
Mei dirawat di rumah sakit selama 3 hari saja. Kondisi Mei sudah sangat baik, dan ia sudah bisa berjalan sendiri walaupun luka jahitannya masih sakit. Pagi tadi ia pulang ke rumah tercintanya. Dan sekarang, Mei berbaring di ranjang sibuk menyusui putra-putranya.
Zack senantiasa menemani istri dan ketiga buah cinta mereka. Zack membantu Mei sebisanya, seperti mengganti popok, kadang ia juga hanya menatap putra-putranya yang bergantian diberi ASI oleh istrinya.
Kedua orang tua Mei dan Zack selama 3 hari ini menginap di rumah mereka. Dan sejak pagi juga, orangtua Dave Dan Reza, sahabat Zack berkumpul di sana beserta istri dan anak mereka. Mereka mengobrol di ruang tengah, Zack dan Mei masuk ke kamar karena putra mereka haus. Setelah selesai memberi ASI, mereka keluar kamar.
Baby ABC di bandingkan di box bayi yang telah dipesan khusus Zack beberapa bulan lalu. Ukurannya lebih besar dan panjang dari box bayi biasa. Baby ABC tidur berjejer di dalamnya.
"Tampannya...." ucap Desmon.
Desmon, Davin, dan Kelyn berdiri berjejer di pinggir box bayi. Mereka menatap Baby ABC.
"Iya, mereka sangat tampan. Tapi...Masih tampan Apin sih," ucap Kelyn polos.
"Hmmm," Davin memutar bola matanya malas.
"Apin sama Emon, lebih tampan Emon, Elyn!" protes Desmon.
"No! Apin yang paling tampan se-komplek ini!" Kelyn menggeleng.
"Tampan dari mana, wajah Apin selalu kaku seperti tembok begitu." Desmon masih ngeyel.
"Bukan kaku, Emon! Tapi Apin itu cool..." ucap Kelyn bernada centil.
"Au ah," Desmon ngambek.
"Hmm," sedangkan Davin, dia jengah mendengar perdebatan Kelyn dan Desmon.
Para orang dewasa di ruangan itu spontan tertawa menyaksikan perdebatan seru ketiga bocah berusia 7 tahun itu. Yang paling lucu bagi mereka adalah, Kelyn yang sudah mulai mengejar cinta Davin sejak dini tapi sepertinya Desmon menyukai Kelyn. Bibit cinta segitiga wkwkwk.
"Kelyn belajar darimana sih ngomong begitu," Aryn masih tertawa sambil memegang perutnya.
"Emaknya dong!" sahut Silvi dengan cepat.
"Centil banget anakku, tapi dia pinter sih milih cowok yang cool. Cowok cool kan cuek tapi bikin penasaran wkwkwk," seloroh Angel.
"Kasihan Emon, bertepuk sebelah tangan ckck..." seru Mei.
Mereka tertawa.
"Emon nggak bertepuk sebelah tangan kok, ini dua tangan!" celetuk Desmon, ia mempraktikkan.
Mei terbahak.
"Iya Emon, iya...." tidak mungkin Mei bisa menahan tawa melihat kepolosan Desmon.
Yang lainnya turut tertawa.
"Apin....Apin ajak Uncle Emon dan Elyn main di taman samping ya, kalian pasti bosan hanya berdiam di sini," ucap Aryn.
Bukan tanpa alasan Aryn mengatakan hal itu, Desmon baru saja menyahut pembicaraan mereka. Baik Desmon, Davin, maupun Kelyn tidak pantas mendengar obrolan mereka semua. Beruntung Arion dan Arthur masih kecil dan belum mengerti.
"Okay, mom!" jawab Davin.
Desmon dan Kelyn mengekor di belakang Davin. Mereka bertiga ke tampan samping rumah Zack dan Mei.
__ADS_1
"Aduh, hati-hati dong ngobrolnya kalau ada mereka." seru Aryn kemudian.
"Sorry, Ryn! Sorry...." Mei menyengir.
Dari dapur, Glen membawakan cemilan dan minuman untuk semua orang. Tadi Reza menyuruhnya membeli semua makanan itu di supermarket.
"Nah, kalau yang ini gua suka nih..." seloroh Samuel.
"Makan mulu!" cicit Dave.
"Perut udah kayak hamil 5 bulan begitu," Reza menimpali.
Spontan Samuel mengelus perutnya.
"Besok workout!" serunya.
"Dari 3 tahun lalu bilangnya besok besok terus sayang," Angel terkikik.
Samuel tersenyum malu. Semua orang menertawakannya.
"Pede banget kamu ikut ketawa, sayang? Perut kamu aja sama bentuknya kayak punya Sam," seru Mei.
Giliran Zack yang tersenyum malu.
"Kacau kacau..." Reza terpingkal.
"Gagal jadi hot daddy kalian!" cicit Ken.
Dari squad mereka, Samuel dan Zack memang yang paling jago makan dan sudah berubah bentuk tubuhnya. Masih berotot, tapi perut mereka buncit. Hancur sudah pamor mereka sebagai pensiunan mafia dan casanova.
"Auto tidak mengakui," seloroh Dave.
Glen sejak tadi diam jadi ikut tertawa seperti yang lainnya karena obrolan itu. Mereka melanjutkan obrolan seru mereka sambil menyantap makanan yang di sediakan. Hanya saja suara mereka sedikit dipelankan karena Baby ABC tidur.
Dari ruang tengah yang ramai itu, mereka semua bisa mengobrol sekaligus mengawasi Davin, Desmon, dan Kelyn yang bermain di taman samping. Taman kecil itu dibatasi oleh pintu kaca dengan orang tengah.
"Kalau liat anak-anak bermain, jadi tidak menyangka ya persahabatan ini bertahan sampai sekarang," tiba-tiba nada ucapan Ken terdengar serius.
Dave dan yang lainnya menatap Ken, lalu menatap anak mereka yang bermain di luar.
"Rasanya baru kemarin masih liat Zack pamer selingkuhan, sekarang anaknya udah 3 aja," sahut Dave sendu.
"Yeee....Nggak usah diungkit juga masa kelam gua," protes Zack.
Dave menyengir.
"Sorry sorry! Semoga kita bisa sahabatan sampai anak-anak kita besar nanti," serunya.
"Iya, sampai anak-anak kita menikah, kita besanan, dan punya cucu. Syukur-syukur sampai punya cicit..." Samuel menimpali.
"Keren pasti liat Samsul keriputan," seloroh Reza.
"Apalagi kalau perutnya makin buncit dan pakai tongkat," sahut Ken.
"Terus pakai gigi palsu," Dave menambahi.
__ADS_1
Mereka tertawa.
"Brengs*k kalian!" protes Samuel.
Para hot daddy itu tertawa sambil berpelukan.
"Saya ikut," cicit Glen.
"Heh sini sekretaris pelit, biar ketularan jadi bapak-bapak!" seru Ken.
Glen bergabung bersama mereka.
"Jadi mellow gini, yak? Pelukan juga yuk, moms!" seru Mei.
"Aawww....Berpelukan...." ucap Silvi.
Aryn, Angel, dan Naina turut berpelukan. Persahabatan suami mereka yang membuat emak-emak itu bersahabat juga.
"Semoga kita para emak-emak juga awet sahabatannya, makin solid, makin lancar gosipnya," seru Naina.
Angel menatap Naina
"Gosip mulu yang dipikirin. Yang paling penting itu makin lancar uang belanjanya," seru Angel.
"Uang belanja? Shopping mulu yang dipikirin, mau dibuat apa shopping terus?" tanya Aryn.
"Mau buka toko kali," Silvi menimpali.
Mereka tertawa.
"Kita juga jangan sampai kalah kompak, guys!" seru Erick.
"Yoi! Walaupun tua harus tetap solid," sahut Edgar.
"Aku sudah pesan tempat pemakaman kita di kompleks pemakaman yang sama dan satu baris nanti, biar bisa makin solid dan kompak, kan?" seloroh Cavero.
"Terserah, terserah...." mereka tertawa.
Lantas Cavero, Erick, Edgar, Xiao, Papanya Samuel dan Ken juga saling rangkul bersama istri mereka. Seperti anak-anak mereka, para orang tua itu juga sudah lama bersahabatan.
Hari itu mereka semua menghabiskan waktu dengan bercengkerama saling bercerita dan membalas cerita. Sungguh kisah persahabatan mereka sangat liar biasa. Sepak terjang yang mereka alami selain ini tidaklah mudah. Pertengkaran dan kesalahpahaman menghiasi perjalanan mereka.
Hubungan yang bertahun-tahun dijalin sejak masing-masing dari mereka masih tenang dalam dunia gelapnya. Hingga sekarang mereka menemukan cinta dan merubah diri menjadi lebih baik.
Mereka juga berharap, semoga kelak anak-anak mereka tetap menjaga hubungan persahabatan mereka. Dan yang paling penting, mereka akan memastikan anak-anak mereka akan tumbuh di jalan yang benar dan jauh dari dunia gelap.
TAMAT
............
Author ucapkan terima kasih banyak pada seluruh penggemar karya author ini, yang telah mengikuti dari Psikopat Bucin pertama sampai ke sekuelnya ini. Tanpa kalian novel ini bukan apa-apa.
Hingga sampailah di penghujung cerita, para pensiunan Red Bloods ini bahagia dengan keluarga kecil mereka. Tapi Glen Si Sekretaris Pelit belum menemukan cintanya ya di sini. Nah, ada yang minat kah kalau Glen dibuatkan cerita tersendiri? Atau author buat cerita anak-anak mereka setelah dewasa? Silahkan komen ya, kalian bebas memberikan pendapat.
Oh iya, sekalian tuliskan kesan kalian selama membaca 'Psikopat Semakin Bucin' ini ya di kolom komentar! Sekali lagi terima kasih untuk dukungannya.
__ADS_1