
Perut Silvi semakin besar di usia kehamilan yang sudah memasuki minggu ke-28 alias (7 bulan). Dari hari ke hari Silvi tidak pernah absen menatap pantulan bayangan dirinya sendiri di cermin. Seperti pagi ini, hampir 10 menit Silvi berdiri di depan cermin.
Kadang berpose, berdiri menghadap samping, menghadap belakang, berjalan, dan masih banyak lagi yang dilakukannya di depan cermin.
"Bagaimana penampilanku, kak?"
Reza yang baru keluar dari kamar mandi diserang pertanyaan sensitif dan mematikan dari Silvi.
"Cantik," begitu jawab Reza.
"Maksudku, bagaimana penampilan tubuhku, kak?"
"Looks pregnant!" Reza menyengir.
"Iih Kak Rezaaa! Aku serius!"
Reza mengembalikan handuknya, dan berjalan mendekati Silvi.
"Aku juga serius. Kamu sedang hamil sekarang, sayang! Ya jadi, kamu terlihat hamil. Perutmu besar..."
"Artinya aku gemuk, kan?" Silvi melihat lagi ke cermin sambil mengelus perutnya.
"Tidak, sayang! Kamu terlihat seperti orang hamil pada umumnya,"
"Bilang aja gemuk,"
"Tidak,"
"Jangan berbohong, kak! Aku tahu kok, timbanganku saja naik 20 kilo,"
"Iya deh, iya!"
"Tuh, kan! Aku gemuk..." Silvi terlihat kesal.
Reza menepuk dahinya sendiri, "Terus aku harus bilang apa, sih?Aku bilang nggak gemuk salah, aku iyain salah juga?"
"Tau ah,"
Reza menghela napas panjang. Benar ucapan Papa Edgar, 9 bulan ini kesabarannya diuji. Mood Silvi naik turun seperti roller coster. Ia memeluk Silvi dari belakang.
"Terserah kamu mau mengatakan apa, tapi bagiku kamu terlihat semakin cantik dan imut." bisik Reza.
"Tapi kak..."
"Ssshhh.... Jangan protes lagi, itulah kenyataannya! Yang lihat setiap hari siapa? Aku kan?"
"Iya..." Silvi mendadak tersipu malu.
"Aku sudah mengatakan pendapatku. Sekarang bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Reza.
"Tadi pagi-pagi buta kamu sudah melakukannya, kak!"
Reza mencubit pipi Silvi gemas.
"Dasar! Sekarang lihatlah siapa yang mesum! Kalau aku mau itu tidak perlu meminta izin, nanti kamu sendiri yang nyosor wkwkwk..." Reza terkikik.
Silvi memukul dada Reza pelan, "Iihh, kakak!" serunya.
"Ini yang aku minta, stop memanggilku kakak!"
"Loh kenapa?" Silvi terkikik.
"Ganti dong panggilannya!" seru Reza.
"Aku harus memanggilmu apa, kak?"
"Terserah kamu! Bisa my husband, honey, baby, sweetheart, atau my lovely mungkin...."
Silvi tertawa.
__ADS_1
"Aku jadi geli sendiri, kak!"
"Aku serius, Silvi! Anak kita beberapa bulan lagi akan lahir, bagaimana reaksinya jika kelak dia mendengarmu memanggilku kakak. Aku takut dia akan memanggilku uncle," Reza menggerutu.
Silvi lagi-lagi tertawa.
"Aku harus panggil apa, dong?" tanyanya.
"Panggil aku honey! Iya, honey terdengar romantis."
"Siap, honey!" Silvi terkikik.
"Nah gini kan enak didengarnya....." Reza memeluk Silvi erat.
"Tapi kan honey, anak kita cowok loh. Kenapa aku tidak memanggimu daddy saja? Aku takut anak kita kelak ikut-ikutan memanggilmu honey hahahaha....." Silvi membayangkan.
Reza tertawa.
"Masih ada waktu sebelum dia lahir, sayang! Sementara itu kamu panggil aku honey, nanti kalau jagoan kita lahir kamu panggil daddy. Tapi kalau kita berdua saja ya panggil honey,"
"Ide bagus, honey!"
Mereka tertawa bersama.
"Good morning, Glen tampan datangg!!!!" terdengar suara khas Glen berteriak dari lantai 1.
"Si Gentong sudah datang, aku siap-siap dulu, ya!"
"Siap, honey! Aku turun, mau panasin sarapan untuk kalian."
Reza mengangguk dan tersenyum. Silvi turun ke lantai 1, ia akan membuat sarapan. Sarapan Reza masih tetap simpel, pagi ini Silvi menyiapkan roti yang di toast. Roti itu diberikan selai coklat. Ditambah jus jeruk. Reza tidak pernah mengharuskan Silvi masak. Selama ini Reza yang lebih sering menggunakan dapur.
"Ada yang bisa saya bantu, Bu Bos?" Glen menawarkan bantuan.
"Ada,"
"Katakan saja Bu Bos, saya siap bantu!" Glen bersemangat.
"Owhh, okay Bu Bos!"
Ucapan bosnya barusan pertanda kalau tidak ingin diusik. Glen duduk diam di meja makan memperhatikan Bu Bosnya menyiapkan sarapan.
"Hey hey kenapa kau hanya memperhatikan, tidak tahu diri!" Reza datang ke dapur.
"Tau tuh, cuma liatin doang!" seru Silvi.
Glen melotot.
"Gajimu aku potong!" seru Reza.
"Bos bos...Aduh jangan dipotong! Tadi saya sudah menawarkan bantuan tapi Bu Bos bilang saya cukup menutup mulut saya yang bawel! Salah saya sekarang apa?" Glen protes.
"Lihatlah, Honey! Dia pandai bersilat lidah!" Silvi menatap Glen sinis.
Reza menatap Glen tajam.
"Boss...Saya difitnes!" Glen mencoba membela diri.
"Kau yang keterlaluan, Gentong! Istriku hamil besar, sarapan itu juga untukmu nantinya." Reza marah.
"Boss..."
Reza diam, ia bergabung di meja makan. Ia terus menatap Glen tajam.
"Wleekk!" Silvi menjulurkan lidah pada Glen dari balik meja dapur.
"Bos lihatlah, Bu Bos sengaja menjebakku!" Glen mengadu pada Reza.
Reza semakin menatap Glen tajam. Glen tidak berani bicara lagi. Di dapur Silvi tertawa tanpa suara untuk mengejek Glen. Pagi ini ia ingin melihat Glen dimarahi suaminya. Akhirnya terwujud juga keinginannya.
__ADS_1
...*************...
Lain halnya dengan suasana pagi di apartemen Zack. Sejak 10 menit yang lalu Zack duduk di lantai depan pintu kamar mandi. Zack menangis. Ya, dia menangis.
Ceklek,
Pintu kamar mandi terbuka, Mei menatap Zack heran. Pasalnya Zack terduduk di lantai dengan menyembunyikan wajahnya di lututnya.
"Kamu kenapa?" tanya Mei.
Zack mendongak. Air mata Zack bercucuran di kedua pipinya.
"Kenapa menangis sih?" Mei menyuruh Zack berdiri.
Zack memeluk Mei dengan erat, " Aku nggak tega lihat kamu muntah-muntah seperti ini setiap pagi, Mei!" ucapnya dengan suara bergetar.
Mei tertawa.
"Kok malah ketawa sih," Zack kesal.
"Kamu lucu! Aku nggak apa-apa, sayang! Muntah-muntah wajar untuk bumil," Mei mencium pipi Zack.
"Yakin?"
"Iya, suamiku!" Mei terkikik.
"Mau sarapan apa?" tanya Zack.
"Aku masih mual,"
"Tuh, kan! Aku kasihan sama kamu, sayang!" Zack menangis.
"Hey hey...It's fine! Aku akan makan nanti,"
Mei gemas dengan Zack. Beberapa hari terakhir ini Zack jadi mellow. Kemarin lusa kaki Mei kepentok meja, Zack yang menangis. Terus semalam saat akan tidur, Zack mendadak nangis juga saat mengelus perut Mei. Katanya masih tidak menyangka akan menjadi daddy dari 3 baby sekaligus. Suaminya semakin lama semakin unik.
"Aku baca di artikel semalam, katanya kalau makan makanan yang diinginkan kamu tidak akan mual saat memakannya. Kamu pengen makan apa?" ucap Zack.
"Hmm.....Aku pengen roti selai aja!"
"Hanya itu? Kenapa tidak ngidam sih? Ngidam dong...." Zack mengeluh.
Mei tertawa.
"Ya gimana pengennya roti selai," jawabnya.
"Baiklah. Sebentar aku ambilkan!"
Zack balik kanan meluncur ke dapur. Tidak sampai 5 menit roti selai cokelat siap di hadapan Mei. Zack menyuapi Mei sampai rotinya habis. Selain mellow dan sangat ingin Mei ngidam, Zack juga menjadi semakin over protektif. Beberapa hari ini Zack akan membawakan makanan Mei ke kamar, agar Mei tidak capek katanya. Selesai makan, Zack baru ingat. Ada hal penting yang ingin ia katakan pada Mei.
"Sayang..."
"Iya?" Mei menatap Zack.
"Aku lupa mengatakan ini, seharusnya semalam. Emm...Aku punya kejutan!" ucap Zack.
"Really? Apa?"
"Kita siap-siap dulu, aku akan mengajakmu ke tempat dimana kejutan itu berada,"
"Hmm, baiklah..."
Zack bangkit dari ranjang dan mengambilkan pakaian untuk Mei.
"Aku bisa pakai baju sendiri, Zack!"
"Kamu hamil 3 baby, Mei! T-I-G-A... Aku tidak ingin kalian kenapa-kenapa," Zack menunjukkan jarinya.
Kalau sudah begini, Mei harus menurut. Atau Zack akan menangis lagi.
__ADS_1
.............
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!