Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
KELANJUTANNYA


__ADS_3

Reza dan Glen duduk bersebelahan memandang Silvi yang duduk di seberang. Silvi belum menyantap nasi goreng itu. Yang dilakukan adalah mencium baunya. Berkali-kali nasi itu diaduk, lalu diam lagi. Diaduk lagi, dicium lagi.


"Cuma dicium aja sayang? Nggak dimakan?" tanya Reza.


"Sebenarnya aku cuma pengen nyium bau nasi goreng aja, kak!" Silvi menyengir kuda.


"Astaga," Reza memijat pelipisnya.


Sekarang nasi goreng itu hanya dicampakkan di atas meja. Susah payah nasi goreng itu dibuat. Apalagi permintaan Silvi sangat rumit. Glen melongo.


"Satu sendok saja Bu Bos, tolong!" ucap Glen memohon.


"Aku cuma pengen nyium baunya aja, Gentong!" jawab Silvi.


Glen hampir mewek.


"Awas kalau nangis, sudah kau yang makan saja!" seru Reza.


"Baiklah," Glen menyendok nasi goreng itu.


Silvi pergi ke ruang tengah meninggalkan kedua pria itu tanpa rasa bersalah. Reza bisa menduga hal ini akan terjadi, soalnya tadi Silvi baru saja makan dua roti panggang dan susu.


Reza tetap di meja makan sampai Glen menghabiskan nasi gorengnya. Mumpung Silvi ada di ruang tengah jadi ia akan membicarakan banyak hal dengan Glen. Reza tidak mau Silvi ikut memikirkan masalah ini, kalau dia bertanya ia akan menjawab. Cukup sebatas sampai di situ.


"Bagaimana semalam?" tanya Reza dengan suara agak lirih.


"Saya sudah punya lokasi tempat tinggalnya yang sekarang, bos!" jawab Glen.


"Bagus!" puji Reza.


"Begini bos, pantas saja kita sebelumnya tidak pernah bisa tau informasi apapun tentang dia, dari hasil pengawasan orang saya, dia tinggal di apartemen itu pakai nama lain identitas palsu...." ucap Glen.


Reza mengangkat sebelah alisnya.


"Hmm, kalau begitu dia bisa pindah kapanpun. Saat dia tau kita sudah mengawasinya pasti dia akan pindah dengan identitas baru lagi. Bisa jadi setelah rencana terornya selesai dia juga akan segera pindah." ucapnya.


"Benar itu bos, untuk itu saya rasa bos sepertinya harus segera menjalankan rencana, sebelum dia pergi lagi. Kita akan kesusahan lagi mencari tau dimana dia," sahut Glen.


"Iya. Aku rasa dia bukan dari keluarga sembarangan, dia bisa dengan mudah berganti identitas. Kalau keluarganya tidak punya pengaruh, berganti identitas itu hal yang sulit,"


Glen mengangguk setuju.


"Lalu selanjutnya bagaimana bos?" tanyanya.


"Kau teruskan saja mengawasi dia. Jangan sampai kau ketinggalan sedikitpun. Sisanya biar aku yang urus langsung. Ada yang harus aku cari tau lagi," lirih Reza.


"Baik, bos!" jawab Glen.


Glen meneguk air mineralnya hingga habis. Perutnya kenyang sekali pagi ini. Nasi goreng buatannya tadi tidak begitu buruk. Malah lebih enak dari restoran hehehe.


Reza juga sudah menghabiskan rotinya. Glen bangkit dari kursi, menuju ruang kerja Reza. Ia mengambil berkas milik bosnya yang harus dibawa pagi ini ke kantor. Berikut laptop dan tas kerja Reza.


"Sudah siap, bos! Waktunya berangkat!" seru Glen.


Reza beranjak dari kursi, menghampiri istrinya di ruang tengah.


"Aku berangkat dulu ya, sayang! Kamu ke rumah Dave dulu biar aman," Reza mengecup kening Silvi sekilas.


"Iya, kak!"


Silvi mengantarkan Reza sampai ke pagar depan.


"Kalau ada apa-apa atau mau dibawakan sesuatu kabari aku ya?" Reza melambaikan tangannya dari dalam mobil.


"Siap laksanakan!" jawab Silvi ala tentara pada pemimpinnya.


Reza sampai geleng-geleng kepala.


Pim pim,


Mobil Reza melaju meninggalkan rumah. Hari ini mereka menggunakan mobil Reza, mobil Glen ditinggal di rumah Reza. Meskipun bergantian mobil, tapi tetap Reza yang mengemudi.


"Sekretaris rasa bos," Glen memakai kacamata hitamnya, mengikuti Reza yang sudah memakai kacamata hitam lebih dulu.

__ADS_1


"Terserah kau saja udah," sahut Reza.


Silvi berdiri di dekat pagar sampai mobil suaminya menghilang di belokan ujung komplek. Baru ia masuk ke dalam rumah mandi sebentar, mengambil ponsel, dan pergi ke rumah kakaknya.


"Kakak!" Silvi berteriak di depan rumah Dave.


"Kakak!" teriaknya lagi karena tak kunjung mendapat jawaban.


1 menit Silvi menunggu, tidak ada orang yang membukakan pintu. Sampai Silvi dikejutkan dengan kedatangan mobil Mei.


"Eh, Silvi!" ucap Mei saat turun dari mobil.


"Pagi pagi udah main ke rumah orang," sindir Silvi.


"Kamu juga?" sahut Mei enteng.


Silvi diam, kena juga dia.


"Yaudah sih ya, Kak Mei ketok deh pintunya aku teriak-teriak dari tadi nggak ada yang keluar," ucap Silvi.


"Okay," jawab Mei.


Tok tok tok...


"Aryn.....Main yukkk!!!" Mei berteriak sekuat tenaga.


Silvi mengelus perutnya, "Sabar ya, nak!" ucapnya kemudian.


+++++++++


Sedangkan di kantor Reza,


Mobil Reza berhenti di parkiran. Ia turun dari mobil diikuti Glen yang mengekor di belakangnya. Seperti biasa semua pegawai kantor menunduk dan menyapa saat Reza masuk ke dalam gedung kantornya.


Hanya saja ada yang aneh. Para pegawainya tidak hanya menyapa tapi juga menahan tawa.


"Apakah ada yang aneh dengan penampilanku, Glen?" tanya Reza.


Di depan lift mereka berpapasan lagi dengan salah satu pegawai.


"Pagi, pak!" sapa pegawai itu pada Reza.


"Pagi," Reza menjawab biasa tapi tetap cool.


Dan seperti yang sudah-sudah, pegawai itu juga mendadak tertawa.


"Ada apa? Kenapa tertawa? Ada yang lucu?" tanya Reza.


"Ah maaf, pak! Bapak terlihat tampan seperti biasa, hanya saja sekretaris bapak itu...." pegawai itu menunjuk Glen.


"Saya kenapa?" tanya Glen.


Pegawai itu menunjuk bagian kepala Glen. Lalu ia memilih pergi dari sana. Tidak kuat menahan tawa.


"Astaga!" pekik Reza.


"Ada apa, bos?" tanya Glen.


"Topi kokimu belum dilepas," ucap Reza.


Lalu Reza tertawa.


Glen meraba kepalanya, topi koki apaan? Pantas saja seisi kantor menertawakannya. Kantong plastik bening merk apel masih dipakai Glen sampai saat ini. Glen melepas topi koki pemberian bosnya itu dengan kesal.


"Malu saya bos," keluh Glen, dia masuk ke dalam lift duluan.


"Memangnya kau punya malu?" tanya Reza.


"Ah iya juga," Glen menyengir.


Reza tertawa.


"Pantas tidak ada gadis yang mau denganmu," Reza meledek.

__ADS_1


Glen mengekor di belakang Reza dengan wajah yang cemberut. Ia merapihkan berkas bosnya di meja. Dan mengecek jadwal bosnya di ipad.


"Bukannya gadisnya yang nggak mau, bos! Untuk mencari gadis saja saya tidak ada waktu, bos kan tidak bisa hidup tanpa saya eaakkk...." Glen menunjukkan jadwal hari ini pada Reza.


Kambuh deh tingkah Glen.


"Ya mau gimana lagi, kau sekretaris serba guna," jawab Reza.


"Sekretaris berasa tepung," keluh Glen.


Reza tertawa.


"Bagus kalau sadar," ucapnya.


Reza mulai mengecek satu per satu berkasnya. Hari ini lebih longgar, tidak ada jadwal meeting, besok baru ada. Glen kembali ke meja kerjanya. Ia ditugaskan menyiapkan berkas yang akan dibawa untuk meeting besok.


Rasanya baru beberapa menit Reza duduk membaca berkas,waktu berjalan cepat sampai tak terasa jam makan siang telah tiba. Reza menyudahi pekerjaannya dan membuka ponsel. Ada pesan dari istrinya.


"Kak aku pengen nasi kare, tolong belikan ya❤"


Begitulah isi pesan istrinya. Tak lain meminta dibawakan makanan.


"Siap, sayangku! Ada lagi?"


Reza membalasnya di menit itu juga. Ia tau istrinya tidak suka menunggu.


"Sudah itu aja. Sekarang jam makan siang, kan? Kakak jangan telat makan ya!"


"Iya. Bagaimana pagi ini? Kalian berdua di masih di rumah Dave kan?"


"Iya kok, kak! Jangan khawatir, kami baik-baik saja!"


Reza bernapas lega, istri dan babynya baik-baik saja. Sekarang saatnya makan siang. Baru saja ia akan berdiri dari kursinya, Glen masuk ke ruangannya.


"Ada yang nyari, bos!" ucap Glen.


"Siapa?" Reza celingukan menatap pintu.


"Gua yang nyari," Zack masuk ke ruangan Reza.


"Bro!" Reza tersenyum senang.


Zack membawa dua kotak makanan dan meletakkannya di meja. Sengaja ia meluangkan waktu untuk ke kantor Reza. Ada hal yang ingin ia bicarakan.


"Kalau sampai mampir di jam makan siang begini pasti ada hal penting?" ucap Reza.


"Yeah, ada yang mau gue tanyain." jawab Zack.


"Okay," Reza mempersilahkan Zack duduk di sofa sudut ruangan.


"Mei bilang ke gua, Silvi beberapa hari ini di rumah Dave sampai lo pulang dari kantor."


"Iya, bener!" jawab Reza.


"Ada masalah, bro? Gua juga tau, lo neror Clara..." nada bicara Zack serius.


Reza akhirnya menceritakan kejadian beberapa hari terakhir. Dan juga mengenai adik tiri Clara.


"Parahnya sih, Zara datang ke sini juga ulah dia. Kasus lo kemarin juga. Teror di rumah gua, rumah Glen, sampai Silvi hampir digigit ular itu juga ulah dia." ucap Reza.


"Gua udah tau hal ini bakal kejadian, lo harus usut ini pasti ada hubungannya dengan musuh di masa lalu." ucap Zack.


"Iya, yang penting Dave jangan sampai tau dulu,"


"Dia udah tau, Za! Cuma dia diem aja, lo tau lah sikap dia ke lo kaya apa," jawab Zack.


"Hmm," Reza mengangguk.


"Gua ada sesuatu, lo harus liat!" Zack mengambil ponselnya.


................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!

__ADS_1


__ADS_2