Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
TEROR LAIN


__ADS_3

Ting tong,


Bunyi bel menggema di rumah Glen.


Ting tong,


Tidak hanya satu kali tapi dua kali. Tapi Glen sepertinya masih lelap dalam tidurnya.


Ting tong,


"Jam 2 pagi? Ada orang bertamu?" Glen sayup-sayup melihat ke arah jam di nakasnya.


Glen mengumpulkan nyawa baru ia duduk. Ia berjalan sempoyongan ke pintu depan. Maklum ia baru tidur jam 12 malam ini. Sejak kemarin ia bekerja sampai tengah malam. Insiden kiriman bangkai kemarin itu membuat Glen lembur.


"Siapa?" seru Glen sesaat sebelum membuka pintu.


Ceklek,


Hening.


"Hello...Saya tuan rumah ini, siapa yang memencet bel tadi? Hellooo...." teriak Glen.


Tidak ada siapapun di sana. Glen jadi penasaran sekaligus takut. Jam 2 pagi ada orang yang memencet bel rumahnya. Saat dibuka tidak ada orang. Glen melihat ke bawah. Mana tahu ada kotak kiriman seperti yang didapat Silvi kemarin.


"Nggak jadi bertamu, nih? Saya masuk,"


Blam,


Glen menutup pintunya dengan keras. Lama-lama ia merinding juga.


Ia bahkan cepat-cepat menuju kamarnya. Tapi,


Ting tong,


Lagi-lagi terdengar suara bel dibunyikan. Glen menghentikan langkahnya. Ia hendak bersikap acuh. Hingga sepersekian detik kemudian, terdengar lagi bel dibunyikan.


"Kaburr!" Glen berlari ke pintu untuk menguncinya, lalu berlari ke kamarnya.


Tidak peduli siapa di luar, yang penting pintunya sudah ia kunci. Semua pintu dan jendela juga terkunci rapat. Pintu kamarnya tak lupa dikunci pula. Glen masuk ke selimutnya, menutup seluruh tubuhnya.


Di saat seperti ini, hanya satu hal yang Glen ingat. Bos Reza! Iya, dia memainkan ponselnya di bawah selimut. Ia mencari nomor bosnya.


"Aduh, angkat dong bos!" Glen gelisah, telponnya tidak kunjung diangkat oleh Reza.


Jam segini semua orang pasti tidur, bosnya tentu juga sedang tidur pastinya. Glen tidak menelpon Reza lagi.


"Aku akan menghadapi ketakutan ini!" ucap Glen sok berani.


Kenyataannya ia masih berada di dalam selimut. Entah kapan ia tertidur. Saat matanya terbuka, matahari sudah tinggi.


Glen kelabakan, ia lari ke kamar mandi. Mandi kilat seperti saat ia telat. Sarapannya pun sampai ia makan di mobil agar tidak tambah terlambat. Bosnya bisa marah besar.


Sesampainya di rumah Reza, ternyata masih sepi. Biasanya kalau ia kesiangan pasti bosnya itu sudah menunggu di depan teras. Glen masuk saja ke dalam, ia diberi akses masuk oleh bosnya. Untuk keadaan darurat ya pastinya.


"Good morning....Hello...." teriak Glen di ruang tamu.


Beberapa lampu masih menyala, ruang tengah juga belum dibereskan, ini tandanya bosnya memang belum turun dari kamarnya.


Glen menaiki tangga, ia perlu ke kamar bosnya. Kalau tidak dibangunkan pasti nanti dia juga yang salah.


"Bosss....." Glen berteriak di depan pintu kamar bosnya.


Tidak ada sahutan.


"Boss....Sudah pagi, nanti proyeknya dipatuk ayam loh bos!" seru Glen.


"Siapa?" terdengar suara Reza menyahut.


"Saya....Sekretaris favorit paling tampan, rajin, dan menuju kaya raya!" jawab Glen.

__ADS_1


"Kenapa pagi-pagi sudah ke sini? Mengganggu saja,"


"Matahari sudah tinggi bos, hampir siang ini..." Glen terkekeh.


Gedubrak gedubrak,


Terdengar suara rusuh dari dalam kamar.


"Jam berapa ini?" tiba-tiba Reza membuka pintunya dan menatap Glen tajam.


"Jam 10 bos,"


"Ah sial!" umpat Reza.


"Bos, saya mau cerita...Semalam di ru..."


Blam,


Reza langsung menutup pintu kamarnya.


"Untung tidak kena, aku nggak ada uang untuk operasi plastik," Glen memegangi wajahnya.


Akhirnya Glen turun, ia akan menunggu di bawah saja. Sekalian mengambil susu di dapur. Lumayan untuk membuat perutnya kenyang paripurna. Sarapan yang ia makan tadi masih terasa kurang.


Saat susunya sudah habis dan kemasannya ia buang ke tempat sampah, bosnya datang menghampiri. Bosnya itu kini sibuk mengambil apel dan sereal beserta susu dari lemari es.


"Kenapa nggak ngambil asisten rumah tangga aja, bos?" tanya Glen.


Karena Glen melihat rumah bosnya cukup berantakan, saat sudah terlambat ke kantor pun Reza harus menyiapkan sarapan sendiri. Bahkan Reza menyempatkan untuk beberes sedikit.


"Aku sama Silvi sama-sama nggak suka ada orang lain yang menyentuh dan merubah barang di rumah ini," jawab Reza.


"Tapi Bu Bos kan sedang hamil, kasihan kalau beberes rumah besar ini,"


"Katanya biar nggak tidur mulu, pegal-pegal badannya. Aku juga bantu dia sebelum dan sepulang kerja. Kami bagi-bagi tugas aja," Reza memakan sarapannya.


"Saya salut sama Bos dan Bu Bos, dengan harta yang melimpah ini kalian hidup sederhana. Tanpa sopir, tanpa asisten rumah tangga, kalau orang kaya lainnya pasti rumahnya lebih besar dari ini. Banyak penjaga di rumahnya, banyak mobil beserta sopir pribadi, selusin asisten rumah tangga....Bos dan Bu Bos padahal sama-sama berasal dari keluarga yang kaya, sudah terbiasa hidup mewah sejak dalam kandungan." Glen berkata panjang lebar.


Glen terkesima sampai tepuk tangan.


"Saya malah kebalikannya, bos!" ucapnya.


Reza tertawa.


"Bos, saya ingat! Saya tadi mau cerita..." ucap Glen.


"Cerita apa?" tanya Reza.


Bosnya lumayan baik hari ini.


"Semalam di rumah saya a..."


"Nanti saja ceritanya, udah telat! Cepat!" Reza memotong ucapan Glen.


"Ih si bos..." keluh Glen.


"Gajimu aku potong baru tau rasa,"


"Okay okay, bos! Ayo kita ke kantor, lupakan saja ceritanya!" Glen pasrah.


"Sebentar ada yang lupa," seru Reza.


Reza berlari menaiki tangga, Glen terbengong di tempatnya.


"Apanya yang lupa, bos?" tanya Glen.


"Vitamin," jawab Reza.


Reza masuk ke kamarnya, menatap Silvi sebentar. Muuaaahhh...Ia kecup kening Silvi dan perut Silvi sekilas.

__ADS_1


"Ayo!" seru Reza yang berlarian menuruni anak tangga.


Reza dan Glen keluar rumah, Reza tidak mengeluarkan mobilnya hari ini. Ia akan numpang saja di mobil Glen.


"Sudah jam berapa ini belum berangkat ke kantor juga?" seseorang berteriak dari balik pagar sebelah.


"Lah lo sendiri juga belum ngantor," jawab Reza sewot.


Orang di balik pagar itu adalah Dave, siapa lagi tetangga cerewetnya.


"Gua bosnya," ucap Dave sombong.


"Gua juga bosnya, mendingan gua telat daripada lo nggak ke kantor sama sekali mentang-mentang lo bosnya,"


"Karena gua memberikan waktu gua lebih banyak ke keluarga. Lo tuh jangan cuma tau kerja doang, kasih waktu juga buat Silvi. Dia akan sedang hamil muda, butuh banyak perhatian." Dave tidak mau kalah dari iparnya.


"Butuh perhatian doang gitu? Gua pengen kelak anak istri gua terjamin hidupnya. Di masa depan semua akan serba maju, umur juga nggak ada yang tau. Ada saatnya kok gua di rumah 24 jam bersama keluarga, weekend misalnya. Di hari biasa gua juga ngeluangin waktu, gua pulang cepat setiap hari. Walaupun cuma sebentar tapi gua pasti ke kantor. Ini lebih ke prinsip sih ya," jawab Reza.


"Idih..." Dave mencibir.


"Stoooppppp!" seru Glen.


Glen menutup telinganya, perdebatan bosnya dengan Dave lebih parah dari perdebatan negara.


"Bos sekarang kita sudah sangat terlambat, ayo ke kantor! Dan Tuan Dave, silahkan masuk ke rumah tuan!" Glen menarik tangan Reza.


Kalau tidak dipisah mereka pasti akan terus beradu mulut. Anehnya perintah Glen mujarab. Reza pasrah ditarik olehnya dan Dave masuk ke dalam rumah tanpa protes.


++++++++++


Di apartemen Zack,


Zack sudah siap ke kantor sejak tadi, tapi ia tidak kunjung berangkat. Dirinya malah bolak-balik masuk ke dalam toilet. Entah sudah berapa kali dia bolak-balik.


"Kok belum berangkat ke kantor, Zack?" Mei masuk ke kamar Zack.


Mei dan Zack memang sepakat memulai hubungan pernikahan ini. Tapi mereka memulai dari awal sekali. Makanya mereka tidur di kamar yang berbeda.


"Zackk?" Mei memanggil Zack.


Tuuuuttttt....Brooottttt....


Bukannya jawaban dari Zack yang ia dapat tapi malah suara bom atom berampas yang terdengar.


"Zack, kamu di dalam?" Mei berteriak di depan pintu toilet sambil menutup hidung.


Tuuutttttt.....


Lagi lagi bukan suara Zack yang menjawab.


"Jawab pakai mulut dong, Zack!" seru Mei.


"Apa?" akhirnya Zack menjawab.


"Kamu kenapa? Sakit perut ya?" tanya Mei.


"Lebih parah, perutku seperti diaduk-aduk tukang bangunan!" sahut Zack.


Tuuutttttt......


"Astaga!" Mei menutup hidungnya lebih kuat lagi.


Mei berpikir kenapa Zack bisa sakit perut. Apakah gara-gara masakannya? Mei lalu mengingat masakan yang ia buat untuk sarapan pagi ini.


"Apakah seburuk itu masakanku ya?" gumam Mei.


Tuuuuttttt.....


Lagi dan lagi terdengar suara kentut dari toilet.

__ADS_1


.........................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2