Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
KEHEBOHAN DI BAWAH POHON ALPUKAT


__ADS_3

Banyak orang berkata, jika kita bahagia waktu tidak akan terasa. Begitu sepertinya yang dialami oleh tiga keluarga kecil yang tinggal berdampingan ini. Para suami sudah berangkat mencari nafkah untuk keluarga. Para istri berfoya-foya di bawah pohon alpukat milik Mei.


Sejak pindah ke komplek itu, pohon alpukat Mei menjadi markas untuk Aryn, Silvi, dan Mei. Bahkan Angel dan Naina juga sering main ke sana. Berfoya-foya ala mereka berbeda ya! Ketiga emak-emak muda itu sedang membuat rujak di sana. Iya, Rujak! Buah segar yang dipotong-potong dan dimakan dengan sambal kacang sedikit pedas. Ide siapa lagi kalau bukan ide Aryn.


"Wuaahh...Enak banget!" seru Mei.


Kandungan Mei masuk usia 3 bulan hari ini. Karena mengandung 3 bayi sekaligus jadi perutnya sudah besar.


"Ide siapa dulu?" ucap Aryn dengan bangga.


"Iya deh, kakak iparku emang the best!" Silvi terkikik.


"Kalau Angel sama Naina gabung lebih syahdu ini acara rujakannya," seloroh Aryn.


"Udah aku chat tadi. Angel lagi belanja, Naina ngurus Arthur. Arthur demam katanya," jawab Mei.


"Oh.." Aryn dan Silvi manggut-manggut.


"By the way, Pangeran Apin kok nggak mbuntutin emaknya hari ini?" Mei jadi ingat Davin.


Biasanya kalau Davin sudah pulang sekolah dan Aryn akan berkumpul rutin di bawah pohon alpukat pasti bocah tampan itu selalu ikut.


"Main ke rumah Uncle Desmon," jawab Aryn.


"Ohh..." Mei mengangguk.


Mereka hening sejenak, hanya terdengar suara gemerutuk gigi mereka mengunyah buah-buahan segar.


"Angel kerjaannya belanja mulu, nggak pusing apa ya?" ucap Aryn.


"Jangan bandingin dia sama kamu, kak! Dia nggak nge-mall sehari aja panas dingin badannya secara dia mantan model kelas dunia, beda sama Kak Aryn yang liat tagihan listrik aja pusing. Tapi Kak Dave pasti lebih pusing, duitnya mau dikemanain," Silvi terkikik.


"Kalian sama aja, kita bertiga itu sama-sama ngiritnya. Ngerujak di bawah pohon aja udah bahagia banget wkwkwk..." seru Aryn.


"Iya sih," Silvi ikut tertawa.


"Tapi asik sih kalau kita sekali-kali nge-mall?" Mei menatap Aryn dan Silvi.


"Boleh boleh..." sorak Silvi.


"Kamu yakin mau nge-mall? Aku nggak mau ya nanti kalau acara shopping kita dibuntuti suami!" sahut Aryn.


"Bener banget! Suamimu kan masih marsmellow, dia pasti ngintilin kamu. Otomatis suami kita juga ngikut ngintilin," Silvi membenarkan ucapan Aryn.


Mei menepuk dahinya sendiri.


"Oh iya, tau ah! Zack kelewat protektif, mau gimana lagi," keluhnya.


"Namanya juga sayang sama kalian berempat," Silvi mengelus perut Mei.


"Kamu sudah waktunya, kan? Reza kok ngantor?" tanya Mei.


Usia kehamilan sudah 9 bulan lebih 2 hari. Perkiraan dokter, bayinya akan lahir minggu depan. Semakin mendekati hari bersalin, Silvi semakin rajin bergerak. Setiap pagi ia jalan-jalan keliling komplek, ia juga ikut kelas yoga hamil bersama Mei. Dan menjelang siang begini kumpul di bawah pohon, untuk sekedar sharing dan bercerita.

__ADS_1


"Dia cuma ngecek aja, sebentar lagi juga pulang. Suamiku juga punya tanggung jawab besar di perusahaan, cuma ngecek 2 jam di kantor tidak masalah." jawab Silvi.


Sebenarnya Reza sudah mengurangi pekerjaan sejak kehamilan Silvi memasuki 8 bulan. Setiap pagi Reza hanya 2 jam di kantor. Hanya untuk menandatangi berkas penting atau mengecek laporan. Setelah itu Reza akan di rumah sehari semalaman.


"Iya, lagipula ada kita." sahut Aryn.


Mereka lanjut makan rujak.


"Di supermarket ada ya buah begini?" Mei memandangi jambu air yang akan ia masukkan ke mulut.


"Aku belinya di toko Asia, di supermarket biasa mana ada," jawab Aryn.


"Oh... Toko Asia? Berarti buah dari Asia, ya? Kok di negaraku nggak ada, perasaan aku belum pernah makan," sahut Mei.


"Kamu aja yang nggak tau. Kebanyakan makan buah import sih, cintai produk lokal!" seloroh Aryn.


"Heleh, kamu menyuruhku mencintai produk lokal. Dave emangnya lokal?" cicit Mei.


Mereka tertawa bersama.


"Aww..." tawa mereka berhenti ketika tiba-tiba Silvi kesakitan dan memegang perutnya.


"Kamu kenapa Silvi?" Aryn panik.


"Perut kamu sakit?" Mei juga sama.


"Udah nggak sakit lagi, kok!" jawab Silvi.


Perutnya tadi sakit, tapi hanya sebentar. Aryn dan Mei mencoba untuk tenang. Mereka lanjut makan lagi. Tapi,


"Sakit lagi?" Aryn mendekat ke Silvi.


Silvi mengangguk.


"Kamu pulang aja, kita anterin!" Mei memberikan ide.


Silvi menggeleng, perutnya sudah tidak sakit. Silvi mengotot akan di sana sampai waktunya Reza pulang. Tapi ternyata selama 1 jam duduk bersama Mei dan Aryn sakit di perut Silvi terus datang dan hilang lagi. Sakit itu ia rasakan dengan jarak 15 menit.


"Aku telpon Reza lagi," ucap Aryn.


Tadi Silvi sudah mencoba tapi tidak diangkat. Aryn tidak bisa diam saja, ia juga akan mencoba menelpon Reza. Sementara Mei, ia menyenderkan Silvi di bantalan kursi. Bawah pohon alpukat Mei sudah dilengkapi kursi panjang yang luas dan empuk. Biasa dipakai untuk bersantai.


Sakit yang dirasakan Silvi semakin sering dan jaraknya semakin singkat. Mei mengelus-ngelus punggung Silvi untuk menenangkan Silvi.


"Aww...Rasanya semakin sakit, kak!" Silvi memegang lengan Aryn.


"Sepertinya Silvi akan melahirkan, Ryn! Gimana dong iniii!!!" Mei panik.


"Telpon suamimu, kantornya dekat dengan kantor Reza, biar suamimu yang membawa Reza pulang. Ponsel Reza tidak bisa dihubungi sejak tadi," Aryn mencoba tenang.


"Okay!" Mei menelpon Zack.


"Auuuwwww...Sakit...." Silvi merintih.

__ADS_1


"Sabar ya...Atur napasmu, Silvi!" Aryn memberi arahan sebisa mungkin.


"Aku akan telpon Dave, kantornya yang paling dekat dari rumah. Kalau menunggu Reza dan Zack akan lebih lama," Aryn bergegas menelpon suaminya.


Beruntung langsung diangkat. Dave sedang dalam perjalanan.


"Kamu jaga Silvi di sini, aku akan mengemasi perlengkapan Silvi dan bayinya!" seru Aryn.


Mei mengangguk, "Baiklah,"


Aryn berlarian ke Rumah Silvi. Aryn hanya tinggal memasukkan baju Silvi, perlengkapan bayi sudah dipacking rapi. Segera ia bawa ts itu keluar. Tepat di saat Aryn tiba di halaman Rumah Mei, Dave sampai di sana. Pasti suaminya mengebut tadi.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" Dave menggendong Silvi.


Silvi di dudukkan di jok belakang. Aryn dan Mei duduk di samping Silvi untuk memberikan semangat dan menenangkan Silvi. Dave duduk di belakang kemudi.


"Reza kemana sih? Dasar suami tidak berguna!!! Awas aja kalau terjadi sesuatu dengan Silvi!" Dave mengomel selama di perjalanan.


"Sudah, sayang! Yang penting kita harus segera sampai di rumah sakit sekarang!" Aryn menenangkan Dave.


Dave menghela napas kasar.


"Mei, kamu chat Zack belum? Bilang ke dia kita ke rumah sakit sekarang!" seru Aryn.


"Sudah..." Mei mengangguk.


"Aaauuuwww sakit...." Silvi meringis kesakitan.


Kedua tangan Silvi masing-masing mencengkeram tangan Aryn dan Mei. Aryn yang sudah pernah mengalami, mencoba untuk memberikan arahan pada Silvi. Ia memberikan aba-aba untuk menarik napas dan membuangnya perlahan.


"Aaarrghh!!" keringat bercucuran di kening Silvi.


"Kita sudah sampai, Silvi! Kamu pasti bisa!" seru Aryn.


Dave membuka pintu mobil bagian belakang. Seorang perawat membawakan kursi roda. Dave langsung mengambil alih. Ia menggendong Silvi dan mendudukkannya di kursi roda.


"Sakit kak.." keluh Silvi.


"Iya, dokter akan segera membantumu!" Dave mendorong Silvi masuk.


Aryn dan Mei mengikuti mereka. Mei tidak bisa berlari karena ia juga sedang hamil. Aryn dengan sabar mengimbangi Mei.


...............


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


Author sekalian mau promosi nih!!! Yuk baca novel author yang lain, judulnya: Tentang Waktu


Mengisahkan seorang pengacara, Ben Dallin yang mengalami kejadian aneh setelah memakai sebuah kalung. Ia bisa menjelajah waktu ke masa depan. Di suatu pagi ia terbangun dari tidurnya, tiba-tiba ia berada di sebuah villa Maldives dengan seorang status sudah menikah. Di pagi berikutnya hal yang aneh terulang juga.


Kemampuan itu membuat kehidupan keluarga dan pernikahannya berantakan. Akankah Ben bisa memperbaiki semuanya?


Langsung cek aja ya!

__ADS_1



__ADS_2