
Keesokan harinya,
Keadaan semakin membaik, di pagi yang cerah ini Dave baru saja kembali setelah jogging di sekitar kebun. Waktu joggingnya lebih singkat pagi ini, ia masih khawatir dengan kondisi Aryn. Saat ia tinggal tadi Aryn masih tidur. Padahal biasanya sudah bangun menyiapkan sarapan untuknya. Aryn pasti sedih atas kematian Myra yang tidak wajar.
Saat melewati kamar Silvi, Dave berhenti. Ia menarik nafas dalam-dalam agar tidak marah di pagi hari. Pintu kamar Silvi tidak ditutup dengan rapat, terbuka sedikit. Saat lewat, Dave bisa melihat seorang pria tidur di samping Silvi. Sudah pasti pria itu Reza. Dave bergegas masuk ke dalam kamar.
"Heh, bangun!" Dave berdiri tepat di dekat Reza.
Sayangnya Reza tidak bereaksi sama sekali. Reza masih nyenyak dalam tidurnya, malah semakin merapatkan selimutnya. Semalam Reza ternyata tidak pulang ke apartemennya, karena Silvi terus saja memegangi tangannya. Akhirnya Reza ketiduran di kamar Silvi. Untung saja kamarnya tidak ditutup, kalau ditutup pasti ada berita yang tidak-tidak.
"Hey!" Dave memukul pelan pipi Reza.
Reza masih tidak bangun juga, Dave berjalan ke sisi Silvi. Ia akan mencoba untuk membangunkan Silvi sekarang. Ia harus mendapat penjelasan tentang mereka yang tidur berdua di kamar ini.
"Silvi...Bangun!" seru Dave.
"5 menit lagi!" Silvi menggeliat pelan.
Silvi berbalik dan malah merangkul Reza. Silvi menyusup di pelukan Reza. Dave memijit pelipisnya, harus ia apakan kedua orang ini. Dave tersenyum smrik, lantas pergi ke kamar mandi kamar Silvi. Dan saat keluar ia membawa sebuah vas bunga yang sudah diisi air. Sepertinya vas bunga itu Dave dapat di dalam kamar mandi Silvi. Kalau Silvi tahu pasti akan jadi masalah besar nanti.
"Bangun kalian, Bangun...Bangun!" Dave memercikkan air dari vas bunga dengan tangannya.
Lagi-lagi Dave menghela napas berat, Reza dan Silvi tidak menunjukkan tanda-tanda jika mereka akan bangun. Entah sedang mimpi apa mereka berdua!
Tidak menyerah sampai di situ, Dave melihat ada mangkuk besar. Tempat biasa Silvi meletakkan buah-buahan untuk cemilan di kamar. Dave mengambil mangkuk itu lalu kembali lagi ke kamar mandi.
Byurrrr...
"Hah!" Reza langsung terduduk.
Reza mengelap wajahnya, kedua matanya merah. Dadanya bergemuruh, ia sangat terkejut. Reza melihat ke sampingnya, Silvi juga sudah bangun. Dengan wajah yang basah kuyup juga.
"Kak, aku tadi sedang mimpi makan berdua di pinggir pantai. Tiba-tiba ada tsunami, eh basah beneran!" ucap Silvi.
"Akhirnya kalian bangun juga! Kenapa kalian tidur sekamar?" seru Dave, ia berkacak pinggang menatap keduanya.
"Gua ketiduran, sorry! Silvi aman kok, gua nggak ngapa-ngapain!" sahut Reza.
"Sama saja! Apakah kalian tidak ingat yang dikatakan Aryn istriku? Jika seorang perempuan dan laki-laki berada dalam satu ruangan, yang ketiganya itu setan!" Dave mengingat apa yang pernah diajarkan Aryn.
"Satu, dua..." Silvi menunjuk dirinya sendiri dan Reza.
"Tiga?" Silvi menunjuk Dave.
"Jadi?" Reza terkekeh.
Dave melotot, Reza dan Silvi secara tidak langsung mengatakan jika dirinyalah setannya. Pasangan ini membuat ubun-ubunnya panas.
"Bukan gitu konsepnya!" seru Dave.
"Okay...Lagipula pintunya kan tidak ditutup," Reza beranjak turun dari ranjang.
"Dibilangin orang tua bantah terus ya?" suara Dave meninggi.
"Dengerin tuh kak, orang tua sedang berbicara..." Silvi menahan tawa, Dave langsung menatap tajam Silvi.
"Okay okay, sorry! Ini yang terakhir!" Reza mengangkat dua jarinya.
"Pulang sana!" seru Dave.
"Ck, diusir..." keluh Reza.
"Kak Dave jangan gitu, dong! Baru semalam Kak Reza menyelamatkan Davin, apakah pantas Kakak memperlakukan dia seperti ini?" Silvi menghampiri Dave.
"Hmm..." jawab Dave singkat.
__ADS_1
Dave pergi begitu saja dari kamar Silvi. Silvi menghela napas berat. Dari dulu kakaknya itu tidak pernah berubah, masih saja memiliki gengsi yang tinggi. Pasti sekarang Dave gengsi mengakui jika Reza yang menyelamatkan Davin.
"Biarkan saja, dia memang seperti itu. Nanti lama-lama dia capek sendiri," Reza mengusap pucuk kepala Silvi.
"Baiklah, kak!" jawab Silvi.
"Ya sudah, bersiaplah! Aku akan mengantarmu ke sekolah dulu, baru setelah itu aku akan pulang!" Reza memerintah.
"Siap laksanakan, Tuan Albert!" jawab Silvi layaknya seorang prajurit pada komandannya.
"Good job, Nyonya Albert!" puji Reza.
"Aku suka nama belakangmu..." pipi Silvi merah.
"Aku akan memberikan nama belakangku untukmu, segera!" jawab Reza dengan senyum manis menghias di wajah tampannya.
"Aaaa...." Silvi salah tingkah sendiri.
"Sudah sana mandi! Aku menunggumu di bawah!" Reza mendorong Silvi masuk ke dalam kamar mandi.
"I love you, kak!" teriak Silvi dari dalam kamar mandi.
"I love you more...." jawab Reza.
Reza bergegas keluar dari kamar Silvi dan turun ke lantai bawah. Ia akan menunggu Silvi di ruang tengah saja. Pagi-pagi begini biasanya beritanya bagus, ia akan menonton berita di televisi.
"Aryn!!! Kuliah yukk!!!" terdengar suara nyaring milik miss rusuh.
Mei masuk ke mansion dengan santai, karena ia sudah sangat bahkan terlalu sering ke mansion ini. Sebenarnya baru kemarin ia pindah ke apartemen barunya. Kemarin ia juga menemani Aryn mengurus pemakaman Myra alias Ara. Ia pikir Aryn tidak masuk kuliah hari ini. Tapi pagi tadi Aryn membalas pesan singkatnya dan mengatakan ia akan masuk kuliah.
Mei sekilas melihat Reza yang duduk sendirian di sofa ruang tengah. Ia akan menunggu di sana juga, akan ada teman mengobrol nantinya. Sembari menunggu Aryn turun dari kamarnya. Kalau langsung ke meja makan, ia tidak ada teman mengobrol hanya ada pelayan yang sibuk memasak.
"Pagi, ganteng!" sapa Mei dengan nada seramah mungkin.
"Pagi," Reza tidak melihat Mei sama sekali.
Mei duduk agar berjarak dengan Reza. Mei tahu Reza itu pacarnya Silvi. Kalau nanti Silvi tiba-tiba datang, ia takut dicakar. Yang penting ada teman mengobrol.
"Berita," jawab Reza.
"Ohh..." Mei manggut-manggut.
"Silvi masih di kamarnya, ya?" Mei memulai obrolan lagi.
"Iya," jawab Reza jutek.
"Kau sudah sarapan?" tanya Mei, ia tidak putus asa.
"Belum," jawab Reza.
"Semua orang masih di kamar masing-masing?" Mei bertanya lagi.
"Belum," lagi-lagi Reza menjawabnya dengan singkat.
"Aku seperti sedang mewawancarai anak TK," seru Mei.
"Iya," ternyata Reza menyahut.
Mei mengerucutkan bibirnya. Niat hati ingin mengobrol dengan Reza, tapi Reza saja super jutek kepadanya. Menjawab pertanyaannya saja dengan asal.
"Kenapa Silvi bisa mau dengan pria jutek sepertimu?" seru Mei dengan jutek.
"Belum," Reza menjawab dengan tidak nyambung.
"Sudahlah....Berbicara denganmu benar-benar membuatku semakin lapar!" keluh Mei.
__ADS_1
"Benar," sahut Reza tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.
Mei melirik Reza, ingin rasanya Mei menimpuk kepala Reza dengan batu bata dan batu batako. Tapi ia masih punya hati. Ia melihat rambut Reza yang basah. Jujur Reza itu sangat tampan, ditambah kalau rambutnya basah seperti ini. Sayangnya dia milik Silvi. Mau nikung Mei sudah takut duluan. Daripada ngelangut, mengobrol mungkin akan lebih menyenangkan.
"Darimana tadi kok rambutnya basah?" tanya Mei. Ia berusaha membuka obrolan lagi.
"Dari kamar Silvi, abis disiram Dave! Kenapa nanya-nanya?" Reza menatap tajam Mei. Reza sudah malas mendengar pertanyaan dari mulut Mei.
"Abisnya keren...Seksih!" ucap Mei blak-blakan, ia juga bersiul.
"Gila," hanya itu yang terucap di bibir Reza.
"Ehem, siapa yang keren dan seksih itu?" Zack tiba-tiba sudah berdiri di belakang Mei.
Entah ada keperluan apa Zack sepagi ini sudah sampai mansion. Kalau ada urusan dengan Dave sekalipun, tidak akan sepagi ini. Ah, biarkan aja! Mansion Dave kan selalu terbuka lebar untuk sahabatnya.
"Eh, anuu..." Mei terkejut.
Mei merasa terkejut Zack tiba-tiba ada di belakangnya. Mana disaat ia memuji Reza. Ada rasa canggung dalam hati Mei karena ketahuan memuji Reza.
"Tidak perlu dijawab!" sahut Zack cepat.
Reza kembali fokus ke acara berita di televisi. Memberikan ruang untuk Zack dan Mei bicara.
"Kenapa kau disini?" tanya Mei.
"Memangnya kenapa? Tidak boleh?" goda Zack.
"Bukan begitu," pipi Mei merah.
"Iihh pipinya merah," Zack terkekeh.
"Em, itu... Disini panas," jawab Mei mencari alasan.
Mei menggibas-gibaskan tangannya. Padahal jelas-jelas sekarang cuaca lebih dingin, ia bahkan menggunakan jaket sekarang.
"Panas?" sahut Zack, ia memegang jaket yang digunakan Myra.
"Iya hehehe," Mei tertawa canggung, ia ketahuan berbohong.
"Bagaimana rasanya ketahuan berbohong?" Zack terkekeh.
"Amazing!" Mei juga terkekeh.
"Cewek antik!" gumam Zack.
Zack beranjak dari sofa, kepalanya menggeleng-geleng jika mengingat tingkah lucu Silvi. Perutnya terasa keroncongan oleh karena itu sekarang ia menuju dapur.
Mei melirik Reza sebentar, daripada berduaan dengan Reza dan hanya berujung dicuekin lebih baik ia menyusul Zack. Ya walaupun ia masih akan kebanyakan salah tingkah, tapi Zack selalu menghargai jika ia sedang berbicara dengannya. Begitu Zack dan Mei pergi, Reza mendapat telepon dari Glen.
"Halo, ada apa Glen? Ada kabar apa tentang Frans?" ucap Reza saat mengangkat telepon.
".............."
"Hah? Bukan masalah Frans? Lalu?"
".............."
"Baiklah, nanti aku ke sana! Kau susul aku nanti!" seru Reza.
Tut,
Reza menghembuskan napas dengan sangat berat. Baru saja masalah Myra selesai semalam. Masalah pribadi Reza muncul ke permukaan lagi dan harus segera dibereskan. Ini faktor lain yang membuat Reza kembali ke negara ini untuk beberapa waktu. Setelah mengantarkan Silvi dengan selamat sampai sekolah nanti, ia akan segera meluncur ke tempat sesuai yang dibicarakan Glen dalam telepon.
......................
__ADS_1
Maaf ya author telat update, ada masalah di dunia nyata hehehe! Author usahakan akan up banyak hari ini.... Semangat!
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!