
Di kampus Aryn,
Mei menopang dagunya dengan kedua tangannya. Kedua matanya tak lepas dari sosok Zain yang baru masuk ke kelas. Akhirnya kelas yang ia rindukan akan segera dimulai. Dosen muda itu tampak meletakkan laptop dan beberapa bukunya di meja. Dia menyingsingkan sedikit lengan kemeja hitamnya.
"Selamat pagi!" Zain membuka kelas, pesonanya meningkat karena kemeja hitam yang ia gunakan.
"Selamat pagi..." jawab semua mahasiswa.
"Ah..." desah Mei.
"Kamu kenapa ih?" Aryn menyikut lengan Mei.
"Jantungku nggak kuat, ganteng parahh!" ucap Mei.
"Kebiasaan deh, jangan malu-maluin please!"
"Aryn, Mei! Kalau mau mengobrol diluar saja!" seru Zain.
"Maaf, pak! Maaf...." Aryn gelagapan saat ditegur Zain.
"Saya sama Aryn mau kok pak ngobrol di luar, asalkan Pak Dosen juga ikut hehehe..." seloroh Mei.
"Huuuuuuuu...." sorak mahasiswi lain.
Di saat kelas Zain, para mahasiswi lebih dominan dibandingkan dari mahasiswanya.
"Stop semuanya! Sekarang saya mau memperkenalkan mahasiswi baru kepada kalian, jangan dinakali ya! Ayo Myra, masuk!" Zain memanggil seseorang yang ternyata sedari tadi menunggu di depan kelas.
Seorang gadis masuk ke kelas mereka. Seketika semua mata memandang ke arah gadis itu. Para pria memanggil menggoda, karena penampilan gadis itu terbilang hot. Ia menggunakan rok yang pendek, memperlihatkan paha mulus dan rampingnya. Sementara para wanita yang di kelas itu menatapnya dengan sinis. Tidak terkecuali Mei, ia seperti mendapat saingan baru. Sepertinya hanya Aryn saja yang bersikap biasa saja.
"Silahkan perkenalkan dirimu pada teman-teman barumu, Myra!" ucap Zain.
Myra mengangguk dan tersenyum malu pada Zain. Bagi kaum adam, senyum Myra sangat menawan. Bagaikan oasis di tengah padang pasir, azeekkk.
"Selamat pagi, perkenalkan saya Myra pindahan dari kota N. Semoga kita semua bisa menjadi teman baik, terima kasih!" ucap Myra dengan sopan.
"Baiklah, cukup! Duduklah di bangku yang kosong sebelah sana!" Zain menunjuk bangku yang terletak di depan Aryn dan Mei.
Myra berjalan ke bangku yang dimaksud Zain. Gadis itu melemparkan senyum pada Aryn dan Mei. Aryn membalasnya dengan senyuman manis juga.
"Aku Aryn," Aryn mengulurkan tangannya.
"Semoga kita jadi teman baik," Myra menyambut uluran tangan Aryn.
Mei memutar bola matanya malas. Sejak Myra pertama kali melangkahkan kakinya ke kelas ini, ia sudah membencinya. Aryn menyenggol lengan Mei. Bermaksud agar Mei juga berkenalan dengan Myra. Mei menolak, ia baru mau berkenalan saat Aryn mencubit lengan sahabatnya itu.
"Aww...galak banget nih mamah muda," pekik Mei.
"Gua Mei!" Mei terpaksa mengulurkan tangannya.
Tapi sebelum tangannya bersentuhan dengan tangan Myra, ia menarik tangannya. Diluar dugaan, Myra hanya senyum lalu fokus memperhatikan pembelajaran yang diberikan dosen.
"Mei jangan gitu," bisik Aryn ditengah-tengah pembelajaran.
Sejak tadi Mei menjahili Myra. Menarik rambut, kadang menyogok punggungnya dengan pulpen, bahkan menendang kursi Myra. Tidak biasanya Mei bersikap seperti ini pada mahasiswi lain. Padahal Mei tidak pernah bersikap buruk pada mahasiswi yang menjahatinya sekalipun.
"Aku pokoknya nggak suka sama dia, aku ada feeling dia orang jahat. Lihat saja mukanya, seperti iblis yang tersenyum. Dia itu kelihatan baik karena cuma untuk cari perhatian, mana centil banget sama Pak Dosenku!" bisik Mei bersungut-sungut.
"Kamu dukun?" balas Aryn.
__ADS_1
"Enggak lah!" protes Mei.
"Kenapa bisa bilang dia jahat, padahal baik gitu. Walaupun kamu jahilin dia tetep senyum sama kamu loh!" ucap Aryn.
"Jangan percaya sama senyumnya itu, aku aja jijik!" jawab Mei.
Aryn menghela napasnya, Mei berlebihan hari ini. Senyum secantik itu kenapa disebut senyuman iblis? Tapi sebenarnya saat melihat senyuman itu Aryn juga sedikit curiga. Tiba saatnya kelas mereka selesai hari ini. Seharusnya Mei ceria karena hari ini jadwalnya hanya kelas Zain saja. Siapa yang menduga mereka akan kedatangan mahasiswi baru? Mood Mei memburuk.
Aryn dan Mei berjalan beriringan menuju parkiran depan. Keduanya mengobrol tanpa henti. Di samping mobil, Frans sudah siap membukakan pintu mobil untuk mereka.
"Silahkan nona nonaku yang cantik," Frans menyambut Aryn dan Mei.
"Aryn!" teriak seseorang dari belakang mereka.
Aryn, Mei, dan Frans menoleh. Siapa yang meneriaki Aryn? Mengganggu saja, mereka ingin segera pulang sekarang.
"Ada apa, Myra?" sahut Aryn.
Wajah Mei langsung berubah 180 derajat. Menjadi super jutek saat tahu yang memanggil Aryn adalah Myra. Apalagi Myra tengah tersenyum sok manis sekarang. Mungkin di dunia ini hanya Mei yang tidak terpengaruh dengan senyumannya.
"Kamu mau pulang?" Myra berjalan mendekat.
"Iya," jawab Aryn.
"Bagaimana kalau kita ke coffe shop sebentar? Aku yang traktir kalian, itung-itung sebagai tanda perkenalan!" Myra tersenyum.
"Mau pamer nih anak! Aryn beli coffe shopnya saja bisa, nawarin nraktir istri sultan cih..." lirih Mei.
Aryn langsung menyenggol bahu Mei. Semoga saja Myra tidak mendengarnya, ucapan Mei pasti menyinggung.
"Sebenarnya kami ingin, tapi maaf aku buru-buru anakku menunggu di rumah!" jawab Aryn dengan lembut.
"Iya hehehe..." Aryn tersenyum canggung.
"Baiklah kalau kalian tidak bisa, lain kali aku tidak menerima penolakan loh!" ucap Myra.
"Okay, kami duluan ya!" Aryn masuk ke mobil diikuti Mei.
Aryn melambaikan tangan dari kaca mobil saat mobilnya mulai melaju.
"Myra...Myra..." lirih Mei.
"Hahahaha..." mendadak Mei tertawa dengan keras.
"Kamu kenapa lagi sih Mei?" seru Aryn kesal.
"Frans, Frans...Kau tahu tidak? Gadis yang tadi namanya Myra..." seru Mei.
"Myra?..." sahut Frans.
Seketika Frans menatap Mei, kedua matanya melotot menyadari sesuatu. Sesuatu yang entah kebetulan atau bagaimana, ia tidak paham.
"Myra!" seru Frans.
"Guk guk guk...." seru Frans dan Mei kompak.
"Namanya kok bisa sama gitu, Nona?" Frans tertawa terpingkal sampai memukul bahu sopir di sebelahnya.
"Masih satu keluarga mungkin!" Mei tertawa.
__ADS_1
Diam-diam Aryn tersenyum tipis. Ia juga baru menyadari, nama mahasiswi baru itu sama dengan nama anjing milik Silvi.
"Kalian berdua ini! Selalu saja kompak, kalau kompak dalam kebaikan sih tidak masalah! Tapi lihatlah kalian kompak dalam menghina orang!" seru Aryn.
"Aku lihat tadi kamu juga tersenyum, Ryn!" seloroh Mei.
"Hehehe..." Aryn menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Perempuan kalau sudah tahu nama lengkap perempuan lain, bukan hal yang sulit untuk menemukan sosial medianya. Mei menggeser-geser layar ponselnya. Kedua matanya membelalak saat melihat isi profil mahasiswi baru itu. Cepat-cepat ia mengambil tangkapan layar. Ia juga menunjukkannya pada Aryn.
"Lihat nih! Gadis baik nggak mungkin post foto seperti ini!" seloroh Mei.
"Aduh, jangan sampai Papanya Davin liat ini! Pait pait pait..." keluh Aryn.
"Lihat dong, non!" seru Frans.
"Jangan, nanti kamu pengen!" seru Mei terkekeh.
Banyak sekali foto dengan gaya busana yang terbuka di akun itu. Wajahnya dan namanya sama, sudah pasti itu orangnya sama. Benar dugaannya, Myra bukan gadis baik-baik. Ia tertawa mengejek saat melihat foto-foto itu, Mei tidak takut kalah saing dengan gadis seperti Myra.
Tapi tawa Mei tidak bertahan lama. Tepat saat ia melihat ke spion, tawanya menjadi amarah. Ia melihat dari spion Myra sedang mengobrol dengan Zain. Dan yang membuat Mei semakin dongkol adalah Myra membonceng di belakang Zain.
Tin tin,
Zain menyalip mobil Aryn. Mei melihat ke luar jendela. Gadis itu menempel pada Zain seperti perangko. Mei yang dari dulu mengidolakan Zain saja belum pernah dibonceng seperti itu. Myra baru masuk kampus langsung dibonceng.
"Uuwuuu...Jangan nangis, Pak Dosen gantengmu boncengin Myra!" Ledek Aryn.
"Kalah saing sama anjing, non?" imbuh Frans meledek.
---------------------โ------
Di mansion,
"Bos, bos kecil...Stop bos!" Glen berhenti, ia memegangi kedua lututnya.
Davin masih saja menyuruhnya untuk bermain kejar-kejaran. Meskipun Davin masih kecil, langkahnya juga tidak lebar. Tapi Glen kewalahan. Bagaimana tidak? Davin akan berlari dan meneyelip si sela-sela tanaman hias bahkan sampai lewat bawah bangku kursi. Dan Glen harus mengejar melewati tempat yang dilewati oleh Davin. Saat ini saja pakaian Glen sudah lusuh, penuh dengan dedaunan kering.
"Uncle, lewat nini...." Davin berteriak dari tengah-tengah rumput yang berbentuk pagar mengelilingi kebun belakang.
"Astaga! Tuhan tolong Glen...." keluh Glen.
Mau tidak mau, Glen menuruti Davin. Ia berlari masuk ke tengah rumput. Dan mengikuti Davin lagi. Lebih baik ia mengerjakan pekerjaan kantor yang segunung daripada menjaga bos kecil ini. Papa dari anak nakal ini berada di ruang kerja bersama Erick. Katanya mereka sedang menyelesaikan sedikit pekerjaan kantor. Tidak ada orang lain di sini. Bosnya sendiri sedang menjemput kekasihnya. Dan satu-satunya orang yaitu Zack, dia tidak mau bergantian menjaga Davin.
Zack sejak tadi berada di pinggir kolam renang. Menggunakan sun cream dan menutup matanya dengan mentimun. Zack sedang berjemur di dekat kolam. Glen jengkel, ia bersusah payah menjaga Davin tapi Zack malah dengan santainya berjemur. Glen mau beristirahat saja tidak bisa. Harus membohongi Davin dengan tipuan kecil agar mau ditinggal dengan Sonya. Dengan begitu Glen bisa minum dan mengelap peluh. Jika Davin ingat lagi, ia harus berlari lagi.
"Uncle kayak ciput.." teriak Davin kesal.
"Ini kaki uncle susah dikeluarin dari rump..."
Gedubrak,
.....................
Duh, kasihan!
Bagaimana kabarnya hari ini? Stay healthy buat semua readers tercinta! Caranya patuhi protokol kesehatan, banyakin olahraga, minum vitamin, dan baca novel author hehehe...
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!
__ADS_1