
"Aarrgghh!" pekik salah satu penjaga.
Dor dor,
"****!" Reza berguling ke samping sofa.
Reza menoleh, astaga! Keempat pelayan itu tidak bisa disepelekan.
Dua orang pelayan berhasil memepet penjaga dan menembaki perut mereka. Dua pelayan lainnya menembaki penjaga lainnya. Reza merogoh saku celananya. Sial! Hanya ada dua pisau. Bagaimana mungkin bisa melemahkan empat wanita itu?
Joe beruntung, ia sempat menghindari serangan. Ia bersembunyi di balik almari besar. Joe melirik Ily, kekasih sekaligus kepala pelayan itu tengah meringkuk ketakutan bersama dengan pelayan lainnya. Keempat pelayan yang memberontak tadi sudah melepaskan seragam pelayan mereka. Menyisakan baju dan celana tipis serba hitam.
"Tiarap!" teriak Joe.
Para pelayan mengikuti perintah Joe, mereka tiarap dibalik meja panjang yang mereka jadikan sebagai perisai.
Dor dor,
"Arrghh!" semua pelayan berteriak ketakutan.
Satu per satu peluru menancap di meja itu, Joe dan Reza saling menatap. Semua penjaga telah dikalahkan bahkan sebelum mereka menyadari serangan itu. Hanya tersisa Joe dan Reza sekarang. Tapi apakah mereka akan melawan wanita? Membunuh wanita?
Akhirnya Joe keluar dari persembunyiannya, bidikannya mengarah pada musuh-musuh itu. Pilihan hanya ada dua, mereka yang mati atau musuh yang mati.
Dor dor,
Salah satu pelurunya menggores lengan, sepertinya dia pemimpin dari kelompok pelayan gadungan itu. Peluru lainnya meleset. Dalam hitungan detik, kini mereka menyerang balik Joe. Joe bersembunyi lagi di balik almari. Napasnya ngos-ngosan.
Reza memanfaatkan situasi untuk menarik satu per satu anggota keluarga yang tertidur. Agar mereka tidak terkena tembakan. Susah payah Reza menarik mereka, ia membaringkan mereka di belakangnya.
Dor,
"Tunggu sebentar napa!" umpat Reza.
Reza tinggal menarik tubuh Zack. Tapi malah ditembak penjahat itu. Padahal tubuh Zack itu paling berat dari yang lainnya.
Dor,
"Zack, Zack...Makan apa sih lo? Ini lagi tidak tahu apa aku susah-susah ngangkat beruang malah ditembaki! Aku congkel mata kalian baru tahu rasa!" Reza mendumel.
"Sonya!" seru Joe, Joe melemparkan sebuah pistol kepada Sonya.
Hap,
Sonya pun menangkap pistol itu. Sonya mulai menyerang musuh-musuh itu. Kini perlawanan tidak hanya dari Joe tapi juga dari Sonya. Diantara semua pelayan di sana, hanya Sonya yang bisa menggunakan senjata. Akhirnya Reza bisa mengamankan keluarga Dave yang tertidur dengan tenang. Joe tidak ada pilihan, jaraknya denga Reza terlalu jauh. Jadi susah untuk memberikan senjata. Harapannya Sonya bisa membantunya.
Dalam sekejap ruang keluarga itu menjadi medan perang. Ada banyak korban bergelimpangan dengan darah yang mulai menggenang. Sofa, almari, dinding, menjadi benteng pertahanan masing-masing. Baku tembak berlangsung dengan sengit. Joe yang cukup ahli dalam menembak sampai harus berlindung untuk bertahan. Empat musuh ini pasti orang terlatih. Entah sampai kapan Joe dan Sonya mampu melawan empat wanita penjahat itu.
Di balik sofa, Reza menimbang-nimbang keputusannya. Ia hanya punya dua pisau. Ia harus memanfaatkan segala kesempatan. Reza memicingkan matanya, bidikannya pasti tepat.
__ADS_1
Zaasshhhh,
Pisau andalan Reza melayang di udara, Reza tersenyum smrik perhitungannya tepat.
Jleb,
"Arrgghhh!" terdengar erangan yang memilukan.
Bruk,
Satu musuh tumbang, pisau Reza menancap di mata kirinya. Dalam sekejap darah mengalir di lantai. Tubuh itu sedikit kejang-kejang. Wanita itu antara sadar dan tidak, tadi Ia masih sibuk menyerang Joe dan Sonya. Tapi sebuah rasa sakit yang amat sangat menyiksa menerjang mata kirinya dalam waktu sepersekian detik.
Salah satu komplotan wanita itu tampak berjongkok, dia sepertinya sedang memeriksa apakah rekannya masih hidup atau tidak. Lantas wanita itu menarik rekannya yang terluka lebih dekat dengannya. Reza menebak, wanita yang ia bidik tadi masih hidup. Biarlah, lihat saja berapa lama dia bisa bertahan dengan darah yang masih mengalir dari matanya.
Dor dor,
Reza langsung bersembunyi. Sial! Musuh mulai menembaki ke arahnya lagi. Tapi itu tidak berlangsung lama, Joe menyerang mereka dengan menggebu-gebu. Perhatian musuh terkecoh oleh Joe. Reza memanfaatkan keadaan.
"Ini akan sedikit banyak menyakitkan untukmu!" Reza melemparkan pisaunya.
Zaasshhh,
"Aarrgghh!" terdengar lagi erangan memilukan.
Musuh tumbang lagi, kali ini lengannya yang menjadi sasaran Reza. Itu artinya senjata Reza habis. Sementara musuh masih ada tiga, karena walaupun lengannya tertusuk pisau Reza wanita itu masih bisa menembak. Joe dan Sonya juga terlihat mulai kewalahan.
Joe mencoba ngecek pistolnya sekali lagi. Ah benar saja, pelurunya habis. Sekarang harus bagaimana? Joe mengamati Sonya, Sonya terlihat kewalahan. Musuh juga masih menembaki Joe. Kalau Sonya dikalahkan, para wanita penjahat itu akan menghabisi mereka semua dan pergi dari mansion ini. Hal ini tidak bisa dibiarkan.
Di sisi lain, Reza mulai geram. Dirinya sudah tidak punya senjata lagi sekarang. Ia memutar otak, mencoba untuk mencari solusi. Reza ingat, biasanya baik Dave maupun Zack membawa senjata. Ia langsung menggerayangi tubuh Dave dan Zack. Berharap ia bisa menemukan sesuatu.
"Badan doang gede, nggak bawa apa-apa!" keluh Reza.
Tidak ada senjata apapun di tubuh Zack. Lantas Reza mencari di saku celana Dave. Beruntung, Reza menemukan pisau kesayangan Dave di saku celananya. Kabar buruknya, hanya itu satu-satunya yang Reza temukan.
"Tuan Reza!" teriakan Joe mengejutkan Reza.
Musuh menyerang Reza dengan membabi buta. Reza tidak yakin sofa yang ia jadikan perisai bisa bertahan lama. Reza menggunakan senjata terakhirnya. Ia lemparkan pisau itu,
Prang,
Sialnya sasaran Reza bisa menghindar. Pisau itu menancap dalam ke almari tempat dimana Joe bersembunyi.
"Huft...Untung tidak kena..." Joe menghela napas lega.
Habis sudah senjata, tidak ada pilihan lain. Reza merangkak perlahan dari persembunyiannya. Ia mengambil beberapa vas pajangan di meja. Lantas Reza melemparkan vas-vas itu ke arah musuh.
Prang prang prang,
Reza tidak peduli vas harga berapa yang ia lempar. Asalkan ia bisa menghalau musuh. Joe pun melakukan hal serupa. Di saat Reza dan Joe bertarung habis-habisan dengan barang seadanya.
__ADS_1
Bruk,
Sebuah benda keras menghantam kaki Reza dengan cukup keras. Reza menunduk, benda itu ternyata pistol.
"Let's rock, baby!" teriak Silvi dari balik dinding pembatas ruang tengah.
Tadi Davin sempat menahan Silvi di kamarnya, minta dibacakan cerita. Karena itulah Silvi terlambat mengetahui semua ini. Saat ia hendak turun ke ruang tengah, samar-samar ia mendengar suara tembakan. Jadi ia memutuskan untuk mengambil senjata yang ia sembunyikan di kamar.
"I love you!!!" sahut Reza.
Silvi datang di waktu yang tepat. Reza lupa, Silvi tadi membawa Davin dan Desmon ke kamar. Ia bersyukur Silvi tidak terkena obat tidur seperti yang lainnya. Kedua sejoli itu bersiap bertarung.
Dor dor,
Keduanya kompak menyerang pertahanan musuh. Memang banyak meleset karena musuh juga bersembunyi, tapi keduanya tidak menyerah. Sehebat apapun wanita-wanita itu, kalau Reza dan Silvi bersatu pasti akan mengalahkan mereka.
"Sebenarnya aku tidak biasa membunuh wanita, tapi ini menyenangkan hahaha!" Reza tertawa dengan keras.
Reza menembak tanpa memberi jeda, emosinya memuncak. Musuh kalang kabut. Satu diantara mereka sudah tumbang dengan darah yang bercucuran. Musuh yang tumbang itu wanita yang terkena pisau Reza di lengannya. Tersisa dua orang lagi.
"Jangan biarkan mereka kabur!" teriak Reza.
Dua musuh yang tersisa perlahan mundur menuju pintu tidak dengan terus menembak. Reza tidak mungkin membiarkan itu. Perlahan Silvi maju sementara Reza bertugas melindungi Silvi. Baku tembak semakin sengit.
"Kalian pikir bisa kabur dari sini dengan mudah setelah kekacauan yang kalian buat ha?" seru Silvi.
Detik berikutnya Silvi keluar dari persembunyian dan menembaki mereka.
Dor dor,
Silvi menutup matanya, tidak ada tembakan balasan.
"Good, girl!" seru Reza.
Huft...Silvi menghela nafas lega. Ia berlari memeluk Reza. Perasaannya campur aduk sekarang. Joe, Sonya, Ily, dan pelayan lainnya keluar dari persembunyian mereka. Situasi menjadi lebih baik. Meskipun Dave dan yang lainnya masih dalam pengaruh obat tidur yang diberikan pelayan gadungan tadi.
Reza menelpon anak buahnya, menyuruh mereka untuk datang ke mansion Dave dan membersihkan semua ini. Sebenarnya Reza sedikit kecewa karena keempat pelayan gadungan itu mati. Apakah akan ada petunjuk yang akan menuntunya mengetahui dalang dibalik serangan itu?
"Darahnya!" pekik Glen.
"Manaaa?" teriak Frans.
Reza dan Silvi menoleh, Glen dan Frans menjerit ketakutan karena di dekat mereka ada banyak darah. Dave dan yang lainnya saja belum terbangun, tapi Glen dan Frans sudah terbangun. Sungguh diluar dugaan Reza.
"Glen...Frans..." Reza menghampiri keduanya.
...................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!
__ADS_1