Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
GARA-GARA BATU


__ADS_3

Pagi yang cerah di mansion Dave,


Para pria tengah mengopi bersama di dekat kolam renang. Wajah mereka semua terlihat tegang. Sejak tadi mereka merundingkan langkah apa yang harus diambil untuk menumpas musuh yang meresahkan sejak kemarin. Dave dan Erick sibuk menghubungi anak buah mereka.


"Dada...atit atit..." Davin berlari ke arah Dave.


Karena Aryn ke kampus, Davin menjadi tanggung jawab Dave. Tadinya Dave melarang istrinya ke kampus untuk sementara. Tapi Sebentar lagi Aryn ada ujian, akhirnya Dave mengizinkan. Lagipula Frans sudah ia tugaskan untuk menjaga Aryn selama di kampus.


"Kenapa, Davin?" Dave berhenti mengobrol dengan ayahnya.


"Kaki Apin atit, dad! Huhuhu..." Davin mengadu.


"Jagoan tidak boleh nangis, cup cup...Fuuhhh! Udah sembuh!" Dave meniup kaki Davin yang sakit.


"Kok ditiup, dad?" Davin berhenti menangis sejenak.


"Ada obat di tiupan Daddy!" Dave terkekeh.


"Daddy dukun?" tanya Davin polos.


"Bukan!"


Dave menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal. Davin tumbuh dengan baik. Di usianya Davin lebih dari anak lainnya. Lebih cerewet, lebih lincah, kepo sekaligus sok tahu dibanding anak kecil pada umumnya.


"Teyyuuss?" Davin menatap lekat papanya.


Dave bingung mau menjawab apa lagi. Tujuannya meniup kaki Davin hanya untuk menghentikan tangisnya saja. Kaki Davin tidak lecet, mungkin tadi hanya tersandung.


"Apin...." Glen terengah-engah menghampiri Davin.


"Kau ini bisa jaga Davin tidak sih? Kalau nggak sanggup bilang aja, aku bisa meminta Sonya! Masa kau kalah dengan wanita!" Dave berkacak pinggang.


"Aduh, saya tidak salah tuan! Apin sendiri yang menendang batunya..." jawab Glen.


"Batu? Jadi kaki Davin sakit karena menendang batu. Davin sayang...Kenapa menendang batu?" Dave menatap wajah polos Davin.


"Uncle Zack yang nyuluh, dad!" Davin mengadu.


"Zackkkk!" teriak Dave.


Seketika Zack datang berlarian ke arahnya. Nafasnya ngos-ngosan. Ia tidak tahu kesalahan apa yang ia lakukan. Zack sedang makan di dapur tadi. Bahkan sekarangpun ia masih mengunyah makanan, tangan kanannya juga membawa makanan yang belum selesai ia makan.


"Ada apa?" ucap Zack sedikit tidak jelas.


"Kenapa kau menyuruh Davin menendang batu?" maki Dave.


"Tidak, kok! Aku mana pernah menyuruh Apin melakukannya..." Zack membela diri.


"Davin sendiri yang mengatakannya!" seru Dave.


"Apin...Kapan Uncle menyuruh Apin menendang batu, sayang?" Zack berjongkok di hadapan Davin.


"Tadi.." jawab Davin.


"Tidak, uncle tidak pernah mengatakannya!" sahut Zack.


"Pelnahh!" seru Davin.


"Coba katakan lagi!" Zack mentoel pipi Davin.


"Kata uncle, kalo Apin dicakiti Apin halus membalasnya.." jawab Davin.

__ADS_1


Zack ingat, ternyata kalimat itu yang dimaksud Davin. Tapi apa hubungannya dengan menendang batu? Zack masih bingung. Erick, Dave, Zack, maupun Glen saling menatap. Mereka semua sama-sama bingung dengan maksud Davin.


"Apa hubungannya dengan batu, Apin?" Zack bertanya dengan sabar.


"Tadi batu itu bikin Apin jatuh, teyus atit kaki Apin...Apin bales deh batunya, tapi jadi atit jugaa huhuhuuu... " jawab Davin.


Bhuahahahaha...


Yang ada di dalam pikiran anak kecil memang berbeda. Zack tidak habis pikir bahwa Davin akan menerapkan perkataannya. Perutnya sampai sakit karena tertawa. Glen, ia sampai guling-guling di tanah.


"Bukan seperti itu maksud Uncle Zack, sayang!" Erick mencubit pipi Davin karena gemas dengan kelakuannya.


"Cama saja...Uncle boong cama Apin, kaki Apin malah tambah atit.." jawab Davin.


"Kalau sudah seperti ini, terlihat jelas Davin mirip siapa..." Erick terkekeh.


"Papa.." protes Dave.


"Apin...Emm maksud Daddy, Davin...Sudah jangan nangis lagi, dikompres es nanti sembuh kakinya," Dave berusaha menenangkan Davin.


Dave membawa Davin duduk di bangku panjang. Ia sudah menyuruh Ily untuk membawakan es untuk kompres kaki Davin. Dave mengompres kaki Davin dengan telaten. Untung saja Davin menurut.


"Wah wah...ada apa ini?" seru Reza yang baru datang.


Sama halnya seperti Aryn, Silvi harus berangkat ke sekolah. Sebentar lagi Silvi juga ada ujian. Reza tidak terlalu khawatir, karena gadis kecilnya memang bisa jaga diri. Selain itu dia juga menempatkan beberapa orang kepercayaannya.


"Gara-gara batu, bos!" bisik Glen pada Reza.


"Apin berantem sama batu," Zack masih saja tertawa.


"Kok bisa?" Reza menaikkan alisnya.


"Sudah kuduga," Reza terkekeh.


"Jangan ketawa mulu lo! Silvi aman nggak nih?" seru Dave sinis.


"Slow, man! Aman!" jawab Reza dengan calm.


Reza melirik ke samping Davin. Kebetulan ada Ily, pas banget ia harus menanyakan soal kejadian yang ada dalam rekaman itu. Reza pura-pura berbatuk, sambil mengelus lehernya.


"Emm...Ily tolong ambilkan minuman!" ucap Reza.


"Manja!" seloroh Dave.


Reza mengabaikan Dave, kalau ditanggapi bisa gila semua nanti. Ily pergi ke dapur dengan membawa bekas kompresan Davin tadi. Reza pun bergegas mengikuti Ily.


"Mau kemana lo?" seru Dave.


"Ke dapur, biar nggak dibilang manja!" sahut Reza.


"Bos!" baru saja Reza akan melangkah, Glen menghentikan Reza.


"Ikut!" seru Glen.


Apa ini? Reza jijik melihat Glen yang langsung ingin mengikutinya. Reza kesal, Glen itu selalu saja membuntutinya.


"Tidak boleh! Tugasmu menjaga Davin!" sahut Reza.


"Let's go, uncle!" Davin menarik tangan Glen, mengajaknya berlarian lagi di halaman belakang.


"Baiklah, bos kecil!" jawab Glen.

__ADS_1


Glen hanya bisa pasrah. Niat hati ingin membuntuti bosnya agar jauh dari bos kecil. Tapi takdir berkata lain, ia harus menjaga bos kecil itu lagi sekarang.


Di dapur,


Reza terus-terusan mengekor di belakang Ily. Saat Ily mengambil gelas, Reza mengikutinya. Ily mengambil minuman dingin di kulkas, Reza mengikuti lagi. Sampai-sampai Ily hampir menabrak Reza saat Ily akan mengantarkan minuman itu.


"Astaga, tuan!" Ily memegang dadanya karena terkejut.


"Maaf, aku hanya..." Reza melirik pelayan lain yang ada di dapur.


"Ada apa, tuan? Ini minumannya sudah jadi," sahut Ily.


"Emm...Bisakah kau suruh para pelayan itu menjauh?" tanya Reza.


"Tentu,"


Ily langsung menghampiri pelayan lain, ia memerintahkan mereka untuk pergi dari dapur. Ily tahu, pasti ada hal penting yang akan dibicarakan atau diperintahkan oleh Reza. Di sisi lain, sebenarnya tidak masalah jika pelayan lain mendengar apa yang akan ia bicarakan dengan Ily. Tapi mengingat kejadian tempo hari, Tidak semua pelayan ataupun pegawai yang bisa dipercaya selain Ily atau Joe. Hanya mereka yang benar-benar setia pada tuannya.


Ditambah lagi, Reza tidak melihat wajah-wajah pelayan yang ia lihat dalam rekaman. Bisa saja pelayan itu sudah kabur, atau sedang melakukan hal lain lagi. Jadi semakin sedikit orang yang tahu maka akan lebih baik.


"Ily, dimana kau waktu yang ada di rekaman ini?" Reza memperlihatkan rekaman yang ia salin semalam.


"Saya diminta Nyonya Katy untuk menjaga Desmon," jawab Ily.


"Sonya?" tanya Reza.


"Sonya bermain dengan Davin, di kamar Desmon juga tuan!" jawab Ily.


"Mereka belanja kebutuhan sesuai arahanmu?" Reza memperbesar gambar barang-barang belanjaan.


"Sesuai, tuan! Hanya saja jumlahnya terlalu banyak. Jadi saya memutuskan untuk menyimpannya di gudang!" jawab Ily.


"Tunggu, tuan! Apakah tuan mencurigai kejadian ini ada hubungannya dengan serangan ular?" lanjut Ily.


"Iya, benar sekali!" Reza menutup ponselnya.


"Apakah hanya rekaman itu saja yang mencurigakan, tuan?" wajah Ily terlihat cemas.


"Iya," Reza menghela napas kasar.


"Lebih baik kita cek gudang saja, tuan! Di sana kita akan mendapat jawabannya!" Ily mengatakan pendapatnya.


"Ah benar sekali!" seru Reza.


Ily membimbing Reza menuju gudang persediaan. Sebelumnya mereka sudah memastikan tidak ada pelayan yang melihat. Hanya CCTV yang melihat mereka. Pintu gudang itu perlahan terbuka. Nampak ruangan luas dengan rak yang berjejer. Ada banyak barang persediaan dan juga peralatan kebersihan, berkebun, ataupun makanan peliharaan Silvi.


Ily bergegas mengambil ipad khusus di sana, yang biasa digunakan untuk menginput isi gudang. Barang yang masuk dan keluar gudang akan dicatat di sana.Tidak ada catatan yang menunjukkan ada barang masuk ke gudang. Ily meletakkan ipad, ia menghitung barang secara manual. Setiap pagi ia masuk ke sini, tentu ia hapal. Jika belanjaan yang lebih di hari itu dimasukkan ke gudang pasti masih ada. Tapi tidak ada, hanya ada barang persediaan yang distok bulan lalu.


"Barangnya tidak ada! Padahal aku sudah menyuruh mereka, tuan! Dalam rekaman itu juga mereka membawanya ke gudang." ucap Ily pada Reza.


"Iya, mereka jelas membawanya ke gudang! Barangnya tidak mungkin hilang begitu saja, kecuali..." Reza melangkah masuk ke gudang, mengamati setiap sudut.


Reza menggerakkan tangannya untuk meraba setiap sisi dinding gudang itu. Ia juga menatap langit-langit dengan jeli. Dia berhenti tepat di samping ventilasi udara. Lubangnya tidak terlalu besar, dilindungi oleh jeruji besi. Reza tersenyum smrik, ia menemukan sebuah baut.


"Lihatlah, mereka lupa membetulkan semua bautnya.." ucap Reza.


Mereka jadi tahu, bahwa ada orang yang mengambil barang itu dari lubang ventilasi ini. Memang lubangnya tidak sebesar jendela, tapi cukup untuk dilewati satu orang dewasa. Tidak ada yang tahu isi pikiran orang jahat. Reza dan Ily bergegas keluar dari gudang. Mereka sedikit senang, ada petunjuk baru yang ditemukan pagi ini.


....................


Bagaiman kabarnya hari ini? Semoga semua readers dalam keadaan sehat ya! Stay save semuanya! Oh ya, jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!

__ADS_1


__ADS_2