
"Istirahat sebentar ya, bos!" ucap Glen ngos-ngosan.
"Masih jauh ini, Silvi pasti menungguku!" sahut Reza.
"Lagian bos sih, pake acara beli barang ini!" keluh Glen.
"Jalan atau potong gaji?" Reza mengancam.
"Iya iya," Glen kalah.
Glen dan Reza pun kembali ke tempat Silvi menunggu. Saat ini mereka sedang transit di Newark Airport. Perjalanan mereka masih sedikit lagi. Dan sebentar lagi pesawat mereka akan berangkat.
Reza cengar-cengir saat melihat wajah istrinya dari kejauhan. Ia hanya pergi sebentar untuk membeli barang yang ia inginkan, tapi rasanya ia sangat rindu dengan istri kecilnya. Seperti tidak ingin terpisahkan sedetikpun.
"Sayang..." sapa Reza saat sampai di hadapan istrinya.
"Lama sekali, kamu beli apa sih?" Silvi mengembalikan ponsel yang ia mainkan ke dalam tas lagi.
"Ini," ucap Reza.
"Astaga! Kaki kakak sakit atau kenapa?" pekik Silvi.
Saat ini Reza tengah tersenyum manis di atas kursi roda yang baru dibelinya. Tadi ia mengajak Glen untuk membelinya. Itulah sebabnya Glen tampak sangat lelah. Tokonya lumayan jauh dari bandara, sementara ia harus mendorong Reza dari toko ke bandara lagi. Belum lagi tadi Reza sangat lama di toko, bahkan mampir ke supermarket. Jadi Glen harus mendorong Reza mengelilingi supermarket sesuai perintah Reza. Lutut Glen rasanya lemas.
"Aku sedang malas jalan," Reza terkekeh.
"Kakak aneh, ih!" seru Silvi.
"Terus kantong yang digantung di belakang kakak itu apa?" lanjut Silvi.
"Durian," jawab Reza.
Silvi awalnya tidak percaya, lantas ia cek isi kantong belanjaan di belakang kursi roda Reza. Ternyata benar isinya adalah 2 wadah plastik berisi durian yang sudah siap makan. Masing-masing beratnya mungkin 500 gram.
"Bukannya kemarin sebelum berangkat ke bandara sudah makan?" tanya Silvi.
"Rasa buah ini membuatku candu, sayang! Sayangnya tidak ada yang masih utuh dengan kulitnya. Padahal aku ingin sekali minum menggunakan kulit durian," jawab Reza.
Silvi dan Glen menatap Reza tanpa berkedip. Lantas mereka saling menatap. Glen mengangkat bahunya, mengisyaratkan ia tidak tahu apa yang terjadi.
Hingga tiba saatnya mereka masuk ke dalam pesawat untuk melanjutkan perjalanan. Glen mendorong kursi roda Reza. Silvi berjalan sambil memijit pelipisnya. Kepalanya pening melihat sikap Reza yang semakin manja.
Selama di dalam pesawat, Reza bersandar manja di bahu Silvi. Reza menolak memakai sabuk pengaman demi bisa bermanja di pelukan Silvi. Sementara Glen, ia langsung tertidur lelap di kursinya. Sepertinya ia benar-benar kelelahan.
Sesampainya di bandara kota kelahiran Silvi itu, sebuah mobil beserta sopir siap menjemput mereka. Tak lain dan tak bukan sopir Dave. Silvi mengabari kakaknya saat transit tadi.
"Kakak aneh hari ini," keluh Silvi yang tangannya selalu dipeluk oleh Reza.
Reza sekarang sudah nemplok lagi di pelukan Silvi. Padahal jujur saja badan Silvi lengket dan bau. Tapi sepertinya hidung Reza ridak menghiraukannya.
"Biarkan aku seperti ini, sayang!" sahut Reza.
Mau tak mau Silvi membiarkan Reza nyaman dalam posisinya. Ia juga mengantuk, akhirnya Silvi tertidur juga. Glen pun juga sama. Hanya Pak Sopir yang masih terjaga karena mengemudikan mobil.
Mereka bertiga baru bangun setelah sopir memberitahu jika Mereka sudah sampai di mansion. Kali ini Reza tidak memakai kursi rodanya. Agar wibawanya tidak jatuh di hadapan Dave.
"Aku datang!" teriak Silvi saat masuk mansion.
"Kakak!" teriak Desmon.
"Aunty!" teriak Davin.
Desmon dan Davin berlarian menghambur pada Silvi. Terlihat jelas mereka rindu dengan Silvi. Dan yang lainnya juga datang menghampiri Silvi dan Reza. Samuel, Ken beserta istri mereka ada di sana. Sepertinya kedatangan Reza dan Silvi ditunggu oleh semua orang. Bahkan calon mempelai juga ada, padahal besok mereka menikah.
"Aku rindu kalian," Silvi memeluk Desmon dan Davin.
Katy dan Aryn menghambur ikut memeluk Silvi. Dave dan Erick memperhatikan pemandangan haru itu dari kejauhan.
"Bagaimana kabarmu, sayang?" ucap Katy.
__ADS_1
"Baik, ma!" jawab Silvi.
"Mansion ini sepi tanpamu," Aryn tersenyum.
"Pria itu menjagamu dengan baik, kan?" seru Dave dengan suara menggelegar.
Reza yang mendengar suara Dave langsung mengarahkan pandangannya ke sumber suara. Entah kenapa rasanya ia rindu sekali dengan Dave.
"Aku pasti menjaga istriku dengan baik," Reza berjalan mendekat ke Erick.
Reza bermaksud untuk menyapa mertuanya itu. Erick menyambutnya dengan pelukan hangat.
"Apa kabar, pa?" tanya Reza.
"Kami semua sehat. Bagaimana? Apakah ada tanda-tanda?" sahut Erick.
"Tanda-tanda apa, pa?" Reza bingung.
"Kehamilan lah?" Erick menyenggol bahu Reza.
Mendengar kata 'Kehamilan', Dave yang berdiri di dekat mereka langsung melengos. Ia tidak rela jika Silvi yang masih muda mengandung benih Reza. Dave masih tidak suka dengan Reza.
"Belum, pa! Silvi belum mengalaminya, doakan saja ya pa!" Reza tersenyum.
"Pasti!" Erick menepuk bahu Reza.
"Huhuhu...Aku rindu kalian!" Glen memeluk Desmon dan Davin dengan erat.
Glen tidak bisa menyembunyikan betapa rindunya ia dengan kedua bos kecilnya. Bisa dibilang tidak masuk akal, ia rindu dikerjai oleh dua bos kecilnya.
"Kita juga rindu uncle," sahut Desmon.
"Jadi kita udah siapin surprise untuk uncle!" imbuh Davin.
"Benarkah?" kedua mata Glen berbinar.
"Iya!" sahut Desmon dan Davin.
"Ikut kita!" seru Davin.
Desmon dan Davin menuntun Glen ke tempat yang sudah mereka siapkan. Kejutan untuk Glen menunggu di sana.
Sementara itu, Reza sejak tadi berusaha dekat dengan Dave. Kakinya diam-diam bergerak mendekati Dave. Untungnya Dave sedang mengobrol dengan Silvi, jadi tidak terlalu memperhatikan Reza.
"Humm, wangi sekali!" gumam Reza.
Reza mengarahkan hidungnya ke Dave. Tidak bisa dibantah, wangi Dave membuatnya candu. Sampai hidungnya hampir menempel di bahu Dave.
"Apa yang kau lakukan?" pekik Dave, ia melihat Reza mengendus di dekat tubuhnya.
"Tidak usah teriak, aku hanya mencium parfummu!" sahut Reza.
"Ada apa dengan suami manjamu ini, Silvi? Tingkahnya aneh," Dave menatap Reza sinis.
Silvi hanya menggelengkan kepalanya, ia tidak tahu.
"Apa anehnya jika hanya mencium bau parfum?" Reza tidak mau kalah.
"Jauh-jauh dariku!" Dave selangkah menjauhi Reza.
Sayangnya Reza tidak ingin jauh dari Dave. Ia mengambil satu langkah mendekat ke Dave lagi.
"Hmm," Dave menjauh lagi satu langkah.
"Hmm," Reza mendekat lagi.
Dave memalingkan wajahnya, ia menjauh tapi kali ini dua langkah. Malas sekali jika berdekatan dengan Reza si anak manja itu. Tingkahnya saja aneh sekali hari ini. Setelah menikah dengan adiknya malah semakin menjadi-jadi anehnya.
"Pergi nggak!" teriak Dave, ia merasa risih Reza terus mendekatinya.
__ADS_1
"Katakan nama parfum yang kau gunakan dulu, baru aku menjauh!" Reza tersenyum penuh arti.
Dave mengalah, ia menuliskan nama parfum miliknya di ponsel Reza. Semua orang hanya tertawa melihat kelakuan Reza.
Di area kolam renang,
Desmon dan Davin menuntun Glen sampai di dekat kolam. Di tempat itu tidak ada apapun. Glen jadi bingung, sebenarnya apa yang dimaksud surprise oleh Desmon dan Davin.
"Mana surprisenya?" seru Glen.
"Sabar dong, uncle!" sahut Desmon.
"Tutup mata dulu!" Davin memerintah.
Desmon dan Davin saling menatap sejenak. Lalu keduanya tertawa cekikikan. Mereka berdua tidak sabar memberikan hadiah untuk Glen.
"Kenapa harus tutup mata? Pasti kejutannya aneh-aneh, kan?" Glen curiga.
"Emangnya uncle lihat ada yang aneh di sini?" jawab Desmon.
"Kalian bisa aja mendorongku ke kolam," sahut Glen.
"Kalau mau mendorong uncle, sekarang saja kami bisa melakukannya tidak perlu menyuruh uncle tutup mata!" Davin berkacak pinggang.
"Benar juga," jawab Glen.
Mereka bertiga tertawa.
"Ayo tutup mata dulu, uncle!" Desmon memerintah.
"Okay okay," Glen menutup matanya.
"Uncle nurut ya!" Davin memperingatkan.
"Hitungan ke tiga, uncle boleh buka mata!" lanjut Desmon.
Satu,
Desmon mulai menghitung. Davin memanggil seseorang untuk membawakan kejutannya.
Dua,
Davin mengarahkan tangan Glen untuk memegang sesuatu. Glen bisa merasakan menyentuh sesuatu yang basah. Ia percaya pada Desmon dan Davin. Mereka tidak mungkin menerjainya.
Tiga,
"Buka matanya, uncle!" seru Desmon.
Glen membuka matanya perlahan.
"Kenalkan, dia Momon peliharaan baru kami!" Desmon dan Davin merentangkan tangannya.
"Mana?" Glen tidak melihat apapun di dekat Desmon ataupun Davin.
"Dia di samping uncle!" seru Davin.
Glen reflek langsung menoleh ke sampingnya. Saat itu juga seekor singa laut berkulit licin menatapnya dengan moncongnya. Sekarang makhluk yang katanya bernama Momon itu menjilat pipi Glen.
"Aaaaaaaa!" teriak Glen.
Byuurrr,
Glen tercebur ke kolam karena terkejut melihat Momon.
"Nguk nguk nguk..." Momon bertepuk tangan.
"Prok prok prok!" Davin dan Desmon ikut bertepuk tangan bersama Momon.
.....................
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!