Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
KEJUTAN DARI BABY ARION


__ADS_3

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Waktu berlalu dengan cepat. Hari ini Baby Arion genap berusia 3 bulan. Reza dan Silvi sibuk-sibuknya mengurus putra mereka yang semakin aktif. Mereka berdua tetap teguh dengan pendirian mereka untuk mengasuh Baby Arion tanpa pengasuh.


Meskipun 1 bulan ini Reza sudah kembali aktif di kantor. Tapi Reza tidak ingin melewatkan pertumbuhan dan perkembangan putranya. Tidak ada lembur sampai malam, maksimal ia pulang jam 6 sore. Setelah itu ia akan membantu Silvi mengasuh putra mereka.


Di sela-sela pekerjaannya pun, Reza selalu meminta Silvi untuk mengirimkan foto dan video aktivitas mereka di rumah. Dan ia akan menontonnya. Hari ini Reza pulang lebih awal. Video yang dikirimkan Silvi siang ini membuatnya ingin segera pulang. Silvi mengirimkan Baby Arion miring-miring sambil mengoceh.


"Daddy pulang!" teriak Reza begitu ia turun dari mobil.


Ia berlarian masuk ke rumah.


Ceklek,


"Daddy pulangg!!!" teriaknya lagi setelah membuka pintu.


"Aku rindu mommy dan Arion!!!" Reza berlarian sambil merentangkan tangan tidak lupa bibirnya manyun siap menyosor.


Ia berniat mau memeluk dan mencium istrinya, karena ia melihat Silvi duduk di karpet. Tapi setelah Reza tiba di ruang tengah, ternyata....


Krik krik krik...


Tidak ada yang bersuara, semua mata memandang Reza saat ini. Rupanya Silvi tidak di rumah sendirian, ada Aryn, Mei, Naina, Angel, bahkan ada Davin, Kelyn, dan Arthur. Mereka semua duduk mengelilingi Baby Arion yang berbaring di karpet tebal.


"Aku tidak tahu rumahku ramai hari ini," Reza menggaruk leher belakangnya, ia merasa canggung.


Mereka tertawa.


"Biasa aja kali, Za! Jangan sok malu gitu," cicit Mei, ia mengelus perut besarnya. Usia kehamilan Mei masuk 28 minggu.


"Biasanya juga langsung nyosor, kenapa diam sekarang?" sahut Angel.


Reza tersenyum kikuk.


"Mandi dulu, honey! Terus ganti baju," ucap Silvi.


"Okay," Reza langsung melarikan diri ke lantai atas.


Para emak-emak tertawa.


"Suami kamu suka nyosor tanpa liat situasi juga ternyata," Aryn terkikik.


"Ya begitulah, duh jadi malu!" Silvi menutup wajahnya.


"Nggak usah malu, justru itu tandanya hubungan kalian baik-baik aja. Daddy Ken juga sering nyosor kok, malah di tempat umum juga sering," sahut Naina.


"Zack juga sama...." Mei menimpali.


"Kalau Dave jangan ditanya, ada kalian aja tadi dia nyosor!" Aryn terkikik.


"Apalagi Sam, nggak cuma nyosor pernah waktu itu kita ehem-ehem dalam mobil di parkiran mall." ucap Angel blak-blakan.


Aryn dan yang lainnya terkejut. Untung Davin dan Kelyn sedang fokus menonton kartun di televisi.


"Oopss! Sorry sorry!" Angel menutup mulutnya, ia sadar ia baru saja keceplosan mengatakan hal yang seharusnya tidak dikatakan.


"Gimana rasanya?" tanya Mei polos.

__ADS_1


Angel tertawa.


"Mantab, ada rasa takut-takut gimana gitu hahahah..." serunya.


"Nggak ada tempat lain, apa?" sahut Mei.


"Nggak keburu," Angel terkikik.


"Tapi aku yakin nggak bisa gaya cicak, kan?" sahut Mei.


"STOPPPPP!" seru Aryn.


"Hiz, kalian mengotori pikiranku!" Silvi menutup telinganya.


"Dasar gesrek!" Naina menimpali.


Angel tertawa.


"Wah wah, ngobrolin apa ini? Seru banget kayaknya," Reza bergabung, ia menciumi Baby Arion.


Seketika mereka semua diam. Tidak mungkin mereka menjawab jika mereka sedang membicarakan hal itu.


"Loh kok diam?" tanya Reza.


"Kita tadi sedang membicarakan kue, honey!" jawab Silvi sekenanya.


"Iya kue," sahut Aryn.


"Ohh..." Reza mengangguk.


Aryn dan yang lainnya merasa lega. Reza tidak bertanya lagi. Mereka mulai membicarakan hal lain. Reza duduk di dekat Baby Arion, ia sangat merindukan putra kecilnya itu.


"Bos," panggilnya.


Reza menoleh, "Sudah?" tanyanya.


"Sudah, bos! Ini," Glen menyerahkan dua kantung belanjaan yang besar.


Tadi sebelum Reza pulang ke rumah, Reza memintanya untuk membelikan stok buah-buahan di supermarket.


"Letakkan di dapur!" perintah Reza.


Glen mengangguk dan melakukan yang diminta bosnya. Aryn dan yang lainnya melongo melihat Glen sampai sekretaris Reza itu menghilang di balik dinding pembatas dapur.


"Kenapa kalian melihat Glen seperti itu?" tanya Reza.


"Glen semakin hari semakin berubah," jawab Silvi.


"Iya, tidak seceria dulu!" sahut Aryn.


"Masih galau, ya?" Angel menimpali.


"Ya begitulah, sebenarnya satu bulan lalu tidak begini, tapi setelah mendengar kabar keluarga Elie pindah dan Glen tidak tahu mereka pindah kemana, jadi galau tuh orangnya," jawab Reza.


"Duh, kasihan! Mana masih muda! Cariin jodoh aja!" sahut Naina.

__ADS_1


"Setuju, biar move on! Gemes aku liat Glen jadi pendiam," seru Aryn.


"Iya, kayak bukan Glen. Dia nggak cocok jadi pendiam," imbuh Silvi.


Mereka mendadak diam, Glen sudah kembali dari dapur.


"Sudah beres, bos! Saya pamit pulang," ucap Glen.


"Nggak ikut ngobrol dulu, Glen! Banyak makanan loh ini," Silbi memancing.


"Tidak, bu bos! Ada pekerjaan yang harus saya lakukan, maaf saya pulang dulu!" Glen tersenyum tipis.


Mereka semua mengangguk paham.


"Glen..." Reza memanggilnya.


Glen menoleh, tapi tidak menjawab.


"Sekarang waktunya melupakan dia. Kalian memang tidak ditakdirkan untuk bersama," ucap Reza.


Glen tidak menjawab, hanya mengangguk pelan lalu meninggalkan rumah Reza. Melihat Glen yang jadi galau seperti itu, mereka juga kasihan. Padahal kemarin setelah ditolak Glen masih ceria dan bawel. Dia terlihat baik-baik saja, dan berusaha untuk mencari wanita lain. Tapi setelah mendengar kabar keluarga Elie pindah, keceriaan itu hilang. Terbukti Glen masih belum melupakan Rose.


"Go Ion go Ion go!" Kelyn bersorak di dekat Arion.


"Wow, Dedek Ion jago!!!" Davin juga bersorak.


Karena terlalu fokus melihat Glen galau, mereka semua tidak melihat apa yang dilihat Kelyn dan Davin. Baby Arion sedang tengkurap untuk pertama kalinya sekarang. Mendengar kehebohan anaknya, Aryn menoleh.


"Silvi, lihat Arion!" pekik Aryn.


Tidak hanya Silvi, mereka semua yang ada di sana melihat Arion.


"Anak mommy jago banget!" seru Silvi sambil bertepuk tangan saat melihat Baby Arion tengkurap.


"Wow wow, jagoan daddy!" Reza tidak kalah senangnya, ia menciumi pucuk kepala Arion.


Angel dan Naina menjadi tukang foto sementara. Mereka berdua mengabadikan momen pertama Baby Arion.


"Duh, lucunya! Sebentar lagi sudah bisa disuruh ngambilin gelas, Sil!" seloroh Mei.


Mereka tertawa.


...**************...


Berbanding terbalik dengan keceriaan di rumah Reza, Glen murung di dalam mobilnya. Tidak ada senyuman lagi di wajah Glen. Setelah menyetir selama 40 menit, Glen memarkirkan mobilnya di tepi jalan.


Ia memandang lurus ke sebuah rumah, rumah yang sudah tidak ditempati lagi satu bulan terakhir. Ya, rumah itu adalah rumah lama Elie. Glen terus mengunjungi rumah itu.


"Kamu pergi kemana?" gumam Glen.


Glen sudah berusaha mencari tahu kemana mereka pindah. Tapi tetangga sekitar yang ia tanyai tidak tahu. Ia juga mencari di sosial media, sayangnya baik Elie ataupun Rose tidak menggunakan sosial media.


"Aku tidak tahu harus mencari kamu kemana lagi. Mungkin bos benar, sekaranglah waktu yang tepat. Aku harus melupakan cinta pertamaku dan memulai hidup baru. Baiklah....Aku akan melupakanmu Rose," lirih Glen.


Lantas Glen tancap gas meninggalkan rumah Elie. Dan untuk seterusnya ia tidak akan ke sana lagi.

__ADS_1


................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2