
"Glen...Baru kelihatan, dari mana saja?" seru Zela.
"Eh, Mami Bos ada di sini juga,"
Glen tidak tahu jika Mami Reza akan berkunjung hari ini. Tidak biasanya datang mendadak. Glen langsung bergabung di meja makan.
"Udah ketemu Reza?" seru Edgar.
Glen mengangguk.
"Sudah Papi Bos,"
"Bosmu itu sewot kalau tidak ada yang disuruh,"
Glen menggaruk leher belakangnya.
"Hehehe...Semalam saya mabuk berat, nggak bisa pulang! Salah mobil pula,"
"Rasain lo!" Dave sewot.
Glen menatap menu makan siang yang terhidang di meja. Ia mengangkat sebelah alisnya.
"Ada acara apa ini? Semuanya hijau,"
"Kau belum tahu, sebentar lagi kau akan mempunyai bos kecil..." hanya Edgar yang menanggapi Glen.
"Maksudnya?" Glen bingung.
Reza dan Silvi muncul dari belakang Glen.
"Silvi hamil," seru Reza.
"Wah.....Selamat bos!"
Glen langsung memeluk Reza.
"Lepasin!" seru Reza.
"Selamat ya bos,"
"Lepasin dulu!" Reza mendorong Glen agar melepaskan pelukannya.
"Peluk aku aja, Glen!"
Silvi menyambar Glen lalu memeluknya erat. Reza melongo, sesaat kemudian ia menarik istrinya agar jauh-jauh dari sekretaris laknatnya itu.
"Sekali lagi selamat ya, bos!"
Glen mengelap air matanya.
"Eww, cengeng!" seloroh Elie.
"Bukan cengeng, saya terharu!" bantah Glen.
"Laki bukan sih lo?"
"Siapa dia?" tanya Erick dan Edgar.
Semua orang menatap Elie. Sepertinya gadis itu tidak pernah kemari sebelumnya. Dilihat dari penampilannya seperti gadis urakan.
"Semalem saya salah masuk ke mobil dia, namanya Elie." jawab Glen.
"Ohh..."
Semua orang mengangguk paham.
Mereka mempersilahkan Elie untuk bergabung makan siang bersama mereka. Elie duduk di bangku dekat Aryn jadi berseberangan dengan Glen.Reza dan Glen juga sudah duduk di tempatnya. Tapi Silvi masih berdiri di samping suaminya itu.
"Sayang?" Reza menyenggol tangan Silvi.
"Hmm?"
"Kenapa tidak duduk?"
"Kak Reza bisa tolong geser?"
"Kenapa?"
"Aku mau duduk di samping Glen,"
"No no...Tidak boleh!" Reza menolak.
"Please!" Silvi memohon.
"Reza...Mulai sekarang kamu harus menuruti permintaan Silvi!" Zela membela.
"Betul itu! Karena itu permintaan dari bayimu," Katy menambahi.
"Rasain! Kalau bisa suruh suamimu itu beli kebab dari Turki, atau kepiting alaska dari Laut Bering langsung saja Silvi!" Dave mengejek.
"Diam kau!" Reza geram.
__ADS_1
"Sudah kak, cepat geser!" Silvi memaksa.
Mau tidak mau, suka tidak suka, Reza tetap geser tempat duduk. Kursinya sekarang di tempat Silvi. Jadi Silvi duduk di antara Reza dan Glen. Bumil itu tampak tersenyum senang. Glen hanya tersenyum canggung. Takut jika setelah makan siang nanti diomeli bosnya.
Reza menatap Elie, sepertinya gadis itu cocok untuk Glen. Siapa tahu jika Glen bersamanya sekretarisnya itu bisa lebih laki.
"Elie kan namamu?" seru Reza.
"Iya,"
Gadis itu menjawab tanpa menatap Reza. Tidak sopan.
"Apakah Glen merepotkanmu semalam?"
"Jelas...Dia tidur di mobil gua sampai pagi. Gua juga yang harus nganterin dia, katanya ponselnya mati lah, dompetnya ketinggalan lah, banyak alasan. Ditambah lagi dia minta traktir sarapan. Kalau porsi sarapannya normal sih it's okay. Dia makan seperti belum makan setahun." Elie mengomel.
Glen tersenyum canggung.
"Hehehe..."
"Nanti aku ganti. Kau tinggal di kota ini juga?" seru Reza.
"Okay..."
"Gua tinggal di kota N," ujar Elie kemudian.
"Kalau gua jadi lo, gua buang dia di pinggir jalan!" seloroh Dave.
"Gua udah niat gitu, tapi gua masih punya rasa kemanusiaan." Elie terkekeh.
"Kamu belum punya pacar, kan?" tanya Silvi to the point.
Elie hampir tersedak. Pacar? Ia jadi ingat mantan pacarnya yang mengkhianatinya. Hubungannya baru kandas semalam.
"Pacarnya selingkuh, Bu Bos!" Glen yang menjawab.
"Oh so sad,"
Silvi menatap Reza sambil tersenyum. Silvi seperti mendapat lampu hijau untuk menjodohkan Glen dengan Elie.
"Zaman sekarang kita sebagai wanita harus berhati-hati, Elie.Jangan mudah percaya dengan pria. Bilangnya cinta tapi di belakang mendua. Tapi nggak semua pria begitu. Contohnya suamiku dan sekretarisnya ini. Glen itu belum pernah berhubungan dengan wanita manapun. Orangnya juga nggak macem-macem. Kamu lihat sendiri kan seberapa parah dia mabuk semalam, padahal dia cuma minum dua gelas saja loh. Waktunya cuma habis untuk melayani suamiku, nongkrong aja nggak sempat dia. Apalagi mempermainkan wanita." ujar Silvi.
Reza geleng-geleng kepala. Istrinya paling ahli dalam bersilat lidah. Sementara Glen, ia terlihat biasa saja.
"Terus?" Elie mengangkat sebelah alisnya.
"Ya begitu. Aku hanya menghiburmu saja agar tidak terlalu sedih," Silvi menyengir.
"Ohh..."
"Dia judes banget orangnya," bisik Reza.
"Iya, pelan-pelan saja! Aku yakin mereka cocok klop!"
Mereka kembali memakan makan siang dengan khidmat. Kecuali Silvi, entah kenapa ia suka memandangi Glen yang sedang makan di sebelahnya.
"Makan yang banyak Glen," ucap Silvi pada sekretaris suaminya itu.
"Hehehe...Siap Bu Bos!"
"Suamimu itu aku," Reza protes.
"Sssttt... Ingat bayi kita!"
"Hmm," Reza cemberut.
"Sabar.. " Aryn menertawai Reza, begitu juga Dave.
++++++++++++++
Di waktu yang sama namun beda tempat,
Mei masih berkutat dengan berkas yang berserakan di mejanya. Sejak tadi ponselnya berbunyi, Mei hanya melirik ke layar ponsel yang menyala. Ada banyak pesan masuk ternyata. Dari mamanya, dan juga Aryn. Tapi pekerjaannya masih banyak. Akan ia buka dan balas nanti pesan singkat mereka.
Sekarang memang jam makan siang. Dari jendela di seberangnya, ia bisa melihat beberapa karyawan keluar gedung untuk membeli makan siang di luar. Mei sebenarnya sangat lapar, tapi pekerjaannya nanggung.
"Akhirnya..." Mei bernapas lega.
Setelah hampir 15 menit, pekerjaannya selesai juga. Waktu istirahatnya jadi semakin mepet. Hanya tersisa 15 menit lagi. Mei tahu betul pria yang ia nikahi kemarin adalah pemilik perusahaan ini. Tapi Mei hanya bersikap profesional saja, ia harus tetap mematuhi aturan.
Sebelum beranjak dari kursinya, Mei melirik ke pintu penyekat ruangannya dengan Zack. Pintu itu masih tertutup rapat. Ia mengetuknya perlahan.
Ada suara Zack yang menyahut dari dalam.
"Masuk!"
Mei berjalan menghampiri meja Zack. Nampak Zack tengah sibuk mengetik sesuatu di ponselnya. Entahlah, yang pasti Zack tidak melihat Mei sedikitpun saat sekretaris yang sekarang istrinya itu masuk ke ruangannya.
"Sudah waktunya makan siang,"
"Aku tahu,"
__ADS_1
"Aku makan keluar,"
"Go ahead,"
Mei terdiam.
"Kamu tidak makan?" tanyanya.
"Aku masih kenyang,"
"Baiklah...Apakah kamu mau dibawakan sesuatu? Kopi mungkin?"
"Yes please,"
"Okay.."
Mei keluar ruangan Zack.
"Dia kenapa?" gumam Mei.
Biasanya Zack selalu antusias saat mengajaknya bertengkar. Setiap percakapan dengan Zack pasti berujung pertengkaran. Tidak peduli sedang berada di kantor atau di luar. Mei merasa hampa hari ini Zack menjadi dingin. Tidak serese dan semenyebalkan kemarin sebelum menikah. Apakah mungkin Zack menyesal sudah menikahinya?
Sudahlah, Mei tidak mau terlalu memikirkan. Mei berjalan keluar gedung kantor seorang diri. Ia menuju salah satu cafe dekat kantor itu. Makanan di cafe itu enak baginya.
"Silahkan," seorang waiters membawakan pesanannya.
"Thanks,"
Mei sedikit terkejut karena ia melamun tadi. Mei menatap makanan di hadapannya. Mendadak ia jadi tidak selera untuk makan.
"Kenapa tidak dimakan makanannya?" seru seseorang.
"Zain?" pekik Mei terkejut.
Kakak iparnya itu kini duduk di hadapannya. Jujur saja Mei sangat terkejut, pasalnya Zack mengatakan jika kakaknya itu di luar negeri mengurus hotel. Waktu pernikahannya kemarin saja Zain tidak hadir. Mendadak pria itu sekarang ada di hadapannya.
"Kok kamu," ucapan Mei terpotong.
"Kenapa aku ada di sini gitu?" Zack terkekeh.
"Iy..iya.."
"Ya nggak apa-apa, pengen pulang aja.."
"Kenapa tidak datang kemarin?"
"Ke pernikahanmu dengan Zack? Tidak lah..."
"Kenapa?" Mei semakin penasaran.
"Males,"
"Kok males?"
"Kamu mau bertanya terus atau makan? Aku jawabnya nanti aja, ya? Laper,"
Zain mengambil alih pesanan Mei dan langsung melahapnya.
"Heh itu punyaku," protes Mei
"Pesan lagi aja!"
Mei mengalah, ia memanggil pelayan untuk memesan lagi. Ia tertawa melihat Zain yang makan seperti orang belum makan setahun.
"Enaknya..."
Zack mengelus perutnya, dalam lima menit makanan itu sudah tandas. Sednagkan makanan Mei baru sampai. Mei cukup terkejut. Waktu kuliah dulu, Zain terkenal sebagai dosen yang cool dan keren. Ia tidak menyangka Zain akan bersikap seperti ini di hadapannya.
"Zack tidak makan siang denganmu?"
"Dia masih di ruangannya,"
"Loh? Biasanya pengantin baru lengket seperti perangko?"
"Tidak semua. Apalagi bagi mereka yang belum menerima pernikahannya."
Wajah Mei seketika berubah jadi sendu.
"Zack belum menerima pernikahan kalian? Apakah dia bersikap buruk?" Zain terkejut.
"Hmm dia tidak bersikap buruk. Tapi ya begitulah,"
Mei menceritakan perubahan Zack yang terjadi. Padahal baru kemarin mereka menikah. Zain mendengarkan keseluruhan cerita Mei. Mei rasa tidak masalah jika ia bercerita pada Zain, Zain adalah kakak iparnya sekarang. Mana tau Zain bisa membantunya untuk memahami dan mencari solusi mengenai perubahan sikap Zack yang drastis ini.
Di saat Mei dan Zain masih mengobrol. Mereka tidak menyadari ada seseorang yang berjalan menghampiri meja mereka.
"Mana kopiku?"
....................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!
__ADS_1