Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
PINDAHAN


__ADS_3

Tok tok tok,


Hening, tidak ada jawaban dari dalam kamar.


Tok tok tok,


"Sebentar!" seru Reza kepada siapapun yang mengetuk pintu itu.


Reza menggeliat, tidur nyenyaknya terganggu suara ketukan pintu. Saat Reza hendak bangun, tangan kanannya mati rasa. Lantas ia melihat ke arah tangan kanannya.


"Silvi," gumam Reza.


Saat itu juga Reza langsung tersenyum. Ia terbayang lagi momen semalam. Dengan perlahan, ia menggeser kepala Silvi yang menindih tangan kanannya. Sangat hati-hati sekali agar istrinya tidak terbangun.


Tok tok tok,


Sangat tidak sabaran sekali orang yang mengetuk pintu itu. Lagipula siapa yang berkunjung sepagi ini. Ini hotel, kalaupun pegawai hotel pasti tidak akan seperti itu.


"Sabar sebentar! Lagi jalan ke pintu ini!" seru Reza kesal.


Dengan kesal Reza membuka pintu di hadapannya. Reza sangat tidak sabar untuk melihat wajah tamu kurang ajarnya. Pagi-pagi begini tidak sabaran mengetuk kamar pengantin baru.


"Good morning, my darling!" ternyata maminya.


"Good morning, my son!" ada Edgar juga ternyata.


"Ternyata kalian, ck!" Reza masuk ke kamar lagi sambil menutup pintu.


"Mentang-mentang pengantin baru ya?" Edgar menahan pintu.


"Mami dan papi saja yang mengganggu," Reza kembali bergulung di kasur memeluk istrinya.


"Ayo cepat berkemas!" Zela duduk di sofa.


"Papi dan mami tunggu sampai selesai!" imbuh Edgar yang juga ikut duduk di sofa.


"Berkemas kemana sih, mi, pi?" tanya Reza.


"Kembali ke Paris lah!" jawab Zela santai.


Reza langsung bangun dan terduduk. Apakah ia tidak salah dengar? Baru kemarin dirinya menikah, kenapa hari ini juga harus kembali ke Paris?


"Jangan bercanda, mi! Baru kemarin Reza menikah, masa harus LDR lagi...." Reza merengek pada maminya.


"Heh, jangan buruk sangka dulu! Siapa yang nyuruh LDR, kamu dan Silvi kembali ke Paris!" seru Edgar.


"Enak aja, masa anak mantu mami ditinggal, nggak bisa pamer dong!" seloroh Zela.


"Oh..." Reza menggaruk tengkuknya.


"Tapi mi, apakah Papa dan Mama Silvi sudah tahu? Lalu Dave?" tanya Reza.


"Sudah beres semua! Kita nanti ke mansion Dave dulu untuk acara perpisahan!" jawab Zela.


Obrolan Reza dengan kedua orangtuanya terdengar gaduh sekali di telinga Silvi. Hingga Silvi perlahan membuka kedua matanya, menggosoknya pelan.


"Berisik banget sih, kak!" protes Silvi.


Silvi duduk tanpa melihat siapa saja yang sudah ada di kamarnya. Silvi hanya menutupi tubuhnya dengan selimut. Rambutnya acak-acakan. Leher dan dada bagian atasnya penuh stempel ciptaan Reza.


"Astaga! Lihat ulah anakmu, mi!" Edgar menepuk dahinya sendiri.


"Papi!" pekik Silvi.


"Anak kesayangan mami memang liar! Bikin cucu yang banyak untuk mami, ya!" seloroh Zela.


"Astaga, ada mami juga!" pekik Silvi.


Silvi langsung lari ke kamar mandi dengan membawa selimut. Citranya sebagai seorang mantu jatuh seketika. Bagaimana pendapat mertuanya nanti melihat keadaannya yang buluk ini. Silvi segera membersihkan tubuhnya.


Sementara itu, Edgar dan Zela hanya tertawa cekikikan melihat reaksi mantu mereka. Mereka berdua juga aneh sih, pagi-pagi gerebek kamar pengantin baru.

__ADS_1


"Dimana Glen, mi?" tanya Reza, ia tiba-tiba teringat sekretaris laknat itu.


"Beres-beres barang di apartemenmu," jawab Zela.


"Baiklah," Reza mengangguk paham.


Reza langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan sesaat setelah Silvi keluar. Silvi tampak canggung, ia merasa malu.


"Bersiaplah, sayang! Hari ini juga kita akan ke Paris, Glen nanti akan mengurus barang-barangmu yang ada di mansion," ucap Zela.


"Hari ini, mi? Tapi mama dan papa," lirih Silvi.


"Mereka sudah tahu," sahut Edgar.


"Kak Dave?" tanya Silvi ragu.


"Kenapa dia tidak setuju? Kamu dan Reza sudah menikah, sayang!" Zela mengelus rambut Silvi.


"Iya, mi!" Silvi tersenyum.


Mereka langsung berangkat ke mansion setelah Reza dan Silvi siap. Sesampainya di mansion, semua orang sudah menunggu kedatangan mereka. Barang-barang Silvi juga sudah dipacking.


Silvi menatap wajah mama dan papanya. Ia masih tidak percaya hari ini ia akan meninggalkan mansion ini. Meninggalkan orang-orang yang ia sayangi.


"Jaga kesehatan ya, sayang! Jadilah istri yang baik di sana, selalu kabarin mama!" Katy memeluk Silvi erat.


"Iya, ma! Silvi akan selalu mengabari mama! Silvi pasti merindukan mama," Silvi menenggelamkan wajahnya dalam pelukan mamanya.


"Kamu harus menjaga putri papa, jangan sampai Silvi bersedih atau kekurangan apapun! Kalau libur, kunjungi kami!" Erick memeluk Reza.


"Siap, pa! Aku akan menjaga Silvi dengan segenap jiwa dan ragaku," jawab Reza.


Erick dan Katy memeluk Reza dan Silvi bergantian. Air mata mereka tidak bisa dibendung. Bagaimanapun juga, Silvi harus ikut suaminya. Silvi memeluk dan mencium Desmon lama, rasanya enggan berpisah dengan adik kecilnya. Giliran Dave dan Aryn, wajah mereka tidak kalah sedihnya berpisah dengan Silvi.


"Kalau dia membuatmu menangis, telpon saja kakak ya!" Dave memeluk Silvi.


"Kakak....Jangan begitu!" Silvi memukul dada Dave pelan.


Reza hanya tersenyum tipis. Ia tahu kalau Dave masih tidak suka padanya. Biarlah, ia memakluminya karena seorang kakak pasti hanya ingin yang terbaik untuk adik perempuannya.


"Walaupun kau dan Dave selalu sekongkol mengejekku, tapi aku pasti akan sangat merindukanmu Silvi!" Sekarang Mei yang memeluk Silvi.


"Iya iya, kau cepatlah kawin, kak!" sahut Silvi.


"Itu pasti, melihatmu menikah kemarin....Aku jadi semakin ingin cepat-cepat menikah juga!" ucap Mei.


Di sana juga ada Samuel, Angel, Zack, Ken, dan Naina. Mereka juga menunggu giliran untuk memberikan pelukan perpisahan kepada pengantin baru itu. Yang paling mencolok adalah Glen.


"Huuaaaa...Aku akan sangat rindu main sumo-sumonan dengan kalian," Glen histeris memeluk Desmon dan Davin.


"Huaaa..." Desmon dan Davin ikut-ikutan menangis.


"Uncle, jangan lupain Apin, ya!" ucap Davin.


"Jangan lupain Emon juga," sahut Desmon.


Srooottt....


Desmon dan Davin sama-sama menggunakan kaos Glen untuk mengelap ingus yang keluar dari hidung mereka.


"Uncle nggak akan cuci kaos ini, buat kenang-kenangan huhuhu..." ucap Glen.


"Eeeeewwww.." sorak semua orang.


Aneh-aneh aja, ingus untuk kenang-kenangan? Seperti tidak ada barang kain saja Glen Glen.


"Jangan sampai lost contact ya, bro!" seru Zack pada Reza.


"Beres!" Reza mengacungkan jempolnya.


"Gas pol cetak anak yang banyak!" Samuel menyenggol bahu Zack.

__ADS_1


"Kalau urusan itu, jangan diingetin! Udah di luar kepala gua," Reza terkekeh.


"Berpelukan dulu, dong!" seru Ken.


"Berpelukan!" seru Zack.


Reza, Zack, Samuel, dan Ken berpelukan. Glen juga ikut-ikutan berpelukan. Ia selalu tidak mau ketinggalan, apalagi bosnya ada di sana.


Mereka semua mengantar Reza, Silvi, Glen serta orang tua Reza sampai di samping mobil. Mereka melambaikan tangan sampai mobil itu sudah menghilang di belokan.


Di dalam mobil,


Telinga Reza terasa seperti berdengung, pasalnya Glen masih saja menangis di jok depannya samping sopir. Sekretarisnya itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Awalnya Reza maklum, Glen memang cengeng. Tapi lama-kelamaan jengah juga.


"Pilih diam atau aku lempar keluar dari mobil ini?" tanya Reza.


"Bos saya itu sedang sedih," jawab Glen.


"Sudahlah, Reza! Nanti juga diam sendiri kalau capek!" sahut Zela.


"Yang capek aku, mi! Suaranya itu, knalpot truck aja lebih mereka dari suara dia! Papi setuju kan sama Reza?" Reza terlihat kesal.


Tidak ada sahutan dari Edgar.


"Pi?" seru Reza.


"Papimu sudah sampai Paris duluan kayaknya, Za!" Zela terkekeh.


Edgar tidur dengan bersandar di bahu Zela. Zela hanya terkekeh melihat kelakuan suaminya itu.


"Kak kak...." Silvi yang duduk di samping Reza tiba-tiba memukul-mukul lengan Reza.


"Ada apa?" tanya Reza.


"Kita melupakan sesuatu!" seru Silvi.


"Apa sayang?" tanya Reza.


"Apa yang kita lupakan, cantik?" Zela penasaran.


"Mira!" pekik Silvi.


"Astaga!" Reza menepuk dahinya, istrinya masih sempat mengingat anjing kesayangannya.


"Siapa Mira?" Zela justru bingung, karena ia tidak tahu siapa nama yang disebut Silvi.


"Sindy, Brown, dan Cheetos juga kak!" imbuh Silvi.


"Astaga! Rumah kita nanti mau kamu jadikan kebun binatang juga?" Reza memijit pelipisnya.


Awalnya ia mengira Silvi memang tidak ingin membawa hewan peliharaannya. Karena sejak tadi Silvi santai saja. Ternyata semua hewannya mau diboyong juga. Reza harus membuat Silvi mengerti.


"Tunggu tunggu! Tadi Mira, sekarang Sindy, Brown, dan Cheetos itu siapa? Siapa mereka? Jelaskan, sayang!" Zela super penasaran.


"Mira itu anjing Silvi, mi!" Silvi menunjukkan deretan giginya.


"Ohh...Lalu yang lainnya? Anjing juga?" tanya Zela.


"Sindy itu harimau, Brown itu beruang madu, dan Cheetos adalah cheetah peliharaan Silvi. Mereka semua peliharaan Silvi di mansion Dave, mi!" ucap Reza menjelaskan.


"Astaga..." Zela lemas, ia meletakkan kepalanya bersandar pada Edgar.


"Silvi, kalau membawa mereka semua. Itu tidak bisa. Aku sudah membeli rumah di kawasan perumahan, ada banyak tetangga di sana. Kalau Mira saja tidak masalah," Reza berusaha memberikan penjelasan.


"Hmm, baiklah..." lirih Silvi.


"Jangan bersedih, ya! Nanti kita beli peliharaan lain di sana!" Reza tersenyum.


"Baiklah, yang penting Mira ikut!" Silvi juga tersenyum.


"Syukurlah...Biar nanti diurus orang mami ya," Zela ikut bersyukur.

__ADS_1


.........................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2