Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
TEROR


__ADS_3

"Aaaa...Kak...Kak Reza!" Silvi berteriak setelah melihat isi kotak itu.


"Hah!" di kamarnya Reza langsung terduduk di ranjang.


Mendengar teriakan Silvi, Reza langsung panik. Reza lari tunggang langgang keluar dari kamar.


Gedubrak,


Gedubrak,


Reza tersandung selimutnya. Selimut itu kini tercecer di lantai depan kamar. Ia tidak peduli. Yang ada di pikirannya sekarang ia harus menemui Silvi.


"Ada apa, Silvi?" tanya Reza.


Napas Reza ngos-ngosan, ia memegangi lututnya.


"Tadi ada yang mengetuk pintu, saat aku buka tidak ada orang malah ada kotak ini. Lihat isinya, kak!" jawab Silvi.


"Apakah hanya karena kotak ini kamu teriak seperti tadi, sayang?" keluh Reza.


"Iya, tapi lihat dulu isinya!" sahut Silvi.


Reza menghela napas, ia hampir jatuh tadi. Ia pikir terjadi sesuatu dengan Silvi. Ternyata hanya menunjukkan kotak itu. Reza melihat ke dalam kotak.


"Apa ini?" teriak Reza.


Bruk,


Reza melemparkan kotak itu. Silvi memeluk Reza dengan erat.


"Siapa yang mengirimnya, kak?" lirih Silvi.


"Aku tidak tahu, sudah jangan khawatir aku akan urus semuanya!" Reza mengelus kepala Silvi.


Reza membawa Silvi kembali ke kamarnya. Meninggalkan seekor bangkai anak anjing dipenuhi belatung yang tergeletak di lantai karena ia lempar tadi.


Sesampainya di kamar, Silvi berbaring di ranjang. Reza mengecup keningnya sekilas.


"Jangan berpikir yang macam-macam, istirahatlah!" ucapnya.


Silvi mengangguk lantas Reza meninggalkan kamar. Ia kembali ke ruang tamu sambil membawa sekop. Sekop itu digunakan Reza untuk mengambil bangkai itu dari lantai. Reza buang bangkai itu ke tempat sampah depan rumah, kebetulan truck sampah langsung mengangkutnya.


"Kurang ajar sekali orang yang mengirim bangkai itu!" umpat Reza.


"Bangkai?" sahut seseorang.


Reza terkejut, ia celigukan mencari siapa yang bicara.


"Dave!" pekik Reza.


Kakak iparnya itu muncul dari sela-sela pagar samping pembatas dengan rumah sebelah. Reza hampir lupa Dave adalah tetangganya.


"Ngapain di situ, nguping ya?" seru Reza.


"Suka-suka gua! Jawab pertanyaan gua, bangkai apa?" sahut Dave.


"Idih kepo!"

__ADS_1


"Adik ipar laknat!" seru Dave.


Reza melenggang masuk ke rumah tanpa mempedulikan Dave.


"Zaaa...." tidak Dave.


Reza cuek, lalu menutup pintu rumahnya dengan keras.


"Sialan pria itu!" Dave juga masuk ke rumahnya.


"Ada apa sih, sayang?" Aryn di dekat pintu.


"Tau tuh Reza, ditanyain buang bangkai apa malah sewot!" ucap Dave sewot.


Aryn tersenyum, perasaan saat ini Dave juga sewot malah mengatai orang lain.


"Ya sudah, ayo makan dulu!"


"Kita sudah makan siang tadi," jawab Dave heran.


"Sekarang sudah sore, waktunya cemilan sore! Aku sudah masak!" ucap Aryn.


Makan lagi, begitulah aktivitas Dave kalau tidak ngantor. Makan lagi, makan terus. Semenjak Aryn mengikuti kelas memasak dan pindah ke rumah ini, Aryn jadi suka sekali memasak. Sehari mereka semua bisa makan sampai 5 kali.


Aryn menggandeng suaminya ke meja makan. Di sana sudah ada Davin yang menunggu. Wajah putus asanya tidak beda dengan Dave.


"Kita kabur? Daddy masih kenyang, tidak sanggup makan lagi," bisik Dave pada Davin.


"Tapi daddy, mommy tidak akan membiarkan kita kabur begitu saja. Dia lebih sayang masakannya," jawab Davin.


"Jangan coba-coba kabur ya, mommy sudah capek masak!" Aryn muncul dari dapur membawakan donat kentang sebagai cemilan sore mereka.


Mereka berdua makan donat kentang yang disajikan Aryn. Karena rasanya enak, mereka berdua juga kalap. Awalnya ogah-ogahan tapi habis juga didonatnya.


Setelah selesai makan cemilan, Dave mengelus perutnya. Davin melakukan hal yang sama.


Buing,


Perut mereka besar menyembul. Lalu mereka tertawa bersama.


++++++++++


Di sebuah apartemen,


Seorang pria meneguk wine dari gelasnya. Ini sudah gelas kelimanya. Wajahnya masih terlihat bugar, menandakan ia terbiasa meminum minuman beralkohol itu. Ditambah lagi ia mendapat telepon dari orang suruhannya.


"Kotak sudah sampai ke target, bos! Setelah saya tinggalkan kotak itu langsung diambil!"


Begitulah laporan yang ia terima dari orangnya tadi. Sekarang ia menuang wine lagi.


"Rencana A gagal, sekarang Rencana B yang akan aku teruskan!" seru pria itu sambil mengangkat gelasnya.


+++++++++++


"Apakah Zara yang melakukannya?" lirih Reza.


"Menurut saya bukan, bos! Kan bos sendiri yang menyuruh saya memantau Zara. Hari ini dan hari-hari sebelumnya dia tidak ada pergerakan," jawab Glen.

__ADS_1


Reza menelpon Glen untuk datang ke rumah, karena ada kiriman bangkai anak anjing tadi.


"Malah bos menyuruh saya kan melakukan teror untuk Zara agar wanita itu pulang ke Paris? Dia sudah pesan tiket ke Paris loh. Atau jangan-jangan ini dari musuh lain, bos?" lanjut Glen.


"Musuh lain? Siapa" Reza mengangkat sebelah alisnya.


"Iya, nggak tau! Bos saja bisa meneror Zara, orang lain juga bisa meneror bos." jawab Glen.


Glen membahas tugas yang diberikan Reza sejak beberapa hari terakhir. Bosnya itu menyuruh Glen untuk meneror Zara. Glen melakukan segala cara agar Zara cepat pulang. Pertama, Glen mengirimkan baju penuh darah dengan surat ancaman misterius. Telepon misterius yang berulang dalam 24 jam. Sampai Glen menyewa orang untuk berpura-pura menjadi hantu.


Reza berpikir Zara balas dendam kepadanya. Tapi menurut pengawasan, Zara tidak ada pergerakan bahkan akan segera pulang ke Paris.


"Perketat pengawasan pada Zara, mungkin kita lengah. Zara masih wanita licik seperti dulu," seru Reza.


"Ya elah si bos, kata mama saya nih ya, jangan berburuk sangka sama orang lain, apalagi cuma melihat dari perbuatannya di masa lalu. Siapa tahu ia sudah bertaubat dan menjadikan masa lalunya sebagai pelajaran hidup." ucap Glen memberikan petuah.


"Siap, Eyang Glen!" jawab Reza seraya menunduk, kemudian tertawa.


Glen malah ikut tertawa.


"Sekarang saya harus melakukan apa, bos?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Sepertinya saya butuh petunjuk dari Eyang," Reza menunduk lagi.


Glen meladeni Reza, sekali-kali boleh juga jadi Eyang.


"Begini anak muda, Eyang sarankan kamu untuk melihat segala hal dari sisi positifnya. Misalnya, untuk memberikan petunjuk saya butuh tenaga. Kamu sebaiknya sediakan makanan yang lezat dan banyak untuk saya. Walaupun kamu keluar uang, tapi kamu akan mendapat petunjuk yang kamu mau." ucapnya.


"Apa hubungannya? Dasar perut gentong, bilang aja laper!" Reza menoyor kepala Glen.


Glen tertawa.


"Iya bos," ucapnya.


"Di lemari es masih ada makanan instan, panasin sendiri! Kalau udah kenyang cepat kesini, aku akan katakan apa tugasmu selanjutnya," Reza memerintah.


"Bahagianya saya...Bos baik hari ini..." Glen merentangkan tangannya hendak memeluk Reza.


"Nggak jadi deh,"


"Eh eh, iya iya maaf bos!" Glen sadar, ia langsung lari ke dapur.


Glen langsung menuju lemari es. Senyumnya lebar saat membuka benda itu untuk melihat makanan apa yang ada di dalamnya.


"Wah, enak-enak makanannya," seru Glen saat melihat isinya.


Tak menunggu lama lagi, ia langsung gerak cepat. Glen hanya perlu menusuk penutup wadahnya dengan garpu. Lalu masukkan ke dalam microwave, nyalakan, dan tunggu deh.


2 menit kemudian makanannya sudah siap, Glen buka penutupnya. Aroma lezat menyeruak keluar. Hidup di zaman modern memang semua serba simpel, kalau tidak mau ribet memasak beli saja makanan instan.


Seperti yang dilakukan bosnya, di lemari es selalu ada makanan seperti ini. Isinya bisa bermacam-macam. Misalnya yang akan dimakan Glen, Bacon mac and cheese.


"Nyam nyamm..." Glen menikmati makanannya.


Makanan instan boleh saja dimakan, tapi tidak boleh dimakan terlalu sering juga. Bisa membahayakan kesehatan orang yang mengkonsumsinya.


Satu suap, dua suap...Akhirnya Glen bisa makan dengan tenang.

__ADS_1


..............


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2