Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
PAGI YANG TEGANG


__ADS_3

Pagi ini sama seperti pagi sebelumnya, semua orang sibuk dengan rutinitas berhari-hari. Para pelayan mengerjakan tugas masing-masing, mulai dari menyiapkan sarapan, membersihkan mansion, sampai melakukan laundry. Tukang kebun mulai merawat semua tanaman hias di halaman depan dan belakang. Pawang hewan, memberikan makanan untuk peliharaan Silvi. Semua orang bekerja sesuai porsi masing-masing.


Davin yang baru bangun tidur, langsung berlari ke kamar om kecilnya. Padahal Sonya baru akan menyiapkan perlengkapan mandi bos kecil itu, sekarang ia harus mengejarnya. Davin berlari dengan menggunakan pampers saja.


"Aaa...tuyul!" pekik Mei yang baru membuka pintu kamar.


Mei sangat kaget, tepat saat ia membuka pintu kamar, ada makhluk kecil berlarian dengan hanya menggunakan pampers. Ia teringat tokoh hantu dari film horor yang diberikan Aryn. Untung saja jantungnya tidak jatuh tadi.


"Enak aja tuyul, itu bos kecil! Kenapa nggak ditangkap sih?" sahut Sonya.


"Mana aku tahu?" Mei mengangkat bahunya.


Sonya berusaha merayu Davin agar mau mandi. Tapi bos kecil itu terus saja menolak.


"Apin maunya mandi baleng uncle Glen.." teriak Davin.


Alhasil Glen dipanggil ke kamar Desmon. Benar saja, Davin menurut. Davin menggandeng tangan Glen, mereka berjalan beriringan menuju kamar Davin. Pertama-tama Sonya akan melepaskan pampers Davin. Lagi-lagi Davin menolak disentuh Sonya.


"Maunya cama Uncle Glen!" teriak Davin.


"Aduh, bos kecil! Sama Aunty Sonya aja ya, uncle nggak kuat kalau sama yang beginian!" Glen menunjuk pampers Davin yang penuh.


"Aaaaa...Nggak mau!" Davin malah guling-guling di lantai.


"Apin..." Glen duduk bersimpuh di lantai.


"Uncle...." Davin merengek.


"Okay okay!" Glen mengalah.


Sonya menahan tawanya. Glen menutup hidungnya dengan tangan kirinya saat tangan kanannya mulai merobek samping pampers. Astaga! Ini kali pertamanya Glen menghadapi cobaan ini.


"Baumu luar biasa, bos!" keluh Glen.


"Enak, kan? Coalnya kemalin Apin makan stlobeli..." Davin tersenyum senang.


 


Satu persatu anggota keluarga turun menuju meja makan. Hari ini weekend, itulah sebabnya mereka berpakaian santai. Dave dan Aryn yang pertama duduk di meja makan. Erick datang bersama Katy dan Uti yang menggendong Desmon. Reza datang bersama Silvi, dan Zack secara tidak sengaja bersamaan dengan Mei.


"Aku betah deh tinggal di sini, Ryn!" Mei memecah keheningan meja makan.


"Iyalah, gratis!" seloroh Silvi.


"Bagus kalau gitu, hehehehe" jawab Aryn.


"Tapi ingat, setelah semua masalah terselesaikan dan apartemen kau aman, kau tidak boleh numpang di sini lagi!" seru Dave.


"Iya, iya..." jawab Mei bersungut-sungut.


"Itu Ayang Zack diambilin dong makanannya!" Reza menggoda.


"Nah, bener itu! Tolong dong!" Zack mengangkat piringnya, menunggu Mei mengambilkan.


"Nih!!" Mei terpaksa menurut.


"Muahh.." Zack memberikan flying kiss untuk Mei.


Mei melakukan gerakan seperti menangkap flying kiss itu. Lantas tangannya menggenggam. Tidak terduga, Mei menyampaikan Flying kiss itu pada Reza yang kebetulan duduk di sampingnya.


"Nihh!!" Mei menempelkan telapak tangannya ke bibir Reza.


"Ewww...Ciuman dari Zack!" Reza langsung mengelap bibirnya berkali-kali.

__ADS_1


"Aduh, kau ini menyebalkan! Aku saja belum merasakannya!" Silvi murka pada Mei.


"Nah loh, Mei! Yang punya marah!" seru Zack.


Reza duduk diantara Mei dan Silvi. Jelas Silvi marah pada Mei. Mei menyentuh miliknya. Jangankan berciuman, Silvi belum pernah menyentuh aset seksih milik Reza itu.


"Ooppss!" Mei tertawa.


Semua orang tertawa dengan tingkah mereka. Mansion terasa ramai jika ada mereka. Di tengah-tengah acara sarapan bersama mereka, Aryn celingukan mencari seseorang.


"Cari siapa, sayang?" tanya Dave dengan lembut.


"Davin," jawab Aryn singkat.


"Tadi Davin ke kamar Desmon, kejar-kejaran sama Sonya karena nggak mau mandi!" sahut Katy.


"Benarkah, ma? Aryn cari Davin dulu..." Aryn hendak beranjak dari duduknya.


"Tidak usah, Davin tadi mau mandi kok! Tapi..." Erick menahan tawanya.


"Tapi kenapa, pa?" tanya Dave tidak sabaran.


"Harus mandi bareng Uncle Glen..." Katy dan Erick tertawa bersama.


"Sekretaris serba guna!" celetuk Reza.


Aryn menghela napas lega. Putranya itu menjadi sedikit nakal. Untung Glen bukan tipe pria yang mudah marah.


"Mommih!" teriakan Davin menggema.


Aryn menoleh, putranya berlarian menghampirinya. Aryn merentangkan tangannya lebar. Diciumnya putra kesayangannya itu. Terutama bagian pipi, sejak bayi Aryn menerapkan tradisi dari negara asalnya. Setiap habis mandi bayi akan diberikan bedak agar wangi, hal itu Aryn terapkan sampai sekarang.


"Wah sudah ganteng, sudah wangi anak mommy!" seru Aryn.


"Wanginya..." ucap Dave setelah mencium Davin.


"Davin kayak kue mochi!" seloroh Mei.


"Uncle Glen yang dandanin,.." jawab Davin.


"Terus Uncle Glen mana?" tanya Reza.


"Uncle siniiii!" teriak Davin.


Dari balik dinding, Glen perlahan keluar dari persembunyiannya. Semua orang terdiam sebentar, lalu mereka tertawa bersama dengan keras.


"Astaga! Tinggal goreng ini!" seru Zack.


Wajah Glen penuh dengan bedak yang sama dengan Davin. Bedanya lebih tebal.


"Apin loh yang dandanin!" Davin menunjukkan deretan giginya.


"Apiinnn, Uncle maluuu..." rengek Glen.


Aryn dan Dave mencium pucuk kepala putra kesayangan mereka. Davin adalah putra yang luar biasa. Kelakuannya tidak bisa diprediksi. Mereka melanjutkan sarapan mereka. Tepat saat sarapan selesai, Mira berlari menghampiri empunya. Siapa lagi kalau bukan Silvi.


"Guk guk guk!"


"Kenapa Mira dibawa kemari, pak?" seru Erick pada pawang yang menjaga kandang peliharaan Silvi.


"Kemarin Nona Silvi berpesan untuk membawa Mira ke mansion saat selesai sarapan, maaf tuan!" jawab pawang itu.


"Apa-apaan ini, Silvi?" tanya Dave.

__ADS_1


"Calm, bro! Mira hanya akan membantuku," Reza beranjak dari duduknya.


"Benar itu," sahut Silvi.


Semua orang bingung, apalagi saat Reza memanggil semua penjaga, pelayan, sampai tukang kebun berkumpul di ruang tengah. Anggota keluarga duduk di sofa, sementara Reza membariskan semua pekerja. Silvi mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah potongan kardus. Lantas menempelkannya pada hidung Mira.


"Lepaskan!" ucap Reza.


Silvi melepaskan rantai yang mengikat leher Mira. Mira mulai mengendus. Silvi menghampiri Davin dan Desmon, ia membawa kedua bocah itu naik ke kamarnya. Tidak baik dan tidak aman jika kedua bocah itu menyaksikan yang akan terjadi nanti.


Mira berhenti di hadapan seorang pelayan. Reza menyuruh seorang penjaga mencekal tangan pelayan itu. Mira mengendus lagi, dan menggonggong pada tiga pelayan lain. Reza melakukan hal yang sama pada tiga pelayan itu.


"Ada apa ini?" Dave tidak tahan untuk tidak bertanya.


"Mereka musuh dalam selimut, ular-ular itu mereka yang membawanya ke dalam mansion!" jawab Reza santai.


"B******n!!!!" Dave mengumpat.


"Biar aku yang membereskan mereka!" Reza mencegah Dave yang akan menghampiri pelayan itu.


"Lepaskan!" salah satu pelayan meronta.


Plak,


Reza menampar pelayan itu dengan sangat keras. Sampai tangannya membekas di pipi pelayan itu.


"Di saat tertangkap baru minta dilepaskan? Katakan dulu siapa yang menyuruh kalian? Kalian tidak tahu? Kalian masuk ke mansion ini sama saja masuk ke mulut harimau, artinya kalian tidak akan keluar dari mansion ini dengan selamat!" ucap Reza, tatapannya dingin membunuh.


"Tidak ada yang menyuruh kami!" jawab pelayan itu, sepertinya dia pemimpin dari pelayan-pelayan gadungan itu.


Aryn yang sejak tadi menyaksikan proses penangkapan penjahat itu, tiba-tiba merasa mengantuk. Kepalanya terasa berat, berat sekali.


"Sayang, kok aku ngantuk ya?" Aryn menggosok kedua matanya.


"Mama juga nih...." sahut Katy.


Ternyata tidak hanya Aryn, Katy juga merasa ngantuk. Tidak berselang lama, Aryn dan Katy tertidur pulas. Di dekat Katy, Uti juga sudah tergeletak. Erick, Dave, dan Zack saling menatap.


"Ada apa ini?" seru Erick panik.


Reza juga panik melihat Aryn, Uti, dan Katy tertidur. Tiba-tiba saja saat berusaha mengecek kondisi istrinya, Erick juga jatuh tertidur.


"Dave, gua juga ngantuk nih!" keluh Zack.


"Tahan!" seru Dave.


Bug bug,


Dave dan Zack ternyata juga tumbang. Reza semakin panik, ia mengepalkan kedua tangannya. Ada apa lagi ini? Glen dan Frans yang berdiri tidak jauh dari sana saling menatap. Mereka berdua juga tumbang ke lantai secara bersamaan.


"Hahahahaha!" keempat pelayan yang ditangkap tadi tertawa dengan keras.


"Diam kalian!" bentak Reza.


Reza berlarian mengecek semua orang. Mengapa semua orang bisa tertidur? Apakah ada sesuatu di makanan mereka? Kalau makanan mereka tadi diberi sesuatu pasti Reza juga ikut tertidur. Reza berpikir sejenak. Jus? Ah iya, mereka semua minum jus. Ia tadi kebetulan minum susu itulah sebabnya Reza tidak tidur. Pasti ada obat tidur yang diberikan dalam jus tadi.


Tapi seingat Reza, Glen tadi tidak minum jus. Sementara Frans, ia bergabung ke meja makan saja tidak. Jadi kenapa mereka berdua ikut tertidur seperti yang lainnya?


"Aarrgghh!" pekik salah satu penjaga.


.................


Ada apa nih?

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya! Author sedih jumlah votenya rendah banget minggu ini😥


__ADS_2