
"Selamat untuk kalian berdua," Edgar memeluk Reza dan Silvi bergantian.
Kedua orang tua Reza baru saja sampai, mereka langsung datang jauh-jauh kemari setelah mendapat kabar kehamilan Silvi. Reza dan Silvi memperlihatkan foto ultrasonografi pertama calon bayi mereka. Mereka berdua baru pulang dari dokter kandungan.
"Mami nggak nyangka, anak kesayangan mami akan segera menjadi seorang ayah," Zela memeluk erat Reza.
"Kamu jangan terlalu banyak kegiatan dulu ya, sayang! Oh iya, udah ngidam apa kamu? Morning sickness juga pasti ya?" kini Zela mengelus perut Silvi.
Semua orang langsung menatap Reza
"Yang ngidam aku, mi!" Reza tampak lemas.
Kedua mata Zela langsung melotot. Ia menatap Reza dan Silvi bergantian. Kalau dilihat Reza memang lemas, lesu, dan pucat. Sementara Silvi, ia malah terlihat sangat sehat dan bugar.
"Oh ya?" tanya Zela pada Silvi.
"Iya, mi! Kakak yang ngidam. Tiap pagi, dia yang muntah-muntah di kamar mandi."
Zela terbahak.
"Bagus itu, biar tahunya nggak cuma asal buat langsung nunggu jadi. Mami dulu juga pengen gitu, tapi nggak kesampean,"
Silvi tertawa.
Obrolan mereka berlanjut sampai ke meja makan. Suasana menjadi serius saat Dave menanyakan apakah Reza dan Silvi akan kembali ke Paris. Dave hanya mengkhawatirkan Silvi. Mengingat kedua orang tua Reza sibuk semua. Reza juga akan sibuk nantinya. Jadi tidak akan ada yang menjaga Silvi. Padahal dalam kondisi seperti ini harus ada yang menemani Silvi, apalagi kehamilan pertama.
"Kita akan balik ke Paris," ujar Reza.
"Kapan?" sahut Dave dengan cepat.
"Lusa,"
"Sebagai seorang suami dan calon ayah, harusnya kau bisa mengambil keputusan dengan bijaksana."
"Maksudmu aku tidak bijaksana?"
"Kau yang bilang sendiri," jawab Dave kemudian.
"Dave!" rahang Reza mengeras.
Dave hanya melengos.
"Paling tidak kau harusnya bisa menunggu sampai kandungan Silvi kuat dan aman untuk melakukan perjalanan jauh,"
Reza memperhatikan Silvi.
"Kamu tidak usah khawatir, son!" Edgar menatap putra semata wayangnya.
"Maksud papi?"
"Kita semua akan tinggal di negara ini," Edgar tersenyum.
"Tinggal? Perusahaan bagaimana?"
"Di saat seperti ini Silvi membutuhkan keluarga dan orang terdekat. Lagipula ada cabang perusahaan di sini. Pekerjaan bisa dilakukan dari manapun, son! Semuanya bisa diatur,"
Edgar dan Zela tidak terlalu memusingkan urusan perusahaan. Pekerjaan bisa dilakukan dari manapun. Jika ada rapat penting nanti tinggal terbang ke Paris untuk beberapa hari. Keselamatan dan kebahagiaan anak-anak mereka lebih utama.
"Ashiappp!"
"Papi dan mami sudah menjual rumahmu yang di Paris," ucap Zela.
"Kok dijual?" pekik Reza.
"Uangnya buat beli rumah di sini,"
"Kenapa nggak pakai uang mami?"
"Enak aja...." Zela mencubit pipi putra kesayangannya itu.
Silvi terbahak.
"Besok pagi kalian bisa cek rumahnya, sekalian bawa pakaian juga tidak apa. Jadi langsung ditempati rumahnya." ucap Edgar.
"Siap, pi!" sahut Silvi.
"Terima kasih besan, atas pengertiannya." ujar Erick.
"Ini sudah kewajibanku, besan!" Edgar terkekeh.
Semua orang bisa makan dengan tenang. Mereka tidak perlu khawatir mengenai kondisi Silvi. Silvi akan tinggal dekat dengan mereka semua.
Menu makan siang hari ini terlihat menggugah selera. Ada berbagai macam olahan seafood. Dari yang digoreng sampai ada yang dipanggang. Khusus disiapkan menyambut kedatangan Edgar dan Zela. Semua orang makan dengan lahap kecuali Silvi.
Silvi jjustru menatap udang dan kerang yang berjejer di piring hadapannya. Lalu ia melihat Dave yang makan udang dengan lahannya. Dave kebetulan duduk berseberangan dengan dirinya. Sepertinya rasanya enak, Silvi jadi ingin makan. Tapi ada suatu hal yang membuatnya mengurung niatnya.
"Nggak makan, sayang?" Reza menyenggol lengan Silvi.
Semua orang memang makan termasuk Reza. Tapi Reza makan setelah mencoba satu persatu makanan. Ia memilih mana yang tidak membuatnya mual. Dan ternyata hanya salad yang tidak membuat mual. Ya sudah ia makan salad. Tidak apa yang penting bisa masuk perut tanpa mual.
__ADS_1
"Enggak, sayang."
"Kenapa?"
"Bukannya kamu suka udang, ya?" tanya Reza kemudian.
"Liat aja udah nggak selera,"
"Kenapa sayangku?"
"Aku kasihan,"
Reza melongo.
"Hah?" tanyanya.
"Aku kasihan sama udangnya, kakak sayang!"
Reza tertawa dengan keras, semua orang juga ikut tertawa.
"Bawaan orok ini," Zela terkekeh.
"Kalau gitu kamu makan yang lain saja, sayang!" Katy menyodorkan kerang.
"Nggak mau, ma! Silvi juga kasihan sama kerangnya." Silvi menutup wajahnya.
"Kamu harus makan dong, sayang!" Zela merayu.
Silvi menggelengkan kepala.
"Tidak mau, mi!"
"Aku suapin ya?" Reza merayu.
Silvi tetap menggeleng.
"Sekarang ada baby loh di perut kamu, dia butuh nutrisi. Jadi kamu harus makan, Silvi..." Aryn turut merayu.
Lagi dan lagi Silvi menggeleng.
"Terus mau makan apa, sayang?" Reza mengelus pucuk kepala Silvi.
"Silvi mau makan salad saja,"
"Nggak mau makan ikan juga?"
"Enggak, kak!"
Reza melogo.
"Hah?"
Semua orang tertawa.
"Tapi..." ujar Reza.
"Lakukan saja, Reza! Ini semua permintaan bayimu," Zela mengingatkan.
"Okay okay," Reza beranjak dari duduknya.
"Semua?" tanya Reza pada Silvi.
"Iyaaa.....Termasuk yang ada di piring semua orang," jawab Silvi.
"Apa?" pekik semua orang.
"Kasihan mereka, aku tidak tega melihat kalian memakan mereka," Silvi mewek hampir menangis.
"Okay, jangan nangis! Ayo Reza Papa bantu," sahut Erick.
"Aku bantu juga," Edgar ikut-ikutan.
"Terus kita makan apa?" seloroh Dave.
"Itu ada salad," Silvi sewot.
Reza terbahak.
Semua orang kini merasakan apa yang ia rasakan. Mer3ka semua akhirnya hanya makan salad dan minum jus. Karena semua udang, kerang, dan ikan diambil. Makanan itu dimasukkan dalam kantong plastik. Akan dimakamkan dengan layak. Sesuai permintaan bumil itu.
"Udangku!!!" Desmon lesu.
"Kerangku..." begitu juga dengan Davin.
"Siang ini kalian makan salad dulu, ya?" Aryn menenangkan kedua bocah itu.
"Salad sehat loh," Katy menyuapkan salad ke mulut Desmon dan Davin.
Desmon dan Davin pasrah.
__ADS_1
"Baiklah.. "
Reza baru saja selesai memasukkan makanan ke dalam plastik dibantu oleh Erick dan Edgar.
"Dibawa ke dapur aja, kita makan di sana besan...." bisik Erick.
"Ah, ide bagus!"
"Ayo, Za!" seru Edgar kemudian.
"Ingat, harus dimakamkan ya! Di bawah pohon alpukat," seru Silvi tiba-tiba.
Sepertinya Silvi bisa melihat niat jahat Erick dan Edgar.
"Sudahlah pa pi, ini permintaan cucu kalian loh!" Reza sewot.
"Kalau gitu kau saja yang kubur makanan itu," Edgar kembali ke kursinya.
Erick juga melakukan hal yang sama.
Akhirnya Reza yang menggotong kantong plastik itu ke halaman samping. Tepat di mana pohon alpukat yang dimaksud Silvi. Reza menutup hidungnya. Rasanya ia mau muntah.
"Di sini aja, kak!" seru Silvi.
"Silvi..." Reza terkejut melihat istrinya itu tiba-tiba sudah di sampingnya.
Silvi menyengir kuda.
"Aku ikut tadi, mau lihat.."
"Ya sudah,"
Reza mulai menggali tanah dengan sekop yang dibawakan anak buahnya. Lantas ia masukkan kantong plastik itu ke dalam lubang. Perlahan ditimbun dengan tanah. Selesai sudah acara pemakaman makan siang mereka. Silvi tersenyum puas.
Dari kejauhan mereka mendengar deru mobil mendekat. Reza dan Silvi saling menatap. Mereka berdua tidak tahu mobil siapa itu.
"Samperin aja yuk, kak!" Silvi menggandeng Reza.
"Hati-hati," Reza menyuruh Silvi memeprlambat jalannya.
"Siap, daddy!" goda Silvi.
Reza terkekeh.
Mereka berdua berjalan berputar lewat gerbang utama. Saat sudah dekat dengan mobil itu, dari mobil itu keluarlah sekretaris yang dicari Reza sejak semalam.
"Bos...Bu Bos..." Glen cengar-cengir.
"Darimana saja kau? Bosan bekerja denganku?"
"Semalam saya mabuk berat, bos!"
"Dua gelas saja mabuk berat?" tanya Reza kemudian.
"Ah bos kan tahu betul,"
"Terus dimana kau semalam?" Reza menyerang Glen dengan pertanyaan.
Belum juga dijawab Glen, obrolan mereka terputus karena sekarang bosnya fokus melihat seorang wanita yang keluar dari dalam mobil itu.
"Kau punya pacar, Glen?" Silvi antusias.
"Oh sorry? Apa lo sebut gua pacar dia? Dia itu salah masuk ke mobil gua, masih untung gua baik hati dan tidak sombong. Jadi gua anterin," Elie langsung membantah.
"Sopan sedikit, dia bos saya..." Glen menyenggol Elie.
"Bos lo kan, bukan bos gua lah!"
"Iya ya..."
Reza dan Silvi menatap Elie dari ujung kepala sampai ujung kaki. Penampilan Elie lebih mirip seorang pria. Dari caranya berbicara terlihat jelas dia gadis bar-bar. Cocok dengan Glen yang cengeng.
"Kamu memikirkan hal yang sama denganku?" ujar Reza.
"Iya," Silvi mengedipkan sebelah matanya.
"Kalian masuklah dulu, makan siang!" seru Silvi pada Glen dan Elie.
"Dengan senang hati,"
Glen langsung masuk ke mansion.
"Ayo!"
Silvi mengajak Elie.
"Baiklah," Elie mengekor di belakang Reza dan Silvi.
..................
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!