Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
DISERANG


__ADS_3

Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga semuanya sehat selalu ya!


.............


Malam harinya,


Zack, Reza, dan Glen menonton televisi bersama di ruang tengah. Mereka menonton film action baru dengan ditemani pizza dan soda. Reza dan Zack terlihat begitu menikmati film, sesekali mereka juga mengobrol. Tapi tidak dengan Glen. Semenjak pulang dari mengantar Silvi sampai sekarang, Glen terlihat cemas. Setiap 15 menit, Glen melihat ke luar jendela. Dan sekarang ini, Glen menengok ke jendela lagi.


"Anak buah lo kenapa sih? Cacingan?" seru Zack.


"Enggak tau, biarin aja!" jawab Reza.


Glen membuka gorden jendela. Kedua matanya menatap dengan jeli ke semua arah. Tidak ada yang mencurigakan. Ia kembali duduk ke sofa.


"Bos, tidak ada siapa-siapa di luar." Glen duduk di sebelah Reza.


"Yang nanya siapa?" seloroh Zack.


"Jangan berlebihan! Tidak akan terjadi apa-apa!" imbuh Reza.


"Tapi bos, kita diikuti, hampir ditabrak, terus diikuti lagi! Nyawa kita diincar!" Glen menatap Reza dan Zack.


"Ada Babang Zack disini!" Reza menepuk bahu Zack.


"Benar itu!" jawab Zack.


Mereka melanjutkan kegiatan mereka tadi. Kecemasan Glen berkurang, perhatiannya mulai teralihkan pada film yang ia tonton. Waktu terus berlalu, hingga sampai di penghujung film. Wajah ketiga pria itu tampak tegang, karena nyawa si tokoh utama film terancam. Glen bahkan sampai menutup kedua matanya. Tiba-tiba ada benda jatuh di dapur.


Bruk,


"Aaaaaa....." Glen memeluk Reza dengan erat.


"Apa itu bos?" Glen bersembunyi di ketiak Reza.


"Paling hanya benda jatuh!" seloroh Zack, ia celingukan melihat ke arah dapur.


"Jangan peluk-peluk!" Reza mendorong Glen.


"Bos..." rengek Glen.


"Kenapa meluk gua?" pekik Zack, karena dimarahi Reza Glen jadi memeluk Zack.


"Takut..." ucap Glen.


"Nggak ada apa-apa," Zack melepaskan pelukan Zack secara paksa.


"Peluk ini aja!" Reza memberikan bantal sofa pada Glen.

__ADS_1


Glen memeluk bantal sofa itu dengan erat. Kedua matanya tidak berani melihat dapur. Tapi baik Reza maupun Zack, keduanya masih menatap ke arah dapur. Bagaimana bisa benda di dapur jatuh? Di apartemen ini tidak tikus, kecoa, ataupun sejenisnya. Zack juga tidak memelihara anjing ataupun kucing. Keduanya menjadi waspada, sudah pasti ada orang di dapur sekarang.


Selama sepuluh menit, mereka bertiga diam tidak bersuara. Hanya suara televisi yang terdengar. Zack akhirnya mengecek dapur dengan hati-hati, tidak ada orang di dapur. Ketiganya bernapas lega. Mereka pun kembali duduk di sofa dengan sedikit tenang. Zack mengambil remote televisi, ia mencari film lain karena film tadi sudah habis. Itupun mereka tidak tahu akhir ceritanya. Tepat di saat film selanjutnya dimulai, Reza melihat pantulan bayangan seseorang di guci besar sebelahnya. Dari bayangan itu, jelas orang itu tidak jauh dari Zack. Tepatnya di belakang sebuah almari tinggi.


"Arah jam 4," Reza berbisik pada Zack.


"Ambil di bawah sofamu," Zack juga berbisik.


Zack dan Reza bersikap biasa saja. Tangan Reza terlihat mengambil sesuatu di bawah sofa. Ia berhati-hati tapi cekatan dalam bergerak. Dalam beberapa detik tangannya mengambil satu buah pistol. Pistolnya ia injak dengan kakinya. Reza memberikan satu buah pistol lagi untuk Zack. Zack melakukan hal yang sama. Sebenarnya masih ada beberapa senjata lagi, tapi Reza malas memberikannya pada Glen. Bagaimana tidak, Glen saja sudah gemetar ketakutan.


"Arah jam 4?" bisik Zack.


"Iya, lengkap!" bisik Reza.


Zack mengelus lehernya. Ia tahu maksud Reza. Lengkap artinya orang itu membawa senjata. Zack merasa sedikit gugup, sudah lama tidak bertarung. Sekalinya ada kesempatan, malah diserang diam-diam seperti ini.


"Sekarang!" teriak Reza.


Dor,


Begitu Reza berteriak, orang itu melepaskan tembakan. Reza berguling ke lantai, bersembunyi di balik sofa. Zack berlari ke samping, ia berlindung di balik dinding. Zack memicingkan matanya, bersiap melepas tembakan.


Dor dor,


Pelurunya menembus almari itu. Orang misterius itu berhasil menghindar. Ia akan membalas tembakan Zack.


Dor dor,


Sementara Glen, ia seperti linglung. Ia hanya melihat bingung kejadian baku tembak di hadapannya. Ia masih diam di posisi duduknya di sofa dengan memeluk bantal.


Dor dor,


"Menunduk, bodoh!" Reza menekan kepala Glen sampai tersungkur ke lantai.


"Sakit, bos!" protes Glen.


"Makanya menunduk, tidak tahu apa kita sedang perang! Kalau kau mati nanti, baru arwahmu menangis menyesal!" Reza marah.


"Iy...iya saya akan menunduk di sini, saya nggak mau mati dulu bos! Impian saya menjadi orang kaya belum tercapai," jawab Glen.


"Bodoh," umpat Reza dengan kesal.


"Iya iya bos! Saya memang bodoh, fokus perang saja!" Glen menutup kepalanya dengan bantal yang ia peluk sejak tadi.


Reza menatap nyalang orang misterius itu. Zack terlihat sedang baku tembak dengan orang itu. Kesempatan bagus, Reza juga akan menyerangnya. Mungkin dengan cara ini orang itu bisa dikalahkan. Reza cemas, menghadapi satu orang saja susah. Bagaimana jika ada banyak orang seperti ini yang menunggu membantainya. Tidak ada yang tahu berapa banyak musuh yang datang. Semakin sedikit waktu yang digunakan akan semakin baik untuk Reza dan Zack.


Reza melirik Zack, seperti memberikan isyarat. Zack mengangguk. Reza mengeluarkan pisau kesayangannya. Dan beberapa pisau kecil lain. Reza menembak orang itu beberapa kali. Orang itu membalas Reza habis-habisan. Lalu Zack memberikan serangan lagi. Orang itu menjadi fokus hanya pada Zack. Reza berguling di lantai, gerakannya gesit. Hingga tidak ada yang menyadari ia sudah bersembunyi di balik meja, yang letaknya sejajar dengan orang misterius itu.

__ADS_1


Jleb,


"Arrgghh!" pekik orang itu.


Gedubrak,


Pistol yang dibawa orang itu terjatuh di lantai. Reza bergegas memanfaatkan waktu singkat ini. Ia bersiap dengan banyak pisau di tangannya. Sedangkan orang itu sudah membungkuk untuk mengambil pistolnya.


"Mungkin kau ahli menembak, tapi tidak ada yang bisa menghindari pisauku!" teriak Reza.


Jleb jleb jleb....


"Aarrgghh!" terdengar teriakan melengking panjang.


Sekali lemparan, tiga pisau Reza menusuk dalam ke dada orang itu. Darah segar mengucur deras, menetes dari ujung jaket hitam orang itu. Darah itu membuat Reza kalap.


jleb jleb jleb...


Reza melempar lagi pisaunya. Tepat mengenai dahi, dan leher orang itu. Orang itu sudah tidak bersuara lagi. Reza tertawa puas, kencang sekali tawanya. Ia seperti mendapat mainan baru. Lantas ia mendekati orang itu, kakinya menginjak pisau yang menancap di dada. Pisau itu menusuk semakin dalam, hanya terlihat gagangnya saja. Darah segar masih mengucur deras. Reza seperti mendapat kepuasan.


Cukup lama Reza diam menatap darah itu, hingga Reza tersadar setelah mendengar alarm mobil yang berbunyi di bawah sana. Reza bergegas berdiri, merapihkan bajunya. Ia menengok ke bawah, ada cukup banyak orang berpakaian serba hitam di bawah. Reza tahu, itu pasti rombongan orang misterius yang menembak tadi. Ia menelpon anak buahnya dulu, yang ada di daerah ini. Anak buahnya nanti akan membantunya membereskan orang-orang itu dan membersihkan apartemen Zack. Reza yakin akan ada serangan lain.


"Zack sepertinya kita harus ke mansion Dave, di sini tidak aman! Jumlah kita terlalu sedikit!" seru Reza.


Sepi, tidak ada jawaban. Reza berlari, apakah Zack tertembak? Ia bergegas mengecek ke tempat Reza berlindung tadi.


"Zackkk!" teriak Reza.


Reza membolak-balik tubuh sahabatnya itu. Jika Zack tertembak, ia akan menghentikan perdarahannya dulu agar tidak kehabisan darah Tapi Reza merasa aneh, tidak ada satupun luka pada tubuh Zack. Lalu apa yang terjadi?


"Bangun, Zack!" teriak Reza, ia semakin panik.


"Bos!" seru Glen, suaranya terdengar serak.


"Apa yang terjadi sama dia? Kenapa kau menangis terus sih?" seru Reza.


"Dia pingsan, bos! Saat liat darah dia pingsan! Saya menangis karena saya takut bos, saya belum kaya nggak mau mati huhuhu!" ucap Glen, kedua matanya sudah banjir air mata.


"Arrgghh!" Reza menjambak rambutnya.


Disaat genting seperti ini, kenapa ada dua orang menyebalkan di sekelilingnya. Sahabatnya sendiri malah pingsan karena darah, sepertinya ia masih takut darah. Dan sekretarisnya, bukannya membantu malah mewek. Beruntung anak buahnya cepat datang. Reza mengawasi dari atas. Ia tadi sudah memperingatkan anak buahnya untuk tidak menggunakan pistol. Orang-orang di bawah sekarang adu jotos.


"Ayo turun!" seru Reza pada Glen.


Reza memapah tubuh Zack, membawanya keluar. Sementara Glen, ia berjalan di belakang Reza sambil memegang ujung baju Reza. Karena dalam keadaan darurat, terpaksa mobil Zack dinaiki tiga orang. Reza menyetir mobilnya. Sementara Glen duduk memangku Zack si atasnya.


"Cepat, bos! Zack kebanyakan dosa ini, berat sekali!" ucap Glen, ia merasa terjepit badan Zack.

__ADS_1


.......................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya! Love you all!


__ADS_2