
Takjub, itulah yang dirasa Aryn, Mei, dan Silvi. Sebuah bangunan besar dan berlantai dua berdiri megah di hadapan mereka. Bangunan itu bernuansa serba putih. Tapi masih ada beberapa pekerja yang mengecat ulang di bagian samping. Masih ada beberapa bagian yang berwarna abu-abu.
"Bagaimana?" Dave menghampiri ketiganya.
"Kenapa kamu tidak pernah bercerita padaku mengenai resort ini?" sahut Aryn.
"Kak Reza juga tidak pernah bercerita padaku, kalian sengaja merahasiakannya ya?" Silvi bersungut-sungut.
"Fix mereka main rahasia-rahasiaan dengan kita, girls!" Mei ikut-ikutan.
"Kalau dikasih tau, bukan surprise namanya Mei bawel!" Zack mencubit pipi Mei.
Wajah Mei bersemu merah layaknya kepiting yang direbus. Semenjak Zack kembali dari rumah sakit, hubungan mereka menjadi lebih dekat. Mei lebih sering deg-degan sekarang kalau berdekatan dengan Zack. Lebih sering mempermalukan diri sendiri juga dengan tingkahnya.
Seperti sekarang, Mei jadi mendadak diam karena pipinya dicubit gemas oleh Zack.
"Mei sekarang ada pawangnya," Aryn menyenggol bahu sahabatnya itu.
Mereka semua tertawa.
"Ish, Aryn!! Aku bukan buaya yang butuh pawang tau!" Mei menggerutu.
"Siapa bilang, kamu itu buaya betina original! Ada yang ganteng dikit di senggol, ada yang berotot dimintain nomor, ada yang tajir langsung jadiin kandidat pendamping hidup!" sahut Silvi.
Mereka semua tertawa.
"Tapi pas liat saya kok nggak disenggol, ya?" celetuk Glen.
"Wah benar juga! Glen tampangnya lumayan loh, sebelas seratus sama aku!" sahut Zack.
"Dia juga calon orang kaya loh, sudah nyicil mobil, nyicil rumah, nyicil tanah, nyicil kuburan juga!" imbuh Reza.
Silvi tertawa sampai memegangi perutnya.
"Tau ah! Aku kentang!" Mei ngambek.
"Yaudah sih!" Aryn terkekeh.
Mereka lanjut membicarakan resort.
"Karena kalian penasaran jadi akan aku ceritakan sedikit tentang resort ini. Seperti yang kalian lihat pembangunan resort ini sudah hampir selesai. Karena hanya tinggal mengganti cat dinding, mengubah penataan plus desain interior, menambahkan area bermain anak, kebun bunga, dan pembukaan jalan dari jalan utama. Selain resort, nanti bangunan ini juga akan menjadi restoran. Tempat karaoke juga ada nanti. Lengkap pokoknya. Bangunan ini dulunya markas kami, Red Bloods...." Dave menjelaskan.
"Markas? Wah kalian punya markas, keren dong!" Mei antusias.
Sudah tidak marah ternyata.
"Baru tau?" seloroh Silvi.
__ADS_1
Mei marah lagi.
"Hmm," ucapnya.
Baik Aryn maupun Silvi, mereka telah mengetahui perihal kelompok mafia yang dipimpin oleh Dave. Termasuk juga markas ini. Hanya saja suami mereka mengatakan Red Blood telah bubar, tapi tidak mengatakan sedikitpun mengenai pembangunan resort yang menggunakan bekas markas Red Blood.
"Restorannya nanti restoran asia," imbuh Reza.
"Duh, aku bisa makan makanan asia sepuasnya dong! Masakan Asia tenggara ada kan?" Aryn antusias.
"Ada dong, sayang!" jawab Dave.
"Apalagi aku," Mei sudah membayangkan.
"Aku juga ikut loh nanti," Silvi tidak mau kalah.
"Saya juga saya juga!" teriak Glen.
"Kalau makanan aja cepet!" Reza menyindir.
Rencana ini baru tercetus satu hari setelah Dave sadar. Penyerangan terakhir di markas membuatnya gelisah. Dengan pertimbangan matang, Dave memutuskan untuk merombak markas. Keberadaan markas ini membuat musuh mereka mengira Red Blood masih aktif di dunia gelap.
Sahabat-sahabatnya termasuk Reza, setuju akan keputusan Dave. Oh iya, karena Reza datang tepat waktu malam itu. Dave sedikit demi sedikit mulai bersikap baik padanya. Jadi usulan Reza juga langsung diterima saat mereka berunding. Reza lah yangmengusulkan agar merombak markas menjadi resort. Markas mereka cocok menjadi resort. Fasilitasnya sangat mendukung, seperti lapangan untuk berkuda, area memanah dan menembak, dan juga kolam renang luas. Tinggal menambahkan interior tambahan, tempat karaoke, kebun bunga dan arena bermain anak agar lebih menarik.
Kalau untuk restorannya, dapur restorannya akan menggunakan dapur lama markas. Sedangkan bangku untuk pengunjung akan diletakkan di dekst kebun bunga, beberapa juga di dekat kolam. Tema restoran yang mereka rencanakan adalah outdoor restoran. Sekarang hutan di depan markas juga dirombak. Dibuat jalan yang lumayan lebar lengkap dengan petunjuk. Agar mudah ditemukan. Markas Red Blood yang dulu misterius, mengerikan, dan tersembunyi, dalam beberapa hari ke depan akan menjadi tempat yang indah untuk dikunjungi.
"Mungkin minggu depan resort ini sudah jadi, dan akan diresmikan!" seru Reza.
"Berarti butuh karyawan banyak ya, kak?" sahut Silvi.
"Banyak? Hemm...Paling butuh 3 orang aja." Zack melirik Dave dan Reza.
"Kok hanya 3?" tanya Silvi.
"Tanya suamimu tercinta tuh!" Zack bersungut-sungut.
Silvi beralih menatap Reza. Aryn dan Mei juga menunggu jawaban dari Reza.
"Hanya butuh 3 karyawan karena anggota Red Bloods akan menjadi karyawan di sini," Reza menyengir.
"Tugasnya sudah dibagi-bagi rata." imbuh Dave.
"Kalian juga?" Silvi, Aryn, dan Mei menatap suami mereka masing-masing.
"Anggota lain banyak yang punya waktu luang, jadi mereka saja yang aktif setiap hari di sini. Kalau aku, Reza, Zack, Glen, Samuel, sama Ken ada jadwalnya sih. Kita nggak bisa full time, soalnya ada kantor yang harus diurus," jawab Dave.
Para istri mengangguk.
__ADS_1
"Ide resort ini bangun banget. Red Bloods memang sudah bubar, tapi dengan dibangunnya resort ini, kalian akan tetap berkumpul dan kompak!" ucap Silvi.
"Kompak sih kompak, tapi masalahnya Dave yang bagi tugas asal-asalan," Zack protes.
"Maksudnya?" sahut Aryn, Silvi, dan Mei serempak.
"Dia sendiri yang enak posisinya, dia jadi kasir restoran katanya.Aku sama Samuel kebagian jadi tukang kebun di kebun bunga belakang," Zack melirik Dave.
"Saya sama Ken kebagian penjaga kolam renang plus bersihin," sahut Glen.
"Aku juga senasib dengan kalian...Walaupun statusku adik iparnya, aku dikasih tugas jadi tukang cuci piring di resto," Reza ikut-ikutan.
Dave tertawa.
"Pekerjaan gua juga berat, sama seperti kalian!" ucapnya.
"Berat apaan? Kasih resto cuma duduk, ngitung uang, beres!" protes Zack.
"Justru itu, uang itu kan penghasilan kita bersama. Jadi gua harus hati-hati!"
"Halah,"
Para istri tidak mau ambil pusing. Biarkan suami mereka berdebat, nanti akur sendiri. Lebih baik mereka jalan-jalan melihat calon resort ini.
"Kita mau keliling, liat-liat dulu!" Aryn menggandeng Silvi dan Mei.
"Hati-hati, ya!" seru Dave dan Reza.
"Angel sama Naina juga datang tadi, kalian bergabung saja! Mereka ada di belakang," imbuh Zack.
"Ashiaappp!!!" sahut mereka kompak.
"Cocok, sudah lama nggak ketemu akhirnya bisa kumpul!" ucap Aryn.
"Saya ikuutttttt!"
Glen berlarian menyusul ketiga bos cantiknya. Hati dan pikirannya menyuruhnya bergabung dengan geng istri.
"Glen ini khusus untuk para istri," protes Silvi.
"Saya ikut Bu Bos aja. Saya belum menikah, jadi saya bebas ikut geng mana saja,"
"Tapi kau itu laki-laki,"
"Geng suami nggak asik, Bu Bos! Mereka hanya akan membicarakan masalah mobil, atau perusahaan. Kalau ikut geng istri saya bisa ikut ngobrol masalah tetangga komplek,"
"Terserah kau saja," Silvi berjalan duluan.
__ADS_1
..............
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!