvi. Betapa sedihnya Silvi sekarang. Ia bergegas masuk ke ruangan itu. Tapi kemudian ia menoleh, Dave masih berdiri mematung di dekat kursi tunggu.
"Bro?" Samuel menepuk bahu Dave.
"Ya?" Dave terkejut.
"Lo nggak mau masuk?" tanya Samuel.
"Ayo!" Dave masuk ke ruangan itu lebih dulu.
Tubuh Silvi terasa lemas tak bertulang. Ia tidak mampu menopang tubuhnya sendiri saat melihat banyak selang di tubuh Reza. Untungnya Erick dan Katy sigap menahan tubuh Silvi. Erick dan Katy menuntun Silvi perlahan mendekati Reza yang terbaring lemah..
Kepala Reza dibalut banyak sekali perban. Silvi mengelus pipi Reza pelan. Air matanya mengalir dengan deras. Lidahnya kelu, ia ingin mengatakan banyak hal. Tapi nyatanya tidak ada satupun kata yang keluar dari bibirnya. Di sudut ruangan Glen terduduk di atas lantai. Terlihat jelas betapa sedihnya sekretaris Reza itu.
"Kenapa semua ini bisa terjadi, kak? Kakak bilang 10 menit lagi kakak akan bertemu denganku. Sekarang kakak malah tidur di sini... Ayo bangun kak!" lirih Silvi, suaranya terdengar parau.
"Reza pasti akan baik-baik saja, Silvi!" sahut Aryn.
"Reza tidak akan meninggalkan gadis yang paling dia cintai, Silvi!" Mei mengelus bahu Silvi, memberikan semangat.
Dave menatap Reza, ia memang tidak suka dengan Reza. Meskipun begitu bukan berarti dia tidak peduli. Jujur saja ia merasa sedih melihat kondisi Reza saat ini. Apalagi melihat Silvi menangis tanpa henti sejak tadi.
Ruangan itu sekarang penuh, mereka semua berdiri mengelilingi tempat Reza berbaring. Semua orang menangis, hanya Dave saja yang tahan. Kalau ia tidak gengsi pasti pipinya juga banjir air mata.
Ruangan itu sepi, hanya terdengar isakan tangis dari semua orang dan bunyi mesin pendeteksi detak jantung Reza. Silvi terus menggenggam tangan Reza dengan erat. Ia tidak mau kehilangan Reza, ia tidak siap.
Tiiiitttttttt,
Tiba-tiba saja bunyi mesin itu melengking panjang, dan di monitor hanya menunjukkan garis lurus saja. Glen langsung beranjak, ia mengguncang tubuh Reza. Semua orang masih belum paham.
"Jangan mati dulu, bos!" teriak Glen histeris.
"Kak Rezaaaa!" Silvi histeris.
"Dokter...Panggil dokter cepat!" teriak Dave.
Samuel dan Zack kalang kabut. Samuel mencari tombol bel untuk memanggil perawat tapi sepertinya bel itu tidak berfungsi. Mereka berdua bergegas memanggil dokter. Samuel dan Zack sampai berpencar agar bisa membawa dokter dengan cepat.
"Rezaa!" Dave turut mengguncang tubuh Reza.
"Bos bangun, bos! Jangan mati dulu!" teriak Glen.
Silvi memukul pelan pipi Reza, berharap kekasihnya itu membuka matanya. Reza tidak bergerak sama sekali. Seorang dokter diikuti dua orang perawat masuk ke ruangan itu. Semua orang menyingkir dari sisi ranjang pasien untuk memberikan ruang pada dokter.
Saat mereka semua menjauh, dokter dan perawat itu justru berjalan sampai ke depan dinding. Glen juga ada di sana. Sepersekian detik kemudian dokter, dua orang perawat, dan Glen berbalik menjadi menghadap semua orang.
__ADS_1
Semua orang melongo, pasalnya keempat orang itu masing-masing membawa sebuah papan. Papan itu bertuliskan sebuah pertanyaan.
WILL YOU MARRY ME?
"Apa-apaan ini?" seru Erick.
Sepersekian detik kemudian, Reza bangkit dari bed pasien. Ia melepas semua alat yang menempel pada tubuhnya. Samuel dan Zack hampir melompat karena kaget. Reza berjalan perlahan, lantas ia mengeluarkan sebuah kotak cincin dari dalam saku baju pasiennya.
"Dengan segenap cinta yang aku miliki, dihadapan kedua orang tuamu dan sahabatku, maukah kamu menjadi bagian dari hidupku?Untuk menemani setiap langkah yang kuambil, untuk menopang kepalaku jika aku butuh dukungan. Will you marry me?" Reza berlutut di hadapan Silvi.
Bruk,
Silvi jatuh terduduk di atas lantai. Jantungnya seperti akan berhenti berdetak. Ia sangat terkejut. Beberapa detik lalu ia mengira ia kehilangan pria yang paling dicintainya. Dan sekarang pria itu berlutut di hadapannya untuk melamarnya.
"Jangan diterima Silvi, capek aku menangis! Ternyata cuma pura-pura dia!" seru Samuel.
"Tolak tolak tolak tolak!" Zack menambahi.
"Tolak tolak tolak..." Ken juga bersorak.
"****!" Dave mengumpat karena kesal, ia ikut tertipu Reza.
"Dokter tahu semua ini?" seru Erick.
"Maaf tuan, saya bukan dokter sungguhan. Saya hanya dibayar Tuan Reza untuk membantu acara ini," jawab sang dokter.
"Totalitas sekali," celetuk Mei.
"Silvi jadi bagaimana ini? Lututku kesemutan," ucap Reza.
"Tolak tolak tolak!" sorak Samuel, Ken, dan Zack.
"Iyaaa, aku mauuuu..." Silvi memeluk Reza, mereka berdua jatuh ke lantai bersama.
"Yah diterima, aku jomblo sendiri!" keluh Zack.
Zack tampak sedih. Dari semua temannya dia sendiri yang jomblo. Sebentar lagi Reza juga akan menikah.
"Tapi aku marah kak, kakak membuatku takut..." seru Silvi.
"Jangan marah dong, calon istriku!" goda Reza.
"Jangan diulangi lagi ya kak! Aku tidak mau kehilangan kakak!" lirih Silvi.
"Iya, maaf!" ucap Reza.
"Dimaafkan," Silvi memeluk Reza lagi.
Semua orang tepuk tangan. Katy menangis lagi karena menyaksikan lamaran putrinya. Sebentar lagi putrinya akan menjadi milik orang lain. Sementara Erick, ia tidak habis pikir dengan ide Reza. Sungguh acara lamaran yang bikin jantungan.
"Tidak sia-sia aku menangis seperti orang gila," seru Glen senang.
"Kau pantas mendapatkan piala oscar! Kapan-kapan ajari aku," seru Mei.
"Untuk apa? Kau mau melamar siapa?" jawab Glen.
"Zack udah siap tuh," celetuk Samuel.
"Adadeh," jawab Mei.
Zack menatap Mei cukup lama. Saat Mei menatap balik, Zack langsung buang muka pura-pura judes.
....................
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!