Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
SILVI HILANG


__ADS_3

"Papa.....Mama....Mei mau jadi janda aja!" teriak Mei.


Cavero dan Emmy lari tunggang langgang menghampiri menantunya. Apa yang terjadi?


"Ada apa, sayang?" tanya Emmy.


"Ma...Zack menghamili wanita lain hiks hiks..." Mei menangis.


"APAAA?" teriak Cavero dan Emmy.


"Duduk dulu yuk, sayang!" Emmy berusaha menenangkan Mei.


Seorang pelayan membawakan air mineral untuk Mei. Selang beberapa menit Zain tiba di rumah. Tadi Mei pulang sendiri menggunakan taksi, Zain mengejar dengan mobilnya.


"Apa benar adikmu menghamili wanita lain?" tanya Cavero pada Zain.


"Iya, pa!" jawab Zain.


Cavero mengepalkan tangannya.


"Kurang ajar anak itu, dibiarin celap-celup malah ngelunjak!" serunya.


Cavero semakin naik pitam saat melihat Zack datang tergopoh-gopoh. Rasanya Cavero ingin menghajar anaknya itu sekarang juga.


"Mei..." ucap Zack.


Mei membuang muka, ia semakin erat memeluk Emmy.


"Diam di tempatmu, anak sialan!" seru Cavero.


"Pa, Zack bisa jelaskan. Clara memang hamil, tapi itu kan belum tentu anak Zack,"


"Belum tentu bagaimana, Zack? Aku tahu Clara mempunyai hubungan denganmu, seorang ibu pasti tahu siapa ayah dari anak yang dikandungnya." Mei terisak.


Cavero menatap menantunya. Ucapan menantunya tidak salah.


"Mei...." Zack tidak tahu harus mengatakan apa.


"Tutup mulutmu, jangan panggil dia lagi!" teriak Emmy.


"Kamu menghamili wanita lain, Zack! Kamu bahkan tidak pantas menginjakkan kaki di rumah ini," lanjutnya.


"Kenapa, ma? Sekalipun anak itu milik Zack, kejadian itu terjadi sebelum aku menikah dengan Mei! Aku tidak tahu jika akan jadi seperti ini?" teriak Zack.


Mei semakin terisak, Zack mengungkit pernikahannya yang mendadak.


"Paling tidak kau berpikir sebelum melakukan hal itu, pakai pengaman atau apa gitu!" Cavero menatap Zack tajam.


"Itu masalahnya pa, Zack mabuk saat itu. Semuanya diluar kendali...Tapi pa, belum pasti itu milik Zack. Clara itu wanita murahan, dia bisa melakukan itu dengan siapapun. Bahkan rekan kerjaku ada yang pernah bermalam dengannya."


"Halah, tapi tetap saja. Benar ucapan Mei, seorang ibu pasti tahu siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Untuk apa dia minta kau bertanggung jawab kalau itu bukan anaknya?" Zain mengompori.


Zack menatap Zain dengan tajam.


"Dia jelas bisa dengan mudah menyuruhku tanggung jawab. Dia wanita murah, pria lain yang pernah bermalam dengannya pasti tidak ada yang mau bertanggung jawab. So...Jangan ikut campur, diamlah selagi aku masih menganggapmu sebagai kakak! Cukup kau menambah panas suasana!" ucapnya.

__ADS_1


Zain hanya tersenyum sinis. Entah apa yang terjadi pada dirinya, yang jelas ia merasa senang hubungan Mei dan Zack retak. Sementara Mei masih menangis terisak di pelukan Emmy. Emmy pun ikut menangis, ia merasa gagal menjadi seorang ibu. Ia gagal.... Apalagi Cavero, saat ini ia menjambaki rambutnya sendiri.


"Beri aku waktu untuk menyelesaikan masalah ini, pa!" ucap Zack.


"Sampai kapan? Mau ditaruh mana muka papa, berita ini pasti akan tersebar," Cavero membentak.


"Aku akan melakukan apapun agar masalah selesai dan tidak tersebar," jawab Zack.


"Terserah kau! Terserah...Papa sudah tidak tahu lagi,"


"Lebih baik kamu pergi dari sini, Zack!" seru Emmy.


"Tapi ma,"


"Mei akan tinggal dengan kami, jangan harap dia pergi bersamamu. Belajarlah menghargai hubungan, dan satu hal lagi, jika kamu tidak bisa membuktikan kebenarannya bebaskan Mei dari hubungan ini!" ucap Emmy kemudian.


"Pergi!" imbuh Cavero.


Zack melangkah keluar dari rumah itu. Kakinya terasa berat. Keluarganya sekarang marah padanya, itu sudah pasti. Zack merasa sesak melihat mereka semua kecewa apalagi saat melihat air mata Mei. Zack sudah membuat anak orang menangis karenanya. Zack harus cepat-cepat menyelesaikan semua ini. Sesegera mungkin.


"Ingat, Zack! Aku menunggu istrimu jadi janda," bisik Zain saat Zack lewat hadapannya.


"Kakak sialan!" umpat Zack.


Zack pergi dari rumah papanya.


"Arrgghh!" Zack memukul stir mobilnya.


Lalu ia melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah papanya. Untuk sesaat ia tidak punya tujuan, ia hanya berkeliling jalanan kota. Untuk sekedar meluapkan sedikit amarah. Baru kemudian Zack memutuskan untuk menuju ke apartemennya. Daripada minum tidak jelas, ia akan menenangkan dirinya di sana. Kejadian ini memberinya banyak pelajaran.


Keesokan harinya,


Pagi-pagi sekali, Silvi sudah bangun. Beberapa hari ini ia membiasakan bangun lebih awal dan berolahraga ringan. Misalnya seperti sekarang pagi ini, ia jalan santai di sekitar rumah. Biasanya Silvi akan pulang sebelum Reza bangun. Karena jalan paginya hanya sebentar.


Saat masih di dekat rumah, ia ingin mampir ke rumah kakaknya, tapi sepertinya belum bangun pemilik rumahnya. Akhirnya Silvi lanjut jalan lagi. Katanya ada taman di tengah komplek. Silvi ingin pergi ke sana. Pasti menyenangkan jalan pagi di dekat taman.


Sementara di kamar, Reza baru saja mengerjapkan matanya karena sinar matahari menyilaukan matanya. Berbeda dengan Silvi, beberapa hari ini ia jadi malas bangun pagi. Mungkin bawaan calon bayi mereka.


"Duh, badanku rasanya pegal semua!" Reza meregangkan tubuhnya di ranjang.


Lalu Reza berdiri, berjalan menuju balkon kamarnya.


"Cuaca cerah hari ini!"


Reza menatap langit dan menghirup udara pagi dalam-dalam.


"Oh hai tetangga!" seru Reza.


Kebetulan Dave juga sedang berada di balkonnya. Kakak iparnya itu melakukan hal yang sama sepertinya, hanya saja dia bertelanjang dada.


"Kau menyapaku?" Dave celingukan.


"Enggak, itu aku menyapa rumput yang bergoyang!" jawab Reza sewot.


"Syukurlah..." jawab Dave.

__ADS_1


Dave tidak pernah berubah.


"Hai Reza!" Aryn muncul dari belakang Dave.


"Hai kakak ipar!" sahut Reza.


Dave melengos saat melihat wajah Reza yang sok akrab dengan Aryn. Ia masih saja tidak suka istrinya akrab dengan Reza. Hal itu membuatnya teringat masa lalu mereka. Tiba-tiba saja Dave ada ide.


Dave tersenyum licik. Ia menarik tangan Aryn, hingga tubuh mereka berdekatan. Ia menoleh sekilas ke arah Reza. Lalu ia menatap dalam Aryn. Dave mendekatkan wajahnya. Namun Aryn menjauh.


"Kita sekarang ada di balkon, sayang! Malu ada Reza..." lirih Aryn.


"Anggap saja dia tidak ada," jawab Dave.


Dave langsung nyosor tanpa persetujuan Aryn. Awalnya ia hanya ingin mengerjai Reza, tapi Aryn adalah candunya. Ia jadi hanyut dalam permainannya sendiri. Tangannya mulai nakal.


"Kakak ipar sialan!" keluh Reza.


Reza bergegas masuk ke dalam kamar lagi. Sementara Dave ia menggendong Aryn dan masuk ke kamarnya juga. Reza mondar-mandir di dalam kamar.


"Silvi dimana kamuuuu???" teriak Reza tiba-tiba.


Lantas Reza keluar kamar sambil meneriaki nama Silvi. Sayangnya, Silvi tidak ada dimanapun. Reza sudah mencari di seluruh rumah, Silvi tidak ada. Jadi ia pergi saja ke rumah Dave. Ia tanya pada sistem rumah tangga yang sedang beberes. Silvi tidak ada main kesana.


"Pagi yang sial," keluh Reza.


Kepala Reza semakin berdenyut. Pertama gara-gara melihat adegan Dave dan Aryn, lalu ditambah Silvi yang mendadak hilang. Reza lari pontang-panting mengambil jaket dan sepeda. Reza punya sepeda yang rencananya ia pakai untuk olahraga.


Reza sudah menelpon Glen untuk segera datang, agar bisa membantunya. Reza juga menelpon mami papinya, ia sangat panik sekarang.


"Silviiii...." Reza menyusuri jalan komplek sambil meneriaki nama istrinya.


Di persimpangan jalan, ia melihat gerombolan ibu-ibu berolahraga pagi,tapi Silvi tidak ada di sana.


"Silviiii...." Reza kembali menyusuri jalanan.


Hingga Reza bertemu Glen. Glen berjalan kaki, sesampainya di rumah bosnya tadi Ia langsung berangkat mencari.


"Saya belum bertemu bu bos," ucap Glen.


"Cari terus sampai ketemu, Glen!"


"Tapi bos, saya capek!" napas Glen ngos-ngosan.


"Terus?" tanya Reza kemudian.


"Bonceng ya, bos? Please....Carinya sama-sama aja!"


"Dasar!" seru Reza.


Akhirnya, Glen duduk di palangan sepeda tepat di hadapan Reza. Mereka berdua menyusuri jalanan. Banyak pasang mata menatap mereka.


......................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!

__ADS_1


__ADS_2