
Satu minggu sudah Reza dan Silvi menempati rumah baru mereka. Hampir setiap pagi Zela memyempatkan untuk datang mengunjungi mereka meskipun hanya sekedar membawakan buah-buahan untuk menantunya. Seperti pagi ini misalnya, Zela sudah berdiri di depan rumah anak dan mantunya itu.
Ting tong
Zela memencet bel beberapa kali, ia tidak sabar menemui menantu kesayangannya.
Ting tong,
"Sabar, mi! Sebentar lagi pasti juga dibuka. Kamu seperti mau nagih hutang saja!" ucap Edgar.
Zela melengos.
Ting tong,
Zela menekan lagi belnya.
"Sebentar!" suara Reza menyahut dari dalam.
Reza mendumel, siapa yang bertemu dengan tidak sabaran seperti itu? Silvi mengekor di belakang suaminya itu. Reza dan Silvi masih bermalas-malasan di ranjang tadi karena hari ini weekend. Jadi Reza akan ada di rumah seharian.
Ting tong,
Lagi dan lagi Zela menekan bel rumah Reza.
"Astaga, sabar dong!"
Reza langsung memutar kunci dan membuka pintunya. Nampak kedua orang tuanya tersenyum di depan pintu.
"Mami, papi..." Reza terkejut.
"Jangan berlagak seperti kami baru sekali datang kesini, son!" seru Edgar.
"Iya, tahu! Tapi biasanya tidak sepagi ini kan, pi? Kalian bahkan lebih pagi dari sales susu murni yang datang tiap pagi,"
Edgar hanya tersenyum tipis. Ekor matanya menunjuk pada istrinya. Reza paham jika maminya yang ingin datang sepagi ini. Yang pastinya untuk bertemu anak perempuan kesayangannya.
"Selamat pagi, sayang!" seru Zela.
Zela menghambur ke arah Silvi. Ia memeluk menantu kesayangannya itu. Reza hanya melongo. Silvi benar-benar sudah menggantikan tempatnya sebagai kesayangan mami.
"Mami bawakan buah segar lagi,"
Zela menunjuk tumpukan kardus di belakang Edgar.
"Mami yang kemarin saja masih banyak, kulkas tidak muat!" justru Reza yang protes.
"Beli kulkas baru lagi," celetuk Edgar.
Sementara Silvi, ia hanya melirik ke tumpukan kardus itu. Ada berbagai macam buah. Jeruk mandarin, apel fuji, alpukat, bahkan ada beberapa keranjang yang berisi anggur dan semangka.
"Jangan gitu ah sayang, mami melakukannya dengan cinta,"
Walaupun sedikit berlebihan, tapi Mami Zela pasti melakukannya karena ingin Silvi dan bayinya mendapatkan nutrisi dari buah-buahan dengan cukup.
"Kamu itu hanya bisa protes. Dengarkan istrimu! Dia lebih menghargai mami dari pada kamu," Zela membela Silvi.
Reza melengos.
"Yang anak mami itu siapa sih?" ucapnya.
"Sewot aja kamu," seru Zela.
Edgar dan Silvi tertawa.
"Lebih baik kamu bawa masuk semua buah-buahan itu!" lanjut Mami Zela.
Edgar semakin terpingkal.
"Nanti tunggu Glen," Reza cemberut.
"Kemana pembantu yang mami bawakan kemarin?"
Zela menengok ke dalam rumah, rumah Reza dan Silvi terlihat sedikit berantakan. Ia memanggil pembantu itu, tapi tidak ada yang menyahut. Seketika Zela menatap tajam Reza dan Silvi bergantian.
__ADS_1
"Kalian kemanakan pembantu itu?" suara Zela terdengar menahan amarah.
"Silvi dan Reza tidak nyaman ada orang lain di rumah ini, mi! Jadi kami diberhentikan dia," jawab Reza.
"Kalian itu bagaimana, sih? Mami carikan pembantu agar rumah kalian selalu rapih, lagipula Silvi sedang hamil. Mami tidak mau Silvi terlalu lelah,"
Zela mengomel panjang kali lebar kali tinggi.
"Justru kalau tidak bergerak, tubuh Silvi akan pegal-pegal mami. Tidak apa kok, Kak Reza sering bantu Silvi juga," Silvi menenangkan mertuanya.
"Tapi, sayang..."
"Silvi baik-baik saja, mi!" Silvi tersenyum.
"Baiklah."
Mereka berjalan masuk ke dalam rumah. Di saat yang tepat, Glen datang. Entah kenapa Glen datang di hari libur seperti sekarang. Langsung saja Reza memerintah sekretaris serba gunanya.
"Glen..." ucap Reza sambil melirik tumpukan kardus buah.
"Apa, bos?" tanya Glen.
"Itu,"
"Itu kardus buah, bos!" jawab Glen kemudian.
"Iya, tahu!"
"Lalu?" tanya Glen.
"Bawa masuk lah!" seru Reza.
Kaki Glen meleyot seketika.
"Bos...Saya kesini niatnya mau numpang sarapan," ucap Glen.
Semua orang tertawa.
Pada akhirnya Reza ikut membantu Glen. Itu karena Glen selalu mengeluh lapar dan lemas. Jadi Reza bantu saja agar cepat selesai.
"Kamu duduk saja," Zela mendudukan Silvi di kursi.
Silvi tersenyum, beruntung sekali ia mendapat mertua seperti Mami Zela. Super perhatian, yeah walaupun sedikit berlebihan. Zela yang biasanya jarang beberes, pagi ini ia membereskan rumah anak dan mantunya. Baru kemudian ia memesan makanan untuk sarapan.
Setelah sarapan selesai, kini mereka hanya mengobrol santai diruang tengah. Dengan ditemani suara televisi yang dinyalakan. Di obrolan mereka, mereka lebih banyak membahas kehamilan Silvi.
"Pokoknya selama hamil ini, Silvi tidak boleh bolak-balik pakai tangga. Kamar kalian pindah bawah saja, atau besok mami pasangkan lift di rumah ini." ucap Zela.
"Kami pindah kamar saja ya, mi! Tidak usah dipasang lift segala," jawab Silvi dengan sopan.
"Baiklah. Terus, jangan sekal-kali kamu pergi sendiri ya, sayang! Harus ada yang menemani. Kalau Reza sibuk, telpon mami saja. Nanti mami akan mengantar kamu kemanapun."
"Iya, mami!" Silvi tersenyum penuh pengertian.
Ting tong,
Bel rumah Reza terdengar berbunyi lagi.
"Mau kemana kamu?" tanya Zela saat melihat Silvi hendak bangkit dari sofa.
"Buka pintu, mi..."
"Biar mami saja,"
Zela berjalan cepat ke depan. Lagi dan lagi Zela melarang Silvi melakukan sesuatu. Tidak masalah, Mami Zela tidak 24 jam di rumahnya. Biarlah untuk beberapa jam Silvi menurut padanya.
Cukup lama Zela ke depan. Baik Edgar, Silvi, Reza, dan Glen sekalipun merasa ingin tahu siapa tamunya dan apa yang mereka obrolkan. Hingga Zela terlihat kembali ke ruang tengah lagi. Tapi semua orang bingung. Zela datang sendirian tidak bersama tamunya yang biasanya akan dibawa masuk ke dalam.
"Siapa yang datang, mi?' tanya Edgar.
"Adadeh,"
"Mami, serius..." seru Reza.
__ADS_1
"Tetangga baru," jawab Zela.
"Tetangga baru yang mana, mi? Sebelah mana?"
"Rumah sampingmu itu!"
Zela menunjuk sebuah rumah yang ada di samping kiri rumah Reza yang kebetulan terlihat dari jendela ruang tengah.
"Kenapa nggak disuruh masuk, mi?" Silvi celingukan.
"Oh iya, lupa!"
Zela menertawai dirinya sendiri yang mulai pikun.
"Masuklah!" teriak Zela.
Dari arah pintu depan, muncul sepasang suami istri datang dengan membawa bingkisan. Reza hampir meloncat karena terkejut.
"Selamat pagi, tetanggaku!" seru seorang pria.
"Kami bawakan kue-kue kering sebagai tanda perkenalan kita sebagai tetangga," imbuh seorang wanita.
Mulut Silvi sampai menganga karena terkejut.
"Kalian?" tanyanya kemudian.
"Iya? Kami tetangga kalian," jawab sang pria.
"Jangan bercanda, kak! Stop!"
Hahahahaha....
Dave dan Aryn tertawa. Ya! Dave dan Aryn yang berkunjung ke rumah Reza. Perihal mereka yang menjadi tetangga baru Reza dan Silvi itu benar adanya.
"Kalian serius, kalian tetangga baru kami?" Reza tidak percaya.
"Iyalah!" sahut Dave sedikit sewot.
"Kapan? Mengapa? Bagaimana?" Silvi memberondong Dave.
"Kakakmu itu tidak bisa jauh darimu, Silvi! Jadi kemarin beli rumah hanya ada di sampingmu persis," Aryn terkekeh.
Semua orang tertawa.
Kecuali Reza, ia hanya terdiam. Dave sungguhan jadi tetangganya? Pasti akan ada saja alasannya untuk mengganggu kehidupan Reza. Tapi Reza tidak bisa bohong, ia rindu parfum Dave hehehe.
"Uncle Glennn!"
Davin menghambur ke arah Glen. Tadi ia berdiri di belakang daddy dan mommynya. Melihat ada Glen, membuatnya jadi bersemangat.
"Heyy, bos kecil!" Glen menyambut pelukan Davin.
"Main yuk, uncle!" seru Davin.
"Oke..." sahut Glen.
Kemudain Glen terdiam, kebahagiaannya langsung hilang. Ia baru menyadari, anak bosnya yang masih di dalam kandungan saja sudah menyusahkannya lahir dan batin. Apalagi sekarang Davin, si bos kecil jadi tetangga bosnya. Mereka tinggal bersebelahan.
"Eh sebelum main, Apin mau kasih tau. Apin ada peliharaan baru loh, uncle!"
"Bukan Singa laut lagi kan? Singa laut itu kamu tinggal di mansion, kan?" sahut Glen.
"Jelas, itu juga milik Uncle Emon,"
"Syukurlah...Terus kamu pelihara apa lagi, Apin?" tanya Glen.
"Nanti lihat saja sendiri, ayo ikut Apin!" Davin menarik tangan Glen agar mengikutinya.
Benar kan, Glen jadi semakin banyak kerjaan. Entah hewan apa yang akan ditunjukan Davin.
"Aku juga yang susah," gumam Glen.
................
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!