
"Uncle, hahahaha!" Davin tertawa dengan keras.
Davin memegangi perut kecilnya, ia tertawa keras sekali melihat Glen jatuh nyungsep ke tanah.
"Apin..Huhuhu..." Glen meringis kesakitan.
"Apin idak jatuh, kenapa uncle jatuh?" Davin berjongkok didepan Glen.
"Emang benar Apin tadi tidak mencontohi, tapi Uncle kesandung rumput itu!" jawab Glen sedih.
"Atit idak?" tanya Davin polos.
"Sakit, sakit banget!" jawab Glen.
Zack berjalan mendekat, mendengar suara benda besar jatuh membuat Zack penasaran. Kalau Davin kenapa-kenapa nanti ia pasti juga ikut disalahkan.
"Loh! Main ular-ularan?" Zack terkekeh melihat Glen tengkurap di kebun.
"Uncle Glen jatuh," sahut Davin.
"Ohh, ya sudah! Kirain Davin yang jatuh! Uncle mau berjemur lagi deh, bye bye!" Zack melambaikan tangannya pada Davin dan Glen.
Dalam hatinya, Glen mengumpat. Zack hanya datang untuk mengecek Davin. Padahal Glen sedang kesakitan, bukannya menolong malah pergi. Untung saja dia sahabat bosnya. Kalau tidak....Dia juga tidak akan melakukan apapun juga sih.
"Beljemul? Idak anas uncle?" tanya Davin polos.
"Ya panas, makanya Davin main saja sama Uncle Glen ya?" jawab Zack, ia tertawa sinis saat melirik Glen.
"Beljemul nanti uncle keling kayak ikan acin, loh!" seru Davin.
"Hahahaha..." Glen menertawakan ucapan Davin.
"Enggak, dong!" Zack tidak tahu lagi harus mengatakan apa pada Davin.
Zack melangkah pergi meninggalkan mereka. Kembali lagi pada aktivitas berjemurnya. Sementara Glen, ia berusaha untuk bangun. Diluar dugaannya, Davin mengulurkan tangan kecilnya untuk membantu Glen.
"Ayo bangun, uncle!" ucap Davin, ia mengulurkan tangan kecilnya.
"Wah, Davin baik banget!" puji Glen, ia terharu melihat perilaku Davin.
Glen meraih tangan kecil Davin. Glen tidak benar-benar menjadikan tangan Davin sebagai tumpuan. Glen hanya ingin menghargai pertolongan dari anak kecil itu. Saat ia sudah hampir berdiri, tiba-tiba saja Davin menarik tangannya. Dan itu membuat Glen kaget bukan main.
Gedubrak,
"Apin...." pekik Glen, wajahnya membentur tanah cukup keras.
Glen jatuh lagi, bedanya kali ini lebih nyungsep ke tanah. Wajahnya langsung mendarat ke tanah.
"Uncle cium tanah!" pekik Davin senang.
"Hilang sudah ciuman pertama uncle, untung bukan aspal! Pasti lecet bibir seksih uncle," keluh Glen.
"Kacian...." Davin meledek.
Glen beranjak duduk, ia mengelus kedua lututnya. Lututnya sudah perih karena jatuh pertama tadi. Tapi harus terbentur untuk kedua kalinya. Makin perih jadinya.... Belum lagi wajahnya. Syukur, Glen tidak jatuh di aspal atau pavling. Ia berusaha menahan perih. Mau menahan bagaimanapun juga kalau cengeng, tetaplah cengeng. Tanpa Glen sadari, air matanya meleleh membasahi kedua pipi.
"Uncle cemen! Laki-laki kok nangis!" Davin meledek.
__ADS_1
"Tolong Glen ya Tuhan..." lirih Glen.
Di sisi lain, Reza menutup telinganya dengan sebelah tangannya. Pasalnya Silvi menyanyi di dalam mobil. Awalnya Silvi hanya meminta untuk diputarkan lagu. Tiba-tiba saja Silvi bernyanyi, rasanya Reza ingin mengumpat. Mau tutup telinga, tapi tangan satunya ia pakai untuk menyetir.
"Cause I don't want to lose you, Hey yeah, ratatata...."Silvi berteriak-teriak.
"Silvi, silvi....Stop stop!" seru Reza.
"Kenapa? Suaraku jelek, begitu?" Silvi berkacak pinggang.
"Tidak, hanya saja tidak nyaman di telinga..." lirih Reza takut-takut.
"Apa? Itu sama saja kakak mengatakan suaraku jelek!" sahut Silvi berapi-api.
"Silvi...Bukan begitu! Emm...Lihatlah kita hampir sampai do restoran favoritmu, aku lapar! Kita makan dulu ya?" untung saja saat Reza berkata seperti itu tepat saat mereka sudah dekat dengan restoran langganan Silvi.
"Wah, iya! Sudah lama tidak makan di sini! Aku juga lapar, kak!" Silvi menjawab dengan cepat.
Tepat setelah mobil mereka berhenti, Silvi langsung turun dari mobil. Tanpa menunggu dibukakan oleh Reza seperti biasa. Sepertinya Silvi benar-benar lapar. Atau mungkin rindu makan di tempat itu. Ah, sudahlah! Reza hanya tinggal mengikuti dan menjaganya saja. Reza bergegas turun dari mobil. Silvi cepat sekali jalannya, Reza sampai sedikit berlari agar bisa beriringan dengan Silvi.
"Wanita kalau sudah disogok makanan, mau semarah apapun akan jinak hehehe..." lirih Reza.
"Apanya kak yang jinak?" sahut Silvi, ia samar-samar mendengar Reza.
"Ah, tidak! Ini loh, kucingnya jinak!" jawab Reza.
Di depan pintu restoran itu ada seekor kucing. Kucing itu duduk di sana dan memperhatikan pengunjung yang berjalan di sekitarnya. Hari ini keberuntungan ada di pihak Reza, selalu ada alasan yang tepat untuk mengeles pada Silvi.
Silvi percaya saja pada Reza. Ia menarik tangan Reza, mereka tidak jadi masuk. Silvi membawanya duduk di bangku yang berada di outdoor. Tangannya dengan lincah membuka lembar menu, menunjuk ini, itu, dan mengatakannya pada pelayan.
"Jus apel saja," jawab Reza.
"Katanya lapar?" sahut Silvi.
"Aku pesan makanannya nanti saja," Reza mengacak rambut Silvi.
Silvi manggut-manggut. Ia memainkan ponselnya sampai pesanannya datang. Banyak yang dipesan Silvi, sampai meja itu penuh. Reza menikmati jus apelnya sembari melihat belahan jiwanya makan dengan lahap. Tidak berapa lama, satu piring yang berisi kepiting digeser Silvi ke hadapannya.
"Aku nggak mau yang ini," ucap Silvi, menunjukkan deretan giginya.
Reza tersenyum, ia menghabiskan kepiting itu. Kemudian piring lain yang berisi salad digeser padanya. Silvi mengatakan tidak ingin makan itu lagi. Seperti itu seterusnya. Ujung-ujungnya, Reza yang menuntaskan semua makanan. Jadi tahu kan, kenapa Reza tidak memesan makanan...
"Enak ya, kak?" ucap Silvi saat makanan di meja mereka sudah ludes.
"Iya..." Reza tersenyum.
"Huahh..." Reza mengelus perutnya karena kekenyangan.
"Kak Reza pacar sejati, deh!" seru Silvi.
"Ralat...Penampung makanan sejati hehehe!" sahut Reza.
"Aduh, tidak kotak-kotak yah berarti perutnya?" Silvi meraba perut Reza yang tertutup jaket.
"Kotor nih otaknya!" Reza mengacak rambut Silvi dengan gemas.
__ADS_1
"Nggak masalah, sama pacar sendiri kok!" Silvi dan Reza tertawa bersama.
"Jangan khawatir! Aku masih rajin gym, di mansion Dave juga ada ruang gym-nya!" Reza terkekeh.
"Mantab!" Silvi mengangkat jempolnya.
Keduanya cukup lama duduk di sana, sembari menunggu sebentar karena Reza kekenyangan. Mereka berdua banyak berbagi cerita laku tertawa bersama sampai para pengunjung restoran lain iri. Meskipun status mereka sudah berubah, tapi masing-masing dari mereka tetap menjadi sahabat terbaik untuk pasangannya.
Kembali lagi ke mansion Dave, Aryn dan Mei sampai di mansion. Keduanya langsung berteriak-teriak memanggil Davin. Mereka berdua baru berhenti berteriak saat Ily mengatakan Davin ada di kebun belakang bersama Glen dan Zack. Aryn dan Mei pun langsung bergegas menuju halaman belakang.
"Zack?" seru Aryn.
Saat Aryn dan Mei melewati Area kolam renang. Zack duduk dengan hanya memakai celana boxer di sana. Kedua matanya ditutup mentimun. Bukannya Ily tadi mengatakan Zack dan Glen menjaga Davin. Lalu kenapa Zack malah berjemur?
"Eh, Aryn! Mei,.." sahut Zack, ia cukup terkejut saat ada Mei juga di sana.
Sementara Mei, kedua pipinya memerah. Zack bertelanjang dada sekarang, otot tubuhnya terekspos. Ini kali pertama Mei melihatnya, Zack keren.
"Dimana Davin? Bukannya kau harusnya menjaga dia bersama Glen?" Aryn kesal.
"Davin lebih suka main sama Glen, mau digantiin Sonya saja harus ditipu dulu!" jawab Zack.
"1001 alasan..." lirih Mei.
"Kamu bilang apa tadi?" seru Zack.
"Apa? Tidak kok? Fungsi pendengaranmu menurun itu!" sahut Mei.
"Iya iya, pengagum rahasiaku!" goda Zack.
Blush,
Kedua pipi Mei semakin merah. Zack memanggilnya pengagum rahasia. Ia lupa, Zack juga ikut menonton videonya waktu mabuk kemarin. Astaga!
Kresek mana kresek?
Rasanya Mei mau menutup wajahnya dengan kantong kresek saja. Malu...Mei sangat malu. Untung saja Aryn langsung membawanya pergi dari sana. Mei mengekor saja, mengikuti kemana Aryn menariknya. Ia menunduk terus menunduk. Sampai tidak tahu kemana dan lewat mana Aryn membawanya.
Bruk,
Mei menabrak tiang lampu di area kolam. Apa lagi ini Ya Tuhan? Mei mengelus kepalanya, sepertinya benjol.
"Kamu ini bagaimana?" maki Aryn. Aryn meninggalkan Mei.
"Aduh, apakah kamu baik-baik saja pengagum rahasiaku?" seru Zack dari seberang kolam.
"Aryn...." keluh Mei.
Muka mana muka?
Mei sudah tidak berani lagi menunjukkan mukanya. Ia bergegas menyusul Aryn yang sudah pergi ke kebun belakang. Reza menertawakan tingkah Mei. Asik sekali mengganggu gadis itu.
"Unik nan antik..." gumam Zack.
..................
__ADS_1
Semoga kalian semua sehat selalu!
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!