Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
WAKTU CEPAT BERLALU


__ADS_3

Empat tahun kemudian,


Empat tahun sudah Silvi melanjutkan pendidikannya dengan bersungguh-sungguh. Semuanya berjalan lancar, banyak dukungan yang ia dapat dari orang sekitar hingga ia bisa menyelesaikan pendidikannya tepat pada waktunya.


Di usianya yang baru menginjak 21 tahun, Silvi tidak hanya belajar saja. Belakangan ini ia sering mampir ke kantor papanya. Awalnya hanya sekedar mampir saja. Tapi pada suatu waktu saat ia melihat tumpukan berkas di meja papanya. Tangannya gatal ingin membuka. Siapa sangka Silvi menemukan kejanggalan pada laporan keuangan perusahaan. Sejak saat itu ia mulai membantu papanya.


Hari ini adalah hari yang bersejarah setelah empat tahun lamanya ia belajar. Ya! tepat di hari ini Silvi akan wisuda. Semua anggota keluarga turut serta mengantarkan Silvi ke aula hotel tempat pelaksanaan wisuda. Silvi tampil cantik di hari spesialnya dengan balutan dress coklat muda panjang. Sederhana namun elegan dan pas di tubuh Silvi.


"Selamat, sayang!" Katy memberikan bucket bunga kepada putrinya.


Saat acara sudah selesai dan tiba saatnya sesi foto. Anggota keluarga dan sahabat menghampiri Silvi.Satu per satu dari mereka mengucapkan selamat dan memberikan hadiah.


"Terima kasih, mama!" Silvi memeluk mamanya.


Banyak sekali hadiah yang diterima Silvi. Aryn, Mei, Angel, Uti, Zack, Samuel, bahkan Ken dan Naina memberikan bucket bunga dan boneka sebagai hadiah.


"Tunggu tunggu," seru Silvi.


Kedua tangan Silvi sampai tidak bisa membawa semua hadiah itu. Bahkan wajahnya saja hampir tidak terlihat.


"Tolong, aku tidak bisa membawanya lagi!" keluh Silvi.


"Ya sudah, berikan pada Ken! Dia yang akan membawanya!" sahut Dave.


Silvi langsung memberikan semua bunga dan boneka pada Ken.


"Sabar..." gumam Ken.


"Kalau kebanyakan berbagi sama aku nggak apa-apa kok, Silvi!" celetuk Mei.


"Enak di kamu, nggak enak di Silvi dong!" Aryn menoyor bahu Mei.


"Berbagi itu indah, benar kan Silvi?" seru Mei tanpa malu.


"Nggak," sahut Silvi singkat.


"Ya sudah deh. Meskipun begitu aku tetap mendoakan agar kamu mendapatkan pekerjaan nanti," Mei tersenyum.


"Harusnya kau berdoa untuk dirimu sendiri, kau sudah 2 tahun lebih menganggur!" seloroh Dave.


"Sayang..." Aryn menyenggol lengan Dave.


Aryn dan Mei sudah menyelesaikan gelar sarjana mereka kurang lebih 2 tahun yang lalu. Sayangnya Mei tidak kunjung mendapatkan pekerjaan. Aryn pernah menawarinya untuk bekerja di perusahaan Dave tapi dia menolak. Karena ingin mencari pekerjaan berdasarkan kemampuannya bukan dari bantuan sahabatnya. Sementara Aryn, ia ingin bekerja namun Dave bersikeras memintanya untuk menjaga Davin saja di rumah.


Davin sekarang sedang jauh lebih aktif. Aryn dan Dave mendaftarkannya ke sekolah. Di usia yang sudah menginjak 5 tahun setengah, Aryn dan Dave ingin putra mereka mulai belajar dan bersosialisasi dengan teman sebayanya. Tidak hanya Davin, Desmon juga masuk ke taman pra sekolah yang sama dengan Davin. Karena Desmon tidak ingin pisah dengan keponakannya itu.


"Suamimu ini lemes bibirnya Ryn!" Mei mengadu pada Aryn.


"Makanya kamu terima saja tawaranku bekerja di perusahaan Dave. Biar tidak diejek terus!" sahut Aryn.


"Nepotisme itu namanya," jawab Mei.


"Sudahlah terima saja, biar bisa satu kantor dengan Zack loh!" celetuk Samuel.


"Nah, nanti bisa berangkat dan pulang bareng gitu!" Angel menambahi.


"Mau ya? Lihat itu Zack udah senyum-senyum sendiri," Aryn terkekeh.


Zack salah tingkah, ia pura-pura membuka ponsel. Semua orang tertawa karena mereka bisa melihat kedua pipi Zack memerah sekarang.

__ADS_1


"Kalian lupa? Zack bukan pegawaiku lagi," seru Dave.


"Oh iya, ya!" jawab semua orang.


Silvi tersenyum tipis menyaksikan kehebohan keluarga dan sahabat kakaknya. Ia memang tersenyum sekarang tapi ia tidak bisa menyembunyikan kesedihan dan kekecewaannya. Sejak datang ke hotel ini ia celingukan mencari seseorang. Siapa lagi kalau bukan Reza.


Lima bulan lalu Reza sempat pulang dan tinggal di sini selama dua minggu untuk melepas rindu dengan Silvi. Semenjak kepulangannya itu hingga hari ini, Reza tidak pulang lagi. Telpon dan video call pun jarang. Dari dua hari yang lalu hingga detik ini bahkan Reza susah dihubungi. Silvi mengira Reza akan memberikan kejutan di hari spesialnya ini. Tapi sampai acara selesai, Reza tidak ada kabar.


"Kamu kenapa Silvi? Apakah ada temanmu yang akan datang?" Erick menepuk bahu Silvi.


"Eh, papa! Emm... Kak Reza susah dihubungi, tidak ada kabar sampai hari ini juga, pa!" jawab Silvi.


"Lupakan saja! Ayo ikut papa!" Erick membawa Silvi keluar dari hotel.


Mungkin karena keasikan melamun memikirkan Reza, Silvi sampai tidak tahu jika aula itu kosong. Semua orang sudah keluar dari aula. Erick membawa Silvi ke depan hotel. Di depan hotel, tepatnya halaman hotel itu Dave, Aryn, Katy, Uti, dan yang lainnya menunggu Silvi.


"Papamu belum memberikan hadiah, bukan? Ini hadiah dari papa," ucap Erick.


Plok plok,


Erick menepukkan tangannya dua kali. Sebuah mobil Aston Martin Vanquish warna biru datang ke halaman hotel. Mulut Zack dan Samuel menganga melihat hadiah Erick.


"Ini kuncinya, sayang!" Erick memberikan kunci mobil yang tadi dibawa anak buahnya kepada Silvi.


"Papa...Terima kasih." Silvi memeluk papanya.


"Warna mobilnya usul dari mama loh," Katy mendekat.


"Terima kasih, mama!" Silvi memeluk Katy.


"Aton gua kalah, bro!" Zack bersandar di bahu Samuel.


"Masalahmu apa? Ada sopir kan?" sahut Erick ketus.


Tidak sampai di situ, Dave berjalan mendekati Silvi. Dari semua orang, Dave juga belum memberikan hadiah pada Silvi.


"Ini hadiah dariku, gunakan dengan baik. Kelola dengan benar!" Dave menyerahkan sebuah kunci.


"Apa ini kak?" Silvi bingung.


"Aku dirikan toko buku, semua jenis novel dijual di sana." jawab Dave.


"Hah!" pekik Mei.


Brukkk,


Mei terduduk di tanah. Zack dan Samuel menoleh, mereka juga terkejut tapi rupanya Mei lebih terkejut.


"Kamu kenapa Mei?" Aryn menghampiri Mei.


"Dengkulku lemas, Ryn! Silvi baru lulus kuliah sudah jadi sultan. Toko buku, mobil mewah... Aku masih jadi pengangguran!" ucap Mei.


Semua orang geleng-geleng melihat tingkah Mei. Satu per satu dari mereka pulang. Acara juga sudah selesai, tinggal nanti malam mereka diundang ke mansion untuk makan bersama merayakan wisuda Silvi.


Silvi masih termenung di tempatnya. Mama dan papanya mengajaknya untuk pulang. Ia menolak dengan memberikan alasan sedang menunggu teman.


"Duluan yuk pa, itu temannya Silvi datang!" Katy membawa Erick pergi dari sana.


Silvi terdiam, padahal tadi ia hanya mengarang alasan. Lalu siapa yang datang. Silvi langsung menoleh. Ah ternyata dia lagi. Mike si tukang ngekor. Mike juga wisuda hari ini, ia menggunakan jas hitam. Kalau boleh memuji, Mike terlihat menawan hari ini.

__ADS_1


"Apa?" seru Silvi tanpa basa-basi.


"Aduh, udah wisuda jangan marah-marah terus dong!" Mike terkekeh.


"Hmm," jawab Silvi ketus.


"Ini...Selamat ya!" Mike memberikan bucket.


Kedua mata Silvi melotot lebar. Bucket yang diberikan Mike bukan bucket bunga melainkan bucket uang. Uang pecahan 100 dollar tersusun rapi sebagai pengganti bunga. Entah berapa jumlah uang itu, yang pasti ada banyak uang yang tersusun bertumpuk di bucket itu.


"Terima kasih, tapi ini berlebihan Mike!" Silvi menolak bucket itu.


"Aku memaksa, tolong terimalah!" Mike menatap Silvi dengan tatapan memohon.


"Baiklah," Silvi menerima hadiah Mike.


"Sudah aku terima ya, aku pergi dulu!" Silvi hendak meninggalkan Mike.


"Tunggu!" Mike memegang lengan Silvi.


"Sorry, tangannya nggak usah pegang-pegang!" Silvi kesal.


"Okay," Mike melepaskan tangan Silvi.


"Tapi tunggu sebentar, ada yang mau aku katakan," lanjut Mike.


"Katakan saja!" jawab Silvi.


"Silvi, untuk yang kesekian kalinya aku ingin mengatakan jika aku masih mencintaimu. Sangat sangat mencintaimu. Apakah mustahil jika kamu memberikan kesempatan sekali saja untukku?" ucap Mike.


Deg,


Empat tahun berlalu, tapi pria di hadapannya masih berharap padanya? Lidah Silvi kelu, ia tidak bisa mengatakan apapun. Ia teringat bagaimana empat tahun ini berlalu. Setiap hari, setiap saat Mike selalu membuntutinya. Mike banyak membantunya. Pria itu juga selalu menjaganya di kampus.


"Aku...Aku..." Silvi bingung.


"Kamu akan menjawab, kamu mencintai pria tua itu kan? Reza, ya namanya Reza." sahut Mike.


"Iya, aku mencintainya. Dari dulu, sekarang, dan sampai selamanya." Silvi menatap Mike tajam.


"Lalu dimana dia sekarang? Di hari pentingmu dia tidak ada di sini kan?" seru Mike.


Silvi semakin terpojok. Mike benar, Reza tidak hadir di acara pentingnya. Jangankan hadir, sejak dua hari ini Reza tidak menelpon ataupun mengirim pesan. Saat Silvi menelpon Glen kemarin, Glen mengatakan Reza sedang tidak ingin diganggu. Katanya Reza sedang sibuk dengan proyek besar.


Doni yang sering Silvi andalkan untuk menguntit Reza juga sudah tidak bisa membantu. Tahun lalu Doni pindah ke Singapura. Tidak ada lagi mata dan telinga Silvi di sana. Silvi tidak tahu apakah Reza sedang mengerjakan proyek sungguhan atau hanya beralasan.


"Kamu tidak punya jawabannya kan?" Mike terkekeh.


"Dia sudah mengabariku kemarin. Dia akan pulang secepatnya, sekarang sedang sibuk!" Silvi mencari alasan.


"Tidak ada orang yang terlalu sibuk. Ini hanya tentang prioritas!" Mike tersenyum simpul.


Lutut Silvi rasanya lemas. Pikirannya jadi semakin kacau. Ucapan Mike tidak salah. Ini semua tentang prioritas. Apa yang sebenarnya dilakukan Reza di sana?


"Pikirkan ucapanku baik-baik, Silvi! Jangan sia-siakan waktumu untuk orang yang tidak bisa dipegang ucapannya! Aku tunggu jawaban darimu, semoga kesempatan itu ada," Mike melangkah pergi.


................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!

__ADS_1


__ADS_2