
Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga semuanya sehat selalu ya!
.............
Reza menarik napas dalam, ia menatap lekat Silvi yang duduk di hadapannya. Reza menggenggam tangan Silvi dengan erat.
"Aku tahu, kamu menyuruh orang untuk memata-mataiku kan? Karena itu kamu punya semua foto itu dan semua informasi keseharianku selama di sana. Okay, akan aku jelaskan sejelas-jelasnya!" ucap Reza penuh kesungguhan.
Reza terdiam sebentar, ia mengelus pelan jemari Silvi. Ia melanjutkan yang akan ia katakan.
"Hari itu Zara datang ke kantorku, iya benar dia datang menemuiku. Zara membawa sebuah file pribadiku, ia mengancam akan menyebarluasan file itu jika aku menolak cintanya. Dia memanfaatkan kesempatan itu untuk mengundangku ke rumahnya. Tentu aku harus menuruti kemauannya. Aku datang ke apartemennya malam itu. Seperti foto yang dikirim ke kamu, aku benar datang ke sana. Aku menyusun rencana malam itu untuk mengambil filenya. Penampilanku menjadi berantakan karena ada banyak anak buah yang berjaga di sana. Sudah, hanya itu. Aku berusaha menelponmu untuk menjelaskan semuanya, tapi kamu malah.... memutus semua akses komunikasi kita! Aku bingung sekaligus takut kehilanganmu, maka dari itu aku datang menemuimu. Aku harap kamu bisa memafkanku..." Reza menunduk.
"File pribadi apa yang kamu maksud, kak?" Silvi penasaran.
"Aku akan memperlihatkannya di waktu yang tepat," jawab Reza.
"Kakak menyembunyikan rahasia dariku," protes Silvi.
"Aku akan mengatakannya, tapi tidak sekarang sayang!" Reza mencubit pipi Silvi dengan gemas.
"Kenapa?" Silvi semakin penasaran.
"Belum saatnya kamu tahu, nanti kalau umur kamu udah 18+ aku kasih tahu!" Reza terkekeh.
Reza tidak ingin menyembunyikan apapun dari Silvi. Tapi mengenai penyakitnya, ia belum siap mengatakannya pada Silvi. Ia tidak siap jika nanti Silvi akan menjauhi dan membencinya karena penyakit yang ia punya.
"Hmm," sahut Silvi.
"Bagaimana? Apakah aku dimaafkan?" tanya Reza.
"Kak Reza yakin tidak melakukan apapun dengan Zara?" tanya Silvi menyelidik.
"Iya, kakak hanya mengambil filenya!" jawab Reza.
"Hmm," jawab Silvi singkat.
Reza menghela napas berat, ia mengambil ponselnya dari saku jaketnya. Ia menelpon seseorang.
"Nih," setelah tersambung Reza memberikan ponselnya pada Silvi.
"Siapa?" tanya Silvi.
"Papa kamu, kamu pasti percaya pada papamu kan?" seru Reza.
Silvi kebingungan, ia menerima ponsel Reza dengan cepat. Ia menempelkan ponsel ke telinganya.
"Hallo, pa?" ucap Silvi.
"..............."
"Begitu pa? Jadi menurut papa aku harus percaya dengan Kak Reza?"
"............."
"Baik, pa! Aku percaya pada papa, papa pasti tahu yang terbaik untukku. Aku akan memaafkan Kak Reza, sudah dulu ya pa! Kami akan segera pulang kok!" ucap Silvi.
Tut,
Silvi menatap Reza. Ia menyerahkan ponsel Reza kembali. Papanya menjelaskan hal yang sama seperti yang dikatakan Reza. Silvi tidak mungkin tidak mempercayai perkataan papanya. Reza tersenyum, ia membuka tangannya lebar. Silvi langsung memeluk Reza.
"Udah dimaafin ini ceritanya?" Reza terkekeh.
"Iya, aku percaya sama kakak! Lagipula aku nggak tahan marah lama-lama!" Silvi menyusupkan kepalanya ke dada Reza, mencari kehangatan.
"Nah gitu dong! Tanpa kepercayaan sebuah hubungan akan goyah," Reza mengelus pucuk kepala Silvi dengan sayang.
"Tapi..." ucap Silvi.
__ADS_1
"Tapi apa?" tanya Reza.
"Tidak semudah itu aku memafkanmu kak!" seru Silvi, ia melepaskan pelukan Reza.
"Please maafin," Reza memohon.
"Ada syaratnya!" Silvi tersenyum smrik.
"Apa?" tanya Reza.
"Nanti kalau sudah sampai mansion aku kasih tahu," ucap Silvi.
"Okelah," Reza lemas, paling tidak Silvi akan memaafkannya.
"Kak," lirih Silvi.
"Maafin Silvi, ya?" tanya Silvi.
"Untuk?" Reza mengangkat satu alisnya.
"Silvi menyuruh orang untuk memata-matai kakak!" jawab Silvi.
"Segitu sayangnya ya kamu sama aku," Reza mentoel hidung Silvi.
"Aku takut Kak Reza khilaf kalau dipepet melon terus," Silvi cemberut.
"Aku nggak suka melon, tenang saja!" Reza terkekeh.
Mobil jemputan Silvi sudah sampai. Mereka berdua bergandengan tangan menuju mobil. Dunia serasa milik berdua pokoknya.
"Kak...Kak Reza beneran nggak ngapa-ngapain kan di apartemen melon waktu itu?" sudah 3 kali Silvi menanyakan hal ini.
"Tidak, aku tidak melakukan apapun! Kalau tidak percaya tanya saja sama Glen! Dia ikut ke sini!" seru Reza.
"Sekretaris kakak itu ya? Btw, kok aku nggak lihat dia tadi kak? Kukira kakak cuma sama Kak Zack!" jawab Silvi.
"Glen? Astaga!" pekik Reza.
"Entah dimana dia sekarang...ketinggalan atau hilang ya?" ucap Reza.
"Nanti juga pulang sendiri, kak!" sahut Silvi.
"Kak Reza mau ikut ke mansion?" tanya Silvi.
"Iya," jawab Reza.
"Tidak takut?" tanya Silvi.
"Takut dengan apa? Siapa?" Reza mengacak rambut Silvi.
"Kak Dave," jawab Silvi lirih.
"Aku akan hadapi apapun untukmu, jangankan Dave! Kalau ada gunung yang menghalangi kita, akan ku daki! Jika ada samudra, akan ku arungi!" Reza menepuk dadanya bangga.
"Silvi serius!" seru Silvi kesal.
"Aku lebih serius," jawab Reza.
"Nanti kalau Kak Reza dipukul seperti dulu bagaimana? Kalau ditembak?" lirih Silvi.
"Apapun itu akan aku hadapi, lagipula kamu akan mengatakan syarat maafmu kan? Aku akan ke mansion," jawab Reza.
Silvi memgangguk, ia percaya pada Reza, kekasihnya itu bisa menghadapi kakaknya. Saat ini hal itu tidak terlalu dipikirkan Silvi, ada hal lain yang mengganggu pikirannya sekarang. File pribadi apa yang dimaksud Reza? Kenapa Reza sampai tidak mau mengatakannya pada Silvi?
Di taman sekolah Silvi,
__ADS_1
Banyak orang berkerumun di sekitar pohon yang besar. Mereka berdiri di tempat itu dengan memegang ponsel mereka untuk mengabadikan peristiwa yang sedang berlangsung. Polisi yang berada di tempat itu berusaha mendorong mereka mundur. Mereka butuh ruang untuk melakukan olah TKP. Dua orang polisi memasang garis polisi disekitar pohon itu.
Lima belas menit lalu, polisi mendapatkan telepon dari security sekolah tersebut. Security mengatakan dia menemukan tubuh seseorang yang tertutup kertas koran di bawah pohon. Tubuh itu tidak merespon saat ditendang security itu. Security curiga itu adalah mayat korban pembunuhan jadi dia menelpon polisi. Ia dan rekannya tidak berani untuk mengecek secara langsung.
"Tolong jangan ambil gambar!" seorang polisi mengingatkan orang yang menonton untuk mengambil foto.
Semua orang melihat betapa menyediakannya tubuh yang tergeletak di bawah pohon itu. Pakaian yang dikenakan korban itu terlihat rapi dan bersih. Bahakan korban itu bersepatu dan memakai jam tangan yang harganya lumayan. Dia sampingnya tergeletak sebuah ponsel keluaran terbaru. Tapi pakaian itu tidak berarti karena sekarang hanya selembar koran yang menutupinya, bahkan ada dedaunan kering yang menutupi tubuh korban itu.
Polisi tengah bersiap dengan menggunakan sarung tangan. Ia mendekati pohon. Dua orang polisi lainnya ikut mendekati tubuh yang tertutup kertas koran itu. Salah satu polisi, memegang ujung kertas koran. Mereka akan memastikan korban dengan melihat ciri-cirinya. Mungkin akan ada identitas di tubuh korban itu. Dengan begitu polisi akan menemukan keluarga korban dengan mudah. Situasi saat ini menjadi sangat tegang. Saat koran dibuka, terlihat wajah korban itu dengan jelas. Seorang pria muda yang tampan.
"Kasihan sekali," ucap polisi yang membuka koran tadi.
Polisi lain mendekat, ia akan memeriksa seluruh tubuh korban itu untuk memastikan apa yang terjadi dan mencari identitas. Tiba-tiba, kedua mata pria itu terbuka dengan lebar.
"Arrgghh!" semua orang berlari meninggalkan tempat itu.
Para polisi dan security mundur perlahan. Sementara pria itu kini duduk bersandar di batang pohon. Ia meregangkan ototnya.
"Hai Pak Polisi!" sapa pria itu.
"Hai!" jawab para polisi bersamaan.
"Tadi dia tidak bergerak sama sekali, pak! Sungguh!" ucap security saat mendapat tatapan tajam dari polisi.
"Ada apa ini?" tanya pria itu.
"Siapa namamu? Apa yang kau lakukan di bawah pohon ini? Apa yang terjadi padamu?" tanya seorang polisi.
"Nama saya Glen, saya hanya sedang tidur di bawah pohon ini! Nyaman sekali tidur di sini, Pak Polisi boleh coba!" jawab Glen.
"Kenapa tubuhmu tertutup koran?" tanya security.
"Oh, tadi sedikit panas! Jadi saya ambil koran untuk menutupi wajah saya! Perawatan wajah itu mahal, jadi sayang kalau saya bakar dengan sinar matahari sepanas ini!" jawab Glen santai.
"Kamu tidak mati?" tanya security.
"Hah?" Glen bingung.
"Maksud saya, saya tadi tidak sengaja menendang tuan! Tapi Tuan tidak bangun," ucap security itu.
"Biasalah, saya kalau tidur sudah seperti mayat pak!" Glen terkekeh.
Para polisi menatap tajam sang security. Bisa-bisanya mereka mendapat kasus seperti ini. Sungguh menyebalkan. Para polisi pun meninggalkan tempat itu. Glen juga akan pergi dari tempat itu.
"Jam berapa ini, pak?" tanya Glen pada security, ia membersihkan celananya.
"Jam 6 sore, tuan!" jawab security.
"Astaga aku tadi tidur atau mati?" keluh Glen, membuat security itu saling menatap.
Glen bergegas meninggalkan pohon itu, ia celingukan. Sekolah sudah sepi, ia pasti ditinggal bosnya.
"Sudah pasti ditinggal ini!" keluh Glen.
Malang sudah nasibnya hari ini. Ditinggal terus, ia akhirnya memesan taksi lagi. Saat masuk ke dalam taksi, Glen melihat ke arah pohon tempat ia tidur tadi.
"Tadi kenapa ada polisi dan security ya? Mereka sepertinya takut saat aku bangun tadi. Di sekitar pohon tadi juga dipasang garis polisi, ada apa ya? Apakah ada penemuan mayat atau bagaimana? Ini gara-gara aku terlalu menikmati tidur di bawah pohon, jadi tidak tahu apa-apa!" ucap Glen.
"Tuan tidak tahu? Katanya tadi ada penemuan mayat di sana?" seru sopir taksi yang kebetulan mendengar ocehan Glen.
"Benarkah? Saya tadi tidur di sana loh padahal! Pak sopir liat tadi?" Glen terkejut.
"Saya hanya dengar dari orang lewat dekat tempat saya mangkal saja, tuan!" jawab sopir.
"Oh, saya kira pak sopir lihat kejadiannya," Glen terkekeh.
Glen meminta sopir untuk mengantarnya ke mansion Dave. Baru saja bosnya mengirimkan pesan untuknya.
__ADS_1
......................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!