
"Tembak aku! Ayo, tunggu apa lagi? Aku bisa mati dengan tenang sekarang," seru Myra.
"Aku tidak akan membiarkanmu mati semudah itu!" sahut Dave.
Dave menurunkan pistolnya. Tangannya merebut pistol yang dibawa Myra dan membuangnya jauh.
Plak plak
Dave menghadiahi Myra dengan dua tamparan keras. Myra sampai tersungkur ke lantai marmer yang dingin.
"Ikat dia!" Dave memerintah anak buahnya.
Dave terdiam memandangi Myra yang sedang diikat. Mendengar papanya menangis histeris, Dave menoleh. Ia menatap karung penuh darah itu. Sudah dibuka sebagian. Dave melupakan amarahnya pada Myra, ia berlutut di samping Erick. Sisi bergeser dari tempatnya, seolah memberikan tempat untuk mereka berdua.
Zack, Samuel, dan Glen tidak berani mendekat. Karena mereka takut melihat darah. Glen menempelkan kepalanya ke punggung Reza, menangis tersedu-sedu.
"Bos...Besok tidak akan ada lagi yang mengajakku bermain sumo-sumonan huhuhu...Walaupun badan saya sakit semua, tapi saya pasti akan merindukannya, bos!" rengek Glen.
"Ya sudah main saja denganku! Biar aku banting kau di atas batu!"sahut Reza.
"Dalam suasana haru begini, bos masih saja jahat!" Glen menangis tersedu-sedu.
Davin dan Erick masih menatap karung Davin. Erick merangkul bahu Dave untuk mengauatkannya. Dave bergumam, ia tidak akan mengampuni Myra dan semua sekutunya. Myra harus mendapatkan kematian yang paling menyakitkan.
Frans menundukkan wajahnya, ia tidak tega melihat Dave dan Erick yang bersimpuh di depan mayat Davin. Dalam hatinya ia mengutuk dirinya sendiri. Dave menaruh kepercayaan yang besar kepadanya, tapi dirinya telah mengkhianati kepercayaan yang tulus itu.
Sementara Reza, ia tersenyum tipis melihat semua sahabatnya menangis. Hal ini jarang terjadi, bahkan belum pernah terjadi. Reza jadi tidak tega jika seperti ini. Sepertinya Reza harus mengakhiri permainan ini sekarang. Kasihan juga melihat semua orang menangis seperti ini.
Reza mengantongi kembali pistolnya. Karena semua musuh yang masih hidup sudah diikat. Ia mengangkat tangannya, lalu menepuk tangannya beberapa kali. Seperti memanggil seseorang. Semua orang menatap Reza dengan penuh tanya. Apa yang dilakukan Reza?
"Masuk!" teriak Reza.
Semua orang terperangah melihat Zain kakak Zack masuk dari pintu depan, dia menggandeng seorang anak kecil. Anak kecil itu tengah makan ice cream dengan asyiknya. Bahkan saat masuk pun Anak itu lebih fokus menjilati ice creamnya, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Astaga!" pekik Samuel.
"DAVINNN!!!" teriak Glen.
Glen berlari menghampiri Davin. Lantas Glen menggendong dia, mengajaknya berputar di udara beberapa kali. Glen senang bukan main, ia tidak bisa membayangkan jika kehilangan sosok bos kecilnya itu.
"Tulun uncle, tulunin Apiinnn!" teriak Davin.
"Maaf maaf, uncle terlalu happy!" Glen menurunkan Davin.
Dave, Erick, dan semua orang saling memandang. Mereka masih belum paham apa yang terjadi. Dave berjongkok, membuka karung yang ia kira Davin tadi.
Sett,
Karung dibuka, Erick memekik terkejut. Itu bukan Davin tapi anak lain. Hanya baju, sepatu, dan jam tangannya saja yang milik Davin. Erick memeluk Dave dengan erat. Lantas keduanya menghampiri Davin dan memeluknya. Samuel dan Zack juga bergabung memeluk Davin dengan erat. Tubuh kecil Davin meronta saat dipeluk empat orang dewasa sekaligus.
__ADS_1
"Kenapa semua olang peluk Apin? Apin nggak bica napas ini..." teriak Davin.
"Kami semua senang, sayang!" jawab Erick, mereka semua melepaskan pelukan.
"Benar itu, jagoan daddy tadi dari mana saja?" Dave mengacak rambut Davin.
"Tadi diajak Aunty Sisi beli ice cream, eh telus diajak main cama uncle ini!" jawab Davin.
"Kenapa kau bisa sama Davin?" tanya Zack pada Zain kakaknya.
Zain hanya tersenyum tanpa menjawab. Zain melirik Reza lantas Zack juga ikut menatap Reza. Sepertinya Zack hanya akan mendapat jawaban dari Reza saja.
"Za? Kenapa Zain ada disini? Bagaimana bisa Davin juga bersamanya bukannya tadi Davin menyahut saat dipanggil Dave?" seru Zack.
Flashback on,
Napas Sisi ngos-ngosan, ia baru saja kembali dari ruangan Myra. Untung saja tidak ketahuan. Ia bergegas mengirim pesan singkat untuk Reza, melaporkan apa yang ia dengar. Yaitu, Myra akan membunuh Davin di hadapan Dave.
Lima menit lamanya Sisi menunggu balasan. Hingga akhirnya dahi Sisi mengkerut, ia mendapat tugas yang beresiko. Ia tidak ada pilihan lain. Tempo hari saat ia dikunci di kamar mandi oleh Reza, ia hampir mati karena ketakutan. Di dalam kamar mandi ada kecoa. Entah beruntung atau sial, Reza datang kembali dan mengeluarkannya dari sana. Ternyata dia mengajaknya bekerja sama. Jika Sisi membantunya maka Reza akan memberikan upah yang sangat besar. Bahkan cukup untuk operasi kelamin, hal yang sangat diinginkan Sisi sejak lama. Akhirnya tanpa mempertimbangkan lagi, Sisi menerimanya. Toh pada saat itu Reza menempelkan ujung pistol ke dahinya, jika ia menolak pasti kepalanya meledak waktu itu.
Sisi mengguncang tubuh kecil Davin yang masih terlelap. Ini adalah tugas terpentingnya.
"Davin ganteng, ayo bangun!" bisik Sisi.
Davin menggeliat pelan, dan langsung duduk. Kedua bola mata bulatnya menuntut penjelasan dari Sisi kenapa ia dibangunkan pagi buta seperti ini.
"Aunty Sisi pengen makan ice cream nih, beli yuk!" ajak Sisi
"Hey Davin!" sapa pria itu.
"Apin telkenal ya, aunty? Kok uncle ini tahu Apin?" tanya Davin.
"Dia teman daddymu, ganteng! Namanya uncle Zain! Kamu beli ice creamnya sama Uncle ya? Aunty kebelet pipis nih!" jawab Sisi.
"Okay deh!" Davin berlarian masuk ke supermarket.
"Nih!" Zain menyerahkan anak kecil yang ia bawa tadi kepada Sisi.
"Okay! Aku pergi dulu ya, ganteng!" Sisi mencolek dada bidang Zain.
"Jangan sok kecentilan deh, aku tahu kau itu laki!" jawab Zain jijik.
Lantas Sisi pergi meninggalkan supermarket. Zain mengikuti Davin yang langsung menuju freezer berisi ice cream. Davin mengambil ice cream dengan cepat. Setelah membayar, Zain mengajaknya kembali ke bar lagi sesuai rencana. Davin nanti akan menyapa semua orang.
Sebenarnya Zain tidak suka ikut campur dalam masalah seperti ini. Tapi karena Reza yang memintanya, Zain tidak bisa menolak. Malam itu Reza mendatanginya ke apartemen. Dia mengatakan sedang mempunyai masalah. Reza menunjukķan foto Myra, jelas saja Zain langsung mengenali. Zain juga menceritakan bagaimana sikap Myra padanya. Zain marah saat tahu Myra bukan orang baik, ia memutuskan bergabung untuk menangkap Myra.
Sementara Sisi, ia cepat-cepat mengganti pakaian, sepatu, serta jam tangan anak laki-laki tadi dengan milik Davin. Ah rasanya tidak tega menjadikan anak ini pengganti Davin. Tapi kalau tidak ya bagaimana lagi. Sisi menutupi anak laki-laki itu dengan karung sesuai perintah bosnya barusan.
"Sisi....." tiba-tiba nama Sisi dipanggil Myra.
__ADS_1
"Kita mulai petak umpetnya ya, nanti diam saja jangan berisik!" perintah Sisi.
Pasti sudah tiba waktunya, Sisi menggandeng anak laki-laki dalam karung itu keluar. Jantung Sisi berdegup kencang. Apalagi saat Dave memanggil Davin.
"Davin?" seru Dave memanggil Davin.
"Iya, Daddy!" terdengar Davin menyahut, suaranya memang suara Davin.
Yang sebenarnya terjadi adalah itu bukan Davin langsung yang menjawab. Tapi suara rekaman Davin yang disiapkan Sisi sebelumnya. Jadi Sisi tadi sudah menyuruh anak yang mengantikan Davin untuk memutar rekaman itu saat ditanya. Untung saja dia menuruti ucapan Sisi.
"Are you okay?" tanya Dave.
"Iya, Daddy!" sahut Davin lagi.
Flashback off
"SISI!!!! Sialan kau! Beraninya berkhianat!!!" teriak Myra dengan penuh amarah.
Sisi lantas berlari dan bersembunyi di belakang tubuh Reza. Myra semakin menatapnya dengan amarah. Bagaimana bisa anak buahnya sendiri menggagalkan rencananya. Dave menghampiri Reza, ia menatap Reza dengan tajam. Ada banyak pertanyaan yang ada dibenaknya. Sebenarnya apa yang terjadi?
"Terus bisa lo jelasin kenapa Frans lo tangkep? Ken?" seru Dave.
Reza mengangguk, ia berjalan mendekati Myra. Berhenti di hadapan Myra cukup lama baru ia mulai bicara.
"Wanita ini sangat licik! Dia hampir membunuh semua orang dengan ular-ular itu. Insiden itu tidak mungkin berhasil jika hanya mengandalkan agen bayaran. Waktu aku tidak bisa tidur, aku membantu Joe di ruang keamanan. Saat itu juga aku mendapat rekaman yang menunjukkan saat agen bayaran Myra beraksi. Tapi sebenarnya bukan hanya itu, setelah aku teliti lagi di salah satu rekaman terlihat Frans diam-diam keluar dari paviliun pelayan. Kalau tidak ada info dari orang dalam bagaimana mungkin agen itu tahu jalur rahasia di ventilasi gudang? Aku mengumpulkan bala bantuan untuk kasus ini, jadi aku menghubungi Ken. Dan di detik-detik terakhir mengakibatkan Zain dan Sisi. Meskipun dengan sedikit paksaan," ucap Reza, ia menatap Frans dengan sinis.
"Frans???" Dave menatap Frans.
"Saya...Emm...." Frans tidak bisa menjawab.
"Biar aku bantu jelaskan, Frans! Kau juga merupakan anak buah Myra, bukan? Kau adalah mata dan telinganya! Kau memantau semua orang dengan melihat CCTV di ruang keamanan karena selama ini kau memanfaatkan tugasmu di mansion untuk keuntunganmu. Kejadian teror tadi malam, kau yang meletakkan bangkai itu kan? Agar Dave panik dan segera kemari. Dengan begitu kalian menjebak Dave seperti tadi. Tapi sayangnya, sepandai-pandainya kalian tidak akan bisa mempermainkan kami! Sejak Reza melihatmu keluar dari paviliun pelayan, aku selalu mengawasi. Meskipun aku berada jauh dari mansion, tapi itu justru membuatku lebih mudah mengawasimu!" sahut Ken.
Ken mengencangkan cekalannya pada tangan Frans. Sampai Frans meringis kesakitan. Sebenarnya Ken baru saja sampai semalam, tapi ia memutuskan untuk ikut bersama Reza. Menangkap musuh dalam selimut ini. Beberapa hari yang lalu Reza menghubunginya, Reza menceritakan semua masalah dan meminta bantuannya. Semua yang menyangkut bosnya, adalah kewajibannya juga.
"Dasar tidak berguna!!!" teriak Myra.
"Maaf....Maaf...." hanya itu yang terucap di bibir Frans.
Plak plak,
Dave menampar Frans dengan sangat keras. Ia benar-benar kecewa, selama ini ia menaruh kepercayaan yang sangat besar untuk Frans. Tapi malah Frans lah yang membuat musuh masuk dan menangkap putranya? Dave masih mengira Frans sama dengan Frans yang pertama kali ia temui saat di luar negeri. Sopir rumah yang bisa segalanya berubah menjadi musuh dalam selimut.
Tidak ada yang memperhatikan Myra. Diam-diam ikatan di tangannya bisa ia potong dengan sebuah pisau yang ia dapat dari anak buahnya. Anak buahnya tadi melempar pisau dari lantai. Dengan cepat ia mengambil pistol.
Dor dor,
.....................
Maaf author telat update!!! Sedang ada urusan di dunia nyata hehehe...
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!